Kolabora(k)si : ketika bergandengan tangan adalah solusi

0

You need to be aware of what others doing, applaud their efforts, acknowledge their successes, and encourage them in their pursuits. When we all help one another, everybody wins.

Jim Stovall.

Menjadi pemimpin itu sungguh definisi yang sangat diperdebatkan, kadang. Saya ingat pernah beradu argumen tidak penting dengan seorang rekan, tentang bagaimana asal mula pemimpin itu muncul. Apakah sejak awal memang terlahir mampu memimpin, dengan serangkaian genetik dominan–ditakdirkan–atau justru diciptakan? Sungguh ayam atau telur.

Entahlah. Saya bukan (lagi) pemuja teori manajemen–karena minat saya agak bergeser kini, hehe–namun jika kualitas itu sungguh ada—pemimpin sebenarnya akan mampu mengeluarkan sisi terbaik dari rekan kerja dan lingkungannya. Tak peduli apakah kamu menyandang label ‘memimpin’ atau tidak.

Saya ingat saat pernah dimintai pendapat tentang si A yang akan didapuk menjadi pemimpin.

“Angka yang dia hasilkan bagus.”

Oh tentu saya gamang waktu itu.

“Angka doang nih Pak, yang dilihat?” 😂 –saat itu ada komponen lain yang membuat saya kurang sreg, kalau tak salah masalah komunikasi si kandidat.

Saya mendapat komplain waktu itu, hahaha, karena pendapat saya berseberangan dengan beliau. Susah memang yang namanya human capital, karena kami berada diantara dua kepentingan. Not to mention, meski hal tersebut adalah hal yang lumrah dalam bisnis sih. Untungnya ada jalan tengah saat itu, yang bersangkutan tetap mendapat promosi dan saya turut menggarap PR dari atasan untuk melakukan konseling terhadap si kandidat.

Melipir sedikit dari masalah untung-rugi yak~ menjadi pemimpin, bagi saya pribadi kadangkala lebih besar dari perkara angka.

Jika saya agak (sok) agamis disini, barangkali memimpin adalah perkara hablum minannas–dimana hal itu cukup sejalan dengan teori milik Jaume Filella tentang social leadership-nya. Pemimpin tipe ini, menjalin hubungan yang cukup baik dengan rekannya; konon ia pun persuasif untuk mengajak orang lain menemukan solusi bersama-sama serta mengupayakan tercapainya kesepakatan. Ia rupanya mampu mendeteksi, mana-mana potensi yang bisa menjadi luar biasa. Ya meski kadang prosesnya macam menemukan jarum di tumpukan jerami. Well, people oriented.

“Lah, main aman dong.”

Ng, memanusiakan manusia, ceunah (?)

Yang menarik, sepanjang saya kurang kerjaan mengamati akun-akun keren di media sosial saat ini, sebagian besar akun luar biasa tersebut memiliki konsep kolaborasi dan pemberdayaan yang intens. Bukan lagi pabrik atau sekat-sekat kubikel individual, namun ruang-ruang lokakarya bersama. Mereka tak berusaha menyentuh isi kepala dengan logika semata (meski saya yakin ada serangkaian data empiris yang mereka pelajari untuk menghasilkan suatu produk keren itu)–namun ‘hati’ para konsumennya.

Ya, para penggagas itu mampu merangkai cerita yang memikat, menceritakan kembali apa yang selama ini terlewat–dan dianggap sebelah mata oleh kita. Membuat kita takjub, bahwa bekerja bersama di lintas disiplin itu luar biasa.

Bagaimana dengan konsep kepemimpinan disitu? Saya bahkan lebih suka menyebutnya penggerak–dalam hal ini–alih-alih pemimpin. Karena rasanya itulah yang terjadi. Beberapa visioner ingin memiliki dampak pada semesta, berusaha memberdayakan lingkungan dengan apa yang ada. Coba tengok @bumilangit.official | @burgreens | @cintabumiartisans | @thisable.id | bahkan, @gojekindonesia mungkin? Oke, ini barangkali tren ataupun gaya hidup. Namun selama mampu memberdayakan lokalitas, kenapa tidak?

Perhaps it’s a long way to getting bigger. For some of them, what’s the matter is growing up together. Selaras dengan sekitar, menghargai lingkungan.

Perbedaan bukan lagi cuma tentang SARA, namun merayakan keberagaman potensi.

You can do what I can not do. I can do what you can not do. Together we can do great things.

Begitu kata Bunda Teresa.

Oke, selalu ada dua sisi dalam setiap cerita. Pun semisal beberapa dari kita adalah dominan-arogan macam Hitler atau penganut task-leadership, tak masalah.

Namun barangkali bisa diingat, setiap hal di dunia ini memiliki dua sisi termasuk kapabilitas manusia. Semisal ada kelemahan, saya yakin ada potensi yang bisa jadi belum tergali. Jika kamu tipe atasan yang keras, atau sebaliknya, kadang-kadang di satu titik diperlukan rekan kerja dengan karakter berbeda. Atau keahlian yang justru berseberangan denganmu. Untuk mengimbangi, untuk memunculkan ide-ide baru yang bahkan tak terpikir. Still, it takes two to tango.

Saya kok masih percaya ya, serangkaian proses kolaborasi yang baik akan berdampak baik juga. Bahkan bisa lebih masif.

Humanis, huh?

Iya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: