Kolabora(k)si : ketika bergandengan tangan adalah solusi

0

You need to be aware of what others doing, applaud their efforts, acknowledge their successes, and encourage them in their pursuits. When we all help one another, everybody wins.

Jim Stovall.

Menjadi pemimpin itu sungguh definisi yang sangat diperdebatkan, kadang. Saya ingat pernah beradu argumen tidak penting dengan seorang rekan, tentang bagaimana asal mula pemimpin itu muncul. Apakah sejak awal memang terlahir mampu memimpin, dengan serangkaian genetik dominan–ditakdirkan–atau justru diciptakan? Sungguh ayam atau telur.

Entahlah. Saya bukan (lagi) pemuja teori manajemen–karena minat saya agak bergeser kini, hehe–namun jika kualitas itu sungguh ada—pemimpin sebenarnya akan mampu mengeluarkan sisi terbaik dari rekan kerja dan lingkungannya. Tak peduli apakah kamu menyandang label ‘memimpin’ atau tidak.

Saya ingat saat pernah dimintai pendapat tentang si A yang akan didapuk menjadi pemimpin.

“Angka yang dia hasilkan bagus.”

Oh tentu saya gamang waktu itu.

“Angka doang nih Pak, yang dilihat?” 😂 –saat itu ada komponen lain yang membuat saya kurang sreg, kalau tak salah masalah komunikasi si kandidat.

Saya mendapat komplain waktu itu, hahaha, karena pendapat saya berseberangan dengan beliau. Susah memang yang namanya human capital, karena kami berada diantara dua kepentingan. Not to mention, meski hal tersebut adalah hal yang lumrah dalam bisnis sih. Untungnya ada jalan tengah saat itu, yang bersangkutan tetap mendapat promosi dan saya turut menggarap PR dari atasan untuk melakukan konseling terhadap si kandidat.

Melipir sedikit dari masalah untung-rugi yak~ menjadi pemimpin, bagi saya pribadi kadangkala lebih besar dari perkara angka.

Jika saya agak (sok) agamis disini, barangkali memimpin adalah perkara hablum minannas–dimana hal itu cukup sejalan dengan teori milik Jaume Filella tentang social leadership-nya. Pemimpin tipe ini, menjalin hubungan yang cukup baik dengan rekannya; konon ia pun persuasif untuk mengajak orang lain menemukan solusi bersama-sama serta mengupayakan tercapainya kesepakatan. Ia rupanya mampu mendeteksi, mana-mana potensi yang bisa menjadi luar biasa. Ya meski kadang prosesnya macam menemukan jarum di tumpukan jerami. Well, people oriented.

“Lah, main aman dong.”

Ng, memanusiakan manusia, ceunah (?)

Yang menarik, sepanjang saya kurang kerjaan mengamati akun-akun keren di media sosial saat ini, sebagian besar akun luar biasa tersebut memiliki konsep kolaborasi dan pemberdayaan yang intens. Bukan lagi pabrik atau sekat-sekat kubikel individual, namun ruang-ruang lokakarya bersama. Mereka tak berusaha menyentuh isi kepala dengan logika semata (meski saya yakin ada serangkaian data empiris yang mereka pelajari untuk menghasilkan suatu produk keren itu)–namun ‘hati’ para konsumennya.

Ya, para penggagas itu mampu merangkai cerita yang memikat, menceritakan kembali apa yang selama ini terlewat–dan dianggap sebelah mata oleh kita. Membuat kita takjub, bahwa bekerja bersama di lintas disiplin itu luar biasa.

Bagaimana dengan konsep kepemimpinan disitu? Saya bahkan lebih suka menyebutnya penggerak–dalam hal ini–alih-alih pemimpin. Karena rasanya itulah yang terjadi. Beberapa visioner ingin memiliki dampak pada semesta, berusaha memberdayakan lingkungan dengan apa yang ada. Coba tengok @bumilangit.official | @burgreens | @cintabumiartisans | @thisable.id | bahkan, @gojekindonesia mungkin? Oke, ini barangkali tren ataupun gaya hidup. Namun selama mampu memberdayakan lokalitas, kenapa tidak?

Perhaps it’s a long way to getting bigger. For some of them, what’s the matter is growing up together. Selaras dengan sekitar, menghargai lingkungan.

Perbedaan bukan lagi cuma tentang SARA, namun merayakan keberagaman potensi.

You can do what I can not do. I can do what you can not do. Together we can do great things.

Begitu kata Bunda Teresa.

Oke, selalu ada dua sisi dalam setiap cerita. Pun semisal beberapa dari kita adalah dominan-arogan macam Hitler atau penganut task-leadership, tak masalah.

Namun barangkali bisa diingat, setiap hal di dunia ini memiliki dua sisi termasuk kapabilitas manusia. Semisal ada kelemahan, saya yakin ada potensi yang bisa jadi belum tergali. Jika kamu tipe atasan yang keras, atau sebaliknya, kadang-kadang di satu titik diperlukan rekan kerja dengan karakter berbeda. Atau keahlian yang justru berseberangan denganmu. Untuk mengimbangi, untuk memunculkan ide-ide baru yang bahkan tak terpikir. Still, it takes two to tango.

Saya kok masih percaya ya, serangkaian proses kolaborasi yang baik akan berdampak baik juga. Bahkan bisa lebih masif.

Humanis, huh?

Iya 🙂

Tentang menjadi ‘jawa’

2

“Kacang aja lali karo kulite.”

Jangan pernah lupa, darimana kita berakar.

Saat magang dulu di Dagadu–tepatnya saat sedang dapat tugas jaga di Dagadu Posyandu Malioboro Mall, ada satu komentar pembeli kaos yang lekat di ingatan saya. Sampai sekarang.

Dia, seorang Ibu paruh baya yang mengenakan jilbab, sedang membayar di kasir lalu tak sengaja melihat plakat foto di atas meja–plakat yang berisi foto teman-teman yang mendapatkan predikat ‘terbaik’ sesuai kategorinya (tenang. Seingat saya, tak ada foto saya di plakat itu. Hahaha)

Ibu itu melihat plakat tersebut, lalu sekilas melirik saya. Kalimat berikutnya sungguh membuat saya mengernyit,

“Kalau mbaknya ini, best Jawa.”

Saya nyengir. Supervisor saat itu–saya lupa siapa, ikut nyengir. Entah apa maksudnya, yang jelas saya langsung berpikir keras; apakah saya tadi melayaninya, lalu dia kecewa–atau senang? Apakah predikat ‘best Jawa’ ini adalah suatu pujian–atau sebaliknya? 😂

Bertahun-tahun setelahnya, saya masih menganggap kalimat tadi sebagai sebuah pujian.

Saya akui saya agak kauvinistik kalau menyangkut identitas saya.

Lha, saya memang lahir dan dibesarkan di jawa. Saat saya masih kecil, Bapak suka memutar radio lokal–kadang berbahasa jawa. Tahu kan, semacam sandiwara radio (meski kemudian seleranya bergantian antara dangdut lawas era Evie Tamala dan Ike Nurjanah; serta The Beatles–tergantung saluran mana yang sedang diputar). Tukang-tukang yang membangun rumah kami di Kotagede, rajin mendengarkan siaran wayang dari radio mungil mereka yang digantung di antara paku-paku tembok.

Dan tarian. Tarian yang paling saya ingat adalah Jaranan, waktu itu kami berkesempatan membawakannya dalam tim kecil dalam suatu acara seni di Gembiraloka. Saya masih TK nol besar saat itu.

Saya ingat betul detail kostumnya; blangkon, atasan merah atau kuning berbahan mengkilap dan agak panas, gelang kaki, kumis palsu yang dilukis dengan pensil alis, tak lupa bengesan–memakai lipstik. Masing-masing dari kami lalu membawa sebuah ‘kuda’ yang dianyam dan diwarnai hitam. Gerakan kami, mengikuti irama dari lagu Jaranan.

Bagaimana dengan makanan?

Besekan berkat hajatan berisi sego gurih, telur rebus, ketan-pisang-santan, pisang, ayam goreng polos, kacang tanah tumbuk plus kacang tolo adalah menu yang sering hadir disekitar lingkungan rumah kami.

Atau jika ada tetangga mampir memberikan sedikit kudapan–seperti oleh-oleh–kali berikutnya piring atau mangkuk yang dipakai si tetangga akan dikembalikan, dengan diisi dulu dengan buah tangan baru. Bergantian.

Di luar itu semua, keluarga saya tidak 100% berbahasa jawa saat mengobrol.

Bahasa jawa; entah tingkat ngoko dan krama alus/krama inggil justru lebih sering kami gunakan di luar rumah. Saat ke pasar tradisional, naik becak, membeli lauk di warung, di sekolah.

Meski demikian, Ibu selalu mengingatkan untuk berbahasa jawa halus ketika bertemu dengan orang yang lebih tua.

Bahasa jawa saya sempat ‘agak’ luntur saat merantau pertama kalinya. Tergantikan dengan ‘lu-gue’ 🙂 hingga kemudian seiring waktu, saya merasa lebih nyaman menggunakan kata ‘saya’.

Kenapa sih, saat itu harus berganti menjadi ‘lu-gue’?

Sebagian besar karena untuk kepentingan adaptasi. Kalau ada yang bilang Jabodetabek itu keras, ehm, lumayan. Dan penggunaan bahasa, adalah salah satu hal yang bisa sedikit mengatasi definisi ‘keras’ itu, disamping kompetensi, tentu.

Saya masih geli mendengar diri saya mulai menggunakan kata ‘lu-gue’ dalam pergaulan. Sampai pada satu titik salah satu Tante saya berkomentar,

“Logat jawamu udah agak ilang ya, Mbak?”

Saat itu saya ‘sedikit’ merasa bangga. Wow, resmi dong jadi ala ibukota. Hahaha. Rasa bangga itu sempat terbawa sampai ke rumah saya di Yogyakarta.

Hingga di suatu kesempatan ketika saya cuti dan tengah berjalan-jalan di sekitar alun-alun kidul, saya mendapati seorang nenek dengan setenggok mainan tradisional (ya, saya pernah bercerita tentang hal itu disini).

Saya ingin sekali membeli mainan langka yang beliau jual. Sempat kasak-kusuk dan dengan semena-mena minta tolong adik yang berbicara dengan simbah tersebut. Adik menolak,

“Bahasa jawaku jelek, Mbak!”

Singkat cerita, saya berusaha mengajak beliau mengobrol sambil memilih mainan. Dan ditutup dengan meminta izinnya untuk mengambil foto. Sepanjang obrolan singkat itu saya berusaha keras mengingat per kata bila diterjemahkan dalam bahasa krama inggil. Takut menyinggung perasaan, khawatir tak sopan kalau ngoko.

Rasanya? Menyenangkan. Betapa ternyata saya rindu berinteraksi dengan bahasa halus seperti itu. Bahasa daerah saya.

Saya jadi ingat salah satu video yang diunggah di laman Instagram Voa Indonesia belum lama ini.

Video tersebut mencoba mengkampanyekan kembali penggunaan bahasa daerah yang (konon) mulai luntur di generasi millennial.

Jleb, sih.

Semua pengalaman tadi, tanpa sadar terbawa hingga saya dewasa. Saat remaja saya bercita-cita menikah dengan balutan adat jawa. Mulai dari siraman, sungkeman, midodareni, hingga dulangan. Lengkap dengan pranatacara berbahasa krama inggil. Tercapai? Tercapai :’)

Konten Instagram saya, tanpa sengaja direncanakan berisi budaya jawa. Entah, rasanya menarik saja untuk dikulik.

Dan saya pikir, itu bukan kebetulan. Semua unsur jawa tersebut memang terasa kental dalam ingatan. Minat saya–meski sempat berubah banyak menjadi agak (sok) moderat, ternyata ujung-ujungnya ditarik kembali oleh akar kampung halaman.

Tentang menjadi ‘jawa, ataupun menjadi suku-suku lain. Karena legitimasi budaya itu dimulai dari diri sendiri.

Sudah cukup bangga?

Faces of Singkawang : All we need is parade!

0

Sejak nyaris satu setengah tahun lalu Bapak Rugrats dimutasi ke Kalimantan dan memamerkan satu video perayaan Cap Go Meh di Sungai Pinyuh, saya pun langsung menyelipkan agenda menonton Cap Go Meh di Singkawang dalam bucket list pribadi.

Dan keturutan kemarin :’)

Berbekal informasi di akun resmi instagram festival ini , kami merencanakan garis besar aktivitas selama sekian hari. Yea, meleset beberapa acara di Lapangan Kridasana namun ya sudahlah~

Awalnya kami bahkan hendak membeli tiket tribun untuk menonton parade (baik lampion maupun Tatung), namun urung karena lumayan pricey. Tapi tetap ingin menonton semua parade itu dari dekat. Bagaimana dong?

Pria ini sungguh mengundang perhatian. Saya mengamatinya sejak ia berbicara dengan seorang anggota salah satu grup peserta parade. Pikir saya, wah orang ini ingin mencoba ‘kerasukan’! Foto ini diambil saat ia sudah ‘kerasukan’ dan diarak di dekat jalan utama.

Ia melompat-lompat, menyerupai err~ayam(?) yang jelas sih sepertinya dia bukan bagian dari kelompok karena orang dalam kelompok tersebut pun seperti agak menghindar 😂

Jalan tengahpun diambil. Membaca ulang jalur parade, dan menemukan area yang dijadikan lokasi persiapan. Dan tempat itulah yang kami sambangi. Pertimbangannya : menonton dari jarak sedekat mungkin!

Sejak pertama sampai di area persiapan, kakek yang satu ini benar-benar menarik perhatian. Beberapa kali ia berkeliling disekitar kami, hingga saya tak tahan dan meminta Bapak Rugrats berfoto bersamanya. Ramah sekali!

Anak kecil ini bagian dari kelompok parade. Sepertinya belum bertugas, namun tetap bersemangat sekali memainkan alat. Lucu!

Oya, hari sebelumnya saya sempat bertanya pada Sonya, si pemilik penginapan, jam paling pas untuk menonton parade Tatung. Ia menyebutkan pukul sembilan. Namun menurut beberapa spanduk di pinggiran jalan pukul tujuh. Berdasarkan pengalaman parade lampion sehari sebelumnya, paling cocok memang menuju daerah persiapan. Mereka belum tampil, masih bisa diajak berbincang-bincang.

Selasa pagi, sekitar pukul enam kami bergegas menuju jalan Alianyang, area persiapan Tatung. Mobil kami parkir di jalan kecil yang tembus ke jalan utama tersebut, lalu berjalan kaki. Mungkin karena bertepatan dengan hari kerja, sehingga jalanan cukup ‘lengang’.

Namun begitu mendekati jalan Alianyang. WAH! Suara tabuhan dan aroma hio kompak menyeruak. Saya panik kegirangan. Saking bingungnya diserbu detail yang luar biasa itu, meminta tolong Bapak Rugrats untuk mengambil beberapa foto. Judulnya sih pemanasan.

Lihat matanya? Konon posisi mata seperti ini menandakan ada ‘roh’ yang tengah merasuki.

Setelah ‘dipaksa’ berkali-kali, akhirnya Bapak Rugrats mau difoto bersama kakek ini. Hahaha. Kakeknya ramah sekali. Setelah selesai foto ia bahkan mengelus-elus kepala Ken yang gumun memandanginya 😂

Tak lama, setelah yakin hendak mulai dari mana, saya mulai berkeliling untuk mencari sesuatu yang ‘menarik’.

Pria muda di bagian bawah ini akan diinjak bagian dada dan perutnya oleh rekannya yang lain. Ng, ndak kebayang sakitnya saat menginjak macam menaiki tangga 😂

Ayam yang dibawa ini merupakan bagian dari pelengkap prosesi. Nantinya saat pawai berlangsung, salah satu Tatung akan memakan ayam hidup-hidup.

Lalu, apa kabar para Rugrats sementara saya keluyuran? Bapak Rugrats totherescue! Ybs baik sekali mau menjaga para Rugrats di tempat yang lebih teduh selagi saya menyelinap sana-sini. Sesekali saya mengamati, Cupis sedang asyik berlarian sembari melompat sana-sini mengikuti irama tetabuhan. Okay.

Saya agak kaget mendapati Tatung versi Dayak. Belum sempat membaca banyak hal tentang Tatung itu sendiri, ternyata masyarakat Dayak turut berpartisipasi dalam gelaran ini. Dan musiknya, duh ya ampun, asyik pisan! Agak kontras dengan iring-iringan gemuruh Tatung Tionghoa~tapi keren. Oya, ini namanya ‘dau’ atau ‘amadakng’, mirip bonang kalau dalam budaya Jawa. Satu lagi, sampai sekarang saya masih penasaran dengan penulisan huruf k diikuti ng (~kng)–seperti amadakng tadi. Memang begitu ya? Sempat mencari tahu tentang ini namun belum menemukan alasan atau sejarahnya.

Saya mendapati Tatung versi Dayak cukup berbeda dengan Tatung Tionghoa. Sedikit lebih santai tampilannya, mereka cenderung menikmati setiap goresan yang ada di tubuh mereka. Iringan dau yang cukup ritmis malah menambah ‘keasyikan’. Dan tanpa sadar, saya pun ikut mengangguk-angguk mengikuti irama dau! Saya melihat para peserta dalam grup Dayak tersebut, dan memikirkan satu kata yang terngiang-ngiang bahkan sejak mendengar alunan dau dipukul : trance.

Pria ini memiliki tato bunga terung di paha kirinya. Mendadak setelah mengambil foto ini saya terpikir bertanya tentang tato itu. Beberapa kali mencoba mendekati namun terhalang penonton lain. Hahaha.

Ini, si bunga terung! Akhirnya saya meminta izin mengambil foto tato ini meski rada ‘awkward’ 😳 Katanya, bunga terung ini memang memiliki makna khusus. Ia menunjuk bagian tengah tato yang mengingatkan saya–entah kenapa–pada Naruto 😅😂, berarti ‘tali nyawa’ atau cycle of life. Lebih lanjut, simbol ini menjadi penananda seorang pria dayak yang telah beranjak dewasa. Beberapa sumber menyebutkan tato ini umumnya dibuat sepasang, kiri dan kanan–umumnya di bahu dalam, dan bermakna sebagai ‘pelindung’ hidup. Meski demikian, semakin kesini makin banyak orang mengenakan tato ini sih. Nah, kebetulan abang yang satu ini mentato pahanya. Entah kenapa, saya kurang tahu 😅

Namanya Alanj. Saya mendapatkan namanya dari media, rupanya ia banyak diliput karena lumayan mencolok diantara para peserta parade. Konon ia berasal dari Australia. Nah, disini pria ini tengah membujuknya untuk berfoto bersama. Agak ngeyel malah. Padahal iring-iringan ini sudah mulai berjalan.

Crap! Is he noticing me, no? 😂😂 Oya, pria ini lidahnya terbelah dua, bagian putih matanya konon ditato hijau. Di parade kemarin, dia sungguh ‘stand out in the crowd’. Hahaha. Ya iyalah. Full-body-piercing euy 🙈🙈

Satu lagi yang teramati dari sisi Dayak ini, mungkin karena kelak akan beregenerasi sehingga pemandangan seperti ini ‘agak’ lumrah :’) Usianya mungkin kisaran SMP? Apakah tuak (dan sejenisnya) serta kretek adalah bagian dari prosesi, nanti kapan bakal mencari tahu~

Duh. Rasanya, tiga ratus jepretan tidak cukup menggambarkan betapa kerennya parade budaya ini. Saya pikir hanya ada Tatung Tionghoa saja, ternyata Dayak pun turut berpartisipasi.

Saya mengambil gambar cici ini karena ia tertawa cukup keras. Entah apakah tengah dirasuki atau tidak, yang jelas ia mengundang perhatian. Hehe.

Diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Kata Bapak Rugrats, tidak semua orang bisa menjadi Tatung meskipun mau. Tatung biasanya dipilih oleh Tatung generasi sebelumnya, ditandai semacam ‘bakat’. Jadi bisa saja kakek menjadi Tatung, bapaknya tidak, dan baru sang cucu yang ‘menekuni’ dunia tersebut. Lalu bagaimana jika sang terpilih enggan menjadi Tatung? Katanya sih tak masalah. Karena Tatung merupakan panggilan hidup.

Pemuda ini cool pisan. Saya beberapa kali mengambil gambarnya–dan dia sadar–namun enggan menoleh. Sampai-sampai seorang rekannya menggodanya karena dianggap terlalu malu. Entahlah, barangkali ini kali pertamanya menjadi bagian ritual? Namun bila dibandingkan, beberapa pemuda yang menjadi Tatung memang belum seluwes para Tatung senior. It takes a whole life to practice, maybe. Termasuk membawa diri di depan banyak orang baru dengan penampilan yang kadangkala terkesan ‘ngeri’ dan belum tentu estetis 🙈

Awalnya berniat candid. Eh kepergok. Dalam hati agak mbatin, kok macam lihat konser Slank ya atributnya *eh

“Ini apa Bang?” | “Ini tengkorak kijang.” | Oke, baiklah.

Naga merah jambu ini terasa khusus sekali, karena diarak oleh wanita. Kuat loh! Bagian kepala naga nya memang relatif lebih kecil daripada kepala naga pada umumnya, ya mungkin karena akan diarak oleh para wanita 🙂

Boneka yang sekilas seperti perpaduan Anabelle plus Marsha ini lumayan creepy kalau saya bilang. Entah bagaimana penggunaannya, namun boneka ini digunakan dalam ritual penyembuhan.

I think it’s hurt 🙈 Hurt is a sign of normal human-being, eh? But they aren’t. Them are different, so special.

This man loves his role. Alih-alih diam, pria ini tampak bergoyang mengikuti irama perkusi. Padahal matahari sedang terik-teriknya 🙂

Sedetik setelahnya, ia menguap lebar. Tampaknya agenda Cap Go Meh yang padat membuat tidurnya agak terganggu 🙈😳

Tatung, bagi saya pribadi merupakan entitas yang sukar dipisahkan dari kata loyalitas. Saya melihat ada begitu banyak energi yang dicurahkan dalam agenda tahunan ini. Tidak semua berasal dari Singkawang. Saat saya mampir membeli kupon makanan di SCC pun ada seorang pria yang tengah mendaftarkan kelompok penampil Tatungnya. Saya lupa nama daerahnya, namun bukan dari area Singkawang.

Tua, muda, laki-laki, perempuan. Saya melihat mereka bersemangat mengikuti festival ini. Dengan kostum yang megah, mengingatkan saya sebagian pada film Sun Go Kong, serta bunyi-bunyian yang saya yakin telah dilatih. Anak-anak kecil yang ikut bersemangat mengikuti rangkaian prosesi. Acara ini melelahkan. Bangun di pagi hari, berkeliling di bawah matahari pukul dua belas siang, memastikan fisik dan mental yang tak main-main.

Sekilas, ini mungkin ‘hanya’ seperti parade biasa. Namun di dalamnya, kamu akan menemukan loyalitas terhadap suatu kelompok.

Masih kurang? Bagaimana dengan penampilan yang nyaris selaras antara tiga suku berbeda itu? Memandang festival Tatung kemarin, dalam hati saya masih sangat yakin, bangsa ini selalu memiliki kesempatan untuk bersatu dalam perbedaan.

Yayaya, Cap Go Meh ini sungguh merepresentasikan sebutan kota Singkawang Hebat, Tidayu. Tionghoa – Dayak – Melayu 🙂

Antara pohon-pohon Papua & Bhinneka Tunggal Ika

0

Tadi tak sengaja membaca tautan yang dibagikan Mbak Windy–salah seorang penulis favorit zaman masih kuliah. Dia membagikan tentang sebuah artikel yang betapa entah bagaimana, wilayah hijau di Papua sana banyak yang digadai demi kepentingan investor.

Kemarin kapan, saya membaca cuitan tentang lokasi gereja baru yang ‘dibredel’.

Capek? Saya kok capek membaca berita-berita begitu.
Rasanya gemas. Ndak selesai-selesai. Kadang-kadang saya berandai-andai. Jika Engkau ada disini secara kasat mata, Tuhan, apa yang akan disampaikan pada kerumunan itu?

Saya sedih, melihat berita di negeri ini. Satu hal yang pada akhirnya membuat saya hanya seperlunya menilik berita di media.

“Duh, udahlah nggak usah idealis begitu.”

Lha iya, tapi bagaimana sih. Namanya juga hidup di negara sendiri kan?

Saya hanya takut, pada akhirnya Tuhan murka. Tidak hanya pada pelaku, namun pada kita semua.

Lalu apa yang bisa saya lakukan, dengan kekayaan yang biasa-biasa saja bukan macam jaringan Bakrie, networking seadanya, dan nyaris menghabiskan seharian di rumah mengurus anak?

Entahlah.

Mungkin saya akan membeli bibit pohon yang mudah perawatannya? Tidak apple to apple sih dengan kejadian di Papua sana. Tapi rasanya itu adalah hal yang paling masuk akal. Serta terjangkau. Tidak sebanding dengan kesedihan disana pasti, namun barangkali para bayi Rugrats yang konon akan menjadi ‘generasi penerus bangsa’ bisa mengambil hikmah dari upaya kecil itu (?). Sedemikian banyak lahan yang digerus, apa mungkin memang sudah seharusnya menghijaukan lahan sendiri? 😳

Saya mendadak jadi ingat satu artikel di Majalah Bobo. Di luar negeri sana, lupa di negara apa, satu pemerintahan memiliki aturan bagi para pelaku usaha pohon natal untuk menanam sekian bibit pohon baru untuk menggantikan pohon yang ditebang. Itu artikel saat saya SD sih, hehe. Entah praktiknya apakah masih begitu disana. Tapi premis 1 diganti sekian sebenarnya solusi yang ‘cukup’, jika manusia tidak sedemikian tamaknya.

Ah ya sudahlah, akhir minggu ini mari mencoba mencari bibit pohon yang bagus untuk ditanam. Siapa tahu kami yang bertangan panas dalam menangani tanaman ini berhasil 😂

Lalu bagaimana dengan kisah mayoritas minoritas tadi? Hh, saya lebih tidak tahu. Saya prihatin dengan semua aspek yang melekat pada kasus itu.

Tapi disini, saya memiliki dua anak. Sebagai orang tua dengan kapasitas seadanya, saya hanya mampu memberikan pemahaman sederhana pada Cupis tentang pentingnya memahami perbedaan. Agar tidak diganggu, agar tak mengganggu.

Perbedaan adalah hal yang lumrah, kan. Namun sekarang justru bikin bubrah.

Saya sedikit bersyukur, karena harus ikut Bapak Rugrats kemari. Ke kota kecil yang euforia Imleknya lebih kental daripada Natal atau Lebaran. Dimana Cupis harus berkawan dengan anak Tionghoa.

Bros ini dibuat salah satu anak tetangga. Namanya Ah Yong. Katanya untuk saya. Di suatu siang dia mengetuk pintu, agak gemas karena saya pikir masih siang kok sudah main. Ah, ternyata ia memberikan ini. Salah satu bros sederhana dari kain felt dan peniti yang agak berkarat; bros-bros itu rencananya akan diperjualbelikan di bazaar sekolahnya. Saya diajak olehnya 🙂

Kami menjadi minoritas disini, bukan lagi mayoritas seperti di jawa. Jadi, mau tak mau harus beradaptasi kan? Saat Imlek kemarin para tetangga dan kolega memberikan nian gao–kue keranjang. Maka kami membalas dengan parsel mini dan turut bertandang ke rumah-rumah mereka. Kagok sih, dengan bahasa Indonesia terbata-bata. Hehe.

Out of topic,

Tadi saya iseng menunjukkan foto-foto perempuan di negara lain pada Cupis. Dengan rambutnya yang keriting, pendek, ikal, hidung mancung, mata sipit, semua jenis kombinasi wajah yang bisa saya temukan di internet.

Saya bertanya padanya saat menunjukkan satu foto perempuan, namun (maaf) tidak memiliki hidung karena kecelakaan.

Muka Cupis mengernyit sedikit, lalu berkata cantik, meski ragu-ragu. Dan saya, hanya bisa menjelaskan yang saya bisa. Bahwa semua perempuan, semua manusia itu bagus dan baik. Cantik dan ganteng. Dengan potensi menjadi orang baik dengan caranya.

Oke, perempuan tadi mungkin tak memiliki hidung. Tapi manik matanya indah, berwarna biru. Rambutnya pun lurus dan tebal.

Ya barangkali memang harus begitu. Lakukan apapun yang kami mampu. Menjadi idealis, dengan apa yang dimiliki.

This land has only us to defend its motherland. How come we don’t care about anything?

Catatan :

Maafkan kerandoman ini. Mendadak gemas dan ingin menulis. Badan tengah dihajar flu berat yang bikin mumet, daripada garing ndak bisa sketching mari ngoceh saja.

Woles : slowing down isn’t a crime

0

People come and go, but you~ oh just be you.

Seiring usia, lama-lama saya memiliki preferensi yang jauh berbeda dari saat masih muda ((muda)).

Minat berubah, energi menempati porsi prioritas yang berbeda, kegelisahan masa muda pun digantikan hal-hal lain.

Saya pernah bertanya pada Ibu, sebuah pertanyaan random sebenarnya,

“Buk, kenapa rambutnya nggak mau dicat? Ubannya kelihatan.” begitu pertanyaan ngawur saya. Mungkin karena melihat banyak rekan Ibu yang melakukan hal yang sama.

“Ah buat apa. Udah tua ya tua aja. Dinikmati.”

Hehe.

Suatu waktu saya mendadak cemas dengan segala lemak tubuh yang bergelambir macam lintah. Hahaha. Well, saya pun tak menyangka saya seterbuka itu di tulisan ini lho 😂

Mendadak panik, karena semua orang tampaknya lebih baik memperhatikan diri mereka. Jawaban Bapak Rugrats membuat saya terhenyak.

“Buat apa sih? Aku malah kangen kamu dulu yang nggak dandan. Lagipula, aku tetap sayang kok.”

Saya terbahak-bahak mendengarnya. Karena kalimat itu bukan gombalan. Dia tak pandai merangkai kata puitis macam caption saya di akun Instagram 🤣

Ya sudahlah.

Dalam hati saya bersyukur. Bersyukur karena di dalam hari-hari saya yang kerap merasa ciut pada akhirnya saya bisa menyelipkan sedikit syukur.

“Kamu nggak kangen kerja, po?”

“Kamu nggak pengen usahamu lebih maju kah?”

“Kamu harusnya tinggal di Jogja aja biar enak.”

Hai hai.
Terimakasih atas semua ‘seharusnya’ itu. Kalian baik, sungguh.

Namun pada akhirnya takaran pas dan tidaknya sebuah kebahagiaan memang unik. Tergantung bagaimana menyikapinya.

Dan ya, mungkin kisahnya akan berbeda.

Semisal saya yang kangen bekerja kemudian memutuskan untuk mengambil pekerjaan baru, kehidupan saya akan kembali ke ritme 8 to 5 lagi. Saya mungkin senang karena bisa ‘berkembang’ dan memiliki me time, namun saya akan lebih jarang berdialog dengan para Rugrats. Kadang, saya agak sukar mengalihkan fokus kalau sudah bekerja. Ehm.

Iya, saya juga ingin usaha saya lebih maju. Dan saya pernah meluangkan sedemikian banyak upaya untuk itu. Imbasnya, tekanan itu sungguh menyiksa. Agak menyebalkan ternyata, hobi yang awalnya sekedar hobi yang bersifat katarsis ternyata malah menjadi stressor baru. Jadi saya memilih menepi. Meski masih belajar, saya sedang berusaha agar tidak dikendalikan deadline lagi 😂

Bismillah saja deh, kalau beberapa rejeki berjodoh tentu tak akan kemana.

Pindah ke Yogyakarta. Oh itu impian seumur hidup sepertinya. Hahaha. Tinggal di kota kelahiran dimana rentang waktunya tidak terpengaruh hiruk pikuk. Dengan setiap elemen pendukung yang memungkinkan saya ‘melesat’ ((melesat)) hehe. Tapi kalau saja saya tidak merantau, seperti sekarang, bisa jadi saya tak memiliki komponen rindu dalam karya-karya yang saya buat. Bisa jadi saya tak tergerak menulis atau menggambar elemen yang menenangkan syaraf rindu pada kampung halaman.

Jadi, nikmat mana yang saya dustakan?

Beberapa kali saya berpikir saya salah mengambil langkah. Beberapa kali orang-orang bilang saya salah langkah.

Rasanya ingin menyerah, kan?

Namun ketika beberapa hal bisa dinikmati, ternyata ada saja jalannya. Sang pemilik nyawa memang luar biasa.

Pemandangan ini sudah dua kali saya lihat di kota ini, dari halaman belakang rumah kami. Tempat kemunculannya sama, jumlahnya sama-sama dua. Lihat samar-samar pelangi di sebelah kiri? Pelangi ini muncul tepat setelah saya merasa kesal dengan AC yang bermasalah (gerah pisaaan dengan para Rugrats yang rusuh~). Mungkin saya diingatkan, selalu ada pelangi setelah hujan.

So there’s a will, there’s a way.

Tugas saya hanya harus percaya kalau saya mampu. Selama tujuannya baik, pintu-pintu berkah pasti siap diketuk, kan?

Panic attack : It’s real.

0

Pagi ini saya mendadak cukup sedih. Seorang teman harus ikut suaminya ke Ketapang, pindah tugas.

Iya, akhir-akhir ini saya merasa mudah sedih dan khawatir. Kalau kata Bapak Rugrats, mungkin karena saya lebih banyak di rumah dan kurang bersosialisasi. Hmm, bisa jadi.

Kalau dulu lebih banyak cuek, kini ada banyak hal yang mendadak diperhatikan. Kesehatan, sekolah anak-anak karena Bapak Rugrats akan sering pindah tugas, rumah yang berantakan, hasrat mengembangkan diri (ini serius, dan menggambar adalah medium yang banyak membantu), dan sebagainya.

Banyak mau, namun energinya seakan tersedot karena pikiran negatif. Banyak ingin, tapi lebih dulu merasa takut.

Betul, betul. Tahun lalu saya banyak mencoba. Melakukan hal-hal baru. Namun rasanya ada yang kurang. Saya, menjadi makin susah merasa bersyukur.

Parah, kan?

“Loh kamu kan anak psikologi, masak nggak bisa mengobati diri sendiri.”

And-this-is-one-million-dollar-statement.

Sungguh, terkadang ilmu-ilmu itu hanya ‘sekedar’ tulisan di atas kertas saat yang menjadi klien adalah diri sendiri. Ada beberapa sih yang ternyata malah berguna sekali kini, sesi relaksasi. Padahal dulu mah boro-boro 🤣

Atas saran Bapak Rugrats, saya pun memaksa diri untuk menemukan hal-hal baik dalam satu hari. Tidak selalu berhasil, tapi ya sudahlah. Demi mental yang lebih sehat.

Saya juga sedang belajar bernapas. Hah, bernapas? Iya, bernapas. Bernapas yang benar. Kebiasaan ini kerap muncul karena saya makin mudah panik setelah peristiwa tsunami Anyer kemarin.

Takut mati.

Kalau perasaan itu datang, rasanya sumpek dan pengap macam masuk ke kotak yang gelap. Seakan-akan tak ada oksigen. Saya mendadak lupa bernapas. Tandanya adalah otot perut saya seakan tertahan, menahan sesuatu. Bukan kentut, jika ada yang berpikir begitu 😂 Imbasnya, kepala mendadak pusing dan nyaris black out. Seumur-umur saya tak pernah loh merasa claustrophobic begitu 😦

Dan beberapa kali saya membuat analisa ngawur, denial, karena menolak mengakui saya memiliki level kecemasan luar biasa. Saya mensugesti diri kalau saya sedang lapar, atau kurang darah, atau kecapekan begadang, dsb. Entah deh~

Ada sisi positifnya sih. Saya jadi lebih sering mengingat Allah :’) pencapaian luar biasa, karena dulu saya kerap abai. Betapa Dia maha membolak-balik hati manusia, ya.

“Lah, kamu begini tapi sering post tentang hal positif. Gimana sih?”

Iya. Hahaha. Lur, semua hal-hal positif itu ditulis bukannya tanpa tujuan. Setiap komentar bernada baik, itu semacam menyumbang feedback positif. Semacam energi tambahan buat saya.

Saya jadi lupa tengah panik dan khawatir.

Zaman saya kerja paruh waktu, saya dikenal mudah panik. Bahkan memiliki nama julukan, Saripan. Sama Rina Panikan. And it’s horrible 😂 saya tak menyukai nama itu karena seperti penegasan; saya mudah panik. Andai mereka tahu, hidup dengan nama tengah ‘panik’ itu tidak asyik.

Mundur belasan tahun ke belakang, barangkali segala bentuk kekhawatiran akan hal-hal kecil ini menurun dari Ibu.

Ibu saya adalah pribadi yang akan memastikan segala sesuatunya sempurna, memiliki rutinitasnya sendiri. Hal itu dibentuk sepanjang masa remajanya, karena kebetulan tinggal bersama Mbah Buyut yang keras.

Tenang, saya mensyukuri hal itu karena menyumbang gen perfectionism dalam hidup saya. Semua keteraturan dan pemujaan atas kesempurnaan ini baik-baik saja, hingga saya sadar;

Saya tak mampu mengelola kekhawatiran saya dengan maksimal.

Saya, entah bagaimana, merasa bingung menyikapi pikiran tersebut. Untuk kesekian kalinya, saya seperti tidak paham cara kerja isi kepala sendiri 😢 konyol? Sangat! Dan saya mengikuti kekhawatiran itu.

Pernah di satu titik, saya harus berhenti dari menggambar karena setelah empat kali sketching dan semuanya tak sempurna. Kepala saya langsung pening, ruang gelap itu mendadak muncul 😦

Atau yang lebih konyol, saat liburan panjang di Kuching kemarin. Malam itu bertepatan dengan kabar tsunami Anyer. Serangan itu kembali datang, satu ruangan kamar yang sebenarnya lega selega-leganya, menjadi kurang luas bagi saya. Mendadak saya juga membenci lampu kamar yang berwarna temaram. Detik itu juga saya ingin lari keluar, menghirup udara bebas (padahal di luar mah lebih gelap deh). Saat itu saya ‘melawannya’. Karena Bapak Rugrats sedang mandi, saya berusaha menghirup napas dalam-dalam ditemani Ken. Berusaha memikirkan hal positif. Ketakutan saya adalah boggart, dan hal positif adalah Patronus. Ng… okay, I think its cool analogy. Congratulation to me 😂

And yes, I’m struggling with those kind of anxiety everyday. Dan karena menjadi seorang Ibu harus kuat, saya memaksa diri saya untuk mengesampingkan kecemasan. Karena, ya tak ada ruang untuk hal itu. Atau setidaknya, belum.

Berminggu-minggu berselang setelah serangan pertama itu, saya memutuskan untuk memutus mata rantai. Mandi cahaya matahari, minum air putih banyak-banyak, makan yang benar, bernapas yang benar, memeluk keluarga Rugrats.

Ada banyak hal yang perlu saya syukuri, dan ini lebih dari cukup.

And sometimes, it’s okay not to be okay.

Dapur Organik Kalbar : Hidden Gem in the ‘Jungle’

0

Once upon a time, all food was organic ~ Anonymous.

Saya baru sampai rumah beberapa saat lalu, dan masih terngiang enaknya nasi goreng yang dimasak menggunakan minyak VCO tadi. Rasanya gurih dan legit.

Dalam hati saya bersyukur, atas kesempatan bertandang ke ruang renjana Pak Umar.

Entah berapa kali saya melewati tempat makan semi terbuka berupa panggung yang didirikan di atas aliran Sungai Nipah, namun tak yakin untuk mampir. Hingga pagi tadi saya bertekad harus kesana.

“Mbak Septin!” Pak Umar–pemilik Dapur Organik itu melambaikan tangan bahkan saat saya dengan ragu-ragu melewati jembatan kayu. Iya, sebelumnya saya memang sempat mengirim surel dan pesan instan.

Tak lama kami datang, tersaji welcoming drink (wow!), dua cangkir sari kacang hijau serta sewadah besar irisan pisang dan tapai–mengiringi obrolan kami selanjutnya.

What a thoughtful greetings. Pisang hasil memetik di halaman. Sari kacang hijau dari olahan tangan. Siap menemani obrolan!

“Ini adalah periode keenam saya dengan Dapur Organik, Mbak.”

“Maksudnya, Pak?” tanya saya, bingung.

“Ini kali keenam, setelah lima kali usaha saya ini buka-tutup.”

Saya terdiam mengamati beliau, lalu sekeliling bangunan sederhana yang tampak sekali adalah dunia kecil Pak Umar.

Jadi ingat bar-bar yang ada di tepi pantai. Aduhhh! Terlalu kece~

“Awalnya saya hanya pencinta alam, dipertemukan dengan Greenpeace dan lain-lain, hingga membawa saya kemari.”

Mendadak, Pak Umar pamit sebentar ke bangunan rumah di ujung tempat tersebut. Tak lama kemudian beliau kembali membawa sebuah laptop. Dan mengalirlah obrolan tentang VCO. Dari dapur rumah hingga lemari es hotel ternama. Mulai dari tebak-tebakan ciri-ciri kelapa hijau, sampai harapan memiliki lahan seribu meter persegi yang ditumbuhi tanaman heterogen. Rasanya-rasanya seperti kuliah santai tipis-tipis di alam terbuka.

Ya, minat terbesar Pak Umar adalah pada kelapa.

Coconut for life!” katanya sembari mengambil foto sebutir kelapa yang mengapung di atas air dengan tunas lurus menantang langit.

Ada yang kesenengan bisa main air~ ckckck

“Oya, mau makan apa?” tanya beliau sembari memperlihatkan selembar menu yang dilaminasi.

Gado-gado dan nasi goreng, adalah dua menu yang kami pesan.

Ketika beliau mulai sibuk berkutat di dapur, mau tak mau saya penasaran–lalu ikut bergabung. Duh, rasanya macam menjadi tim nya Jiro Ono atau warung ramen di manga-manga Jepang–berada di dapur terbuka begitu.

Kenapa bule? Karena sebagian besar pengunjung Dapur Organik adalah para mahasiswa S2 yang tengah melakukan penelitian di Dapur Organik. Dan ya, saya takjub ada fasilitas lodge Airbnb disini. Sederhana, benar-benar dengan konsep ‘jungle home’.

Memasak pesanan saya. Nasi goreng yang benar-benar dari beras-cuci-aron-goreng. Agak syok karena saya pikir bakal lama. Ternyata iya lama 😆😂 tapi tidak terasa!

Cooking from scratch. Aneka biji-bijian, gula aren yang dibeli dari petani lokal, garam dari petani garam asli Madura. Disimpan dalam wadah-wadah kaca tebal seperti milik simbah buyut di Mergangsan. Bagaimana saya tak jatuh hati dengan tempat ini?

Aslinya sih kagok, memasak di dapur orang dimana medannya tidak saya pahami. Namun Pak Umar sungguh baik sekali membiarkan saya mengeksplorasi area itu.

Kagok! Hahahaha.

“Tolong aduk berasnya.”

Atau,

“Ini petai cinanya, sekalian dikupas ya.” adalah beberapa instruksi beliau.

Dan ya, Pak Umar meminta saya mencicipi sekeping petai cina. Icip = makan begitu saja mentah-mentah 😂

Calon bibit yang akan ditumbuhkan kembali. Di wadah terpisah ada kulit pisang dan sampah organik lain yang akan dikompos nantinya. Less waste.

Tak lama, seorang pria paruh baya berperawakan kecil datang. Pak Bujang–salah satu rekan Pak Umar di Sungai Nipah.

“Nah, kalau Pak Bujang ini luar biasa. Semua bangunan disini adalah buatan Pak Bujang.”

Pak Bujang yang baik hati. Bapaknya ini serba bisa. Ini beliau tengah sibuk membuat tiang untuk bakal calon area workshop pembuatan VCO. Soon!

Saya menyalami beliau. Ah ya, saya mengenalinya dari beberapa unggahan foto di akun Instagram tempat ini.

“Bapak mengelola tempat ini, disini–tempat yang warganya mungkin awam dengan hal-hal berbau organik, gambling nggak sih Pak?” tanya saya penasaran.

Empat piring nasi goreng sudah siap disantap, tinggal membuat gado-gado dimana Pak Umar sibuk menumis irisan bawang putih dan segenggam kacang tanah dengan VCO. Aromanya luar biasa.

“Pasti. Setahun awal dulu mungkin saya masih berpikir masalah profit. Tapi setelah lima kali gagal, dan ini kali keenam saya masih berjuang–ya anggap saja ini sebagai cara saya memperkenalkan apa itu organik.”

Ya ampun ini unik pisan. Telur rebus dicocol entah-rempah-apa-saja. Aneh, tapi saat kuning telur berpadu ulekan rempah-rempah ini, lha kok enak? 😆😂

Kopi robusta, komoditi petani kopi di daerah Wajo–dua puluh menit dari kota Pontianak.

Menurut saya sih, upaya Pak Umar memperkenalkan dapur organik berkonsep slow cooking from scratch ini nekat! 🙈 Meski saya tetap angkat topi melihat kegigihan beliau.

Warga setempat mungkin belum terbiasa dengan konsep seperti ini. Warteg dan Nasi Padang mungkin jauh lebih ‘mudah’ dari pada berkunjung ke Dapur Organik.

Padahal tempat ini keren sekali untuk mempelajari organic living. Sumber dayanya ada.

Yah, tapi urusan memasyarakatkan terkadang memang kembali kepada fungsi edukasi dari tatanan yang lebih tinggi sih :’)

Persis seperti celetukan Bapak Rugrats,

“Bisa jadi petani itu banyak, namun mata rantainya yang perlu diperbaiki.”

Yeah, what a big problem~

Suka! Teh (?) racikan jahe dan kunyit. Pas sekali menemani nasi goreng. Rasa hangatnya melegakan tenggorokan~ konon, racikan minuman ini didapat Pak Umar dari salah seorang pengunjungnya yang tinggal di Jerman.

Beliau, sekuat apapun berusaha menyederhanakan impiannya dalam kata-kata, matanya tetap saja berbinar menceritakan tentang budaya organik. Passion, hm?

Tiga setengah jam dari rencana awal yang hanya mampir untuk makan siang. Terlalu betah hingga rasanya seperti bertandang ke rumah paman jauh di desa–atau hutan, seperti katanya saat awal tadi menyambut kami,

Welcome to your jungle home!”

Jika ada satu hal yang mengena sekali di saya, itu adalah kekecewaan pribadinya kenapa ia baru beranjak ke konsep organik setelah sekian lama. Sekarang beliau berumur lima puluhan, dan ‘baru’ beberapa tahun ke belakang Pak Umar mempelajari tentang konsep tersebut.

Istilah ‘habiskan kegagalanmu di waktu muda’ tampak tak berlaku bagi beliau. Keinginan belajar dan berbagi Pak Umar meninggalkan kesana begitu kuat bagi saya pribadi.

Semacam bungalow yang sekaligus menjadi hunian Airbnb. Aduhh~

Bagaimana dengan usahanya? Well, belum dapat dikatakan menghasilkan output ‘bombastis’, namun Pak Umar tak henti-hentinya menghidupi keyakinannya akan Dapur Organik.

Harapannya kelak, Dapur Organik dapat memberikan inspirasi tentang bagaimana memaksimalkan bahan pangan melalui alam. Seperti kalimatnya di tengah-tengah sesi sharing tentang VCO tadi,

“Goal konsep organik adalah, kita harus tahu asal makanan yang disajikan di meja…”

Saya jadi teringat kutipan lain dalam poster himbauan yang dikeluarkan US Food Administration pada periode Perang Dunia I,

Food. Buy it with thought, cook it with care, use less wheat & meat, buy local foods, serve just enough, use what is left, don’t waste it.

Yah. Dunia memang bergeser. Padahal dulu sesuatu yang organik adalah hal yang memang ‘apa adanya’ serta dilakukan dengan hati. Kini, sesuatu yang organik menjadi komoditas yang terkesan ‘mahal’ karena telah mengarah menjadi tren.

So, now it’s your kitchen, too.” itu adalah kata-kata Pak Umar saat kami izin pamit.

Terima kasih, kapan-kapan kami mampir lagi! Dan terima kasih untuk telah menunjukkan bagaimana menghidupi mimpi. Bukan untuk sekedar mencari profit, namun memperkaya batin dan diri :’)

Hasil ‘jajan’ di dapur Pak Umar. Mumpung di rumah habis. Daaaan, beliau memetik daun pisang di halaman dong, untuk wadah jajanan saya ini. Perfect!