[Going30] Random Trip Tipis-tipis

0

“Mumpung disini, aku mau jalan-jalan lagi ke Singkawang, ya!”

“Lho, kan sudah.”

“Belum marem. Dari kemarin ke mall terus. Bosan.”

Bagi yang bertanya saya tinggal dimana, sekarang saya tinggal di Sungai Pinyuh karena (akhirnya) mengikuti suami pindah tugas.

Letaknya masih masuk wilayah Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat . Yah, sekitar dua jam ‘santai’ kalau dari Kota Pontianak.

Selain perkara air keruh dan hanya menyala dari jam 08.00 hingga 16.00, serta rutin mati listrik, kota ini cukup ‘aman’. Pasar dekat, banyak mini market. Aman~

Jauh-jauh sebelum kemari, saya sempat browsing mencari tahu tentang Sungai Pinyuh. Tepat seasing namanya, tak banyak informasi yang bisa saya dapat 😂 saking minimnya informasi, saya berjanji untuk lebih banyak mencoba dan menemukan hal baru disini.

Agak kontras ya, mengingat spontanitas bukanlah kata favorit saya 🙂

Sejak awal pindah kesini, saya penasaran dengan toko oleh-oleh ini. Namanya Aneka Rasa. Toko oleh-oleh sekaligus warung kopi yang cukup besar di Sungai Pinyuh. Lima menit lah kalau dari rumah.

Yang membuat penasaran. Pilihan oleh-olehnya lengkap!

Disini banyak sekali warung kopi. Sangat banyak. Pagi, siang, sore, cukup mudah menemukan sekelompok orang berkumpul di sebuah warung. Orang sini seperti di Pontianak kota, suka ngopi.

Sayang ya, saya bukan penggemar kopi :’)

Nah, menurut Google maps (haha, judge me judge me~), Aneka Rasa ini cukup ramai diantara para pelancong. Kerap dijadikan tempat transit antara Pontianak – Singkawang.

Masuk kemari, dan mulailah dilema jika kamu bukan penyuka kopi namun sok tahu masuk ke warung kopi 😅

“Pesan apa?” tanya seorang Cici.

Saya mendadak teringat satu review orang tentang es kopi susu disini, jadi itulah yang akan saya pesan 😂

“Es kopi susu.”

Dan karena Bapak Rugrats juga penyuka kopi coret, ia memesan satu yang sama. Sungguh tidak kreatif 😅

Es kopi susu. Karena sesungguhnya saya tak paham harus memesan kopi apa~ lumayan, pengganti rasa penasaran Es Kopi Tak Kie Glodok yang belum kesampaian.

“Ada pengkang?” tanya saya ketika pesanan kami diantar. Saya tahu pengkang, lagi-lagi dari hasil googling~ sebenarnya ada satu rumah makan khusus yang menjual pengkang. Namun coba satu disini dulu juga tak apalah. Lagipula perut sudah lapar.

Cici tadi mengangguk dan mengambil sepiring pengkang. Agak kecewa sih, karena sudah dingin.

Jadi, pengkang ini semacam perpaduan lemper dan jadah manten deh kalau di jawa. Bedanya ini diisi ebi lalu dibakar. Rasanya unik karena ada samar-samar aroma hangus daun pisang. Sedikit lebih padat, sih.

Ebi!

The famous pengkang. Konsepnya mirip lemper, kecuali bagian penggunaan ebi. Lalu cara membungkusnya mengingatkan pada jadah manten. Betapa dunia kuliner itu memiliki benang merah, ya!

Kenapa ebi? Mungkin karena hasil laut serupa ebi dan ikan-ikan pesisir melimpah. Saya menemukan beberapa tempat pelelangan ikan (atau pasar ikan) di Sepanjang Sungai Pinyuh hingga wilayah bernama Jungkat.

Sambil menyesap kopi, saya mengamati sekeliling ruangan. Di etalase-etalase kaca ada banyak kudapan Malaysia, sementara di bagian depan berderet rapi ikan-ikan yang dikeringkan. Sungguh khas. Kapan-kapan saya cerita bagian kota pesisir ini, ya 🙂

Disini, entah kenapa saya merasa seperti tengah bertandang ke rumah saudara. Mungkin karena tak jauh dari kami duduk, ada dua anak kecil (anak pemilik toko) tengah sibuk bermain handphone sambil setengah tiduran di meja, bahkan di meja kami ada sekotak besar berat berisi cobek batu (iya, toko ini bahkan menjual cobek batu dan kayu!) yang baru selesai dibungkus. Sementara telinga sesekali mencuri dengar percakapan pemilik toko dan kerabatnya menggunakan bahasa Mandarin yang tak saya pahami 😂🙄

Ngomong-omong tentang bahasa Mandarin, di Sungai Pinyuh memang banyak orang Tionghoa dan menggunakan bahasa Mandarin di keseharian mereka. Saya sadar pertama kali gara-gara saat ada anak tetangga bermain ke rumah (kompleks rumah kami didominasi orang Tionghoa, hanya kami yang non Tionghoa. Hehe) dan Cupis masuk ke kamar dengan kesal. Katanya,

“Aku nggak mau main sama kakak!”

“Lho, kenapa?”

“Aku nggak ngerti kakak ngomong apa, bahasa jempang!” —jempang, instead of ‘Jepang’ 😂

Setelah saya dengarkan baik-baik, mereka memang saling mengobrol menggunakan bahasa Mandarin sekaligus bahasa Indonesia ketika berbicara dengan Cupis 😂

Dan disini panggilan yang lumrah adalah ‘Kakak’ dan ‘Abang’. Kakak untuk perempuan dan Abang untuk laki-laki. Sampai sekarang saya masih keselip lidah memanggil Mbak dan Mas. Hahaha. Cupis bahkan kekeuh memanggil teman laki-laki atau perempuannya dengan sebutan ‘Kakak’. Belum terbiasa, sih~

Saat membayar, saya penasaran dengan area peracikan kopi. Udik yaa~ ben 😂

Aneka Rasa (dan mungkin semua warung kopi berkonsep serupa di Pontianak atau dimanapun) menggunakan teko kuningan. Ada semacam filter dipasang di dalamnya. Sedikit mengingatkan pada pembuatan teh tarik.

“Biar suhu panasnya maksimal.” kata si Cici ketika saya bertanya kenapa menggunakan teko seperti ini.

Sayang sekali saya tak melihat proses pembuatannya? Apakah semua es kopi susu memang menggunakan kental manis seperti ini?

Iseng saya bertanya harga teko kuningan ini karena melihat beberapa yang digantung masih dalam plastik. Harganya 400 ribu. Cukup mahal juga, ya. Kapan-kapan saya coba kopi ‘sebenarnya’ yang dibuat menggunakan teko kuningan.

Nah, mari sedikit kembali ke rencana perjalanan kali ini.

Sungai Pinyuh menuju Singkawang, dengan kecepatan standar memerlukan dua jam perjalanan menggunakan mobil. Lumayan.

Berbeda dengan perjalanan Pontianak ke Sungai Pinyuh, Sungai Pinyuh menuju Singkawang lebih ‘hijau’. Saya lebih menikmati landscape-nya. Hehe.

Time killer saya sepanjang perjalanan adalah mengamati rumah orang Tionghoa yang memang mendominasi. Saya suka mengamati pintu rumah mereka yang selalu memiliki semacam tempelan emas-merah dalam huruf Cina, mudah dibedakan dengan rumah orang non Tionghoa. Yang menjadi persamaan, rata-rata rumah dibangun di atas lahan rawa, di tengah-tengah ataupun bersisian dengan deretan pohon kelapa, sawit, serta pisang.

Menuju Singkawang, ada satu tempat di wilayah Sungai Duri yang membuat saya penasaran. Letaknya pas sekali bersisian dengan laut (atau selat?).

“Kita mampir ke satu warung ya. Mau lihat laut.”

Saya memilih satu warung yang sepi, hanya karena agar leluasa saja. Dan dasar sok petualang ya, baru menginjakkan kaki masuk ke warung saja langsung keder! Payah!

Dibangun di atas panggung, dinding-dinding warung dari jalinan kayu yang ditampar angin laut itu sukses membuat nyali ciut. Apalagi saat kayu-kayu itu berderak-derak heboh. Namun pikiran bahwa nun jauh di seberang sana sudah Malaysia membuat saya ‘agak’ tenang sekaligus bersemangat 😆

Saking ‘lemahnya’, sekitar lima belas menit pertama saya hanya berani duduk berlindung dibalik papan bilik. Beberapa kali memunculkan kepala sedikit, dan langsung dihajar angin 😂😅

Anak ini awalnya takut. Mau di mobil saja malah katanya. Tapi begitu masuk ke dalam, malah dia yang bersemangat~

“Sudah sampai sini, masak cuma disini doang.” sindir Bapak Rugrats.

Akhirnya setelah maju mundur labil, menyesap beberapa teguk teh manis hangat (ah elaaah, macam mau ngapain sih Buk!) saya beranikan diri mendekati bibir warung yang tak memiliki pagar pengaman itu. Namun buru-buru mundur lagi ke pinggir. Ngeri! Lemah kamu Septin, lemah! 😂😂 Yeah, I know~

Sementara itu, Bapak Rugrats dan Rugrats mengamati sambil tertawa, menunggu di bilik duduk. Saya bahkan hampir yakin pemilik warung juga tertawa karena saya berjalan sambil mlipir di pinggir deretan bilik gara-gara cemas dengan hembusan angin. Ckck~

Awalnya cuma berani disini. Segini saja sudah greget pisan~

Lihat pulau di ujung itu? Saya penasaran namanya apa. Saya juga belum tahu ini namanya laut (atau selat) apa. Maafkan, geografi saya buruk 🙄 Tapi sempat cek lokasinya sih via Google maps, dengan mengandalkan titik koordinat location tag di detail foto. Terlalu niat.

Ndak kelihatan nama lautnya. Yang jelas, kami benar-benar di ujung~ gumunlah, secara biasanya masih merasakan ‘tepi pantai’. That’s why sebagian besar wilayah di pesisir ini membangun pemukiman di atas panggung. Tidak tinggi sih. Tapi cukup untuk ‘menghindar’ dari terpaan air laut yang pasang. Asumsi saya sih begitu ya. Atau ada yang tahu kenapa?

Angin besar (saat itu memang agak gerimis) menampar-nampar badan, disertai suara riak kecil ombak berpadu decit kayu berkeretak membuat kaki saya lemas. Kalau bukan gara-gara penasaran, enggan sekali saya mendekati ujungnya. Apalagi saya tak bisa berenang. Hahaha. Kelak, angin kencang ini sukses membuat saya masuk angin.

Tampak ‘tenang’. Padahal sebenarnya disini anginnya super KENCANG. Deg-degan luar biasa. Aduh iya, saya mainnya memang kurang jauuuuh saudara-saudara. Jangan dibandingkan denganmu lah! 😂

Lalu, indah?

Hmm, lautnya keruh. Bercampur lumpur. Di bagian kanan warung bahkan relatif kotor. Banyak sampah yang sepertinya dibuang seenaknya ke bagian bawah panggung. Sedih 😥

‘Terbiasa’ melihat pantai di Yogyakarta. Agak kontras ya. Air di rumah Sungai Pinyuh, meski air PAM, kadang pun masih terkontaminasi air laut. Rasanya asin (tentu~). Bila sedang apes, kadang agak pliket~

Maju sedikit~

Bagaimana jika, geser sedikit lagi?

Beberapa kali membidik ke arah laut, beberapa kali pula badan saya doyong tertiup angin. Sesekali, saya bergidik saat tak sengaja menatap celah diantara lantai kayu. Air lautnya tampak cadas~

Oke, cukup. Ini mengerikan. Mari kembali duduk saja :’)

Dan akhirnya, setelah sekitar sepuluh menit yang ‘mengerikan’, saya menyudahi mengambil gambar. Masih limbung, bercampur dingin cipratan air laut dan angin yang menusuk.

Kami melanjutkan perjalanan, bersama kenangan angin kencang, jantung berdebar, dan sampah-sampah di permukaan.

Manusia, kecil sekali kalau dihadapkan alam. Iya, padahal baru begini ya~ 🙂

Oh iya, satu lagi. Bersyukurlah kalau kalian mampu dan sempat menjelajah dunia. Namun wilayah-wilayah di perpotongan atau perbatasan, kadang justru menyimpan cerita tak terduga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: