[Walk the Talk] Kuwé jahé : You’ll never walk alone.

1

The strongest one, bleed in silence. Have no one applauding their growth. Have no one watching their healing process. They bloom in silence ~ Anonymous.

Beberapa saat lalu, saya tak sengaja berbalas pesan di Instagram dengan Mas Aga–salah seorang kenalan dari 30hari bercerita (tentang akun ini, kapan-kapan saya ceritakan ya!). Waktu itu ide [Walk the Talk] sudah bak jerawat yang tinggal tunggu ‘matang’, hingga saya tak sengaja melihat podcast yang Mas Aga buat.

Hal kecil yang kemudian memantik saya untuk benar-benar merealisasikan [Walk the Talk].

Dengan baik hatinya Mas Aga berkenan ‘berbagi’ salah satu sosok penuh inspirasi. Saya mengenal nama aliasnya lebih dulu; Kuwé jahé.

Kuwé jahé ini merupakan nama blog pribadi Mbak Agatha. Awalnya saya pikir tak perlu membaca blognya dulu, karena nyaris semua terwakili oleh tulisan Mas Aga, kan?

Hingga beberapa saat lalu, saya mendadak gatal untuk mencari tahu tentang Mbak Agatha. Agak tak adil, kalau saya tak sungguh tahu apa yang saya tulis. Dan saya pun mulai membaca si Kuwé jahé.

It’s just–wow.

Blognya penuh dengan orang-orang lintas profesi-gender-suku. Dan membacanya, menyenangkan. Sungguh.

Saya terkaget-kaget betapa ‘random’ para sosok yang ia bawa dalam perspektifnya. Bahkan saya takjub ia mengenal Gardika Gigih (iya. It’s him on her blog! Fans Banda Neira mana suaranyaaaa?), dan ternyata,

“Aku menghubungi kontaknya. Aku juga nggak kenal. Namun aku tersentuh dengan lagu Sampai Jadi Debu–alasan yang kemudian membuatku mengejarnya hingga ke Jogja!”

Wow.

Dan timbullah one-million-dollar-question ini,

“Lalu, kenapa Kuwé jahé?”

Pertanyaan nekat saya ternyata justru membawa saya pada kisah yang tidak saya pikirkan samasekali.

Kuwé jahé–yang awalnya saya pikir adalah brand portofolio grafisnya–adalah refleksi dari Mbak Agatha.

Mbak Agatha 🙂

“…karena dari sekian banyak orang yang berseliweran di hidup ini, hanya beberapa yang benar-benar membuatku tergerak.”

Kalimat yang kemudian membuka lagi kisah yang lain; karena sesungguhnya beberapa tahun terakhir Mbak Agatha sedang ‘berjuang’ untuk tidak menyerah dengan hidup. Literally, sungguh menyerah. Untuk bernapas.

Jika ada yang bertanya separah apa, Mbak Agatha pernah mengalami upaya-upaya self-harming, hingga suicidal.

“Rasanya seperti berada di tengah ruang hampa. Gelap dan luas. Awalnya ada beberapa orang yang bersama kita di sana, lalu mendadak mereka pergi satu persatu,

kadangkala saat sedang sedih, aku bisa tiba-tiba memvisualisasikan itu, bahkan hyperventilating.”

Saya terdiam. Membayangkan bagian itu, rasanya pasti amat mencekam baginya.

Sempat bertanya apakah keluarga atau kerabat dekat tahu semua kegelisahan itu, dan jawabannya tidak.

“Karena sumbernya masalah keluarga.”

Alasan itu yang kemudian membuatnya cukup tertutup untuk membagikannya pada siapapun. Saat itu, dalam hati saya merasa tak enak karena telah memasuki teritori terprivatnya.

The Samaritans–salah satu organisasi non-profit di UK yang secara khusus menangani isu kesehatan mental melalui layanan 24 jam via telepon serta surel–adalah salah satu titik balik Mbak Agatha selain Kuwé jahé.

Saat itu, tim Samaritans menjawab surel Mbak Agatha (saat itu ia berada di puncak masa depresi, selangkah lagi menuju upaya suicidal) dengan kalimat berikut :

“Di e-mail sebelumnya, kamu bilang kalau hidup orang-orang di sekelilingmu akan jadi lebih baik tanpamu. Misalkan kamu akhirnya benar memutuskan untuk pergi, bagaimana caranya kamu tahu atau memastikan kalau hidup mereka benar jadi lebih baik?”

Sebuah ‘tamparan’ yang kemudian menyadarkannya. Jujur, menuliskan ini lagi pun saya merinding.

Saya teringat dengan kasus Chester Bennington, Kate Spade, hingga Anthony Bourdain.

Isu kesehatan mental ini sudah lama ada. Hanya karena mereka dikenal luas, hingga terkesan ‘baru’ marak.

Saya salut dengan Mbak Agatha, atas keberanian dan keputusannya mengambil kendali lagi atas hidup.

Tidak mudah tentu, berperang dengan diri sendiri. Tidak mudah pula membahas hal-hal semacam ini dengan orang lain. Karena kenyataannya masyarakat kita memang lebih mudah memberi label atas nama moral atau (maaf) agama akan isu-isu serupa.

Ini rumit, kawan.

Kamu bisa lihat betapa mahalnya biaya psikiater, karena ini memang rumit.

Jadi, sekali saja hentikan pemikiran bahwa orang-orang dalam kasus suicidal ini adalah karena jauh dari Tuhan. Tidak selalu.

Kita perlu duduk bersama untuk benar-benar memahami bahwa ada satu masa dimana semuanya menjadi sangat gelap dan tanpa harapan.

Peran kecil kita, bukanlah memberikan penilaian baik atau buruk secara moral. Karena kita bukan ‘mereka’.

Yuk, coba berempati. Dekati, dan pahami. Isu kesehatan mental ini bisa menjadi masalah siapapun 😥

“Ah, dia mungkin kurang tahan banting saja. Atau terlalu banyak waktu luang~”

Nah masalahnya, kita bukan mereka. Bisa jadi kita cukup easy going dan tak pernah ambil pusing. Tapi hei, mereka bukan kloning kita. Ingat? Jadi tidak semudah itu untuk ‘menyamakan’.

Kembali kepada Mbak Agatha. Ada satu poin penting darinya yang saya garisbawahi, tentang keluarga.

Permasalahan dalam sebuah keluarga itu seperti suatu siklus, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Iya, mirip unfinished business. Sebagai seorang anak, kita memiliki dua pilihan; tetap membiarkan siklus itu berlanjut, atau mau memutus siklus masalah tadi.

“…aku pribadi memilih yang kedua dengan cara meningkatkan kapasitas kesabaran dan kasihku ke orang tua. Rasanya kadang sulit, however selama masih dikasih waktu, aku mau terus berusaha.”

Once again, everyone has their battle. Don’t judge. Kita tak pernah tahu kisah apa yang ada dibawah permukaan.

Terakhir, mari kita sedikit berbelok lagi ke kisah Kuwé jahé–blog yang hangat tadi.

Dua tahun lalu, seorang kakak kelas Mbak Agatha ditemukan tewas gantung diri.

Pada satu titik ia merasa sedih karena tak bisa menemui si kakak kelas lebih awal untuk menyatakan dukungan. Untuk sekedar mengatakan bahwa ia tak sendiri. Hal-hal seperti ini, yang kemudian menjadikan Kuwé jahé istimewa. Ia berharap, siapapun yang membaca kisah orang-orang yang ia tulis di blognya akan sama tergeraknya dengannya. Ia berharap, orang lain bisa mendapatkan semangat baru untuk tetap hidup dan menginspirasi orang lain. And you’ll never walk alone.

Catatan :

Cobalah membaca Kuwé jahé disini. Rasanya hangat :’)

One thought on “[Walk the Talk] Kuwé jahé : You’ll never walk alone.

  1. Pingback: Not So Beautiful Part Of Me – kuwé jahé

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: