[Walk the Talk] From Bantul to DC

0

Sometimes, life is about risking everything for a dream no one can see, but you ~ Anonymous

Saya mengenal Sisca sejak zaman kuliah. Kebetulan kami satu almamater di Psikologi UGM. Kenalnya sambil lalu, hingga tanpa sengaja kami apply magang di Dagadu Djokdja. Sempat hilang kontak sih, hingga saya lulus.

Suatu ketika saya menemukan satu fotonya–beberapa tahun lalu, saya rasa–tentang smoothies, gara-gara itu jadi iseng mengikuti perjalanannya di instagram. Dan,

Ini anak kerja dimana, sih?” –khas netizen kepo. Hahaha. Penasaran, karena hobinya ulang-alik!

Hingga belum lama saya kontak Sisca via DM, meminta kesediannya ngobrol ngalor-ngidul disini 😂 dan dia mengiyakan!

Satu yang bisa saya rangkum dari perjalanannya, nyalinya segunung!

Saya baru tahu dia sempat ambil kesempatan pertukaran pelajar ke Kansas di semester akhir kuliah.

Saya heran, kenapa dia ‘menggadaikan’ kuliahnya yang nyaris selesai itu? Ya, meski memang hanya dua bulan. Jawabannya,

“Kapan lagi, belajar gratis langsung sama nativenya?” Hell yeah.

Kisah selanjutnya membuat saya tak henti berdecak. ‘Terjebak’ di salah satu site di Berau sebagai HR perusahaan ternama (yang katanya bikin tidak banyak berkembang karena ‘terkurung’ di hutan 😂), HR Gameloft (anak gamer, mana suaranyaaa?), hingga kebagian mengajar di Luwuk Banggai melalui Program Indonesia Mengajar.

Saya selalu salut dengan Mbak-Mas Indonesia Mengajar. Mengajar di pelosok daerah dalam waktu lama dan sumber daya seadanya itu tak mudah, loh.

Kelak, sepertinya ini salah satu yang mendorongnya menekuni isu serupa.

Sisca, si penganut hidup sehat. Gara-gara posting semacam ini, sukses bikin saya stalk instagramnya hahaha.

Semua itu, membuatnya memutuskan untuk banting setir ke dunia NGO.

IOM (International Organization of Migration), satu NGO di bawah PBB, adalah titik baru Sisca.

Berperan sebagai field officer – migrant care assistance, Psychosocial Div di IOM Pekanbaru–menurutnya adalah paket lengkap untuk titel S.Psi.

Sempurna dong, ya? Tidak juga ternyata.

Di 2016–yang dibahasakannya sebagai tahun gagal bersyukur–ia mencoba apply ke Unicef dan beberapa proyek yang lebih spesifik ketimbang lingkup IOM di wilayah Asia. Dan ditolak.

Saya pikir ini penolakan yang bermanfaat, karena demi mengalihkan self-esteem yang berantakan itu, ia mencoba mengikuti komunitas lari. Sebenarnya dari dulu saya tak terlalu paham, apa sih menariknya lari. Hehe. Tapi Sisca menjadi contoh tepat bahwa sehat secara fisik karena berlari itu berkorelasi dengan self-acceptance (should I examine this correlation on thesis, then? Hahaha). Cewek ini bahkan tak main-main, jam terbang larinya sudah sampai mana-mana 😆😆 Wander dan Liburun, adalah dua komunitas lari yang ia ikuti.

Liburun, salah satu komunitas lari yang ia ikuti. Konon, salah satu yang membuatnya lebih kerasan di Pekanbaru karena bertemu komunitas baru 😆😂

Mengutip yang Sisca bilang,
“Aku pulih, secara jasmani dan rohani.”

Sudah?
Belum! Dasarnya anaknya suka bertumbuh, ya. Di IOM, bahkan lima tahun awal masih termasuk anak bawang. Karena kansnya cukup kecil diikutsertakan training oleh IOM, ia memilih mencari sendiri pengalamannya! 😂 Dan, dapatlah pengalaman conference di Washington, DC di awal 2018 lalu. Agendanya bernama GGF 2030 (bukan Ganteng Ganteng F*ck kalau kata dia 😂 tapi Global Governance Future), semacam grup diskusi yang akan merumuskan topik-topik untuk UN Assembly 2030.

Pusing? Saya pun! Tapi nampaknya belum selesai Sisca memberi kejutan, karena ia bahkan meminta dukungan untuk esainya yang masuk Top 10 British Future Connect Leaders 2018. Judul esainya, Formal Education for Children and Youth Refugee in Indonesia.

See, she just can’t stop to pursue her dreams!

Mimpinya, kelak dia akan punya satu youth center dengan pendekatan edukasi yang relevan :’)

Oke, mungkin sebagian besar dari kita hanya akan berkomentar,

“Ya, keren. Dasarnya emang tajir kali, makanya nggak butuh duit jadi kerjanya keluyuran kemana-mana.”

atau,

“Wah, bahasa inggrisnya canggih. Ya wajar lah.”

Yang saya lihat,

Sisca tuh bertransformasi. Sangat banyak! Grafiknya tidak menanjak yang mulus. Ada masa ia ketinggalan lulus dari teman seangkatan, lamaran kerja di Unicef yang ‘ditolak’, merasa pupuk bawang karena kalah kompetensi dari rekan lain di IOM. Tapi semua penurunan itu dibalas dengan lebih baik.

Saya bukan teman dekat atau sahabatnya, namun apa yang ia bagikan di media sosial memberikan energi. Dia, menemukan cara untuk memaksimalkan potensinya, mencoba hal-hal baru yang bahkan bagi saya cukup far away. Bisa jadi dia takut, tapi dia memilih mengabaikan rasa takutnya. Sisca yang saya lihat sekarang, berbeda jauh dengan Sisca zaman kuliah (atau zaman masih les Neutron pas masih SMP ya, Sis? 😆).

Dan satu lagi, menjadi citizen of the world itu tak melulu skor TOEFL/IELTS yang paripurna.

Sisca, sudah sampai di Kansas dengan skor TOEFL 480, sudah mengalami interview by phone oleh seorang native (ya, seminggu terakhir dia berusaha mengingat-ingat pelajaran bahasa inggrisnya, bahkan sampai memutari rumah agar tak tegang saat ditelepon 😂), bahkan sudah menembus DC. Ia mengakui, ada amat sangat banyak kosa kata dan pengucapan yang harus ia cermati–yang baru ‘disadarinya’ setahun terakhir–namun sama sekali tak menghentikannya untuk nekat.

Katanya sih bahasa Inggrisnya cethek, tapi sampai sini juga. Kamu (dan saya) kapan, lur, bisa seberani ini? Hehe.

Mengutip kalimat favorit saya saat tertekan,

Mbuh piye carane, gasrukke wae!”

From Bantul to DC, you’re rocks Sis!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: