Bread, bread, bread!

0

Saat saya kecil, saya suka sekali jajan roti seharga lima ratus perak yang di jual di warung-warung kecil dekat rumah. Biasanya dimasukkan dalam toples-toples kaca, roti-roti yang dilabeli seadanya dengan potongan kecil karton itu memiliki tiga rasa andalan; cokelat, stroberi, dan nanas.

Di lain waktu, ibu yang rutin mengajak saya menengok simbah buyut, akan mampir naik becak ke toko roti lawas di pertigaan jalan Taman Siswa, Yogyakarta. Membeli roti sobek cokelat sebagai buah tangan. Paling saya suka adalah yang rasa cokelat dengan taburan meses diatasnya. Manisnya berbeda. Tidak eneg. Tekstur rotinya juga lembut πŸ™‚

Di suatu Februari, saya kangen roti lawas seperti itu. Ketidaksengajaan mengantarkan saya ke dua toko roti lama di Bandung.

Sumber Hidangan.

Ini sudah agak sering say bahas, sih. Akhirnya muncul juga di blog πŸ™ˆ Februari lalu, adalah kali kedua saya kemari. Kalau dulu hanya sempat icip-icip esnya (mirip Ragusa, namun dengan rasa lebih tajam), kini bisa juga mencoba rotinya.

Sebelah kanan yang tidak terfoto ini adalah bilik kasir, mengingatkan saya pada film Lucky Luke πŸ™‚

Memasuki toko roti ini, seperti masuk ke dimensi berbeda. Kontras dengan hiruk pikuk jalan Braga yang ramai. Saya sedikit sedih melihat tempatnya yang kurang terawat. Again gelap, apalagi jika pintunya ditutup. Namun tempat ini merupakan tipe tempat yang suram-suram menenangkan. Seperti berkunjung ke rumah nenek. Hehe. Entah ya, jika memang diniatkan demikian. Namun melihat mayoritas pekerja di bagian depan adalah kakek-kakek dan nenek-nekek, mungkin memang sumber dayanya disana betul terbatas.

Sayang sekali saya agak malu masuk hingga dapur waktu itu, padahal siapa tahu bisa eksplorasi lebih banyak ya πŸ˜₯

Mahal? Tidak juga. Bahan yang digunakan adalah kualitas terbaik, dengan resep turun-temurun.

Well, ini masih dipakai. Dioperasikan oleh seorang kakek.

Etalase lawas yang mengingatkan saya kepada satu toko roti di daerah Yogyakarta.

Mirip baguette Prancis yang tersohor itu, kan?

Roti-roti yang dijual disini memiliki tekstur yang keras, berserat. Resep pilihan sejak zaman Belanda. Akan lebih nikmat jika dijadikan kudapan bersama teh manis hangat atau susu dengan dicelup.

Oya, saat kesini kemarin (dan dulu), isinya memang sepantaran orang tua kita. Saya rasa sebagian besar dari mereka pun bernostalgia πŸ™‚

Toko roti berikutnya, adalah toko kecil yang hangat dan menyenangkan di jalan Otista, Bandung. Antriannya panjang. Namanya Sidodadi. Nyaris terlewat karena tempatnya kecil, meski letaknya di pinggir jalan. Saking niatnya, saya sampai parkir beberapa blok agak jauh karena di sekitar situ sudah penuh.

Wangi harum roti tercium saat mengantri, sambil harap-harap cemas karena satu jenis roti bisa jadi tandas dalam hitungan detik–lebih dulu dibeli orang di depan kita. Padahal stoknya setumpuk!

Tumpukan legit yang menggairahkan. Panik seketika, bingung ingin membeli yang mana.

Selalu suka dengan gambar-gambar seperti ini~ huhu, bagus!

Roti ini aromanya sungguh segar, penuh rempah-rempah yang harum!

Cinnamon Roll. Sebenarnya saya lupa, ini produksi Sidodadi atau Sumber Hidangan πŸ˜‚

Melihat roti dengan tulisan Krenten? Ini enak! Awal kesana habis, sampai niat kembali datang kesana lagi. Sepertinya ini salah satu best-seller di Sidodadi. Iya, depan saya ini antrian, loh. Panjang hingga ke depan kasir.

Hayo, murah mana sama roti pabrikan?

So far, roti Sidodadi adalah favorit saya. Teksturnya lembut, tidak terlalu berserat yang bikin seret ketika ditelan. Rasanya pun enak!

Ah, usaha rumahan turun-temurun seperti ini entah kenapa selalu memiliki magnet tersendiri πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: