[Going30] Singkawang : Kota Cantik Merah Merona

0

“Sudah ketemu mau kemana aja?” Bapak Rugrats bertanya setelah selesai mengisi bensin.

“Sudah.”

“Setelah ini, kemana?”

“Tungku Naga.”

Hah?”

“Eh, ke tempat pembuatan keramik. Namanya Sinar Terang.”

“…oke.”

Masih tak tahu nama klenteng ini. Sukses mencuri perhatian sejak pertama kali berkunjung ke Singkawang. Ada yang tahu?

Ini adalah perjalanan termenarik saya sejak pindah kemari. Sepanjang perjalanan Sungai Pinyuh – Singkawang, saya tak dapat tidur karena terlalu bersemangat.

“Banyak bong ya, disini.” gumam saya.

Bong? Temennya ganja?”

Mata saya nyaris menyipit saking tak habis pikir mendengarnya.

“Bukan. Bong–kuburan cina.”

Saya melewati cukup banyak area bong. Berbukit-bukit dengan kepala nisan yang tak seragam. Iya sih, banyak orang Tionghoa disini.

Masuk wilayah Sedau, saya memaksa mata untuk lebih awas. Tertutup badan truk, akhirnya membaca nama usaha pemilik tungku naga–Sinar Terang–satu dari lima tungku tertua se-Singkawang.

Sebenarnya saya ragu-ragu, tempatnya menjorok masuk lagi ke dalam dan tak nampak aktivitas yang menegaskan usaha tersebut di pinggir jalan. Sempat tak yakin juga apakah jalan kecil itu bisa dilalui mobil.

Setelah melewati gerbang, ternyata tempatnya luas!

Anaknya kesenengan, halaman luas plus ayam. Combo happiness!

Mungkin saya beruntung. Sore itu, hanya kami pengunjung disitu. Jangan bayangkan ada pramuniaga yang menyambut dan menanyakan, karena hanya ada satu bapak tua tengah sibuk membelah kayu. Sementara aktivitas lain tampaknya berada di dalam rumah dengan kusen biru, bagian lagi dalam area tersebut.

Saya menepis jauh-jauh ekspektasi awal yang membandingkan dengan sentra serupa di Yogyakarta, Kasongan. Ini berbeda.

“Mau lihat-lihat, Pak.” kata saya sambil berlalu menuju deretan tembikar yang sepertinya tengah dikeringkan. Pak tua tadi tak menyahut. Dan saya justru senang karena tak dikuntit kesana kemari :’)

“Cari apa?” seorang Ibu peranakan Tionghoa keluar dari bagian belakang rumah tadi. Mengenakan pakaian seadanya.

“Ini berapa, Bu?” saya menunjuk satu tipe keramik yang permukaannya halus, mirip pot, dengan gradasinya yang membuat saya jatuh cinta.

Sebenarnya itu pertanyaan basa-basi, was-was juga kalau harganya selangit. Hahaha. Toh, kami pun juga bukan penggemar tembikar.

Lihat sesosok ibu-ibu yang tengah bersandar di tiang? Nah, itu pemiliknya 🙂

“Ini Dua puluh ribu. Yang kecil empat belas.”

Mata saya langsung berbinar-binar. Saya sepakat mengambil tiga buah. Hitung-hitung ‘tiket’ untuk menjelajah, kan.

Dua tungku bata ini masih aktif, terletak di bagian belakang bangunan. Mendadak, saya kembali teringat Tungku Naga, alasan yang membuat saya iseng mampir kemari.

“Disitu,” Ibu tadi menunjuk bangunan yang lebih besar. Tampak gelap meski saat itu siang hari.”

“Tapi itu sudah tidak terpakai. Sudah rusak bagian atasnya.” sahut Ibu itu lagi. Mungkin melihat gelagat penasaran saya 🙂

“Ijin mengambil foto, boleh Bu?”

Ia mengangguk.

Awalnya saya hanya ingin melihat dari luar, namun rasa penasaran membuat saya meminta izin untuk masuk lebih dalam. Kembali diiyakan, meski tampaknya setengah hati.

Saya masuk lagi. Disambut hawa dingin angin dan sepi sore hari. Seharusnya saya mundur. Tapi, yah, saya takjub.

Kaki-kaki seakan meminta saya menjelajahi bangunan itu. Dengan Tungku Naga yang panjang sebagai titik utama. Saya membayangkan, ada banyak aktivitas yang terjadi bertahun-tahun lalu. Keramaian yang mendominasi. Para pekerja yang hilir mudik. Yah, mungkin saya tiba di jam yang salah, saat semua sudah selesai dan seharusnya mereka beristirahat, ya.

Tapi saya benar-benar takjub.

Nyaris satu jam sendiri saya merasa terasing, berpindah dari satu titik ke titik lain. Berkali-kali menahan napas karena terlalu bersemangat.

Di satu pojokan, saya menemukan setumpuk keramik yang nyaris terabaikan, tergenang air hujan. Saya suka sekali motifnya yang acak, tampak asal-asalan tapi indah. Tak yakin apakah benda itu dijual, saya memutuskan untuk bertanya. Untunglah, ada seorang pria paruh baya lewat.

“Pak, maaf mau tanya~”

Pria itu tak menjawab.

Merasa kurang keras, saya memanggil lagi.

Masih tak menoleh.

Lalu sekali lagi.

Dan pria itu justru nyaris berlari. Saya, secara refleks ikut mengejarnya. Hingga akhirnya ia berhenti di depan rumah Ibu tadi.

“Apa?” tanya Bapak Rugrats.

“Aku mau tanya harga barang ini.” kata saya sambil mengangkat tumpukan piring cawan yang diikat.

“Ini berapa, Pak?” tanya Bapak Rugrats.

Ia tak menjawab dan memanggil Ibu di dalam dengan bahasa Mandarin. Oh, well~

Saya dan Bapak Rugrats saling berpandangan.

“Kamu tau nggak sih, tadi aku panggil Bapak itu berkali-kali?” tanya saya di dalam mobil.

“Iya. Dia malah kabur cepet-cepet.”

Tawa kami meledak. Duh, sepertinya kami harus belajar bahasa Mandarin.

Gem! Satu set piring bermotif cantik dan tidak seragam ini dibandrol tiga puluh lima ribu. Kesenangan yang hakiki!

“Pasar Hongkong lagi?” Tanya Bapak Rugrats selepas makan malam.

Wah, tentu! Setelah kali terakhir hanya sempat mampir di salah satu pick up yang dialihfungsi menjadi etalase jajanan, kali ini rasanya ingin sedikit mengelilingi kota ini.

Saya suka bangunan di kota ini. Masih banyak bangunan lawasnya. Ah coba kemarin sempat melihat festival Cap Go Meh ya, pasti seru sekali.

Salah satu sudut favorit. Kebetulan parkir disini karena sedang mengantri Nasi Goreng Mas Eko (?) yang konon ramai sekali sampai Gojek pada antri. Namun ternyata rasanya tidak sesuai di lidah saya :’) Ngapunten~

Kalau malam, trotoar di sekitar pusat kota ini marak menjadi tempat ngopi. Iya, lekat sekali budaya ngopi disini memang.

Ada satu tempat di Pasar Hongkong yang ingin saya kunjungi. Satu klenteng yang letaknya tepat tengah kota. Saya pikir akan ramai, namun di malam minggu ternyata klenteng ini cukup sepi. Bagian depannya penuh motor, namun sekedar menumpang parkir pengunjung warung-warung kopi di pinggir jalan.

Entah kenapa, saya merasa bak berada di set film Kungfu Hustle :’)

“Kamu pas ke Singkawang kemana aja?” tanya saya pada Bapak Rugrats yang lebih suka berada di mobil bersama duo Rugrats 😂

“Nggak kemana-mana. Paling mall nya.”

Dalam hati saya membatin,

‘Ah, mall lagi. Padahal kota ini cantik sekali.’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: