YOLO, so does your kids

0

Children need the freedom to appreciate the infinite resources of their hands, their eyes and their ears, the resources of forms, materials, sounds, and colors ~ Loris Malaguzzi

Kaki saya baru saja menginjak salah satu–dari berjuta-juta–mainan Cupis yang lebih sering tersebar bak ranjau daripada masuk ke dalam kotak.

Entah sudah berapa kali saya mencoba berkomitmen dengan diri sendiri untuk tidak terlalu sering membelikan Cupis mainan. Dulu, sewaktu masih bekerja, saya terbilang cukup impulsif untuk membelikannya mainan. Dalam alam bawah sadar, mungkin ini semacam self-compromising atas perasaan bersalah karena telah meninggalkan Cupis untuk bekerja.

Para ‘ranjau’ 😂🙄

Cupis senang, tentu. Matanya selalu berbinar-binar ketika saya membawakan paket-paket yang akan ia buka. Sejauh itu saya berpikir bahwa sikap saya menghujani Cupis dengan mainan itu tak masalah. Maksud saya, siapa sih yang tak suka kejutan, kan? Dan saya hanya ingin membuat Cupis senang.

Jujur, saya terkadang iri dengan Bapak Rugrats. Dia selalu bisa ‘mengambil hati’ Cupis dengan bermain. Dimanapun, kapanpun, dengan atau tanpa mainan, Bapak Rugrats selalu mampu menemukan sesuatu untuk dijadikan mainan bersama Cupis. Hmm

Bapak Rugrats, his forever idol!

Saya akui, saya bukan tipe yang mudah heboh dengan hal-hal kecil. Saya tidak suka keributan. Saya bisa mendadak stress jika mendapati sesuatu yang berantakan 😂 sounds that bad, huh?

Di satu titik, saya bisa ‘terjebak’ dengan euforia Pinterest seketika. Saya terpesona dengan A-Z permainan-permainan do-it-yourself. Saya pikir,

“Mari buat satu, Cupis pasti senang!”

Dan bersemangatlah saya mengutak-atik semuanya. Kertas, karton, koran, krayon, spidol, gunting, lem–semua hal yang sekiranya (dalam bayangan saya) menciptakan wow moment esok saat Cupis bangun pagi.

‘Korban’ Pinterest–tapi terlalu suka! Bagaimana dong??

Kenyataannya, anaknya biasa saja. Dia lebih tertarik dengan prosesnya ketimbang hasil akhirnya. Saya? Saya kebalikannya. Saya ingin prosesnya sempurna, tidak terganggu apapun.

Imbasnya, Cupis tidak terlalu tertarik. Ia hanya akan memainkannya sekian menit, lalu beranjak ke mainan lawasnya. Sakit hati? Sedikit! Hehehe. Ya gara-gara saya berharap Cupis akan berbinar secerah lampu Indomar*t, memeluk dan menciumi saya karena saya berhasil membuat sesuatu yang bombastis (bagi saya) 😂😂

Yang receh malah paling favorit. Retjeh for lyfe ya, Nak! 🙌👌

Bapak Rugrats pernah berkomentar–saat itu Cupis menolak memainkan mainannya bersama saya,

“Kamu kalau sama dia itu bukan ‘main’, tapi sekedar menemani main.”

“Maksudnya?”

“Kamu nggak terlibat dalam permainannya.”

Itu tamparan! 😥 Yang kemudian membuat saya berpikir banyak. Diam-diam saya mengamati interaksi Bapak-anak itu. Cupis banyak tertawa. Seperti bermain dengan teman sepantaran. Saya bandingkan saat bersama saya. Berbeda. Iya, saya banyak mengomel. Banyak tidak boleh ini-itu. Tapi~ ah, sudahlah. Disitu saya merasa sedih 😥

Well, Cupis hanya perlu teman bermain. Terlibat penuh menjadi bagian timnya Catboy, menjadi pembeli es krim bayangannya, menjadi masinis kereta Thomasnya, jadi pohonnya, jadi apa kek. Bukan menjaga sekedar macam sipir. Parah, ya 😓

Sebenarnya iri, akutu…

Bahkan, kemungkinan Cupis tidak perlu semua mainan mahal atau bermerk. Mungkin.

Cupis cuma perlu diperlakukan ‘dewasa’ (saya sedang mencoba semaksimal yang saya mampu, menempatkan diri sendiri dan diri Cupis. Kapan saya harus menganggap dia ‘sudah besar’, atau ‘masih kecil’).

Bisa jadi bukan sekolah yang benar-benar diperlukan Cupis sekarang. Tapi Ibunya, seseorang yang menghabiskan waktu nyaris duapuluhempat jam bersamanya. Golden age seyogyanya memang dirayakan bersama seseorang yang melahirkannya, kan? 😶

“Lha, sekarang emang nggak, Buk?”

Iya. Namun seringnya, badan dimana pikiran dimana. Judulnya bermain bersama Cupis, namun otak penuh ‘besok kudu masak apa?’, ‘itu cucian apa kabar?’, etsetera, etsetera~

Mungkin seharusnya kemampuan pikiran untuk multitasking perlu di freeze dulu sewaktu bermain bersama Cupis. Here and now.

Harus begitu, semestinya.

Iya ya, ternyata saya ingin menjadi teman bermain Cupis juga.

Karena cucian kotor, nasi belum dimasak, baju masih berantakan di keranjang, isi susu kotak berceceran, spidol hilang tutupnya–semua itu bisa ‘menunggu’.

Cupis, dalam sekejap sudah sibuk dengan kehidupannya sendiri. Dan tidak akan repot-repot ‘menunggu’ lagi.

“Ibuk jadi penjahatnya, ya! Aku jadi Catboy!” ~Cupis, 4yo

Hanya dengan jepit jemuran saja sudah bisa jadi mainan. Ah, anak-anak memang paling kreatif! Kadang, menjadi dewasa membuat kita terlalu banyak melabeli sesuatu dengan ‘seharusnya’ atau ‘semestinya’. Break some rules, he?

Ayo, mulai dari nol lagi, Nak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: