[Walk the Talk] Mengolah Rasa di Selembar Kain

1

Any training is initially difficult, but with persistence practice, we can master the art ~ Lailah Gifty Akita

Familiar dengan kalimat ini?

“Mahal banget ah harganya. Harga teman, lah.”

Beberapa waktu lalu marak berita rupiah melemah, hingga beredar sebuah infografis. Isinya upaya-upaya yang bisa dilakukan rakyat untuk membantu. Salah satunya dengan membeli produk lokal.

Kisah teman saya kali ini, kembali mengingatkan saya tentang intangible cost sebuah karya yang kadang suka terlewat atau bahkan dicaci orang lain karena dianggap berlebihan.

Maklum dengan produk luar, tapi apatis dengan karya sendiri.

“Jadi, sejak awal kamu memang pengen jadi desainer ya?

“Nggak juga.”

Saya tertegun mendengar jawaban singkat Damar, salah satu teman SMP saya.

Menggeluti profesi desainer dengan label sendiri, saya pikir menjadi desainer adalah mimpi terdalamnya. Tapi kok~

“Aku tuh udah capek berkutat dengan ilmu pasti dari SMP dan SMA. Ambil kuliah, dulu rencananya sekalian yang ada hard-skill.”

Saya menyimak dalam-dalam. Motivasi yang tidak saya sangka, hingga karena kalimat itu ia mengambil S1 Pendidikan Teknik Busana di Universitas Negeri Yogyakarta.

Lha, UNY? Berarti,

Guru. Iya. Pikirku dulu ya bakal jadi guru. PNS. Tapi jadi PNS kan memang nggak gampang, ya~”

Saya berusaha mengorek kenangan SMP. Damar dulu anaknya mungil. Kalau saya pulang berjalan kaki dari sekolah ke rumah, maka dia menaiki sepeda. Haha. Samar-samar saya ingat, dia memang suka menggambar.

Tentu saya tertarik dengan fakta dia mengambil jurusan itu. Bersinggungan dengan kain, pola, dan lain-lain. Ah keren sekali, pasti!

Sekali lagi, wang-sinawang.

“Aku ngerasa salah jurusan pas awal-awal kuliah.”

Memiliki hobi membuat semacam pouch yang dijelujur tak lantas membuatnya ‘aman’ di awal-awal masa kuliah.

Ada satu masa dimana ia terpaksa lembur hingga larut demi mengerjakan satu-dua tugas, sementara kawan-kawannya hanya butuh sekejap.

Lha gimana ya, mereka lulusan SMK. Udah ada lah, basic. Aku dong, SMA. IPA pula.”

Dulu mah keteteran, sekarang malah jadi pemateri textile painting media opaque & binder di UNY. Semesta sungguh baik!

Saya hanya nyengir. Tak terbayang rumitnya mengejar yang lain agar setara.

Semester lima masa kuliahnya merupakan titik balik teman saya ini. Dosennya memiliki sebuah manajemen bernama 7A+ yang membawahi penyelenggaraan karnaval, memiliki florist, dancer, dan lain-lain. Mungkin hampir mirip event organizer, namun lebih spesifik di pagelaran ya.

“Jadi apa Mar, disana?” Jujur, saya tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.

“Aku sempat jadi player dancer, lalu masuk modellingnya juga–tapi yang paling berguna buat ngebentuk aku yang sekarang, di bagian karnavalnya.”

Alis saya terangkat. Berusaha mencerna dan membayangkan. Karena seingat Saya, Damar ini dulu lebih introvert. Saya langsung teringat agenda-agenda karnaval yang kerap wara-wiri di media. Seperti Jember Fashion Carnaval atau Solo Batik Carnival (duh, sampai sekarang saya belum pernah melihat keduanya. Semoga saja kapan-kapan bisa :’)).

Bicara karnaval, tentu lekat dengan segala outfit yang sifatnya heboh dan meriah.

“Di karnaval kamu akan selalu menemukan baju ‘aneh’. Anti-mainstream! Nah, aku belajar bikin pola disitu. Nguplek-uplek pola, textile painting~”

Saya membayangkan konstruksi busana di karnaval-karnaval serupa. Teringat tipe-tipe busananya yang sering menggunakan sayap dan mahkota hingga menyerupai wayang. Atau busana-busana yang menjadi kostum nasional di acara beauty pageants. ‘Wah’, super-detail, dengan permainan warna yang kuat. Asli njlimet!

‘Ya iya sih, kalau bikin kostum karnaval saja khatam, apalagi yang basic~”

Ibarat baju basic adalah level sekolah dasar, baju karnaval mungkin level kuliahan.

Pengalaman karnaval itu, kemudian mengantarnya ke sebuah galeri (maaf, tidak dapat saya sebutkan disini πŸ™) selepas kuliah.

Lagi-lagi ilmu baru, karena kerja di galeri berarti cutting yang lebih simpel dan elegan. Baju cantik, kalau kata Damar πŸ™‚

“Di galeri, mau nggak mau aku terpaksa jadi decision maker, abisnya customer justru lebih banyak ketemu kita dibanding ownernya. Pusing pusing deh. Hehe.”

Namun gara-gara itulah, yang membuka kesempatannya untuk menggarap order di luar galeri. Selisih harga, tentu πŸ™‚

Jika pagi hingga siang bekerja di galeri, maka malam hari ia akan menemui customer-customernya. Jemput bola.

Hampir dua tahun Damar bekerja di galeri, hingga akhirnya mundur karena beberapa hal. Ia memutuskan mencoba peruntungan membuat label sendiri.

Saya sempat penasaran, material termahal apa yang ia pakai.

“Kain batik yang selembarnya 1.7 juta. Atau brokat 350 ribu per meter, perlu lima meter. Atau selusin kecil kristal Swarovski itu 40 ribu. Kadang-kadang kudu putar otak kalau customer ingin wah tapi budget terbatas.”

Saya dihinggapi penasaran lagi, seberapa banyak modal untuk ia memulai semua kenekatan ini? Tahulah, dengan segala printilan yang ternyata mahal itu.

Ternyata nol. Ehm, bukan nol malah. Minus.

“Aku ngerjain order-order kecil dulu, utang. Customer bayar, utang aku lunasi. Nyicil beli satu-satu.”

Dalam hati saya mbatin, kok seberani itu? Pertanyaan yang kemudian dijawab Damar.

“Rejeki sudah ada yang ngatur. Hehe.”

Saya paham, untuk sampai titik ini tentu banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Apalagi di bisnis yang sifatnya kustom begini.

Mungkin, membenturkan idealisme sendiri dengan keinginan orang lain? Dengan keterbatasan yang ada, merintis di awal itu adalah masa-masa yang berat.

Saya bertanya lagi pada Damar,

“Berbeda atau mengikuti selera pasar?”

“Sementara ini, sefleksibel mungkin.”

Ya, ada masanya untuk memetik semua kerja keras itu.

Saya mengamati karya desainer favoritnya, Elie Saab, di internet. Desainer Lebanon itu memiliki cutting yang cukup bold namun elegan. Mengingatkan saya pada karakter Damar yang sekarang πŸ™‚

Jika ada satu hal yang masih membekas sekali, itu adalah sikap realistis seorang Damar.

Iya lho, saya tak berminat membawa passion disini. Karena pada kisah Damar, passion rasa-rasanya justru mengekor setelah ia mengambil sikap atas pilihan hidupnya.

Bahwa dengan kerja keras dan perencanaan yang baik plus optimisme, tujuanmu sungguh hanya lima senti di depan dahi.

Look those happy faces? Best moment surrounded by lovely family. Great attire, matters!

“Aku harus berterimakasih sama Vista (nama teman SMP kami). Ingat pelajaran menjahit di kelas PKK?”

Saya ingat kelas itu. Saya tak bisa membuat pola apalagi menjahit, hingga harus menjahitkan PR kemeja saya ke ibu teman πŸ˜‚

“Katanya, ‘kamu jahite rapi banget, mungkin besok kamu cocok bikin semacam factory outlet gitu.'”

Celetukan seorang teman sebangku zaman SMP, ‘baru’ terealisasi belasan tahun kemudian. Way-to-go~

Saya tersenyum. Benang merah sebab-akibat itu seperti doa di alam bawah sadar jika kita meyakininya.

Masih ingat dengan intangible cost yang sempat saya singgung di awal?

Dalam kisah ini, intangible cost itu bernama kerja keras dan kemampuan mengolah rasa.

Selamat mengolah rasa, Damar.

One thought on “[Walk the Talk] Mengolah Rasa di Selembar Kain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: