Faces of Singkawang : All we need is parade!

0

Sejak nyaris satu setengah tahun lalu Bapak Rugrats dimutasi ke Kalimantan dan memamerkan satu video perayaan Cap Go Meh di Sungai Pinyuh, saya pun langsung menyelipkan agenda menonton Cap Go Meh di Singkawang dalam bucket list pribadi.

Dan keturutan kemarin :’)

Berbekal informasi di akun resmi instagram festival ini , kami merencanakan garis besar aktivitas selama sekian hari. Yea, meleset beberapa acara di Lapangan Kridasana namun ya sudahlah~

Awalnya kami bahkan hendak membeli tiket tribun untuk menonton parade (baik lampion maupun Tatung), namun urung karena lumayan pricey. Tapi tetap ingin menonton semua parade itu dari dekat. Bagaimana dong?

Pria ini sungguh mengundang perhatian. Saya mengamatinya sejak ia berbicara dengan seorang anggota salah satu grup peserta parade. Pikir saya, wah orang ini ingin mencoba ‘kerasukan’! Foto ini diambil saat ia sudah ‘kerasukan’ dan diarak di dekat jalan utama.

Ia melompat-lompat, menyerupai err~ayam(?) yang jelas sih sepertinya dia bukan bagian dari kelompok karena orang dalam kelompok tersebut pun seperti agak menghindar šŸ˜‚

Jalan tengahpun diambil. Membaca ulang jalur parade, dan menemukan area yang dijadikan lokasi persiapan. Dan tempat itulah yang kami sambangi. Pertimbangannya : menonton dari jarak sedekat mungkin!

Sejak pertama sampai di area persiapan, kakek yang satu ini benar-benar menarik perhatian. Beberapa kali ia berkeliling disekitar kami, hingga saya tak tahan dan meminta Bapak Rugrats berfoto bersamanya. Ramah sekali!

Anak kecil ini bagian dari kelompok parade. Sepertinya belum bertugas, namun tetap bersemangat sekali memainkan alat. Lucu!

Oya, hari sebelumnya saya sempat bertanya pada Sonya, si pemilik penginapan, jam paling pas untuk menonton parade Tatung. Ia menyebutkan pukul sembilan. Namun menurut beberapa spanduk di pinggiran jalan pukul tujuh. Berdasarkan pengalaman parade lampion sehari sebelumnya, paling cocok memang menuju daerah persiapan. Mereka belum tampil, masih bisa diajak berbincang-bincang.

Selasa pagi, sekitar pukul enam kami bergegas menuju jalan Alianyang, area persiapan Tatung. Mobil kami parkir di jalan kecil yang tembus ke jalan utama tersebut, lalu berjalan kaki. Mungkin karena bertepatan dengan hari kerja, sehingga jalanan cukup ‘lengang’.

Namun begitu mendekati jalan Alianyang. WAH! Suara tabuhan dan aroma hio kompak menyeruak. Saya panik kegirangan. Saking bingungnya diserbu detail yang luar biasa itu, meminta tolong Bapak Rugrats untuk mengambil beberapa foto. Judulnya sih pemanasan.

Lihat matanya? Konon posisi mata seperti ini menandakan ada ‘roh’ yang tengah merasuki.

Setelah ‘dipaksa’ berkali-kali, akhirnya Bapak Rugrats mau difoto bersama kakek ini. Hahaha. Kakeknya ramah sekali. Setelah selesai foto ia bahkan mengelus-elus kepala Ken yang gumun memandanginya šŸ˜‚

Tak lama, setelah yakin hendak mulai dari mana, saya mulai berkeliling untuk mencari sesuatu yang ‘menarik’.

Pria muda di bagian bawah ini akan diinjak bagian dada dan perutnya oleh rekannya yang lain. Ng, ndak kebayang sakitnya saat menginjak macam menaiki tangga šŸ˜‚

Ayam yang dibawa ini merupakan bagian dari pelengkap prosesi. Nantinya saat pawai berlangsung, salah satu Tatung akan memakan ayam hidup-hidup.

Lalu, apa kabar para Rugrats sementara saya keluyuran? Bapak Rugrats totherescue! Ybs baik sekali mau menjaga para Rugrats di tempat yang lebih teduh selagi saya menyelinap sana-sini. Sesekali saya mengamati, Cupis sedang asyik berlarian sembari melompat sana-sini mengikuti irama tetabuhan. Okay.

Saya agak kaget mendapati Tatung versi Dayak. Belum sempat membaca banyak hal tentang Tatung itu sendiri, ternyata masyarakat Dayak turut berpartisipasi dalam gelaran ini. Dan musiknya, duh ya ampun, asyik pisan! Agak kontras dengan iring-iringan gemuruh Tatung Tionghoa~tapi keren. Oya, ini namanya ‘dau’ atau ‘amadakng’, mirip bonang kalau dalam budaya Jawa. Satu lagi, sampai sekarang saya masih penasaran dengan penulisan huruf k diikuti ng (~kng)–seperti amadakng tadi. Memang begitu ya? Sempat mencari tahu tentang ini namun belum menemukan alasan atau sejarahnya.

Saya mendapati Tatung versi Dayak cukup berbeda dengan Tatung Tionghoa. Sedikit lebih santai tampilannya, mereka cenderung menikmati setiap goresan yang ada di tubuh mereka. Iringan dau yang cukup ritmis malah menambah ‘keasyikan’. Dan tanpa sadar, saya pun ikut mengangguk-angguk mengikuti irama dau! Saya melihat para peserta dalam grup Dayak tersebut, dan memikirkan satu kata yang terngiang-ngiang bahkan sejak mendengar alunan dau dipukul : trance.

Pria ini memiliki tato bunga terung di paha kirinya. Mendadak setelah mengambil foto ini saya terpikir bertanya tentang tato itu. Beberapa kali mencoba mendekati namun terhalang penonton lain. Hahaha.

Ini, si bunga terung! Akhirnya saya meminta izin mengambil foto tato ini meski rada ‘awkward’ šŸ˜³ Katanya, bunga terung ini memang memiliki makna khusus. Ia menunjuk bagian tengah tato yang mengingatkan saya–entah kenapa–pada Naruto šŸ˜…šŸ˜‚, berarti ‘tali nyawa’ atau cycle of life. Lebih lanjut, simbol ini menjadi penananda seorang pria dayak yang telah beranjak dewasa. Beberapa sumber menyebutkan tato ini umumnya dibuat sepasang, kiri dan kanan–umumnya di bahu dalam, dan bermakna sebagai ‘pelindung’ hidup. Meski demikian, semakin kesini makin banyak orang mengenakan tato ini sih. Nah, kebetulan abang yang satu ini mentato pahanya. Entah kenapa, saya kurang tahu šŸ˜…

Namanya Alanj. Saya mendapatkan namanya dari media, rupanya ia banyak diliput karena lumayan mencolok diantara para peserta parade. Konon ia berasal dari Australia. Nah, disini pria ini tengah membujuknya untuk berfoto bersama. Agak ngeyel malah. Padahal iring-iringan ini sudah mulai berjalan.

Crap! Is he noticing me, no? šŸ˜‚šŸ˜‚ Oya, pria ini lidahnya terbelah dua, bagian putih matanya konon ditato hijau. Di parade kemarin, dia sungguh ‘stand out in the crowd’. Hahaha. Ya iyalah. Full-body-piercing euy šŸ™ˆšŸ™ˆ

Satu lagi yang teramati dari sisi Dayak ini, mungkin karena kelak akan beregenerasi sehingga pemandangan seperti ini ‘agak’ lumrah :’) Usianya mungkin kisaran SMP? Apakah tuak (dan sejenisnya) serta kretek adalah bagian dari prosesi, nanti kapan bakal mencari tahu~

Duh. Rasanya, tiga ratus jepretan tidak cukup menggambarkan betapa kerennya parade budaya ini. Saya pikir hanya ada Tatung Tionghoa saja, ternyata Dayak pun turut berpartisipasi.

Saya mengambil gambar cici ini karena ia tertawa cukup keras. Entah apakah tengah dirasuki atau tidak, yang jelas ia mengundang perhatian. Hehe.

Diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Kata Bapak Rugrats, tidak semua orang bisa menjadi Tatung meskipun mau. Tatung biasanya dipilih oleh Tatung generasi sebelumnya, ditandai semacam ‘bakat’. Jadi bisa saja kakek menjadi Tatung, bapaknya tidak, dan baru sang cucu yang ‘menekuni’ dunia tersebut. Lalu bagaimana jika sang terpilih enggan menjadi Tatung? Katanya sih tak masalah. Karena Tatung merupakan panggilan hidup.

Pemuda ini cool pisan. Saya beberapa kali mengambil gambarnya–dan dia sadar–namun enggan menoleh. Sampai-sampai seorang rekannya menggodanya karena dianggap terlalu malu. Entahlah, barangkali ini kali pertamanya menjadi bagian ritual? Namun bila dibandingkan, beberapa pemuda yang menjadi Tatung memang belum seluwes para Tatung senior. It takes a whole life to practice, maybe. Termasuk membawa diri di depan banyak orang baru dengan penampilan yang kadangkala terkesan ‘ngeri’ dan belum tentu estetis šŸ™ˆ

Awalnya berniat candid. Eh kepergok. Dalam hati agak mbatin, kok macam lihat konser Slank ya atributnya *eh

“Ini apa Bang?” | “Ini tengkorak kijang.” | Oke, baiklah.

Naga merah jambu ini terasa khusus sekali, karena diarak oleh wanita. Kuat loh! Bagian kepala naga nya memang relatif lebih kecil daripada kepala naga pada umumnya, ya mungkin karena akan diarak oleh para wanita šŸ™‚

Boneka yang sekilas seperti perpaduan Anabelle plus Marsha ini lumayan creepy kalau saya bilang. Entah bagaimana penggunaannya, namun boneka ini digunakan dalam ritual penyembuhan.

I think it’s hurt šŸ™ˆ Hurt is a sign of normal human-being, eh? But they aren’t. Them are different, so special.

This man loves his role. Alih-alih diam, pria ini tampak bergoyang mengikuti irama perkusi. Padahal matahari sedang terik-teriknya šŸ™‚

Sedetik setelahnya, ia menguap lebar. Tampaknya agenda Cap Go Meh yang padat membuat tidurnya agak terganggu šŸ™ˆšŸ˜³

Tatung, bagi saya pribadi merupakan entitas yang sukar dipisahkan dari kata loyalitas. Saya melihat ada begitu banyak energi yang dicurahkan dalam agenda tahunan ini. Tidak semua berasal dari Singkawang. Saat saya mampir membeli kupon makanan di SCC pun ada seorang pria yang tengah mendaftarkan kelompok penampil Tatungnya. Saya lupa nama daerahnya, namun bukan dari area Singkawang.

Tua, muda, laki-laki, perempuan. Saya melihat mereka bersemangat mengikuti festival ini. Dengan kostum yang megah, mengingatkan saya sebagian pada film Sun Go Kong, serta bunyi-bunyian yang saya yakin telah dilatih. Anak-anak kecil yang ikut bersemangat mengikuti rangkaian prosesi. Acara ini melelahkan. Bangun di pagi hari, berkeliling di bawah matahari pukul dua belas siang, memastikan fisik dan mental yang tak main-main.

Sekilas, ini mungkin ‘hanya’ seperti parade biasa. Namun di dalamnya, kamu akan menemukan loyalitas terhadap suatu kelompok.

Masih kurang? Bagaimana dengan penampilan yang nyaris selaras antara tiga suku berbeda itu? Memandang festival Tatung kemarin, dalam hati saya masih sangat yakin, bangsa ini selalu memiliki kesempatan untuk bersatu dalam perbedaan.

Yayaya, Cap Go Meh ini sungguh merepresentasikan sebutan kota Singkawang Hebat, Tidayu. Tionghoa – Dayak – Melayu šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: