Mengenang Eyang Soetatwo : Pria berpipa cangklong dalam Fiat 500 lawas

0

Pagi tadi, saya mendapat pesan singkat dari Ibu.

Yang Tat meninggal dunia.

Tadi, rasanya masih ‘biasa’ saja. Mungkin karena masih disibukkan dengan Rugrats. Tapi ketika perjalanan pulang dari Pontianak ke Sungai Pinyuh, pikiran rasanya di awang-awang.

Kilas balik-kilas balik, kembali mengingat Eyang.

**

Yang Tat–begitu kami memanggilnya–adalah adik Mbah Mami, Ibunya Ibu. Sama-sama tinggal di Yogyakarta, membuat keluarga kami lebih dekat dengan Yang Tat dan Yang Siti–istri beliau.

Setiap Lebaran, rumah beliau adalah tempat sowan favorit. Favorit, karena rumah Yang Tat luas dan estetis; dengan segala printilan barang-barang kerajinan serta seni. Belum lagi rak-rak berisi buku-buku tebal. Duh. I’m dying.

Septin versi lebih kecil, selalu terpana dengan betapa kerennya rumah Yang Tat. Ada tayangan TV kabel (sementara dulu kami hanya menonton stasiun TV swasta nasional) yang menayangkan Disney Channel, Cartoon Network, serta Natgeo. Septin kecil yang selalu kagum, setiap kali melewati lemari kaca dan kulkas di dapur karena dipenuhi miniatur figur khas serta tempelan magnet lucu-lucu dari negara-negara lain.

Waktu itu dalam hati saya menyimpan doa, semoga suatu saat bisa jalan-jalan ke luar negeri dan membeli printilan lucu-lucu seperti milik Eyang.

**

Yang Tat dan Yang Siti, keduanya adalah akademisi dalam versi berbeda. Yang Tat, seorang dosen dan guru besar di Fakultas Ekonomi UGM. Sementara Yang Siti, dulunya adalah guru bahasa Inggris sebelum dipinang Eyang Kakung. Beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan Kraton Yogyakarta, namun saya lupa bagaimana. Tenang, darah biru tidak sampai mengalir pada diri kami kok 😂

Ibu saya, lebih banyak ‘ikut’ dengan Yang Tat selama remaja. Dari Ibu, saya tahu bahwa Eyang Tat adalah salah satu anak Eyang Buyut yang ngotot mengenyam pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi. Pada saat itu, pendidikan bukanlah hal yang dianggap penting oleh Eyang Buyut, mengingat Eyang Buyut memiliki usaha dagang juga. Harapannya, semua anak beliau membantu bakulan saja alih-alih sekolah.

**

Mungkin karena beliau memperjuangkan pendidikannya sendiri dengan keras, maka Yang Tat turut bersukacita ketika cucunya memiliki pencapaian dalam akademis.

Entah bagaimana ceritanya, namun dulu saat sekolah dasar tiap kali masa terima rapor tiba dan saya mendapat peringkat satu, Yang Tat akan memberikan uang jajan tambahan–untuk membayar sekolah atau membeli buku. Mungkin Ibu yang sengaja bercerita, saya tak tahu :’) tetap saja, bagi saya rasanya bangga bukan main saat ditepuk punggungnya oleh Yang Tat.

**

Suatu hari saat saya SMP (?) kami mengunjungi Yang Tat yang baru pulang dari Singapura. Saya terkejut saat mendapat oleh-oleh ‘khusus’, sebuah buku Do-It-Yourself : Greeting Card. Saya tidak mahir berbahasa Inggris saat itu, namun dengan melihat gambarnya saja mata ini sudah berbinar-binar.

‘Ya ampun, begini ya buku luar negeri. Kertasnya tebal dan bagus, berwarna. Covernya saja tebal dan keras~’

Ndeso, kan.

Yang jelas, buku itu sukses membuat saya senyum-senyum seharian. Sampai sekarang masih ada di rumah Yogyakarta.

**

Kekaguman saya pada Yang Tat membuat saya menjadikan beliau subyek dalam presentasi saya di salah satu mata kuliah Psikologi. Lupa apa, namun semacam studi tentang tingkat keaktivan pada usia lansia. Tentu saja saya bangga menceritakan beliau, bahkan hingga beliau sudah pensiun pun pihak fakultas masih meminta tolong beliau untuk mengajar.

**

Suatu hari, mendadak kami sekeluarga diundang Yang Tat dan Yang Siti makan siang bersama.

“Undangan apa ya?” pikir saya waktu itu.

Ternyata itu adalah undangan dalam rangka syukuran kecil kelulusan saya. Saya terharu. Pertama, karena makan siang bersama di luar bukanlah gaya keluarga kami. Kedua, ada orang lain di luar keluarga inti yang sebegitunya peduli pada pencapaian saya, itu sangat cukup membuat perasaan saya hangat.

“Slamat yo, wis lulus. Kerjo sing sukses.” kira-kira begitu kata Yang Tat setelah kami selesai makan. Saya dipeluk erat, aroma tembakau menguar kuat. Iya, Eyang suka sekali mengisap tembakau dari pipa cangklong–satu hal yang sangat khas dari beliau.

Setelahnya, Yang Tat dan Yang Siti serta seorang sepupu yang sedang berlibur di rumah Eyang pulang menaiki Fiat biru kesayangan Yang Tat.

**

Masa-masa berikutnya, saya lebih jarang bertemu Eyang karena bekerja di Bekasi. Bertemu pun sekenanya saat pulang. Karena waktu yang terbatas jadi kadang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah Kotagede saja. Kalau dipikir-pikir, parah juga saya 😦

Saat saya menikah, Yang Siti turut mendampingi Ibu Bapak saat prosesi sungkeman sebelum siraman. Saat akad, Yang Tat dan Yang Siti pun turut hadir.

Saya bertemu terakhir dengan Yang Siti–eyang ‘bule’ saya yang hobi menjahit dan merajut, dan kerap memanggil dengan sebutan ‘manis, ayu’ saat Lebaran tahun 2016. Saat itu, Yang Tat sudah gerah. Beliau hanya berbaring di kamar karena terserang stroke. Saat itu, Yang Siti yang setia menemani Yang Tat hingga berpulang lebih dulu di April tahun lalu.

**

Begitulah saya mengenang beliau berdua.

Tak akan lupa dulu,

saat saya ketakutan berkunjung ke rumah Karang Bendo karena khawatir digonggongi anjing milik Eyang,

atau saat saya diminta Ibu berbicara dalam bahasa krama inggil saat mengobrol dengan Yang Siti,

atau bagaimana Yang Tat menanyakan keseharian saya,

serta kenangan mengobrol bersama kedua Eyang di ruang keluarga rumah Karang Bendo yang bersisian dengan taman penuh anthurium dan tanaman aneh lain (yang selalu sukses membuat Ibu gemas), suara klintingan yang tertiup angin, gemericik kolam ikan kecil, piano lawas (yang belum pernah saya lihat Yang Tat memainkannya), foto erupsi Merapi dalam jarak dekat di atas piano, buku-buku ensiklopedia tebal, hiasan-hiasan gajah khas Thailand, sofa empuk di ruang keluarga, semuanya.

Terimakasih ya Eyang, karena telah mengapresiasi pencapaian-pencapaian kecil saya waktu itu. Karena telah mengajarkan pada saya bahwa isi kepala yang baik seyogyanya akan mampu membuat dunia lebih baik. Bahwa tak ada yang lebih baik dari sebuah gelar sarjana ataupun doktoral atau guru besar, selain betkontribusi kembali untuk kampung halaman.

Semoga, semoga.

Selamat jalan, Yang Tat. Selamat bertemu lagi dengan Yang Siti–your eternal love forever and ever. Saya mengerti selalu ada kasih sayang dan cinta sejati diantara beliau semua. Dari cara Yang Tat membercandai Yang Siti yang agak mengeluh karena Yang Tat lupa sesuatu. Dari cara Yang Siti bersetia menemani Yang Tat hingga hari akhirnya.

Til death do us apart.

Selamat jalan, Alfatihah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: