[Walk the Talk] Calming the Baby Blues

0

Motherhood is a choice you make everyday, to put someone else’s happiness and well-being ahead of your own, to teach the hard lessons, to do the right thing even when you’re not sure what the right thing is. And to forgive yourself, over and over again, for doing everything wrong ~ Donna Ball.

Kalau boleh jujur, kehamilan anak pertama adalah kehamilan yang dipersiapkan semaksimal mungkin secara fisik dan mental. Dengan asupan nutrisi teramat paripurna. Anak kedua? Ah, banyak hal yang ‘terpaksa’ ter skip 😦

Banyak drama yang terjadi. Hingga sepertinya saya mengalami baby blues ‘ringan’.

Saat itulah, saya mendadak teringat salah seorang rekan kerja. Namanya Bu Mieska. Dulu sekali, saya suka mengobrol dengannya terkait kehamilan. Ia pernah bercerita satu hal,

“Awal-awal lahir Dion, ternyata sudah ada gejala baby blues, sih. Tapi baru tau itu baby blues setelah sebulanan…”

Bu Mieska & Dion

Saya tentu tak menyangka. Bagi saya, Bu Mies itu well-prepared. Naluri mantan kepala operasional, eh? Hehe. Saya tahu ada banyak buku yang ia baca, makanan sehat yang ia jaga (di mejanya selalu ada cemilan. Saya bahkan suka mengambil honey-roasted almond miliknya dulu 😂🙈), belum lagi segala persiapan senam hamil, yoga, dan sebagainya.

Hingga saya penasaran,

Kok bisa sampai baby blues?

Saya ingat, kalau tak salah di trimester tiga kehamilannya dulu Bu Mieska sempat opname di RS karena DB. Kami menengoknya beramai-ramai. Saya sempat berpikir apakah itu menjadi pemicu awal pikiran yang ‘lelah’.

Ternyata ada stressor lain yang terjadi pasca-kehamilan.

ASI.
Siapa yang tak ingin anaknya mendapat ASI eksklusif, kan? Namun kadang kenyataan memang tidak berbanding lurus dengan harapan.

Alih-alih banjir, ASI Bu Mies justru seret 😦 Tekanan itu yang kemudian membuatnya gelisah, khawatir, was-was. Cemas bagaimana tumbuh kembang Dion kelak. Emosi negatif itu, lambat laun membuatnya insecure dan useless sebagai seorang ibu. Ada banyak hari, yang berakhir dengan menangis. Bu Mies menjadi mudah tersinggung, terutama jika dibandingkan kerabat sepantarannya. Kondisi yang sangat tak kondusif untuk membentuk energi positif, eh?

Bersamaan, ibu mertua pun sakit (hingga kemudian berpulang). Semua aspek itu saling mendukung sebagai stressor.

Hingga separah apa?

“Kadang sampai stuck seketika pas Dion rewel parah. Nangis. Bingung. Nggak tau harus apa…”

Saya tertegun. Hal-hal ini, terasa familiar, kan?

Lalu? Apa pasrah saja? Tidak, saudara-saudara.

“Ya aku ambil time-out dulu. Aku tinggal Dion sebentar. Cuci muka, ngemil sedikit, denger lagu. Dion ngamuk? Ya pasti. Tapi aku kudu tenang dulu sebelum menenangkan Dion.”

Banyak hal yang membuat peran seorang ibu serba salah. Anak menangis, harus langsung diangkat. Anak sufor, rentan sakit.

Ah, society.

Ibu, harus mendahulukan anak. Saya cukup sering mendengar ini.

Bagaimana jika, ibu tanpa sadar lalu mengabaikan kesehatan fisik (lupa makan karena anak rewel), mental (lelah luar biasa begadang sendirian) bla bla bla?

Kenyataannya, saya sendiri uring-uringan kalau merasa lapar atau capek atau mengantuk 😂

Betul, menjadi seorang ibu itu seperti mendapat energi lebih, kok. Secara fisik, ya. Namun di beberapa kasus, tidak secara mental. Dan ada banyak faktor yang bisa jadi tidak tampak di feeds Instagram atau status media sosial. Hehe.

Kembali pada kisah teman saya ini. Di satu titik krusial–dengan kondisi panik, mood berantakan–ia akan langsung menelepon suaminya sebagai bentuk stress-release.

Pak Berto–si suami (kebetulan dulu bekerja di kantor yang sama)–selalu berusaha menguatkan dan tak memandang remeh isu baby blues sebagai isu hormonal semata.

Hingga tiga bulan berselang sejak drama baby blues itu, ia merasa lebih tenang dan tak perlu sampai ke psikiater/psikolog.

“Aku bersyukur, didukung sama suami.”

Karena perkara hamil – resign – melahirkan itu bukan transisi sepele. Jadi, memang diperlukan dukungan penuh dari pasangan.

Teman saya yang lain, seorang psikolog, menulis di instastory-nya. Kurang lebih begini kutipannya,

Banyak pasangan atau keluarga yang kurang aware dengan tekanan yang dialami sosok istri/ibu. Menganggap biasa saja bak gejala PMS. Namun siapa yang tahu api dalam sekam, kan?

Familiar dengan kasus child-abuse yang marak di media? Banyak faktor, namun rasa lelah sebagai seorang ibu itu nyata. Nobody’s perfect, right?

Sungguh, menjadi ibu itu tak ada manual book nya. Bila di satu ibu mudah, belum tentu indah di lain kisah.

“Kalau someday stuck parah, baby blues, coba tenangkan diri. Time out dulu. Cari pasangan atau siapapun yang bisa menguatkan dan bukan menjatuhkan. Percuma mau dipaksakan, ndak sehat buat mental kita.” kata Bu Mieska.

Kini, di sela-sela mengantar anak sekolah, Bu Mies menekuni hobi crafting nya. Didukung Pak Berto, tentu.

This is so lovely, isn’t it?

Crafting yang win-win solution. Me time iya, menghasilkan iya.

Dion & his things. Iyaa, ini karya Bu Mieska!

Bahkan sejak 2015 lalu, ia mulai intens berkebun. Cita-citanya kelak, ingin bakulan monstera dan kawan-kawan.

Me time, kalau ndak diciptakan atau diminta, sampai kapanpun hanya wacana.”

Iya, sih.

Macam sudut IKEA, yak! 😆

Lagi-lagi, sebagai bentuk quality time dengan diri sendiri. Iya lho, quality time itu ndak melulu sama pasangan. Sama diri sendiri juga :’)

Seems so good, huh?

Sesuatu yang tampak sempurna itu wang-sinawang, kalau kata orang jawa.

Kita tak pernah tahu, seberapa mencekam berada di bawah tekanan ini; berada sendiri di rumah, anak tak henti-hentinya tantrum, sementara ASI menolak keluar. Sudah bagus bila tidak ‘ditambah’ adegan bak sinetron seperti lampu mendadak mati atau hujan deras. Panik, bingung, takut.

“Ah, kata siapa? Aku pernah.”

Dan karena beberapa dari kita (mungkin) ‘pernah’ berada di kondisi yang sama, ini saatnya untuk saling menguatkan 🙂

Oh iya, kini Dion sudah TK B. Ndak bisa diam, kalau kata Bu Mieska. Segala ketakutannya tentang sufor, tidak terbukti kok 😊 sehat, lincah, kuat, tak kurang apapun.

Well, happy mother – happy kids.

Jadi, sudah siap harus merespon apa ketika keluarga terdekat kita mengalami baby blues?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: