Dapur Organik Kalbar : Hidden Gem in the ‘Jungle’

0

Once upon a time, all food was organic ~ Anonymous.

Saya baru sampai rumah beberapa saat lalu, dan masih terngiang enaknya nasi goreng yang dimasak menggunakan minyak VCO tadi. Rasanya gurih dan legit.

Dalam hati saya bersyukur, atas kesempatan bertandang ke ruang renjana Pak Umar.

Entah berapa kali saya melewati tempat makan semi terbuka berupa panggung yang didirikan di atas aliran Sungai Nipah, namun tak yakin untuk mampir. Hingga pagi tadi saya bertekad harus kesana.

“Mbak Septin!” Pak Umar–pemilik Dapur Organik itu melambaikan tangan bahkan saat saya dengan ragu-ragu melewati jembatan kayu. Iya, sebelumnya saya memang sempat mengirim surel dan pesan instan.

Tak lama kami datang, tersaji welcoming drink (wow!), dua cangkir sari kacang hijau serta sewadah besar irisan pisang dan tapai–mengiringi obrolan kami selanjutnya.

What a thoughtful greetings. Pisang hasil memetik di halaman. Sari kacang hijau dari olahan tangan. Siap menemani obrolan!

“Ini adalah periode keenam saya dengan Dapur Organik, Mbak.”

“Maksudnya, Pak?” tanya saya, bingung.

“Ini kali keenam, setelah lima kali usaha saya ini buka-tutup.”

Saya terdiam mengamati beliau, lalu sekeliling bangunan sederhana yang tampak sekali adalah dunia kecil Pak Umar.

Jadi ingat bar-bar yang ada di tepi pantai. Aduhhh! Terlalu kece~

“Awalnya saya hanya pencinta alam, dipertemukan dengan Greenpeace dan lain-lain, hingga membawa saya kemari.”

Mendadak, Pak Umar pamit sebentar ke bangunan rumah di ujung tempat tersebut. Tak lama kemudian beliau kembali membawa sebuah laptop. Dan mengalirlah obrolan tentang VCO. Dari dapur rumah hingga lemari es hotel ternama. Mulai dari tebak-tebakan ciri-ciri kelapa hijau, sampai harapan memiliki lahan seribu meter persegi yang ditumbuhi tanaman heterogen. Rasanya-rasanya seperti kuliah santai tipis-tipis di alam terbuka.

Ya, minat terbesar Pak Umar adalah pada kelapa.

Coconut for life!” katanya sembari mengambil foto sebutir kelapa yang mengapung di atas air dengan tunas lurus menantang langit.

Ada yang kesenengan bisa main air~ ckckck

“Oya, mau makan apa?” tanya beliau sembari memperlihatkan selembar menu yang dilaminasi.

Gado-gado dan nasi goreng, adalah dua menu yang kami pesan.

Ketika beliau mulai sibuk berkutat di dapur, mau tak mau saya penasaran–lalu ikut bergabung. Duh, rasanya macam menjadi tim nya Jiro Ono atau warung ramen di manga-manga Jepang–berada di dapur terbuka begitu.

Kenapa bule? Karena sebagian besar pengunjung Dapur Organik adalah para mahasiswa S2 yang tengah melakukan penelitian di Dapur Organik. Dan ya, saya takjub ada fasilitas lodge Airbnb disini. Sederhana, benar-benar dengan konsep ‘jungle home’.

Memasak pesanan saya. Nasi goreng yang benar-benar dari beras-cuci-aron-goreng. Agak syok karena saya pikir bakal lama. Ternyata iya lama πŸ˜†πŸ˜‚ tapi tidak terasa!

Cooking from scratch. Aneka biji-bijian, gula aren yang dibeli dari petani lokal, garam dari petani garam asli Madura. Disimpan dalam wadah-wadah kaca tebal seperti milik simbah buyut di Mergangsan. Bagaimana saya tak jatuh hati dengan tempat ini?

Aslinya sih kagok, memasak di dapur orang dimana medannya tidak saya pahami. Namun Pak Umar sungguh baik sekali membiarkan saya mengeksplorasi area itu.

Kagok! Hahahaha.

“Tolong aduk berasnya.”

Atau,

“Ini petai cinanya, sekalian dikupas ya.” adalah beberapa instruksi beliau.

Dan ya, Pak Umar meminta saya mencicipi sekeping petai cina. Icip = makan begitu saja mentah-mentah πŸ˜‚

Calon bibit yang akan ditumbuhkan kembali. Di wadah terpisah ada kulit pisang dan sampah organik lain yang akan dikompos nantinya. Less waste.

Tak lama, seorang pria paruh baya berperawakan kecil datang. Pak Bujang–salah satu rekan Pak Umar di Sungai Nipah.

“Nah, kalau Pak Bujang ini luar biasa. Semua bangunan disini adalah buatan Pak Bujang.”

Pak Bujang yang baik hati. Bapaknya ini serba bisa. Ini beliau tengah sibuk membuat tiang untuk bakal calon area workshop pembuatan VCO. Soon!

Saya menyalami beliau. Ah ya, saya mengenalinya dari beberapa unggahan foto di akun Instagram tempat ini.

“Bapak mengelola tempat ini, disini–tempat yang warganya mungkin awam dengan hal-hal berbau organik, gambling nggak sih Pak?” tanya saya penasaran.

Empat piring nasi goreng sudah siap disantap, tinggal membuat gado-gado dimana Pak Umar sibuk menumis irisan bawang putih dan segenggam kacang tanah dengan VCO. Aromanya luar biasa.

“Pasti. Setahun awal dulu mungkin saya masih berpikir masalah profit. Tapi setelah lima kali gagal, dan ini kali keenam saya masih berjuang–ya anggap saja ini sebagai cara saya memperkenalkan apa itu organik.”

Ya ampun ini unik pisan. Telur rebus dicocol entah-rempah-apa-saja. Aneh, tapi saat kuning telur berpadu ulekan rempah-rempah ini, lha kok enak? πŸ˜†πŸ˜‚

Kopi robusta, komoditi petani kopi di daerah Wajo–dua puluh menit dari kota Pontianak.

Menurut saya sih, upaya Pak Umar memperkenalkan dapur organik berkonsep slow cooking from scratch ini nekat! πŸ™ˆ Meski saya tetap angkat topi melihat kegigihan beliau.

Warga setempat mungkin belum terbiasa dengan konsep seperti ini. Warteg dan Nasi Padang mungkin jauh lebih ‘mudah’ dari pada berkunjung ke Dapur Organik.

Padahal tempat ini keren sekali untuk mempelajari organic living. Sumber dayanya ada.

Yah, tapi urusan memasyarakatkan terkadang memang kembali kepada fungsi edukasi dari tatanan yang lebih tinggi sih :’)

Persis seperti celetukan Bapak Rugrats,

“Bisa jadi petani itu banyak, namun mata rantainya yang perlu diperbaiki.”

Yeah, what a big problem~

Suka! Teh (?) racikan jahe dan kunyit. Pas sekali menemani nasi goreng. Rasa hangatnya melegakan tenggorokan~ konon, racikan minuman ini didapat Pak Umar dari salah seorang pengunjungnya yang tinggal di Jerman.

Beliau, sekuat apapun berusaha menyederhanakan impiannya dalam kata-kata, matanya tetap saja berbinar menceritakan tentang budaya organik. Passion, hm?

Tiga setengah jam dari rencana awal yang hanya mampir untuk makan siang. Terlalu betah hingga rasanya seperti bertandang ke rumah paman jauh di desa–atau hutan, seperti katanya saat awal tadi menyambut kami,

Welcome to your jungle home!”

Jika ada satu hal yang mengena sekali di saya, itu adalah kekecewaan pribadinya kenapa ia baru beranjak ke konsep organik setelah sekian lama. Sekarang beliau berumur lima puluhan, dan ‘baru’ beberapa tahun ke belakang Pak Umar mempelajari tentang konsep tersebut.

Istilah ‘habiskan kegagalanmu di waktu muda’ tampak tak berlaku bagi beliau. Keinginan belajar dan berbagi Pak Umar meninggalkan kesana begitu kuat bagi saya pribadi.

Semacam bungalow yang sekaligus menjadi hunian Airbnb. Aduhh~

Bagaimana dengan usahanya? Well, belum dapat dikatakan menghasilkan output ‘bombastis’, namun Pak Umar tak henti-hentinya menghidupi keyakinannya akan Dapur Organik.

Harapannya kelak, Dapur Organik dapat memberikan inspirasi tentang bagaimana memaksimalkan bahan pangan melalui alam. Seperti kalimatnya di tengah-tengah sesi sharing tentang VCO tadi,

“Goal konsep organik adalah, kita harus tahu asal makanan yang disajikan di meja…”

Saya jadi teringat kutipan lain dalam poster himbauan yang dikeluarkan US Food Administration pada periode Perang Dunia I,

Food. Buy it with thought, cook it with care, use less wheat & meat, buy local foods, serve just enough, use what is left, don’t waste it.

Yah. Dunia memang bergeser. Padahal dulu sesuatu yang organik adalah hal yang memang ‘apa adanya’ serta dilakukan dengan hati. Kini, sesuatu yang organik menjadi komoditas yang terkesan ‘mahal’ karena telah mengarah menjadi tren.

So, now it’s your kitchen, too.” itu adalah kata-kata Pak Umar saat kami izin pamit.

Terima kasih, kapan-kapan kami mampir lagi! Dan terima kasih untuk telah menunjukkan bagaimana menghidupi mimpi. Bukan untuk sekedar mencari profit, namun memperkaya batin dan diri :’)

Hasil ‘jajan’ di dapur Pak Umar. Mumpung di rumah habis. Daaaan, beliau memetik daun pisang di halaman dong, untuk wadah jajanan saya ini. Perfect!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: