#sexykillers : ketika sekedar cerdas sudah tak lagi cukup

0

Satu bagian yang membuat saya pusing saat menonton #sexykillers semalam : relasi antar pengampu kepentingan dalam industri batu bara.

“Oh, itu hal biasa. Kalau mau maju harus ada yang dikorbankan.” barangkali para raksasa akan bicara demikian.

Tapi~

**

Terus, apakah semua salah sederet nama itu?

Entahlah.

Namun tentu tidak ada asap kalau tak ada api.

Manusia bertumbuh. Kebutuhan berubah. Mau tak mau alam diminta menyesuaikan. Barangkali karena manusia (bahkan saya) terlalu konsumtif, terlalu banyak mau, terlalu ingin cepat–maka lingkungan pun dipaksa berubah.

Iya betul, warga protes karena PLN kerap memutus aliran listrik. Saya juga ikut ribut saat listrik mendadak padam.

“Panas!” gerutu saya waktu itu.

Ya bagaimana, kita memerlukan peradaban yang lebih maju untuk berkembang, mendambakan infrastruktur yang tak kalah cemerlang. Semua menginginkannya.

Persis seperti teori dalam ekonomi,

supply and demand.

Namun pertanyaannya, sampai kapan menjadi bagian pemberi masalah alih-alih solusi? 😥

**

Sewaktu SMA saya kagum dengan teman-teman saya; sederet orang cerdas yang membuat penelitian untuk disubmit ke LIPI. Sampai sekarang, saya masih takjub setiap kali menonton para peserta olimpiade ilmu eksak, dan masih berdecak kagum setiap kali menonton Kick Andy Heroes.

Beasiswa bertebaran dimana-mana, akses lebih mudah daripada zaman STOVIA di Batavia dulu.

Memiliki otak yang cerdas adalah suatu priviledge. Namun seperti kata Paman Ben di film Spiderman,

With great power, comes great responsibility.

Ehm. Barangkali otak kita terlalu malas untuk berpikir keras karena merasa aman hidup di pulau yang sarat peradaban : Jawa.

Yang semisal mau ke mall tinggal pesan ojek daring, menggarap tugas tinggal melipir ke gerai kopi sekalian berburu internet gratis, mati listrik langsung menyalakan genset.

Mendadak saya merasa bersyukur karena merasakan hidup di Kalimantan. Yang airnya kotor serta keruh plus hanya menyala dari pukul tujuh pagi hingga lima sore; kecuali memiliki tandon besar. Yang di awal tinggal disana harus sabar karena listrik kerap mati sementara udara panas sekali. Yang semisal rindu makan ayam franchise harus menempuh dua jam perjalanan ke kota terdekat.

Merasa bersyukur, bahwa setelah kembali ke Jawa, kemudahan di pulau ini ternyata baru terasa sungguh tiada duanya.

**

Kemarin, saya lupa baca dimana, penayangan film ini dihentikan di suatu daerah. Ada aparat datang, diikuti seorang pemangku wewenang.

Ada pula spekulasi tentang pemilihan waktu penayangan yang ‘kok mendekati Hari H pesta demokrasi’.

Saya pikir bukan itu esensinya. #sexykillers, terlepas dari pemaparan sumber peradaban kita, justru semakin menyadarkan pentingnya pendidikan. Bahwa edukasi seyogyanya adalah sebuah solusi, sebagai upaya mendampingi alam yang telah menyediakan sumber daya. Memanfaatkan sekaligus menjaga. Bukannya manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi? Sebagai orang berakal yang ditugaskan untuk menjaga bumi. Iya, dengan akal.

Indeed, in the creation of the heavens and the earth and the alternation of the night and the day are signs for those of understanding. ~ QS Ali-Imran 3 : 190

Oh ya, saya juga menemukan tautan menarik tentang bentuk kecerdasan lain dalam rangkaian teori Multiple Intelligence milik Howard Gardner. Namanya kecerdasan naturalistis. Mengutip sebuah jurnal yang digarap tiga mahasiswa UI,

Naturalistic intelligence is a new addition that meets the criteria as an intelligence. It is a skill that a person possesses in recognizing and classifying various species (flora and fauna) found in the environment. This capability also includes sensitivity to natural phenomena [7]. A person who has naturalistic intelligence and continues to develop it will be able to maintain the environment and know the consequences of his actions to nature [7, 8]. (Ningrum, Soesilo, Herdiansyah)

Mengolah tapi peduli dampak. Ah, bahkan kecerdasan di masa kini bukan lagi sekedar jago matematika atau pintar berbicara. Bahkan diperlukan kecerdasan untuk memahami alam. Manusia terlalu serakah untuk hidup berkecukupan? 😦 (gara-gara ini saya mulai sadar, entah berapa banyak energi yang terbuang sia-sia dalam keseharian rumah tangga karena satu dan lain hal~ sementara di belahan lain Indonesia ada sekelompok warga yang terpapar dampak konsumtif ngawur)

**

Berpikir lebih jauh, ada banyak hal yang perlu diselipkan dalam pendidikan Indonesia. Kesadaran akan lingkungan, salah satunya.

Lalu bagaimana jika seseorang sudah ‘keluar’ dari sistem pendidikan (baca : sudah lulus)?

Saya tergoda dengan metode live in yang mulai marak digagas di desa-desa wisata. Saya pikir betul juga, tak ada medium yang paling tepat untuk memahami lingkungan dan mekanisme paparannya selain turut berpartisipasi.

Lebih sempit lagi, bagaimana dengan menggali ilmu-ilmu zaman kuliah dulu? Lulusan pertanian, teknik industri, geologi, psikologu, apapun! Astaga, bangsa ini memiliki ribuan mahasiswa~ bahkan kita, yang bahkan ‘hanya’ diam di rumah mengasuh anak pun, adalah pembelajar pada masanya.

Tentu masih ada sisa-sisa ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan sisa-sisa keserakahan manusia.

Semua bisa. Yang membatasi adalah empati untuk berkontribusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: