Rumah : Kumpulan Rasa

0

In the childhood memories of every good cook, there’s a large kitchen, a warm stove, a shimmering pot, and a mom ~ Barbara Costikyan

Ibu saya (dulu) suka mencoba memasak menu-menu baru. Saya mengalami masa-masa saat beliau suka bereksperimen dengan bumbu dan bahan. Detik ini, entah kenapa saya teringat crackers goreng isi tape yang dibuat Ibu saat sarasehan warga kompleks di rumah. Saat itu saya masih sekolah dasar.

Iya, itu dulu.

Meski bisa dibilang peralatan masak Ibu cukup banyak (sebagian besar hasil membeli saat demo arisan atau hibah dari rumah Mergangsan 😃), kini Ibu sudah kehilangan minat untuk memasak aneka rupa.

“Sudah, Ibu capek.”

Namun ada satu masa ketika Ibu akan bersusah payah mengambil panci-panci besar berdebu dari dalam lemari–jenis panci berpantat tebal hasil ‘warisan’ Mbah Buyut yang kualitasnya jauh bila dibanding panci masa kini, membeli arang, dan mempersiapkan anglo,

Lebaran.

Musim boleh berganti. Saya, sebagai anak sulung bisa jadi per dua tahun baru bertandang. Tetapi ritual memasak saat lebaran adalah keharusan.

Dua hari sebelum lebaran Ibu akan sibuk berbelanja ke pasar. Untuk beberapa bahan, dibeli jauh-jauh hari. Pasar bisa menjadi kejam saat hari besar tinggal menghitung jam.

Sejak selepas subuh di hari terakhir Ramadhan, Ibu mulai sibuk. Kalau dulu saat Bapak sehat, Bapak lah yang akan memotong sendiri dua ayam kampung yang dibeli di Pasar Terban. Saya pernah ikut beberapa kali saat kecil.

Bagian favorit saya (yang mana sering gagal) adalah membuat ketupat dan lontong. Aroma daun pisang ataupun janur beradu beras yang tercuci bersih itu menenangkan.

Di sisi lain rumah, Ibu akan sibuk ‘membuat’ api dari tumpukan arang. Bertahun-tahun di masa remaja, saya selalu dikomentari sudut yang tepat agar api menyala diantara arang, tanpa menimbulkan kabut ke seisi rumah.

Dua anglo dengan dua panci besar. Masing-masing terisi materi opor ayam kampung dan deretan lontong. Kami bertiga (lebih sering Ibu) bergantian menipasi mulut anglo.

Butuh berjam-jam untuk membuat masakan itu final dengan rasa yang sempurna meresap. Dan nyaris selalu sama di tiap tahunnya; masakan selesai tepat menjelang buka puasa–paling terlewat adalah saat takbir mulai dikumandangkan ke udara.

Maka kami, anak-anak Ibu yang kelaparan, akan berebut mengambil irisan lontong lalu memilih satu potong daging yang telah melunak lembut beserta kuahnya yang legit. Menaruh beberapa potong krecek pedas di sisi piring, sambal goreng tempe kentang, dan acar nanas. Tak lupa kerupuk udang yang lebar. Duduk bersama, di sekitar meja makan sambil menonton acara televisi.

Terkadang, di beberapa Ramadhan Ibu sering berkata bahwa beliau bosan memasak. Namun hal itu selalu wacana.

Pada akhirnya, Ibu akan selalu berakhir di dapur, memasak semua menu dan memastikan dengan seluruh inderanya, memastikan semua anggota keluarga senang dan kenyang.

Selesai?

Belum! Masih ada berwadah-wadah opor ayam kampung, sambal goreng krecek, acar, kerupuk, lontong, dan ketupat yang dibagikan ke tetangga kiri dan kanan, tukang sampah kompleks yang sudah sepuh namun baik sekali, pengasuh adik saat balita dulu, penjaga masjid kompleks, atau bahkan sekuriti kantor lama ibu.

Dan ketika saya iseng mengingatkan beliau,

“Katanya capek, Buk?”

Ndak apa-apa. Kasihan kerja pada capek kadang ndak sempat masak apa makan opor.”

Bertahun-tahun, dan belum pernah berganti.

Dan sekarang, sekian mil dari rumah, saya mendadak merindukan anglo tembikar, aroma lontong saat tutup panci yang berat itu dibuka, serta gelegak panas si opor ayam.

Jarak, selalu mampu memberikan ruang pada kenangan untuk diputar kembali.

Lapar? Saya juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: