Seat 25 [MOVIE] : How far you’ll go?

0

What happens when you win a one-way ticket to Mars?

Itulah yang terjadi pada seorang perempuan introvert bernama Faye.

Faye Banks menghidupi kesehariannya yang normal dan monoton bersama Nicholas, suaminya yang easy going.

Disajikan dengan tone yang cukup lawas, Faye menjalani perannya sebagai istri yang pendiam sekaligus karyawan pasif divisi human resource di kantornya.

Kehidupan Faye yang datar mulai bergejolak, ketika ia memenangkan tiket ke Mars yang diadakan oleh ilmuwan (atau milyuner? Saya kok jadi teringat Elon Musk disini~).

Faye Banks. Pasif plus introvert, namun selera vintage fashionnya kok lucu *eh gimana~

Dalam hitungan minggu, Faye harus berangkat ke Mars. Tidak dapat mundur dan tidak akan pernah kembali ke bumi. Disini kegamangan terjadi. Ia tak mampu bercerita kepada keluarganya.

Film ini nyaris minim dialog. Cenderung datar dan monoton. Tapi ketika ditonton di waktu yang cukup luang dengan mood yang baik, feel-nya akan mengena 🙂

Saya menyukai perspektif kamera yang digunakan di film ini. Entah istilahnya apa, haha. Tapi suka–salah satu alasan yang membuat saya ingin mengilustrasikan kembali beberapa adegan dalam film ini.

Ada satu adegan yang membuat saya mendengus, saat Faye mendadak dipasrahi tugas memecat karyawan-ia mendapatkan ‘promosi’, dimana job tambahannya adalah memecat karyawan. I feel you, Banks! 😂 Faye yang super-pasif ini harus menyampaikan kabar buruk tersebut kepada orang-orang yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan karena berbagai alasan. Termasuk pada Teodor–salah satu karyawan lawas yang berhati baik. Duh.

Teodor. Rekan sejawat Faye yang tinggal seorang diri. Tipe karakter insecure lain di film ini, relatif pendiam. Porsinya sedikit, tapi sukses membuat sedih 😦

Eh tapi sungguh, memberhentikan orang itu tidak enak deh. Serius. Saya suka kepikiran keluarganya. Kadang, terpikir sampai rumah. Tidur tidak nyenyak 😥 salah satu alasan minor yang membuat saya memutuskan resign dari kantor. Menghadapi berbagai jenis emosi manusia itu melelahkan mental saya 😂 dan ternyata pertahanan saya ada batasnya. Tahu kan, karena jadi HRD kadang perlu sekalem mungkin menanggapi masalah 😂

I feel you! Sometimes those feeling-related is sucks~ 😂

Memandang Faye yang nyaris selalu bermuka sayu dengan tatapan menerawangnya–kecuali saat ia berinteraksi dengan Peter, tetangga sebelah rumah yang seorang pengangguran, membuat saya lagi-lagi turut merasa prihatin.

Tiket ke Mars ini, semacam dijadikan Faye sebagai upaya terakhir Faye untuk ‘kabur’ dari hidupnya. Melarikan diri dari pekerjaan memecat orang, dari Ayahnya yang seakan tak peduli lagi dengannya, dari Nicholas yang selalu sibuk. Dari segalanya.

Suka sekali chemistry Peter & Faye. Lebih mengena daripada Faye & Nicholas~

Nah, menonton film ini, saya seperti diingatkan akan pentingnya mencoba membuka diri.

Tekanan akan selalu ada dari manapun, begitu juga kondisi-kondisi yang tidak serta merta dapat diubah.

“Begitu doang masa stres?”

Realitanya, ya. ‘Begitu doang’ bisa berarti masalah besar bagi orang lain.

Faye, tak dapat mengeluarkan emosinya sesuka hati. Ia memendamnya jauh. Hingga akumulasinya adalah secara acak mengikuti kompetisi Mars tadi–terlepas ia memang memuja petualangan luar angkasa sedari kecil. Ia mengambil keputusan sepihak, tanpa berdiskusi pada siapapun tentang niatnya itu.

Termasuk meninggalkan Nicholas. Dan Faye salah tentang dugaannya selama ini. Bukan hanya dirinya yang memendam semua tekanan, Nic pun juga demikian.

Baginya, semua akan baik-baik saja karena tak ada yang benar kehilangan. Saya jadi teringat lagi obrolan tempo hari dengan Mbak Agatha disini.

Film ini memiliki rating IMDb kecil. Hanya lima dari sepuluh. Namun diganjar enam penghargaan dalam festival internasional. Kok bisa? Sok, coba dilihat deh. Mungkin bakal ketemu clue kenapa bisa begitu.

Bagi saya pribadi, ini bukan sekedar kisah seorang perempuan memenangi satu tiket ke Mars. Di film ini Saya disuguhi dinamika psikologi seorang Faye yang selama ini menutup diri hingga ‘terpaksa’ mengambil keputusan ekstrim–sesuatu yang dianggapnya sebagai keputusan terbaik.

Saya membayangkan Faye yang didera perasaan campur aduk atas keputusannya itu. Semakin mendekati waktu kepergiannya dan semakin memberatkan. Konyolnya lagi, ia bahkan tak punya cukup nyali untuk bercerita–atau mungkin tepatnya, tak sungguh yakin mampu menghadapi bentuk emosi lingkungan terdekat yang akan ia hadapi. Kasarnya, Faye ini terkesan meribetkan diri. Ribet, tapi kasihan 😥

Nicholas yang marah kemudian bertanya kenapa Faye tak mau bercerita hal sepenting itu.

Faya bukannya tak mau. Ia tak bisa. Kenapa? Karena ia adalah pribadi yang tertutup dan pasif. Ia (mungkin) memiliki rentang kekhawatiran yang akan terjadi seandainya ia menceritakan niatnya.

Mungkin Nic akan melarang?

Atau Pandora–adiknya yang populer–akan mencemooh?

Peter bahkan berkata bahwa kehidupan di bumi jauh lebih baik daripada Mars–berkaca bahwa ia pengangguran yang tidak dihargai istri, haruskah Faye menurut?

Untuk pertama kalinya Faye membuat keputusan gila. Kali pertama ia menemukan ‘kendali’ atas hidupnya yang membosankan.

Semua orang melarang, menyayangkan, kecewa. Beberapa karena keputusan Faye, sebagian lagi karena meratapi kehidupan mereka (?).

It’s just, wow.

Merasa galau setelah menonton film ini? Pergi, carilah teman terdekat yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi. Barangkali kamu hanya ingin didengar saja, kan?

Seperti tagline di awal tulisan ini,

What happens when you win a one-way ticket to Mars?

Apakah kamu akan ‘melarikan diri’ dari kehidupanmu yang membosankan alih-alih berusaha memperbaiki, atau sebaliknya?

Well done, Faye Banks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: