Pak Sutopo, seseorang dari dunia maya.

0

“Pak Sutopo itu~”
“Saya mengenal Pak Sutopo~”
“Menurut Saya, Pak Sutopo adalah~”

Saya lupa pernah membaca dimana, di buku atau tulisan entah dimana, tentang menulis obituari.

Obituari–atau tulisan yang didedikasikan untuk kerabat yang meninggal dunia semasa hidup–kurang lebih menjadi rangkuman kesan terhadap kerabat yang telah berpulang.

Kembali pada tulisan entah dimana tadi,

“Tulislah obituarimu sejak sekarang.”

Satu kalimat yang bikin dahi mengernyit dan kesannya mengerikan, namun sebenarnya tidak.

Menulis obituari, dalam benak saya saat membaca hal tersebut, adalah bagaimana kita ingin dikenang di dunia. Apakah menjadi orang baik yang ringan tangan, si pelit, pendosa, tukang menghangatkan suasana, dan sebagainya.

Dan kembali pada berpulangnya Pak Sutopo–orang yang tidak saya kenal secara pribadi–kesan-kesan atas pribadi yang bersangkutanlah yang pada akhirnya menghantarkan beliau ke peristirahatan terakhir.

Rasa hormat.

Saya tak mengenal Pak Sutopo. Jika bukan gara-gara bencana, mungkin saya juga tak tahu siapa beliau atau betapa beliau mengidolakan Raisa.

Saya kagum dengan dedikasinya. Namun pada saat itu, sudah. Itu saja.

Hingga akhirnya media mulai memberitakan tentang sakit yang beliau derita–yang mana beliau lebih tampak seperti orang sehat dari pada orang sakit, karena semangatnya mengaburkan rasa sakit hingga tak tampak di balik lensa kamera (?)

Tadi, saya membaca satu artikel beliau yang dimuat di jpnn. Dan rasa hormat saya kian menjadi.

Bisa jadi beliau sakit dan memiliki keterbatasan. Namun, antusiasmenya membawa Pak Sutopo dikenang banyak orang.

Kalimatnya yang paling mengena,

“Enggak semua mau capek, karena harus siap semua.” kata beliau :’)

Saya masih percaya, antusiasme dalam berbuat baik itu dapat membawa seseorang kemanapun. Mampu menyentuh hati banyak orang, meskipun tak mengenalnya secara personal.

Kok tahu?

Penghormatan dan arus simpati saat beliau meninggal dunia. Media menghormatinya, para wartawan kehilangan sosok baik yang konon memiliki seribu++ kontak wartawan di Blackberry-nya.

Bekerja dengan hati, saya pikir bukan sekedar kata-kata di buku motivasi atau self-help. Bukan juga perkara resign hanya demi menggapai panggilan hidup. Tidak seremeh itu. Passion, mau dimanapun kita berada lumrahnya selalu mengikuti. Medium berkaryanya bisa jadi berganti, namun nyawanya ya disini,

hati.

Masalahnya sekarang, bukan banyak fasilitas atau tidak, waktu luang atau tidak. Masalahnya adalah, mau repot atau tidak.

Karena hal-hal baik, biasanya datang setelah perjalanan yang panjang dan usaha yang tak lekang.

Karena karma baik, selalu ada dan terus dikenang.

Terima kasih Pak Sutopo, terima kasih atas dedikasi, antusiasme, dan loyalitas terhadap kemanusiaan.

Mengutip tagline film Wonder,

Choose kind.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: