[Walk the Talk] Urip iku urup : Menjaga budaya melalui teknologi

0

Memayu hayuning bawono, ambrasto dur hangkoro (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan; memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak).

Saya itu agak maniak budaya jawa. Ya bagaimana, wong lahir dan besar di Yogyakarta. Hehe.

Bagi saya pribadi, kekentalan budaya jawa itu mistis. Masa remaja saya tanpa sengaja dihabiskan dengan banyak melahap isu-isu klenik nan kejawen dari suatu tabloid nyentrik bernama Posmo. Isinya–ng…. sebagian besar adalah kisah politik yang berbalut pesugihan, senjata ‘gawan’, primbon, dan sebagainya (eh, ndak tahu apa itu Posmo? Coba googling πŸ˜†). Referensi yang agak kurang pas sih ini, namun ternyata kedalaman filosofi jawa di setiap topiknya justru membuat saya makin kesengsem. Membuat saya makin menghormati siapapun yang bergerak di dalamnya.

Vinia ini adalah teman SD saya, duduknya belakang sendiri–pesaing kuat peringkat lima besar πŸ˜† Long short story, saya baru tahu dia ini punya segudang aktivitas. Salah satunya adalah bergabung di Tepas Tandha Yekti — divisi IT & dokumentasi Kraton Yogyakarta yang digagas oleh Gusti Kanjeng Ratu Hayu, putri ke empat Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Bergabung sejak Oktober 2013, teman saya ini menjadi bagian dokumentasi tim TTY (Tepas Tandha Yekti). Pernah mampir akun Instagram @kratonjogja ? Nah, beberapa konten ditulis olehnya.

Meskipun nguri-uri kabudayan itu menjadi misi utama bergabung di TTY, ternyata suba sita–unggah-ungguhlah yang justru menjadi ‘pembentuk’ karakter Vinia.

“Kraton tuh menjagaku ben nggak terlalu urakan. Ya gimana, semisal aku di luar kakehan gaya–banyak gaya–tapi pas masuk lingkup kraton mau nggak mau adatnya menjadi semacam rambu weweling.”

Ah ya, filosofi. Betapa setiap hal dalam budaya jawa memang memiliki makna yang dirumuskan dengan sepenuh hati. Thoughtful. Tata cara berpakaian, makna warna yang terselip, asal muasal tiap gerakan pada tarian.

Akhir tahun lalu saya tidak sengaja bertemu Vinia–sepertinya masih usia kehamilan awal–di acara Garebeg Mulud yang diadakan di Kraton Yogyakarta. Saya memang sengaja meluangkan waktu melihat seremonial tersebut, mumpung bisa ambil cuti.

‘Tim sukses’ TTY, dibalik layar akun @kratonjogja πŸ™‚ ini mereka stand by dari pagi sekali loh!

Mengenakan atasan janggan hitam serta jarik wironan, ia sibuk ‘meliput’ acara yang diadakan setahun sekali tersebut.

“Itu aku pakai konde sendiri, dandan dhewe. Haha.” sahutnya saat saya bertanya apakah ada juru rias khusus saat acara-acara adat begitu–mengingat frekuensi Vinia mengenakan pakaian dan sanggul begitu lumayan intens. Dan ya, menjadi bagian tim TTY berarti ke-legowo-an untuk mampu menyediakan waktu dan pikiran mengikuti rangkaian acara adat yang jumlahnya sangat banyak.

“Semisal acara mulai jam delapan. Ya minimal banget sejam sebelumnya wis sampai.” Nah kalau harus dandan, dua jam sebelumnya harus tiba di Kraton πŸ˜†

Siang itu, sekitar setahun lalu, Yogyakarta cukup terik. Panasnya ngenthang-ngenthang, kalau kata orang jawa. Tepat sebelum azan Dhuhur berkumandang, iring-iringan bregada dan sepasukan pembawa gunungan selesai. Teman saya tadi dan teman-teman satu timnya buru-buru nyincing (mengangkat) jarik, setengah berlari segera berpindah tempat until meneruskan liputan. Bertelanjang kaki, Mbak-Mas berbaju resmi tersebut menapaki konblok yang panas. Seperti abdi dalem. Bedanya, mereka menenteng tripod, kamera DSLR, tote bag, dan beberapa gadget lain πŸ™‚

Bagi saya pribadi, TTY melalui akun media sosialnya ini sangat keren. Terbayang kan, segala tata cara serta adat istiadat kraton yang sedemikian majemuk diulas satu persatu menjadi materi informatif yang dapat diakses dengan mudah. Pun kamu di kutub utara sana, selama terhubung internet.

Bersama salah satu nara sumber. Bu Basirun ini merupakan salah satu abdi dalem keparak yang sangat supel. Beberapa kali saya menemukan beliau ketika browsing mencari gambar abdi dalem πŸ™‚

“Ya alhamdulillah krama inggilku terpakai. Soale harus wawancara panghageng, pengurus, ataupun pengampu bidang-bidang tertentu.” kata Vinia saat saya menanyakan sumber kontennya.

Duh, kalau saya pasti deg-degan menjelajahi benteng kraton yang sedemikian luasnya itu untuk bertemu dan mewawancarai nara sumber yang nyaris semuanya sepuh. Keder!

Oh ya, Sri Sultan Hamengkubuwono X bahkan mempersilakannya mengajukan pertanyaan dalam bahasa Indonesia–suatu ketika saat Vinia perlu mewawancarai Sinuhun dulu. Hmm~

Saya angkat topi, atas dedikasi Vinia terhadap Yogyakarta–satu hal yang membuat malas beranjak keluar yo Vin? Hehe, serta atas upaya GKR Hayu dan suami beliau, KPH Notonegoro, yang kembali mengakar budaya meskipun sudah pernah menapaki karir gemilang di Microsoft atau UN atau lembaga IT lain di Jakarta.

Pasti tidak mudah, menyatukan visi lintas generasi pun segala pakem budaya ke dalam kepingan informasi yang boleh dan bisa diakses publik.

Kalau saya pikir, memang lumrah jika diperlukan saringan ‘khusus’ (meski saya tak tahu apakah memang ada atau tidak πŸ™„) hingga dapat bergabung di TTY. Karena ini sama saja dengan menjadi duta budaya πŸ™‚ Ojo ngisin-isini lah~ πŸ˜†

Belasan tahun lalu, budaya yang didokumentasikan secara digital mungkin hanya ada dalam wacana ataupun selembar foto semata–terkungkung oleh batasan tembok-tembok beteng.

Kini? WAH! Kita bahkan bisa mengetahui serba-serbi kebudayaan Kraton Yogyakarta yang adiluhung itu dalam genggaman.

“Sampai kapan, Vin?” komentar saya penasaran.

Acara adat di Kraton Yogyakarta yang cukup padat, secara tidak langsung mengharapkan loyalitas dan kecintaan para anggota tim TTY. Tak ada yang mampu menggerakkan senyuman di akhir hari terberat sekalipum, selain rasa cinta terhadap apa yang kita lakukan, kan?

Jawabannya, entah. Mungkin seterusnya? Selamanya? Karena bergabung dengan TTY ini adalah bentuk ‘pengabdiannya’ terhadap kota kelahiran. Pengabdian lewat media tulisan yang para akhirnya menjelma menjadi sebentuk CSR pribadi untuk Yogyakarta.

Melakukan riset kecil serta menulis rupanya menjadi semacam jangkar yang digunakan Vinia sebagai ‘selingan’ aktivitas sehari-hari. Dari yang awalnya ‘sekedar’, hingga menjadi poros yang senantiasa menariknya kembali ke Yogyakarta.

Dari sekian banyak hal yang ia dapat dari TTY, loyalitas dan memahami akar budaya, adalah salah satunya.

Tidak mudah tentu, menjadi orang luar benteng yang kemudian ujug-ujug rutin hadir di antara hiruk pikuk kraton πŸ™‚ Dan memang dibutuhkan kemauan untuk mempelajari budaya ratusan tahun agar dapat beradaptasi dengan baik.

“Aku ya nggak nyangka bisa masuk dalam lingkup kraton sampai sejauh ini untuk belajar. Lha aku ki sopo?” kata Vinia suatu ketika.

Tentang bagaimana ia bisa bergabung di TTY, monggo kulik sendiri ya πŸ™ˆ yang jelas sih, ada serangkaian kegiatan yang diikuti teman saya ini sedari kuliah hingga akhirnya membuka kesempatan tersebut.

Tentang berkomitmen di TTY, itu berarti mengabdi. Jadi yang hobinya ngeluh, tukang ngeles, jam karet, pamrihanpass! πŸ˜†

Ya iyalah, apalagi yang bakal dihadapi adalah panggedhe Kraton Yogyakarta beserta jajarannya, kan. Bukan eksklusif, namun ini terkait dengan adat turun-temurun yang harus dihargai.

Kalimat ini menerbangkan pikiran saya kemana-mana. Ya, kadang kita terlalu rumit memikirkan bentuk sumbangsih terhadap negeri. Padahal untuk ‘berguna’, belum tentu harus berlevel grande. Cukup lakukan apa yang dimampu, namun sepenuh hati.

Bersama para peserta Usindo Summer Studies, tahun 2016 lalu, saat mengadakan kunjungan ke Kraton Yogyakarta.

Istilah ‘mbangun desa’ yang nyata, memang harusnya tidak muluk-muluk mengkritisi apa yang tidak dipunya. Namun memberdayakan apa yang ada. Bukankah itu hakikatnya gelar sarjana? Atau doktor?

Sambil menggambar satu sketsa (lagi) dan lagi-lagi tentang Yogyakarta, saya membatin.

Urip iku urup.

Ya kalau bukan diri sendiri yang menyalakan (ngurupi) kehidupan (urip), siapa lagi? Minimal berguna, bagi lingkup terdekat.

Dapur Organik Kalbar : Hidden Gem in the ‘Jungle’

0

Once upon a time, all food was organic ~ Anonymous.

Saya baru sampai rumah beberapa saat lalu, dan masih terngiang enaknya nasi goreng yang dimasak menggunakan minyak VCO tadi. Rasanya gurih dan legit.

Dalam hati saya bersyukur, atas kesempatan bertandang ke ruang renjana Pak Umar.

Entah berapa kali saya melewati tempat makan semi terbuka berupa panggung yang didirikan di atas aliran Sungai Nipah, namun tak yakin untuk mampir. Hingga pagi tadi saya bertekad harus kesana.

“Mbak Septin!” Pak Umar–pemilik Dapur Organik itu melambaikan tangan bahkan saat saya dengan ragu-ragu melewati jembatan kayu. Iya, sebelumnya saya memang sempat mengirim surel dan pesan instan.

Tak lama kami datang, tersaji welcoming drink (wow!), dua cangkir sari kacang hijau serta sewadah besar irisan pisang dan tapai–mengiringi obrolan kami selanjutnya.

What a thoughtful greetings. Pisang hasil memetik di halaman. Sari kacang hijau dari olahan tangan. Siap menemani obrolan!

“Ini adalah periode keenam saya dengan Dapur Organik, Mbak.”

“Maksudnya, Pak?” tanya saya, bingung.

“Ini kali keenam, setelah lima kali usaha saya ini buka-tutup.”

Saya terdiam mengamati beliau, lalu sekeliling bangunan sederhana yang tampak sekali adalah dunia kecil Pak Umar.

Jadi ingat bar-bar yang ada di tepi pantai. Aduhhh! Terlalu kece~

“Awalnya saya hanya pencinta alam, dipertemukan dengan Greenpeace dan lain-lain, hingga membawa saya kemari.”

Mendadak, Pak Umar pamit sebentar ke bangunan rumah di ujung tempat tersebut. Tak lama kemudian beliau kembali membawa sebuah laptop. Dan mengalirlah obrolan tentang VCO. Dari dapur rumah hingga lemari es hotel ternama. Mulai dari tebak-tebakan ciri-ciri kelapa hijau, sampai harapan memiliki lahan seribu meter persegi yang ditumbuhi tanaman heterogen. Rasanya-rasanya seperti kuliah santai tipis-tipis di alam terbuka.

Ya, minat terbesar Pak Umar adalah pada kelapa.

Coconut for life!” katanya sembari mengambil foto sebutir kelapa yang mengapung di atas air dengan tunas lurus menantang langit.

Ada yang kesenengan bisa main air~ ckckck

“Oya, mau makan apa?” tanya beliau sembari memperlihatkan selembar menu yang dilaminasi.

Gado-gado dan nasi goreng, adalah dua menu yang kami pesan.

Ketika beliau mulai sibuk berkutat di dapur, mau tak mau saya penasaran–lalu ikut bergabung. Duh, rasanya macam menjadi tim nya Jiro Ono atau warung ramen di manga-manga Jepang–berada di dapur terbuka begitu.

Kenapa bule? Karena sebagian besar pengunjung Dapur Organik adalah para mahasiswa S2 yang tengah melakukan penelitian di Dapur Organik. Dan ya, saya takjub ada fasilitas lodge Airbnb disini. Sederhana, benar-benar dengan konsep ‘jungle home’.

Memasak pesanan saya. Nasi goreng yang benar-benar dari beras-cuci-aron-goreng. Agak syok karena saya pikir bakal lama. Ternyata iya lama πŸ˜†πŸ˜‚ tapi tidak terasa!

Cooking from scratch. Aneka biji-bijian, gula aren yang dibeli dari petani lokal, garam dari petani garam asli Madura. Disimpan dalam wadah-wadah kaca tebal seperti milik simbah buyut di Mergangsan. Bagaimana saya tak jatuh hati dengan tempat ini?

Aslinya sih kagok, memasak di dapur orang dimana medannya tidak saya pahami. Namun Pak Umar sungguh baik sekali membiarkan saya mengeksplorasi area itu.

Kagok! Hahahaha.

“Tolong aduk berasnya.”

Atau,

“Ini petai cinanya, sekalian dikupas ya.” adalah beberapa instruksi beliau.

Dan ya, Pak Umar meminta saya mencicipi sekeping petai cina. Icip = makan begitu saja mentah-mentah πŸ˜‚

Calon bibit yang akan ditumbuhkan kembali. Di wadah terpisah ada kulit pisang dan sampah organik lain yang akan dikompos nantinya. Less waste.

Tak lama, seorang pria paruh baya berperawakan kecil datang. Pak Bujang–salah satu rekan Pak Umar di Sungai Nipah.

“Nah, kalau Pak Bujang ini luar biasa. Semua bangunan disini adalah buatan Pak Bujang.”

Pak Bujang yang baik hati. Bapaknya ini serba bisa. Ini beliau tengah sibuk membuat tiang untuk bakal calon area workshop pembuatan VCO. Soon!

Saya menyalami beliau. Ah ya, saya mengenalinya dari beberapa unggahan foto di akun Instagram tempat ini.

“Bapak mengelola tempat ini, disini–tempat yang warganya mungkin awam dengan hal-hal berbau organik, gambling nggak sih Pak?” tanya saya penasaran.

Empat piring nasi goreng sudah siap disantap, tinggal membuat gado-gado dimana Pak Umar sibuk menumis irisan bawang putih dan segenggam kacang tanah dengan VCO. Aromanya luar biasa.

“Pasti. Setahun awal dulu mungkin saya masih berpikir masalah profit. Tapi setelah lima kali gagal, dan ini kali keenam saya masih berjuang–ya anggap saja ini sebagai cara saya memperkenalkan apa itu organik.”

Ya ampun ini unik pisan. Telur rebus dicocol entah-rempah-apa-saja. Aneh, tapi saat kuning telur berpadu ulekan rempah-rempah ini, lha kok enak? πŸ˜†πŸ˜‚

Kopi robusta, komoditi petani kopi di daerah Wajo–dua puluh menit dari kota Pontianak.

Menurut saya sih, upaya Pak Umar memperkenalkan dapur organik berkonsep slow cooking from scratch ini nekat! πŸ™ˆ Meski saya tetap angkat topi melihat kegigihan beliau.

Warga setempat mungkin belum terbiasa dengan konsep seperti ini. Warteg dan Nasi Padang mungkin jauh lebih ‘mudah’ dari pada berkunjung ke Dapur Organik.

Padahal tempat ini keren sekali untuk mempelajari organic living. Sumber dayanya ada.

Yah, tapi urusan memasyarakatkan terkadang memang kembali kepada fungsi edukasi dari tatanan yang lebih tinggi sih :’)

Persis seperti celetukan Bapak Rugrats,

“Bisa jadi petani itu banyak, namun mata rantainya yang perlu diperbaiki.”

Yeah, what a big problem~

Suka! Teh (?) racikan jahe dan kunyit. Pas sekali menemani nasi goreng. Rasa hangatnya melegakan tenggorokan~ konon, racikan minuman ini didapat Pak Umar dari salah seorang pengunjungnya yang tinggal di Jerman.

Beliau, sekuat apapun berusaha menyederhanakan impiannya dalam kata-kata, matanya tetap saja berbinar menceritakan tentang budaya organik. Passion, hm?

Tiga setengah jam dari rencana awal yang hanya mampir untuk makan siang. Terlalu betah hingga rasanya seperti bertandang ke rumah paman jauh di desa–atau hutan, seperti katanya saat awal tadi menyambut kami,

Welcome to your jungle home!”

Jika ada satu hal yang mengena sekali di saya, itu adalah kekecewaan pribadinya kenapa ia baru beranjak ke konsep organik setelah sekian lama. Sekarang beliau berumur lima puluhan, dan ‘baru’ beberapa tahun ke belakang Pak Umar mempelajari tentang konsep tersebut.

Istilah ‘habiskan kegagalanmu di waktu muda’ tampak tak berlaku bagi beliau. Keinginan belajar dan berbagi Pak Umar meninggalkan kesana begitu kuat bagi saya pribadi.

Semacam bungalow yang sekaligus menjadi hunian Airbnb. Aduhh~

Bagaimana dengan usahanya? Well, belum dapat dikatakan menghasilkan output ‘bombastis’, namun Pak Umar tak henti-hentinya menghidupi keyakinannya akan Dapur Organik.

Harapannya kelak, Dapur Organik dapat memberikan inspirasi tentang bagaimana memaksimalkan bahan pangan melalui alam. Seperti kalimatnya di tengah-tengah sesi sharing tentang VCO tadi,

“Goal konsep organik adalah, kita harus tahu asal makanan yang disajikan di meja…”

Saya jadi teringat kutipan lain dalam poster himbauan yang dikeluarkan US Food Administration pada periode Perang Dunia I,

Food. Buy it with thought, cook it with care, use less wheat & meat, buy local foods, serve just enough, use what is left, don’t waste it.

Yah. Dunia memang bergeser. Padahal dulu sesuatu yang organik adalah hal yang memang ‘apa adanya’ serta dilakukan dengan hati. Kini, sesuatu yang organik menjadi komoditas yang terkesan ‘mahal’ karena telah mengarah menjadi tren.

So, now it’s your kitchen, too.” itu adalah kata-kata Pak Umar saat kami izin pamit.

Terima kasih, kapan-kapan kami mampir lagi! Dan terima kasih untuk telah menunjukkan bagaimana menghidupi mimpi. Bukan untuk sekedar mencari profit, namun memperkaya batin dan diri :’)

Hasil ‘jajan’ di dapur Pak Umar. Mumpung di rumah habis. Daaaan, beliau memetik daun pisang di halaman dong, untuk wadah jajanan saya ini. Perfect!

Seat 25 [MOVIE] : How far you’ll go?

0

What happens when you win a one-way ticket to Mars?

Itulah yang terjadi pada seorang perempuan introvert bernama Faye.

Faye Banks menghidupi kesehariannya yang normal dan monoton bersama Nicholas, suaminya yang easy going.

Disajikan dengan tone yang cukup lawas, Faye menjalani perannya sebagai istri yang pendiam sekaligus karyawan pasif divisi human resource di kantornya.

Kehidupan Faye yang datar mulai bergejolak, ketika ia memenangkan tiket ke Mars yang diadakan oleh ilmuwan (atau milyuner? Saya kok jadi teringat Elon Musk disini~).

Faye Banks. Pasif plus introvert, namun selera vintage fashionnya kok lucu *eh gimana~

Dalam hitungan minggu, Faye harus berangkat ke Mars. Tidak dapat mundur dan tidak akan pernah kembali ke bumi. Disini kegamangan terjadi. Ia tak mampu bercerita kepada keluarganya.

Film ini nyaris minim dialog. Cenderung datar dan monoton. Tapi ketika ditonton di waktu yang cukup luang dengan mood yang baik, feel-nya akan mengena πŸ™‚

Saya menyukai perspektif kamera yang digunakan di film ini. Entah istilahnya apa, haha. Tapi suka–salah satu alasan yang membuat saya ingin mengilustrasikan kembali beberapa adegan dalam film ini.

Ada satu adegan yang membuat saya mendengus, saat Faye mendadak dipasrahi tugas memecat karyawan-ia mendapatkan ‘promosi’, dimana job tambahannya adalah memecat karyawan. I feel you, Banks! πŸ˜‚ Faye yang super-pasif ini harus menyampaikan kabar buruk tersebut kepada orang-orang yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan karena berbagai alasan. Termasuk pada Teodor–salah satu karyawan lawas yang berhati baik. Duh.

Teodor. Rekan sejawat Faye yang tinggal seorang diri. Tipe karakter insecure lain di film ini, relatif pendiam. Porsinya sedikit, tapi sukses membuat sedih 😦

Eh tapi sungguh, memberhentikan orang itu tidak enak deh. Serius. Saya suka kepikiran keluarganya. Kadang, terpikir sampai rumah. Tidur tidak nyenyak πŸ˜₯ salah satu alasan minor yang membuat saya memutuskan resign dari kantor. Menghadapi berbagai jenis emosi manusia itu melelahkan mental saya πŸ˜‚ dan ternyata pertahanan saya ada batasnya. Tahu kan, karena jadi HRD kadang perlu sekalem mungkin menanggapi masalah πŸ˜‚

I feel you! Sometimes those feeling-related is sucks~ πŸ˜‚

Memandang Faye yang nyaris selalu bermuka sayu dengan tatapan menerawangnya–kecuali saat ia berinteraksi dengan Peter, tetangga sebelah rumah yang seorang pengangguran, membuat saya lagi-lagi turut merasa prihatin.

Tiket ke Mars ini, semacam dijadikan Faye sebagai upaya terakhir Faye untuk ‘kabur’ dari hidupnya. Melarikan diri dari pekerjaan memecat orang, dari Ayahnya yang seakan tak peduli lagi dengannya, dari Nicholas yang selalu sibuk. Dari segalanya.

Suka sekali chemistry Peter & Faye. Lebih mengena daripada Faye & Nicholas~

Nah, menonton film ini, saya seperti diingatkan akan pentingnya mencoba membuka diri.

Tekanan akan selalu ada dari manapun, begitu juga kondisi-kondisi yang tidak serta merta dapat diubah.

“Begitu doang masa stres?”

Realitanya, ya. ‘Begitu doang’ bisa berarti masalah besar bagi orang lain.

Faye, tak dapat mengeluarkan emosinya sesuka hati. Ia memendamnya jauh. Hingga akumulasinya adalah secara acak mengikuti kompetisi Mars tadi–terlepas ia memang memuja petualangan luar angkasa sedari kecil. Ia mengambil keputusan sepihak, tanpa berdiskusi pada siapapun tentang niatnya itu.

Termasuk meninggalkan Nicholas. Dan Faye salah tentang dugaannya selama ini. Bukan hanya dirinya yang memendam semua tekanan, Nic pun juga demikian.

Baginya, semua akan baik-baik saja karena tak ada yang benar kehilangan. Saya jadi teringat lagi obrolan tempo hari dengan Mbak Agatha disini.

Film ini memiliki rating IMDb kecil. Hanya lima dari sepuluh. Namun diganjar enam penghargaan dalam festival internasional. Kok bisa? Sok, coba dilihat deh. Mungkin bakal ketemu clue kenapa bisa begitu.

Bagi saya pribadi, ini bukan sekedar kisah seorang perempuan memenangi satu tiket ke Mars. Di film ini Saya disuguhi dinamika psikologi seorang Faye yang selama ini menutup diri hingga ‘terpaksa’ mengambil keputusan ekstrim–sesuatu yang dianggapnya sebagai keputusan terbaik.

Saya membayangkan Faye yang didera perasaan campur aduk atas keputusannya itu. Semakin mendekati waktu kepergiannya dan semakin memberatkan. Konyolnya lagi, ia bahkan tak punya cukup nyali untuk bercerita–atau mungkin tepatnya, tak sungguh yakin mampu menghadapi bentuk emosi lingkungan terdekat yang akan ia hadapi. Kasarnya, Faye ini terkesan meribetkan diri. Ribet, tapi kasihan πŸ˜₯

Nicholas yang marah kemudian bertanya kenapa Faye tak mau bercerita hal sepenting itu.

Faya bukannya tak mau. Ia tak bisa. Kenapa? Karena ia adalah pribadi yang tertutup dan pasif. Ia (mungkin) memiliki rentang kekhawatiran yang akan terjadi seandainya ia menceritakan niatnya.

Mungkin Nic akan melarang?

Atau Pandora–adiknya yang populer–akan mencemooh?

Peter bahkan berkata bahwa kehidupan di bumi jauh lebih baik daripada Mars–berkaca bahwa ia pengangguran yang tidak dihargai istri, haruskah Faye menurut?

Untuk pertama kalinya Faye membuat keputusan gila. Kali pertama ia menemukan ‘kendali’ atas hidupnya yang membosankan.

Semua orang melarang, menyayangkan, kecewa. Beberapa karena keputusan Faye, sebagian lagi karena meratapi kehidupan mereka (?).

It’s just, wow.

Merasa galau setelah menonton film ini? Pergi, carilah teman terdekat yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi. Barangkali kamu hanya ingin didengar saja, kan?

Seperti tagline di awal tulisan ini,

What happens when you win a one-way ticket to Mars?

Apakah kamu akan ‘melarikan diri’ dari kehidupanmu yang membosankan alih-alih berusaha memperbaiki, atau sebaliknya?

Well done, Faye Banks.

[Walk the Talk] ‘Peluang’ itu memiliki empat huruf, berawalan K dan berakhiran S

0

An enthusiastic heart finds opportunities everywhere ~ Paulo Coelho

Menjadi wanita karir adalah cita-cita saya, dulu. Rasanya keren betul memakai setelan formal ditambah satu cup kopi (meski saya tak suka kopi), atau mengetik di depan Mac keluaran terbaru. Sungguh cita-cita produksi era milenium πŸ˜‚

Saya tak siap menjadi ibu rumah tangga dengan segala kompleksitasnya, saat itu. Kekhawatiran terbesar tentu masalah rejeki. Oh, sungguh payah sekali ya, meremehkan kuasa Tuhan masalah rejeki ini.

Ketakutan itu masih suka mampir, hingga saya ngobrol dengan Mbak Jet.

Ada yang suka menguji peruntungan lewat undian atau hal serupa? Togel deh, semisal kurang ekstrim πŸ˜‚ Pernah? Saya pernah beberapa Kali iseng ikut give away atau sejenis, tapi banyak gagalnya πŸ˜† Sinis saya waktu itu,

“Ah, ikut beginian mah pasti sekalian si empunya hajat pilih yang followernya banyak, sekalian promosi.” Su’udzon pisan pokoknya.

Kalimat saya itu dibantah habis oleh Mbak Jet, kakak angkatan Gardep Dagadu yang dulu sering saya kira galak πŸ˜†πŸ˜‚

Kok dibantah? Iya karena dia memang langganan menang kuis. Asli, sampai heran dan takjub loh saya 😣

Dia–dan Mas X, si suami–terbilang sangat sering mengikuti kuis di Instagram. Dan menang.

“Tahu dari mana sih, Mbak? Ada semacam grup quiz hunter begitu kah?” tanya saya saking herannya dengan kecepatannya submit materi kuis. Setahu saya, kalau di Twitter dulu ada komunitas hunter semacam ini. Karena kebetulan ada anak Gardep Dagadu yang ciamik sekali tingkat hoki-nya.

“Mungkin ada, sih. Tapi aku nggak tau juga. Hehe. Kalau aku ya paling team-up sama Mas X, atau beberapa temen yang emang suka ngulik kuis, tukeran informasi. Hehe.” tukasnya.

Lha iya juga, sih.

Lalu resep menang kuis? Sepertinya sih tidak ada, karena kembali ke peruntungan tiap orang. Atau kata Mbak Jet, rejeki.

“Kayaknya rejekiku memang lewat kuis-kuis ini, sih. Aku resign, ikut suami. Nggak punya gaji. Ehh malah dikasih rejeki dalam bentuk yang lain.”

Saya terdiam. Iya, ya.

Mas X, suami Mbak Jet, lain kisah lagi. Konon, dulu ia mengajak Mbak Jet untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius saat mereka sedang piknik ke Maldives. ((piknik)).

Oke. Maldives. Tapi kamu harus tahu apa lagi yang membuatnya istimewa,

Yak! Jalan-jalan ke Maldives pun didapat Mas X dari menang kuis! πŸ˜‚ What kind of~

Mau dilamar disini? Lebih canggih lagi kalau kesini gratis-tis-tiss~ 😣

Club Med, pun. Mendengar cerita Mbak Jet, saya cuma cengar-cengir.

Duh, kayaknya kok heboh banget ya, menang kuis doang. Tapi seheboh apa sih, hadiah-hadiah yang sudah didapat?

Well,

Kamera instax adalah hadiah pertama yang Mbak Jet dapat dari kuis. Diadakan oleh salah satu pabrik yang memproduksi biskuit, kalau tak salah.

Di waktu yang berbeda, ia memenangkan dua smartphone keluaran terbaru gara-gara iseng ikut di dua jenis media sosial.

Foto pembawa hoki. Gara-gara foto ini, dia mendapat dua smartphone~ duh Oppa…

Di lain hari, suami-istri ini sama-sama mendapat hadiah smartphone dari perhelatan yang sama.

Laptop? Pernah. Kamera? Sudah, kan. Voucher belanja? Paling sering kalau saya lihat. Ya begitu deh.

Loh, kok tahu? Coba deh main ke akun Instagramnya @rezadiasjetrani πŸ˜‚πŸ˜

Si Mas X 😁 , oya Mbak Jet ini memang susah diam. Hahaha. Hobinya keluyuran. Nah, saya ikuti akunnya gara-gara suka dengan foto jalan-jalan plus captionnya yang suka kocak πŸ˜‚

Namun saya suka sih melihat foto-foto materi kuis yang mereka bikin, niat. Dan…sampai dijadwal malah akan mengikuti kuis apa saja. Ckckck. Quiz hunter tingkat advance ini mah~

Suatu ketika saya penasaran akan satu hal, seberapa sering sih dinyinyir orang karena kerap mengunggah foto materi kuis di akun media sosial?

Dan,

“Sering banget! Sering disindir-sindir nylekit malah. Misal,

“‘Iya dia kan selo, namanya juga nganggur,’

atau,

“‘Aduh, kalau aku sih sibuk kerja ya. Jadi nggak sempat lah mainan kuis kayak kamu.”

Komentar netizen memang pedas ya Mbak~ Nih, kurang niat apa coba ah sampai foto begini sama botol sambal πŸ˜£πŸ˜†

Hell yeah, mahabenar netizen dengan segala kejulidannya~

Menanggapi itu semua, awalnya Mbak Jet tersulut kesal. Namun lama kelamaan ia tak ambil pusing 😬 iya lah, meladeni komentar seperti itu memang melemahkan energi.

Kini, pungkasan favoritnya,

“Iya, nganggur nih. Tapi yang penting aku bisa beli ini itu nggak kudu capek kerja kayak kalian~” πŸ˜‚

Iya, nganggur nih. Tapi bolak-balik dapet smartphone e. Kamu piye?

Membaca ini semua, mau tak mau saya ikut malu. Pada diri sendiri, tentu. Saya jadi teringat kata-kata seorang teman saat saya menanyakan keyakinannya untuk keluar dari pekerjaan. Beberapa tahun lalu.

“Bumi Allah itu luas, Sep. Yakin ajalah, kalau kita berusaha, pasti ada aja rejekinya.”

Telak.

Dalam kasus Mbak Jet, Tuhan membersamai keluarga kecilnya dengan rejeki berupa hadiah kuis-kuis itu.

Kira-kira kalau hasilnya gambling macam kuis, kamu bakal seiseng ini nggak? Foto macam #fallingstarschallenge di area publik? Kalau Mbaknya ini sih minimal cari kuis yang bernilai 200 ribu rupiah minimal. Lah? Harga sebuah rasa malu dan effort lain. Ahahaha

Gas mahal? Astaga, Mbak Jet bahkan menang kuis yang hadiahnya tabung gas beserta stoknya! πŸ˜£πŸ˜‚

“Ngapain malu, halal ini. Makanya aku seriusin sekarang. Selama masih mampu dan masuk akal.” sahutnya singkat.

Oya, sebelum memutuskan ikut suami ke Pamulang, ia sempat bekerja mengisi konten sebuah media. Dasarnya memang suka mencari kesibukan, alhasil ‘kesibukan’ yang ini berfaedah sekali yak~

Mengutip kalimatnya,

“…tiap orang kan beda-beda. Ada yang beruntung dengan diberi pekerjaan yang mapan, ada juga yang diberi kemudahan rejeki meski nggak kerja, ada pula yang dikasih suami kaya raya yang kita nggak ngapa-ngapain juga tetep hore. Nggak perlulah nyinyirin hidup orang. Cukup saling dukung dan nggak berkata yg ‘menyebalkan’ meski konteksnya bercanda.”

Jadi sudah yuk, jangan pernah meremehkan status teman, keluarga, saudara, kerabat siapapun–apakah menjadi ibu rumah tangga atau pekerja kantoran. Nikmat dan tanggung jawabnya sudah diatur sama Tuhan, selama kita masih bersemangat menggapainya di jalan yang benar :’)

Apa-apa, kalau mau berhasil memang kudu niat. Antusiasme itu mutlak!

Coba deh, tanya Mbak Jet ada kuis apa saja. Tenang, nggak akan gigit. Pasti dijawab πŸ˜† karena toh rejeki masing-masing tak akan tertukar :’)

Nah, coba ikut kuis lagi nggak, nih? *Eh

[Going30] Derak kayu, Rerimbunan Pohon Dedalu, dan Sebuah Doa Kecil.

0

Sebagai orang yang relatif ribet tapi (sok) ingin ‘menjelajah’, berpergian dengan dua anak kecil itu memang perlu legowo πŸ˜‚

Kebetulan Bapak Rugrats lebih suka memegang dua anak kecil ini daripada dimintai tolong untuk mengambil foto πŸ˜‚πŸ€£

“Kamu aja, ntar angle nya nggak pas malah bete kamu~” πŸ˜‚πŸ™ˆ

Seperti kemarin ini.

Rumah Keluarga Tjhia adalah tujuan kedua kami di Singkawang. Lagi-lagi, masih melanjutkan perjalanan random kemarin. Mumpung langit cerah dan (tetap) panas, kan?

Teralis yang mengingatkan saya pada bentuk kue bingke yang legit itu~

“Ini tempat apa?” tanya Cupis sambil berkeliling, tepat saat kami sampai disana. Alisnya sudah mulai berkerut, heran. Pada satu titik saya bersyukur karena Cupis memang cukup mudah tertarik dengan hal baru.

“Rumah orang Cina, Bhi. Bagus, deh.” sahut saya.

Seperti yang telah banyak diulas, saya mempersiapkan diri untuk bingung dan penasaran tentang informasi detail disini. Seharusnya saya bisa mengetuk rumah salah satu keluarga yang memang tinggal memutari bangunan utama–untuk mendapatkan kisah lengkap tempat ini langsung–yang sayangnya tidak saya lakukan πŸ™ˆ

Karena rumah-rumah ini memang masih dihuni. Terletak di sisi kiri bangunan utama.

Begitu masuk gerbang, kami disambut sepetak rumah tanpa isi dan sekat apapun untuk dimasuki. Tertera sedikit penjelasan mengenai tata cara semisal ingin menyewanya untuk suatu keperluan, ditempel seadanya di depan daun pintu.

Oke, penjelajahan pertama.

Kami melepas sepatu dan sandal karena memang diharapkan begitu, dan dengan cepat ruangan yang cukup luas itu menjadi arena berlari Bapak-anak Rugrats πŸ˜‚ lumayan, saya bisa sejenak mengamati detail bangunan ini. Didominasi susunan kayu, bahkan warna cat nya mengingatkan saya pada beberapa film Tiongkok lawas. Suka sekali!

Do you spot her? πŸ™ˆ Ibu ini adalah salah satu penghuni rumah di sekiling bangunan utama.

Bangunan ini–seperti yang saya baca–telah beberapa kali dicat dan diperbaiki. Kerennya lagi, konon bangunan disini masih sangat dipertahankan bentuk aslinya.

Selepas dari bangunan pertama, kami masuk lagi lebih ke dalam. Sedikit takjub melihat seorang ibu yang tampaknya baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk, tengah menjemur pakaian πŸ™ˆ dan yang kami temukan kemudian adalaaaah,

halaman!

Oh, I love backyard! Karena Cupis bisa menghabiskan energinya disitu dengan berlari kesana-kemari πŸ˜‚

Sebelah kanan adalah bangunan yang kami masuki pertama, lalu yang kiri merupakan tempat sembahyang. Nah, di tengah-tengah inilah sepetak halaman menyelamatkan kami dari kicauan Cupis yang mulai bosan πŸ˜‚

Cantik ya. Selalu suka tempat seperti ini, tempat-tempat yang dindingnya saja bisa memiliki cerita. Sebenarnya tergoda sekali ingin naik ke lantai dua namun akses jalannya dihalangi oleh semacam papan kayu tipis.

Sudut ini saya ambil dari halaman tempat Cupis berlarian. Entah apakah dihuni juga atau tidak. Andai saya bisa membaca susunan huruf di atas pintu itu, ya. Penasaran.

Pagi itu cukup sepi, jadi kami bisa agak leluasa. Hanya ada serombongan turis luar yang saya duga berdarah Tionghoa ditemani satu pemandu berhijab, datang tak lama setelah kami tiba. Entah kenapa saya senang melihat mereka :’)

Pagar kayu ini masih kokoh, loh. Tampak lapuk namun lebih kuat dari yang saya bayangkan.

Sudut dinding ini menarik perhatian saya. Satu-satunya kenangan tentang seseorang yang memakai busana seperti ini adalah film-film lawas yang diputar tiap hari Jumat selepas Jumatan, sinema layar kaca di salah satu televisi swasta. Kini, saya memandang langsung (yang sepertinya) salah satu foto leluhur pemilik tempat ini. Apakah ini Xie Shou Shi yang tersohor itu?

Mereka sibuk mendiskusikan leluhur atau semacamnya saat saya beberapa kali mengambil gambar di depan pagar tempat sembahyang.

Bibi ini terdiam cukup lama, mengintip dari sela-sela jendela ke dalam ruangan. Mungkin membayangkan leluhurnya? Perjalanan panjang yang mungkin melintasi benua atau sekedar beberapa negara(?). Wanita ini merupakan bagian rombongan. Sementara yang lain lebih suka menempel pemandu mereka, beberapa memilih menjelajahi sendiri bangunan ini.

Lorong ini merupakan sayap kanan kawasan cagar budaya. Saya melewati salah satu rumah dan mendapati sekelompok pemuda Tionghoa tengah mengobrol. Iya, memang sealami itu. Lihat pria berumur di ujung? Ia adalah salah satu anggota rombongan tadi.

Dan disini, dimulailah drama yang lain πŸ˜‚

Cupis mendadak ingin buang air kecil, setelah kecapekan lari kesana-kemari. Dan ia ingin ditemani Bapak Rugrats~

Karena tak menemukan toilet, kami menuju bagian belakang kawasan cagar budaya. Dan, rasanya seperti dua tempat berbeda.

Whoa. Starry Starry Night~

Untuk mengambil foto ini, kaki saya menapaki gundukan tanah bekas area membakar sampah yang ditumbuhi ilalang hingga sepatu saya nyaris melesak ke dalam, sementara tangan saya terulur di atas kepala sepanjang yang saya mampu–mengambil foto tanpa melihatnya πŸ™ˆ Entahlah apakah masih dihuni atau tidak. Namun lampionnya tampak masih bagus~ rumah ini saya temukan di pinggir jalan kecil dekat jembatan, tepat di belakang kawasan cagar budaya.

Separuh diri saya setengah berharap sampah-sampah di beberapa sisi sungai yang cukup lebar ini bisa dihilangkan saja dengan penghapus πŸ™„

Airnya keruh, sedikit berbau.

Berjalan di pinggiran sungai ini membuat saya membayangkan kondisi saat pertama kali Xie Shou Shi–perintis marga Xie/Tjhia–menemukan tempat ini dan menggarap tanah tandus berwarna cokelat kekuningan hingga berkembang.

Saya tak akan lupa bunga kecil yang cantik ini. Satu-dua genggam yang kerap dipetik di halaman belakang rumah kontrakan Pakualaman, dan direbus Ibu saat saya batuk parah, ditambah beberapa buah gula batu. Melihat ini kemarin, rasanya ingatan saya dihempaskan jauh ke belakang.

Meski upaya menambahkan mural di dinding sebenarnya cukup membantu memberi warna, saya akui. Ah, semoga suatu hari sungai itu bisa kembali bening~

Kami kembali sebentar ke dalam. Melewati rimbunnya pohon dedalu atau willow tree yang tampak sedemikian damai ditiup angin di siang yang panas itu–konon ditanam Xie Shou Shi agar mirip kampung halamannya di desa Jian Mei, Fujian Tiongkok sana–saya jadi teringat puisi lawas yang tak sengaja saya baca,

Two birds flying high,
A Chinese vessel, sailing by.
A bridge with three men, sometimes four,
A willow tree, hanging o’er.
A Chinese temple, there it stands,
Built upon the river sands.
An apple tree, with apples on,
A crooked fence to end my song.

Semoga damai menyertai kita semua.

[Going30] Bakmi Bakso 68 : Harga Semangkuk Rasa Bangga

0

Hari kedua di Singkawang, kami memutuskan untuk melewatkan sarapan di tempat menginap. Ada satu tempat di Jalan P. Diponegoro yang kami incar untuk sarapan. Biasa, hasil ‘berburu’ di Google maps πŸ˜‚

Saat kami tiba, tempat tersebut belum sepenuhnya selesai dibereskan meski papan tanda ‘buka’ sudah terpajang di depan.

Bakso Sapi dan Bakmi Ayam 68–yang ternyata bisa ditemui juga di Jakarta–ternyata justru kami cicipi jauh-jauh hingga Singkawang πŸ™‚

Kami pengunjung pertama pagi itu. Agak bingung ingin memesan apa, namun karena nama tempat ini menonjolkan Bakmi Ayam dan Bakso Sapi, dua menu itu yang dipesan. Plus Semangkuk bakso polos untuk Cupis.

“Minumnya?”

“Ada apa saja?” balas saya, berharap menemukan satu yang asing di telinga.

“Es teh, es jeruk, Nam Mong–”

“Oh ya, Nam Mong!” potong saya saking bersemangatnya. Saya sempat membaca nama menu minuman ini di sebuah ulasan dan jadi penasaran πŸ™ˆ

Jujur, saya bahkan tak tahu minuman macam apa Nam Mong ini πŸ˜‚

Sambil menunggu, saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tempat makan ini berbentuk memanjang, terbagi dua oleh dinding berjendela. Sepertinya bagian depan tempat saya makan ini awalnya adalah halaman. Saya tak bertanya lebih lanjut sih πŸ˜‚

Pesanan kami tiba, sangat mengundang selera dengan uapnya yang masih mengepul.

Seperti biasa, Cupis selalu enggan sarapan terlalu awal. Saya mengambil satu botol berisi cairan hitam–kecap. Iya, Cupis memang anak kecap–senjata terakhir kalau dia sudah mulai picky-eater ya kecap.

“Mbak, kecap manisnya di botol yang tinggi.” Mendadak kami dikejutkan oleh si pemilik yang duduk di meja kasir. Ah, rupa-rupanya ia menyimak percakapan kami πŸ˜‚ untunglah diberitahu, karena kalau tidak Cupis bakal makan bakso kuah asin πŸ™ˆ

Baksonya bagaimana? Enak! Saya rindu bakso sapi yang ndaging seperti ini. Huhu. Kuahnya light, dan kok saya suka ya dengan kecambah yang ditambahkan? Tumben sekali 😁

Basic skill in motherhood : gendong anak sambil makan bakmi pakai sumpit πŸ˜‚

Sambil makan, saya tak henti-hentinya menatap foto-foto yang dipasang hingga memenuhi dinding. Nyaris semuanya adalah orang terkenal. Saya bahkan menemukan pasangan pebulutangkis Alan dan Susi Susanti.

Hei, apakah saya sudah menyebutkan pemilik tempat makan adalah sosok pemerhati? πŸ™‚

Melihat saya sibuk mengobrol sambil menunjuk beberapa foto, tiba-tiba ia bangkit dan mulai menceritakan foto-foto yang ada di sisi kanan saya. Matanya berbinar saat bercerita tentang Willy Dozan. Deru Debu, remember? πŸ™ˆπŸ˜‚πŸ‘Œ

“Gara-gara Willy Dozan, kami jadi diliput TV Hongkong. Saat itu ia masih bekerja di televisi sana.”

“Wah, bukan media lokal malah Ce?” Saya jadi ikut penasaran.

Yang masa kecilnya nonton Deru Debu mana suaranyaaa~ yang kiri ini pemiliknya. Ayah si Cece tadi (kalau tak salah menyimak). Coba deh gunakan tagar #baksosapi68 πŸ˜‚ niscaya akan menemukan Bapak ini.

Ia lalu mengajak saya ke bagian belakang area makan, menunjukkan foto si aktor laga saat masih muda. Agak awkward sih, soalnya ada dua pemuda sedang makan di sisi foto yang digantung tersebut πŸ˜‚ πŸ˜‚ sampai disini saya hampir yakin kalau Willy Dozan adalah pelanggan setia disini. Foto yang dipajang saja sampai dua, lho. Satu foto berpigura malah foto pria itu sendirian–semi pas foto di studio, tanpa karyawan atau pemilik tempat ini.

“Cece generasi ke berapa?” tanya saya penasaran.

“Ketiga.” Sahutnya sambil mengangkat tiga jari.

Dan baru saya hendak duduk, ketika si Cece tadi masih bersemangat menunjuk satu bingkai foto–satu dari beberapa foto saja yang dibingkai di belakang kami. Oke, Dian Sastro dan Oka Antara.

Saya sudah melihatnya tadi sekilas. Dan langsung ingat kilasan adegan di buku Mbak Laksmi. Tapi tak sungguh menyangka kalau mereka mengambil adegan di tempat ini juga.

“Foto saja.” Lagi-lagi Cece yang baik hati itu mempersilakan. Saya mengangguk dan mulai mengambil gambar.

Casts ‘Aruna dan Lidahnya’. Hai Mas Farish, Mbak Aruna! πŸ˜†πŸ‘Œ

“Waktu itu Papa saya pas nggak ada. Jadi saya yang foto bersama mereka.” tukas Cece itu dengan bangga. I know how it feels! :’)

Dan ketika saya berniat (lagi) melanjutkan mangkuk bakso saya yang belum habis,

“Mau saya fotokan? Sini, Mbak duduk di kursi yang sama dengan Dian Sastro dan Masnya di sana. Jadi posenya mirip mereka di foto itu.”

“….”

Saya melirik Bapak Rugrats yang anti difoto dengan pose tertentu. Mungkin karena merasa tak enak, Bapak Rugrats langsung bangkit. So, here we are πŸ˜‚πŸ‘Œ

Casts ‘Karunya ya tampangnya’ πŸ˜‚πŸ€£ duh Ce, kalau nggak karena respek pisan sama Cece mah nggak bakal deh kami berpose lengkap begini. Tuh kan, absurd! πŸ˜‚

Setelah dua – tiga kali berpose sama, kami kembali ke tempat duduk. Namun,

Lihat Cece yang duduk di kasir, mengenakan kaos merah? Cece itulah yang sedemikian baiknya bercerita pada kami tentang tempat ini.

“Jangan lupa ya, nonton di bioskop tanggal 27 September nanti. Aruna dan Lidahnya! Ada Bakmi 68!”

Loh, kok promo~ πŸ™ˆ Namun saya mengangguk mengiyakan. Hehe.

“Kamu kok mau difoto tadi? Tumben?” tanya saya pada Bapak Rugrats di mobil.

“Kamu liat nggak, ekspresi Cece tadi?”

Dalam hati saya mengamini. Dan jika ada yang bertanya apakah harga makanan disana murah atau mahal, mungkin saya akan menjawab bahwa yang kami beli bukan hanya dua mangkuk bakso dan bakmi serta dua gelas minuman. Namun ‘membeli’ sejarah, rasa bangga, serta keramahan yang tulus sekali. Kamu harus melihat bagaimana ekspresinya saat menceritakan foto-foto orang penting yang makan disitu; tak henti-hentinya terselip senyum dengan tone suara yang bersemangat.

Pagi itu mungkin kami pengunjung terlama yang makan di tempat.

Es Nam Mong. Saya tak dapat mendeskripsikan dengan tepat rasanya. Pokoknya asam, manis, sedikit asin~ unik saudara-saudara! Kalau kata Cecenya sih ini merupakan hasil fermentasi jeruk nipis atau semacamnya :’)

Catatan :

Yakin, ndak mau foto kayak Mbak Dian Sastro sama Mas Oka Antara? πŸ˜‚Baksonya enak deh. Serius.

[Going30] Singkawang : Kota Cantik Merah Merona

0

“Sudah ketemu mau kemana aja?” Bapak Rugrats bertanya setelah selesai mengisi bensin.

“Sudah.”

“Setelah ini, kemana?”

“Tungku Naga.”

Hah?”

“Eh, ke tempat pembuatan keramik. Namanya Sinar Terang.”

“…oke.”

Masih tak tahu nama klenteng ini. Sukses mencuri perhatian sejak pertama kali berkunjung ke Singkawang. Ada yang tahu?

Ini adalah perjalanan termenarik saya sejak pindah kemari. Sepanjang perjalanan Sungai Pinyuh – Singkawang, saya tak dapat tidur karena terlalu bersemangat.

“Banyak bong ya, disini.” gumam saya.

Bong? Temennya ganja?”

Mata saya nyaris menyipit saking tak habis pikir mendengarnya.

“Bukan. Bong–kuburan cina.”

Saya melewati cukup banyak area bong. Berbukit-bukit dengan kepala nisan yang tak seragam. Iya sih, banyak orang Tionghoa disini.

Masuk wilayah Sedau, saya memaksa mata untuk lebih awas. Tertutup badan truk, akhirnya membaca nama usaha pemilik tungku naga–Sinar Terang–satu dari lima tungku tertua se-Singkawang.

Sebenarnya saya ragu-ragu, tempatnya menjorok masuk lagi ke dalam dan tak nampak aktivitas yang menegaskan usaha tersebut di pinggir jalan. Sempat tak yakin juga apakah jalan kecil itu bisa dilalui mobil.

Setelah melewati gerbang, ternyata tempatnya luas!

Anaknya kesenengan, halaman luas plus ayam. Combo happiness!

Mungkin saya beruntung. Sore itu, hanya kami pengunjung disitu. Jangan bayangkan ada pramuniaga yang menyambut dan menanyakan, karena hanya ada satu bapak tua tengah sibuk membelah kayu. Sementara aktivitas lain tampaknya berada di dalam rumah dengan kusen biru, bagian lagi dalam area tersebut.

Saya menepis jauh-jauh ekspektasi awal yang membandingkan dengan sentra serupa di Yogyakarta, Kasongan. Ini berbeda.

“Mau lihat-lihat, Pak.” kata saya sambil berlalu menuju deretan tembikar yang sepertinya tengah dikeringkan. Pak tua tadi tak menyahut. Dan saya justru senang karena tak dikuntit kesana kemari :’)

“Cari apa?” seorang Ibu peranakan Tionghoa keluar dari bagian belakang rumah tadi. Mengenakan pakaian seadanya.

“Ini berapa, Bu?” saya menunjuk satu tipe keramik yang permukaannya halus, mirip pot, dengan gradasinya yang membuat saya jatuh cinta.

Sebenarnya itu pertanyaan basa-basi, was-was juga kalau harganya selangit. Hahaha. Toh, kami pun juga bukan penggemar tembikar.

Lihat sesosok ibu-ibu yang tengah bersandar di tiang? Nah, itu pemiliknya πŸ™‚

“Ini Dua puluh ribu. Yang kecil empat belas.”

Mata saya langsung berbinar-binar. Saya sepakat mengambil tiga buah. Hitung-hitung ‘tiket’ untuk menjelajah, kan.

Dua tungku bata ini masih aktif, terletak di bagian belakang bangunan. Mendadak, saya kembali teringat Tungku Naga, alasan yang membuat saya iseng mampir kemari.

“Disitu,” Ibu tadi menunjuk bangunan yang lebih besar. Tampak gelap meski saat itu siang hari.”

“Tapi itu sudah tidak terpakai. Sudah rusak bagian atasnya.” sahut Ibu itu lagi. Mungkin melihat gelagat penasaran saya πŸ™‚

“Ijin mengambil foto, boleh Bu?”

Ia mengangguk.

Awalnya saya hanya ingin melihat dari luar, namun rasa penasaran membuat saya meminta izin untuk masuk lebih dalam. Kembali diiyakan, meski tampaknya setengah hati.

Saya masuk lagi. Disambut hawa dingin angin dan sepi sore hari. Seharusnya saya mundur. Tapi, yah, saya takjub.

Kaki-kaki seakan meminta saya menjelajahi bangunan itu. Dengan Tungku Naga yang panjang sebagai titik utama. Saya membayangkan, ada banyak aktivitas yang terjadi bertahun-tahun lalu. Keramaian yang mendominasi. Para pekerja yang hilir mudik. Yah, mungkin saya tiba di jam yang salah, saat semua sudah selesai dan seharusnya mereka beristirahat, ya.

Tapi saya benar-benar takjub.

Nyaris satu jam sendiri saya merasa terasing, berpindah dari satu titik ke titik lain. Berkali-kali menahan napas karena terlalu bersemangat.

Di satu pojokan, saya menemukan setumpuk keramik yang nyaris terabaikan, tergenang air hujan. Saya suka sekali motifnya yang acak, tampak asal-asalan tapi indah. Tak yakin apakah benda itu dijual, saya memutuskan untuk bertanya. Untunglah, ada seorang pria paruh baya lewat.

“Pak, maaf mau tanya~”

Pria itu tak menjawab.

Merasa kurang keras, saya memanggil lagi.

Masih tak menoleh.

Lalu sekali lagi.

Dan pria itu justru nyaris berlari. Saya, secara refleks ikut mengejarnya. Hingga akhirnya ia berhenti di depan rumah Ibu tadi.

“Apa?” tanya Bapak Rugrats.

“Aku mau tanya harga barang ini.” kata saya sambil mengangkat tumpukan piring cawan yang diikat.

“Ini berapa, Pak?” tanya Bapak Rugrats.

Ia tak menjawab dan memanggil Ibu di dalam dengan bahasa Mandarin. Oh, well~

Saya dan Bapak Rugrats saling berpandangan.

“Kamu tau nggak sih, tadi aku panggil Bapak itu berkali-kali?” tanya saya di dalam mobil.

“Iya. Dia malah kabur cepet-cepet.”

Tawa kami meledak. Duh, sepertinya kami harus belajar bahasa Mandarin.

Gem! Satu set piring bermotif cantik dan tidak seragam ini dibandrol tiga puluh lima ribu. Kesenangan yang hakiki!

“Pasar Hongkong lagi?” Tanya Bapak Rugrats selepas makan malam.

Wah, tentu! Setelah kali terakhir hanya sempat mampir di salah satu pick up yang dialihfungsi menjadi etalase jajanan, kali ini rasanya ingin sedikit mengelilingi kota ini.

Saya suka bangunan di kota ini. Masih banyak bangunan lawasnya. Ah coba kemarin sempat melihat festival Cap Go Meh ya, pasti seru sekali.

Salah satu sudut favorit. Kebetulan parkir disini karena sedang mengantri Nasi Goreng Mas Eko (?) yang konon ramai sekali sampai Gojek pada antri. Namun ternyata rasanya tidak sesuai di lidah saya :’) Ngapunten~

Kalau malam, trotoar di sekitar pusat kota ini marak menjadi tempat ngopi. Iya, lekat sekali budaya ngopi disini memang.

Ada satu tempat di Pasar Hongkong yang ingin saya kunjungi. Satu klenteng yang letaknya tepat tengah kota. Saya pikir akan ramai, namun di malam minggu ternyata klenteng ini cukup sepi. Bagian depannya penuh motor, namun sekedar menumpang parkir pengunjung warung-warung kopi di pinggir jalan.

Entah kenapa, saya merasa bak berada di set film Kungfu Hustle :’)

“Kamu pas ke Singkawang kemana aja?” tanya saya pada Bapak Rugrats yang lebih suka berada di mobil bersama duo Rugrats πŸ˜‚

“Nggak kemana-mana. Paling mall nya.”

Dalam hati saya membatin,

‘Ah, mall lagi. Padahal kota ini cantik sekali.’