Panic attack : It’s real.

0

Pagi ini saya mendadak cukup sedih. Seorang teman harus ikut suaminya ke Ketapang, pindah tugas.

Iya, akhir-akhir ini saya merasa mudah sedih dan khawatir. Kalau kata Bapak Rugrats, mungkin karena saya lebih banyak di rumah dan kurang bersosialisasi. Hmm, bisa jadi.

Kalau dulu lebih banyak cuek, kini ada banyak hal yang mendadak diperhatikan. Kesehatan, sekolah anak-anak karena Bapak Rugrats akan sering pindah tugas, rumah yang berantakan, hasrat mengembangkan diri (ini serius, dan menggambar adalah medium yang banyak membantu), dan sebagainya.

Banyak mau, namun energinya seakan tersedot karena pikiran negatif. Banyak ingin, tapi lebih dulu merasa takut.

Betul, betul. Tahun lalu saya banyak mencoba. Melakukan hal-hal baru. Namun rasanya ada yang kurang. Saya, menjadi makin susah merasa bersyukur.

Parah, kan?

“Loh kamu kan anak psikologi, masak nggak bisa mengobati diri sendiri.”

And-this-is-one-million-dollar-statement.

Sungguh, terkadang ilmu-ilmu itu hanya ‘sekedar’ tulisan di atas kertas saat yang menjadi klien adalah diri sendiri. Ada beberapa sih yang ternyata malah berguna sekali kini, sesi relaksasi. Padahal dulu mah boro-boro 🤣

Atas saran Bapak Rugrats, saya pun memaksa diri untuk menemukan hal-hal baik dalam satu hari. Tidak selalu berhasil, tapi ya sudahlah. Demi mental yang lebih sehat.

Saya juga sedang belajar bernapas. Hah, bernapas? Iya, bernapas. Bernapas yang benar. Kebiasaan ini kerap muncul karena saya makin mudah panik setelah peristiwa tsunami Anyer kemarin.

Takut mati.

Kalau perasaan itu datang, rasanya sumpek dan pengap macam masuk ke kotak yang gelap. Seakan-akan tak ada oksigen. Saya mendadak lupa bernapas. Tandanya adalah otot perut saya seakan tertahan, menahan sesuatu. Bukan kentut, jika ada yang berpikir begitu 😂 Imbasnya, kepala mendadak pusing dan nyaris black out. Seumur-umur saya tak pernah loh merasa claustrophobic begitu 😦

Dan beberapa kali saya membuat analisa ngawur, denial, karena menolak mengakui saya memiliki level kecemasan luar biasa. Saya mensugesti diri kalau saya sedang lapar, atau kurang darah, atau kecapekan begadang, dsb. Entah deh~

Ada sisi positifnya sih. Saya jadi lebih sering mengingat Allah :’) pencapaian luar biasa, karena dulu saya kerap abai. Betapa Dia maha membolak-balik hati manusia, ya.

“Lah, kamu begini tapi sering post tentang hal positif. Gimana sih?”

Iya. Hahaha. Lur, semua hal-hal positif itu ditulis bukannya tanpa tujuan. Setiap komentar bernada baik, itu semacam menyumbang feedback positif. Semacam energi tambahan buat saya.

Saya jadi lupa tengah panik dan khawatir.

Zaman saya kerja paruh waktu, saya dikenal mudah panik. Bahkan memiliki nama julukan, Saripan. Sama Rina Panikan. And it’s horrible 😂 saya tak menyukai nama itu karena seperti penegasan; saya mudah panik. Andai mereka tahu, hidup dengan nama tengah ‘panik’ itu tidak asyik.

Mundur belasan tahun ke belakang, barangkali segala bentuk kekhawatiran akan hal-hal kecil ini menurun dari Ibu.

Ibu saya adalah pribadi yang akan memastikan segala sesuatunya sempurna, memiliki rutinitasnya sendiri. Hal itu dibentuk sepanjang masa remajanya, karena kebetulan tinggal bersama Mbah Buyut yang keras.

Tenang, saya mensyukuri hal itu karena menyumbang gen perfectionism dalam hidup saya. Semua keteraturan dan pemujaan atas kesempurnaan ini baik-baik saja, hingga saya sadar;

Saya tak mampu mengelola kekhawatiran saya dengan maksimal.

Saya, entah bagaimana, merasa bingung menyikapi pikiran tersebut. Untuk kesekian kalinya, saya seperti tidak paham cara kerja isi kepala sendiri 😢 konyol? Sangat! Dan saya mengikuti kekhawatiran itu.

Pernah di satu titik, saya harus berhenti dari menggambar karena setelah empat kali sketching dan semuanya tak sempurna. Kepala saya langsung pening, ruang gelap itu mendadak muncul 😦

Atau yang lebih konyol, saat liburan panjang di Kuching kemarin. Malam itu bertepatan dengan kabar tsunami Anyer. Serangan itu kembali datang, satu ruangan kamar yang sebenarnya lega selega-leganya, menjadi kurang luas bagi saya. Mendadak saya juga membenci lampu kamar yang berwarna temaram. Detik itu juga saya ingin lari keluar, menghirup udara bebas (padahal di luar mah lebih gelap deh). Saat itu saya ‘melawannya’. Karena Bapak Rugrats sedang mandi, saya berusaha menghirup napas dalam-dalam ditemani Ken. Berusaha memikirkan hal positif. Ketakutan saya adalah boggart, dan hal positif adalah Patronus. Ng… okay, I think its cool analogy. Congratulation to me 😂

And yes, I’m struggling with those kind of anxiety everyday. Dan karena menjadi seorang Ibu harus kuat, saya memaksa diri saya untuk mengesampingkan kecemasan. Karena, ya tak ada ruang untuk hal itu. Atau setidaknya, belum.

Berminggu-minggu berselang setelah serangan pertama itu, saya memutuskan untuk memutus mata rantai. Mandi cahaya matahari, minum air putih banyak-banyak, makan yang benar, bernapas yang benar, memeluk keluarga Rugrats.

Ada banyak hal yang perlu saya syukuri, dan ini lebih dari cukup.

And sometimes, it’s okay not to be okay.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: