Antara pohon-pohon Papua & Bhinneka Tunggal Ika

0

Tadi tak sengaja membaca tautan yang dibagikan Mbak Windy–salah seorang penulis favorit zaman masih kuliah. Dia membagikan tentang sebuah artikel yang betapa entah bagaimana, wilayah hijau di Papua sana banyak yang digadai demi kepentingan investor.

Kemarin kapan, saya membaca cuitan tentang lokasi gereja baru yang ‘dibredel’.

Capek? Saya kok capek membaca berita-berita begitu.
Rasanya gemas. Ndak selesai-selesai. Kadang-kadang saya berandai-andai. Jika Engkau ada disini secara kasat mata, Tuhan, apa yang akan disampaikan pada kerumunan itu?

Saya sedih, melihat berita di negeri ini. Satu hal yang pada akhirnya membuat saya hanya seperlunya menilik berita di media.

“Duh, udahlah nggak usah idealis begitu.”

Lha iya, tapi bagaimana sih. Namanya juga hidup di negara sendiri kan?

Saya hanya takut, pada akhirnya Tuhan murka. Tidak hanya pada pelaku, namun pada kita semua.

Lalu apa yang bisa saya lakukan, dengan kekayaan yang biasa-biasa saja bukan macam jaringan Bakrie, networking seadanya, dan nyaris menghabiskan seharian di rumah mengurus anak?

Entahlah.

Mungkin saya akan membeli bibit pohon yang mudah perawatannya? Tidak apple to apple sih dengan kejadian di Papua sana. Tapi rasanya itu adalah hal yang paling masuk akal. Serta terjangkau. Tidak sebanding dengan kesedihan disana pasti, namun barangkali para bayi Rugrats yang konon akan menjadi ‘generasi penerus bangsa’ bisa mengambil hikmah dari upaya kecil itu (?). Sedemikian banyak lahan yang digerus, apa mungkin memang sudah seharusnya menghijaukan lahan sendiri? 😳

Saya mendadak jadi ingat satu artikel di Majalah Bobo. Di luar negeri sana, lupa di negara apa, satu pemerintahan memiliki aturan bagi para pelaku usaha pohon natal untuk menanam sekian bibit pohon baru untuk menggantikan pohon yang ditebang. Itu artikel saat saya SD sih, hehe. Entah praktiknya apakah masih begitu disana. Tapi premis 1 diganti sekian sebenarnya solusi yang ‘cukup’, jika manusia tidak sedemikian tamaknya.

Ah ya sudahlah, akhir minggu ini mari mencoba mencari bibit pohon yang bagus untuk ditanam. Siapa tahu kami yang bertangan panas dalam menangani tanaman ini berhasil 😂

Lalu bagaimana dengan kisah mayoritas minoritas tadi? Hh, saya lebih tidak tahu. Saya prihatin dengan semua aspek yang melekat pada kasus itu.

Tapi disini, saya memiliki dua anak. Sebagai orang tua dengan kapasitas seadanya, saya hanya mampu memberikan pemahaman sederhana pada Cupis tentang pentingnya memahami perbedaan. Agar tidak diganggu, agar tak mengganggu.

Perbedaan adalah hal yang lumrah, kan. Namun sekarang justru bikin bubrah.

Saya sedikit bersyukur, karena harus ikut Bapak Rugrats kemari. Ke kota kecil yang euforia Imleknya lebih kental daripada Natal atau Lebaran. Dimana Cupis harus berkawan dengan anak Tionghoa.

Bros ini dibuat salah satu anak tetangga. Namanya Ah Yong. Katanya untuk saya. Di suatu siang dia mengetuk pintu, agak gemas karena saya pikir masih siang kok sudah main. Ah, ternyata ia memberikan ini. Salah satu bros sederhana dari kain felt dan peniti yang agak berkarat; bros-bros itu rencananya akan diperjualbelikan di bazaar sekolahnya. Saya diajak olehnya 🙂

Kami menjadi minoritas disini, bukan lagi mayoritas seperti di jawa. Jadi, mau tak mau harus beradaptasi kan? Saat Imlek kemarin para tetangga dan kolega memberikan nian gao–kue keranjang. Maka kami membalas dengan parsel mini dan turut bertandang ke rumah-rumah mereka. Kagok sih, dengan bahasa Indonesia terbata-bata. Hehe.

Out of topic,

Tadi saya iseng menunjukkan foto-foto perempuan di negara lain pada Cupis. Dengan rambutnya yang keriting, pendek, ikal, hidung mancung, mata sipit, semua jenis kombinasi wajah yang bisa saya temukan di internet.

Saya bertanya padanya saat menunjukkan satu foto perempuan, namun (maaf) tidak memiliki hidung karena kecelakaan.

Muka Cupis mengernyit sedikit, lalu berkata cantik, meski ragu-ragu. Dan saya, hanya bisa menjelaskan yang saya bisa. Bahwa semua perempuan, semua manusia itu bagus dan baik. Cantik dan ganteng. Dengan potensi menjadi orang baik dengan caranya.

Oke, perempuan tadi mungkin tak memiliki hidung. Tapi manik matanya indah, berwarna biru. Rambutnya pun lurus dan tebal.

Ya barangkali memang harus begitu. Lakukan apapun yang kami mampu. Menjadi idealis, dengan apa yang dimiliki.

This land has only us to defend its motherland. How come we don’t care about anything?

Catatan :

Maafkan kerandoman ini. Mendadak gemas dan ingin menulis. Badan tengah dihajar flu berat yang bikin mumet, daripada garing ndak bisa sketching mari ngoceh saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: