Dear, survivor’s support-system…

0

Hari ini tanpa sengaja menemukan tagar #justiceforaudrey. Langsung mencari beritanya, dan miris.

**

Malam ini saya tidak bisa tidur. Perlakuan perisakan, dalam kadar seperti apapun, adalah busuk sebusuk-busuknya.

Been there done that. Meski perisakan kelas teri yang saya alami sudah berlalu belasan tahun lalu, kalau ingat pun rasanya tetap sebal.

Lalu, bagaimana Audrey?

Ah, bukan. Bukan Audrey. Saya yakin begitu kasus ini naik, ada ribuan simpati serta tindakan untuk membantu Audrey.

Kegelisahan saya,

Lalu, bagaimana Ibu Audrey?

**

Belasan tahun lalu, di suatu siang saya menyerah. Itu adalah bulan kesekian saya mengalami perisakan di sekolah. Jika sebelumnya saya menutup rapat-rapat rasa tidak nyaman di sekolah, tidak dengan hari itu.

Sore itu saat saya menangis tersedu, Ibu memergoki saya. Awalnya saya enggan bercerita. Terlepas saat itu kami bukanlah keluarga yang cukup terbuka satu sama lain (atau saya yang menutup diri, hmm~), saya tak yakin dengan bercerita pada Ibu maka persoalan beres.

“Tapi siapa lagi yang saya punya?” tanya suara saya yang lain.

Begitu selesai bercerita sembari tersedu, yang saya ingat raut muka Ibu kecewa saat itu. Entah kecewa di bagian yang mana. Yang jelas, mata Ibu mbrambangi–berkaca-kaca.

“Besok Ibu ke sekolah, ketemu Guru BK.”

Panik? Saya panik. Saya tak mau kelihatan cengeng di depan para perisak itu, tapi di sisi lain saya merasa tak sanggup lagi.

Saya sempat memohon pada Ibu untuk tidak ke sekolah. Saya malu. Lebih lagi, saya takut kedatangan Ibu justru memicu perlakuan yang makin menyebalkan dari mereka.

Namun kata Ibu,

“Ini udah mau UN, Mbak. Masa kamu belajar nggak tenang. Nanti kepikiran.”

Akhirnya saya menurut. Pilihan apapun tak tampak baik semuanya di mata saya. Betul saja, esoknya saya dipanggil guru BK. Ingat betul tatapan kesal mereka saat saya dipanggil ke ruangan BK.

Kata Guru BK, Ibu sudah datang tadi. Blak-blakan, saya memohon agar tak memperpanjang kasus ini. Sebagai gantinya, saya berjanji akan lapor jika mendapat perlakuan buruk lagi. Guru saya sepakat.

Sejak hari itu, perlakuan perisakan memang berkurang. Namun hubungan pertemanan saya juga tak lebih baik. Ya sudahlah, toh sebentar lagi saya lulus dan kecil kemungkinan satu sekolah lagi dengan mereka. Begitu saya menguatkan diri.

(catatan : dalam beberapa kasus, tetap saja ada kategori individu yang tidak mampu melakukan konfrontasi balik saat mendapat perilaku perisakan, karena satu dan lain hal. Jadi, menganggap enteng perisakan–hanya karena merasa lebih berani atau bermental baja–bukanlah hal yang tepat, karena tidak semua orang mampu bersikap sama saat menghadapi perisakan)

**

Kembali pada kasus Audrey.

Saya pikir pihak yang turut perlu mendapat dukungan dalam kasus perlakuan perisakan pada anak adalah Ibu–orangtua, atau siapapun kerabat terdekat. Kenapa? Karena merekalah yang menjalani keseharian bersama penyintas.

Saya tak tahu, jika saja Ibu tidak bersikap tenang saat itu, barangkali semua menjadi lebih runyam. Saya tak tahu, jika bukan Ibu yang menjadi support-system saya saat itu; menemani sholat tahajud dan menyemangati saya belajar di tengah-tengah masa alienasi ((alienasi)), entah bagaimana jadinya saya.

Karena itu, saya pikir selain memberikan perhatian pada korban perisakan, sudah sewajarnya dukungan juga diberikan pada kerabat terdekat. Untuk terus berbesar hati dan tidak serta merta terpancing menggunakan energi dalam hidden agenda seperti balas dendam atau bentuk emosi negatif lain, untuk mampu menemani tanpa tergoda menghakimi dengan kata-kata,

“Tuh kan, coba kalau–”
“Makanya, jangan–”
dsb, dsb.

Terus terang, hasrat menyalahkan alih-alih berpikiran terbuka dalam mendengar kadangkala terlalu besar.

Pun, beban moral juga dapat dirasakan oleh keluarga penyintas. Jika semua proses penyembuhan pasca-trauma berhasil dan baik-baik saja, maka tak menjadi masalah. Namun jika sebaliknya, tentu diperlukan ketahanan mental yang baik dan perspektif positif dari support-system agar tak ikut patah arang.

You’ll never know how ‘keep going’ or ‘stay strong’ could be so magical for them.

**

Ada satu adegan di film seri besutan FOX, New Amsterdam (yeaa~ lagi). Saat Dr. Frome berusaha memberikan konseling pada seorang wanita kulit hitam yang keponakannya terkena tembakan nyasar. Ia menemukan bahwa meski si keponakan perlu mendapat dukungan moril untuk melewati masa traumatisnya, sang bibi juga seharusnya mendapatkan dukungan yang sama.

PTSD–post traumatic stress disorder, bisa dialami siapapun. Dalam contoh ‘kasus’ New Amsterdam tadi, sang bibi ternyata juga mengalami gangguan kecemasan dan ketidakstabilan emosi karena rasa takut dan khawatir (orangtua si keponakan sebelumnya juga meninggal karena tembakan).

Dan mengingat sang keponakan memerlukan support-system yang kelak mampu membantu, sang bibi pun harus mampu meregulasi emosinya. Semua upaya penanganan PTSD akan menjurus sia-sia, jika sang bibi yang menjadi support-system masih terpapar kecemasan.

Oke, itu tadi adalah fiksi. Namun begitu kurang lebih ilustrasinya. Untuk membantu seseorang melewati masa-masa genting pasca-trauma, memang akan diperlukan support-system yang telah ‘selesai’ dengan dirinya; luar dalam.

Kenapa? Karena jika belum ‘selesai’, maka residu emosi (emosi disini bukan berarti marah, namun bisa rasa takut, kecewa, dsb) justru akan terbawa saat proses penyembuhan si penyintas.

Sekali lagi, ini hanya opini pribadi.

Salut, untuk semua Ibu, Bapak, orangtua, siapapun support system dari para penyintas perisakan ataupun korban tindakan destruktif lain yang mampu berbesar hati serta mengumpulkan energi positif untuk ‘mengembalikan’ kehidupan para penyintas senormal mungkin.

And please, please, please, stop hatred.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: