Tentang menjadi ‘jawa’

6

“Kacang aja lali karo kulite.”

Jangan pernah lupa, darimana kita berakar.

Saat magang dulu di Dagadu–tepatnya saat sedang dapat tugas jaga di Dagadu Posyandu Malioboro Mall, ada satu komentar pembeli kaos yang lekat di ingatan saya. Sampai sekarang.

Dia, seorang Ibu paruh baya yang mengenakan jilbab, sedang membayar di kasir lalu tak sengaja melihat plakat foto di atas meja–plakat yang berisi foto teman-teman yang mendapatkan predikat ‘terbaik’ sesuai kategorinya (tenang. Seingat saya, tak ada foto saya di plakat itu. Hahaha)

Ibu itu melihat plakat tersebut, lalu sekilas melirik saya. Kalimat berikutnya sungguh membuat saya mengernyit,

“Kalau mbaknya ini, best Jawa.”

Saya nyengir. Supervisor saat itu–saya lupa siapa, ikut nyengir. Entah apa maksudnya, yang jelas saya langsung berpikir keras; apakah saya tadi melayaninya, lalu dia kecewa–atau senang? Apakah predikat ‘best Jawa’ ini adalah suatu pujian–atau sebaliknya? ๐Ÿ˜‚

Bertahun-tahun setelahnya, saya masih menganggap kalimat tadi sebagai sebuah pujian.

Saya akui saya agak kauvinistik kalau menyangkut identitas saya.

Lha, saya memang lahir dan dibesarkan di jawa. Saat saya masih kecil, Bapak suka memutar radio lokal–kadang berbahasa jawa. Tahu kan, semacam sandiwara radio (meski kemudian seleranya bergantian antara dangdut lawas era Evie Tamala dan Ike Nurjanah; serta The Beatles–tergantung saluran mana yang sedang diputar). Tukang-tukang yang membangun rumah kami di Kotagede, rajin mendengarkan siaran wayang dari radio mungil mereka yang digantung di antara paku-paku tembok.

Dan tarian. Tarian yang paling saya ingat adalah Jaranan, waktu itu kami berkesempatan membawakannya dalam tim kecil dalam suatu acara seni di Gembiraloka. Saya masih TK nol besar saat itu.

Saya ingat betul detail kostumnya; blangkon, atasan merah atau kuning berbahan mengkilap dan agak panas, gelang kaki, kumis palsu yang dilukis dengan pensil alis, tak lupa bengesan–memakai lipstik. Masing-masing dari kami lalu membawa sebuah ‘kuda’ yang dianyam dan diwarnai hitam. Gerakan kami, mengikuti irama dari lagu Jaranan.

Bagaimana dengan makanan?

Besekan berkat hajatan berisi sego gurih, telur rebus, ketan-pisang-santan, pisang, ayam goreng polos, kacang tanah tumbuk plus kacang tolo adalah menu yang sering hadir disekitar lingkungan rumah kami.

Atau jika ada tetangga mampir memberikan sedikit kudapan–seperti oleh-oleh–kali berikutnya piring atau mangkuk yang dipakai si tetangga akan dikembalikan, dengan diisi dulu dengan buah tangan baru. Bergantian.

Di luar itu semua, keluarga saya tidak 100% berbahasa jawa saat mengobrol.

Bahasa jawa; entah tingkat ngoko dan krama alus/krama inggil justru lebih sering kami gunakan di luar rumah. Saat ke pasar tradisional, naik becak, membeli lauk di warung, di sekolah.

Meski demikian, Ibu selalu mengingatkan untuk berbahasa jawa halus ketika bertemu dengan orang yang lebih tua.

Bahasa jawa saya sempat ‘agak’ luntur saat merantau pertama kalinya. Tergantikan dengan ‘lu-gue’ ๐Ÿ™‚ hingga kemudian seiring waktu, saya merasa lebih nyaman menggunakan kata ‘saya’.

Kenapa sih, saat itu harus berganti menjadi ‘lu-gue’?

Sebagian besar karena untuk kepentingan adaptasi. Kalau ada yang bilang Jabodetabek itu keras, ehm, lumayan. Dan penggunaan bahasa, adalah salah satu hal yang bisa sedikit mengatasi definisi ‘keras’ itu, disamping kompetensi, tentu.

Saya masih geli mendengar diri saya mulai menggunakan kata ‘lu-gue’ dalam pergaulan. Sampai pada satu titik salah satu Tante saya berkomentar,

“Logat jawamu udah agak ilang ya, Mbak?”

Saat itu saya ‘sedikit’ merasa bangga. Wow, resmi dong jadi ala ibukota. Hahaha. Rasa bangga itu sempat terbawa sampai ke rumah saya di Yogyakarta.

Hingga di suatu kesempatan ketika saya cuti dan tengah berjalan-jalan di sekitar alun-alun kidul, saya mendapati seorang nenek dengan setenggok mainan tradisional (ya, saya pernah bercerita tentang hal itu disini).

Saya ingin sekali membeli mainan langka yang beliau jual. Sempat kasak-kusuk dan dengan semena-mena minta tolong adik yang berbicara dengan simbah tersebut. Adik menolak,

“Bahasa jawaku jelek, Mbak!”

Singkat cerita, saya berusaha mengajak beliau mengobrol sambil memilih mainan. Dan ditutup dengan meminta izinnya untuk mengambil foto. Sepanjang obrolan singkat itu saya berusaha keras mengingat per kata bila diterjemahkan dalam bahasa krama inggil. Takut menyinggung perasaan, khawatir tak sopan kalau ngoko.

Rasanya? Menyenangkan. Betapa ternyata saya rindu berinteraksi dengan bahasa halus seperti itu. Bahasa daerah saya.

Saya jadi ingat salah satu video yang diunggah di laman Instagram Voa Indonesia belum lama ini.

Video tersebut mencoba mengkampanyekan kembali penggunaan bahasa daerah yang (konon) mulai luntur di generasi millennial.

Jleb, sih.

Semua pengalaman tadi, tanpa sadar terbawa hingga saya dewasa. Saat remaja saya bercita-cita menikah dengan balutan adat jawa. Mulai dari siraman, sungkeman, midodareni, hingga dulangan. Lengkap dengan pranatacara berbahasa krama inggil. Tercapai? Tercapai :’)

Konten Instagram saya, tanpa sengaja direncanakan berisi budaya jawa. Entah, rasanya menarik saja untuk dikulik.

Dan saya pikir, itu bukan kebetulan. Semua unsur jawa tersebut memang terasa kental dalam ingatan. Minat saya–meski sempat berubah banyak menjadi agak (sok) moderat, ternyata ujung-ujungnya ditarik kembali oleh akar kampung halaman.

Tentang menjadi ‘jawa, ataupun menjadi suku-suku lain. Karena legitimasi budaya itu dimulai dari diri sendiri.

Sudah cukup bangga?

6 thoughts on “Tentang menjadi ‘jawa’

  1. elsalkt

    Mbak, saya membaca postingan ini sambil merasa sedikit bersalah. Saya lahir dan besar di Jkt, namun dikelilingi pula oleh budaya Jawa. Hasilnya ya seperti saya ini. Persilangan yang tidak murni Jawa, tidak juga murni Jakarta (termasuk lu-gue dan kebutaan budaya daerah yang dimiliki oleh sebagian besar anak ibukota). Bahasa Jawa cuma tau bahasa Ngoko, itupun buta huruf. Baru belakangan saya bljr2 aksara Jawa otodidak dari YouTube dan instagram. Dipikir-pikir hebat juga ya guru2 bahasa Jawa jaman skrg.๐Ÿ˜Š
    salam kenal, Mbak.

    Like

    1. nursasi septarina Post author

      Hai Mbak! Hehe. Salam kenal ya Mbak ๐Ÿ™‚

      Wahh, saya pikir ndak perlu merasa bersalah Mbak, malah bersyukur kan Mbak ‘tergoda’ untuk kembali belajar tentang Jawa~ karena saya pun masih belajar juga ๐Ÿ˜† semoga proses belajarnya selalu menemukan ‘akar’nya yaa Mbak

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: