About nursasi septarina

Pak Sutopo, seseorang dari dunia maya.

0

“Pak Sutopo itu~”
“Saya mengenal Pak Sutopo~”
“Menurut Saya, Pak Sutopo adalah~”

Saya lupa pernah membaca dimana, di buku atau tulisan entah dimana, tentang menulis obituari.

Obituari–atau tulisan yang didedikasikan untuk kerabat yang meninggal dunia semasa hidup–kurang lebih menjadi rangkuman kesan terhadap kerabat yang telah berpulang.

Kembali pada tulisan entah dimana tadi,

“Tulislah obituarimu sejak sekarang.”

Satu kalimat yang bikin dahi mengernyit dan kesannya mengerikan, namun sebenarnya tidak.

Menulis obituari, dalam benak saya saat membaca hal tersebut, adalah bagaimana kita ingin dikenang di dunia. Apakah menjadi orang baik yang ringan tangan, si pelit, pendosa, tukang menghangatkan suasana, dan sebagainya.

Dan kembali pada berpulangnya Pak Sutopo–orang yang tidak saya kenal secara pribadi–kesan-kesan atas pribadi yang bersangkutanlah yang pada akhirnya menghantarkan beliau ke peristirahatan terakhir.

Rasa hormat.

Saya tak mengenal Pak Sutopo. Jika bukan gara-gara bencana, mungkin saya juga tak tahu siapa beliau atau betapa beliau mengidolakan Raisa.

Saya kagum dengan dedikasinya. Namun pada saat itu, sudah. Itu saja.

Hingga akhirnya media mulai memberitakan tentang sakit yang beliau derita–yang mana beliau lebih tampak seperti orang sehat dari pada orang sakit, karena semangatnya mengaburkan rasa sakit hingga tak tampak di balik lensa kamera (?)

Tadi, saya membaca satu artikel beliau yang dimuat di jpnn. Dan rasa hormat saya kian menjadi.

Bisa jadi beliau sakit dan memiliki keterbatasan. Namun, antusiasmenya membawa Pak Sutopo dikenang banyak orang.

Kalimatnya yang paling mengena,

“Enggak semua mau capek, karena harus siap semua.” kata beliau :’)

Saya masih percaya, antusiasme dalam berbuat baik itu dapat membawa seseorang kemanapun. Mampu menyentuh hati banyak orang, meskipun tak mengenalnya secara personal.

Kok tahu?

Penghormatan dan arus simpati saat beliau meninggal dunia. Media menghormatinya, para wartawan kehilangan sosok baik yang konon memiliki seribu++ kontak wartawan di Blackberry-nya.

Bekerja dengan hati, saya pikir bukan sekedar kata-kata di buku motivasi atau self-help. Bukan juga perkara resign hanya demi menggapai panggilan hidup. Tidak seremeh itu. Passion, mau dimanapun kita berada lumrahnya selalu mengikuti. Medium berkaryanya bisa jadi berganti, namun nyawanya ya disini,

hati.

Masalahnya sekarang, bukan banyak fasilitas atau tidak, waktu luang atau tidak. Masalahnya adalah, mau repot atau tidak.

Karena hal-hal baik, biasanya datang setelah perjalanan yang panjang dan usaha yang tak lekang.

Karena karma baik, selalu ada dan terus dikenang.

Terima kasih Pak Sutopo, terima kasih atas dedikasi, antusiasme, dan loyalitas terhadap kemanusiaan.

Mengutip tagline film Wonder,

Choose kind.

#sexykillers : ketika sekedar cerdas sudah tak lagi cukup

0

Satu bagian yang membuat saya pusing saat menonton #sexykillers semalam : relasi antar pengampu kepentingan dalam industri batu bara.

“Oh, itu hal biasa. Kalau mau maju harus ada yang dikorbankan.” barangkali para raksasa akan bicara demikian.

Tapi~

**

Terus, apakah semua salah sederet nama itu?

Entahlah.

Namun tentu tidak ada asap kalau tak ada api.

Manusia bertumbuh. Kebutuhan berubah. Mau tak mau alam diminta menyesuaikan. Barangkali karena manusia (bahkan saya) terlalu konsumtif, terlalu banyak mau, terlalu ingin cepat–maka lingkungan pun dipaksa berubah.

Iya betul, warga protes karena PLN kerap memutus aliran listrik. Saya juga ikut ribut saat listrik mendadak padam.

“Panas!” gerutu saya waktu itu.

Ya bagaimana, kita memerlukan peradaban yang lebih maju untuk berkembang, mendambakan infrastruktur yang tak kalah cemerlang. Semua menginginkannya.

Persis seperti teori dalam ekonomi,

supply and demand.

Namun pertanyaannya, sampai kapan menjadi bagian pemberi masalah alih-alih solusi? 😥

**

Sewaktu SMA saya kagum dengan teman-teman saya; sederet orang cerdas yang membuat penelitian untuk disubmit ke LIPI. Sampai sekarang, saya masih takjub setiap kali menonton para peserta olimpiade ilmu eksak, dan masih berdecak kagum setiap kali menonton Kick Andy Heroes.

Beasiswa bertebaran dimana-mana, akses lebih mudah daripada zaman STOVIA di Batavia dulu.

Memiliki otak yang cerdas adalah suatu priviledge. Namun seperti kata Paman Ben di film Spiderman,

With great power, comes great responsibility.

Ehm. Barangkali otak kita terlalu malas untuk berpikir keras karena merasa aman hidup di pulau yang sarat peradaban : Jawa.

Yang semisal mau ke mall tinggal pesan ojek daring, menggarap tugas tinggal melipir ke gerai kopi sekalian berburu internet gratis, mati listrik langsung menyalakan genset.

Mendadak saya merasa bersyukur karena merasakan hidup di Kalimantan. Yang airnya kotor serta keruh plus hanya menyala dari pukul tujuh pagi hingga lima sore; kecuali memiliki tandon besar. Yang di awal tinggal disana harus sabar karena listrik kerap mati sementara udara panas sekali. Yang semisal rindu makan ayam franchise harus menempuh dua jam perjalanan ke kota terdekat.

Merasa bersyukur, bahwa setelah kembali ke Jawa, kemudahan di pulau ini ternyata baru terasa sungguh tiada duanya.

**

Kemarin, saya lupa baca dimana, penayangan film ini dihentikan di suatu daerah. Ada aparat datang, diikuti seorang pemangku wewenang.

Ada pula spekulasi tentang pemilihan waktu penayangan yang ‘kok mendekati Hari H pesta demokrasi’.

Saya pikir bukan itu esensinya. #sexykillers, terlepas dari pemaparan sumber peradaban kita, justru semakin menyadarkan pentingnya pendidikan. Bahwa edukasi seyogyanya adalah sebuah solusi, sebagai upaya mendampingi alam yang telah menyediakan sumber daya. Memanfaatkan sekaligus menjaga. Bukannya manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi? Sebagai orang berakal yang ditugaskan untuk menjaga bumi. Iya, dengan akal.

Indeed, in the creation of the heavens and the earth and the alternation of the night and the day are signs for those of understanding. ~ QS Ali-Imran 3 : 190

Oh ya, saya juga menemukan tautan menarik tentang bentuk kecerdasan lain dalam rangkaian teori Multiple Intelligence milik Howard Gardner. Namanya kecerdasan naturalistis. Mengutip sebuah jurnal yang digarap tiga mahasiswa UI,

Naturalistic intelligence is a new addition that meets the criteria as an intelligence. It is a skill that a person possesses in recognizing and classifying various species (flora and fauna) found in the environment. This capability also includes sensitivity to natural phenomena [7]. A person who has naturalistic intelligence and continues to develop it will be able to maintain the environment and know the consequences of his actions to nature [7, 8]. (Ningrum, Soesilo, Herdiansyah)

Mengolah tapi peduli dampak. Ah, bahkan kecerdasan di masa kini bukan lagi sekedar jago matematika atau pintar berbicara. Bahkan diperlukan kecerdasan untuk memahami alam. Manusia terlalu serakah untuk hidup berkecukupan? 😦 (gara-gara ini saya mulai sadar, entah berapa banyak energi yang terbuang sia-sia dalam keseharian rumah tangga karena satu dan lain hal~ sementara di belahan lain Indonesia ada sekelompok warga yang terpapar dampak konsumtif ngawur)

**

Berpikir lebih jauh, ada banyak hal yang perlu diselipkan dalam pendidikan Indonesia. Kesadaran akan lingkungan, salah satunya.

Lalu bagaimana jika seseorang sudah ‘keluar’ dari sistem pendidikan (baca : sudah lulus)?

Saya tergoda dengan metode live in yang mulai marak digagas di desa-desa wisata. Saya pikir betul juga, tak ada medium yang paling tepat untuk memahami lingkungan dan mekanisme paparannya selain turut berpartisipasi.

Lebih sempit lagi, bagaimana dengan menggali ilmu-ilmu zaman kuliah dulu? Lulusan pertanian, teknik industri, geologi, psikologu, apapun! Astaga, bangsa ini memiliki ribuan mahasiswa~ bahkan kita, yang bahkan ‘hanya’ diam di rumah mengasuh anak pun, adalah pembelajar pada masanya.

Tentu masih ada sisa-sisa ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan sisa-sisa keserakahan manusia.

Semua bisa. Yang membatasi adalah empati untuk berkontribusi.

Dear, survivor’s support-system…

0

Hari ini tanpa sengaja menemukan tagar #justiceforaudrey. Langsung mencari beritanya, dan miris.

**

Malam ini saya tidak bisa tidur. Perlakuan perisakan, dalam kadar seperti apapun, adalah busuk sebusuk-busuknya.

Been there done that. Meski perisakan kelas teri yang saya alami sudah berlalu belasan tahun lalu, kalau ingat pun rasanya tetap sebal.

Lalu, bagaimana Audrey?

Ah, bukan. Bukan Audrey. Saya yakin begitu kasus ini naik, ada ribuan simpati serta tindakan untuk membantu Audrey.

Kegelisahan saya,

Lalu, bagaimana Ibu Audrey?

**

Belasan tahun lalu, di suatu siang saya menyerah. Itu adalah bulan kesekian saya mengalami perisakan di sekolah. Jika sebelumnya saya menutup rapat-rapat rasa tidak nyaman di sekolah, tidak dengan hari itu.

Sore itu saat saya menangis tersedu, Ibu memergoki saya. Awalnya saya enggan bercerita. Terlepas saat itu kami bukanlah keluarga yang cukup terbuka satu sama lain (atau saya yang menutup diri, hmm~), saya tak yakin dengan bercerita pada Ibu maka persoalan beres.

“Tapi siapa lagi yang saya punya?” tanya suara saya yang lain.

Begitu selesai bercerita sembari tersedu, yang saya ingat raut muka Ibu kecewa saat itu. Entah kecewa di bagian yang mana. Yang jelas, mata Ibu mbrambangi–berkaca-kaca.

“Besok Ibu ke sekolah, ketemu Guru BK.”

Panik? Saya panik. Saya tak mau kelihatan cengeng di depan para perisak itu, tapi di sisi lain saya merasa tak sanggup lagi.

Saya sempat memohon pada Ibu untuk tidak ke sekolah. Saya malu. Lebih lagi, saya takut kedatangan Ibu justru memicu perlakuan yang makin menyebalkan dari mereka.

Namun kata Ibu,

“Ini udah mau UN, Mbak. Masa kamu belajar nggak tenang. Nanti kepikiran.”

Akhirnya saya menurut. Pilihan apapun tak tampak baik semuanya di mata saya. Betul saja, esoknya saya dipanggil guru BK. Ingat betul tatapan kesal mereka saat saya dipanggil ke ruangan BK.

Kata Guru BK, Ibu sudah datang tadi. Blak-blakan, saya memohon agar tak memperpanjang kasus ini. Sebagai gantinya, saya berjanji akan lapor jika mendapat perlakuan buruk lagi. Guru saya sepakat.

Sejak hari itu, perlakuan perisakan memang berkurang. Namun hubungan pertemanan saya juga tak lebih baik. Ya sudahlah, toh sebentar lagi saya lulus dan kecil kemungkinan satu sekolah lagi dengan mereka. Begitu saya menguatkan diri.

(catatan : dalam beberapa kasus, tetap saja ada kategori individu yang tidak mampu melakukan konfrontasi balik saat mendapat perilaku perisakan, karena satu dan lain hal. Jadi, menganggap enteng perisakan–hanya karena merasa lebih berani atau bermental baja–bukanlah hal yang tepat, karena tidak semua orang mampu bersikap sama saat menghadapi perisakan)

**

Kembali pada kasus Audrey.

Saya pikir pihak yang turut perlu mendapat dukungan dalam kasus perlakuan perisakan pada anak adalah Ibu–orangtua, atau siapapun kerabat terdekat. Kenapa? Karena merekalah yang menjalani keseharian bersama penyintas.

Saya tak tahu, jika saja Ibu tidak bersikap tenang saat itu, barangkali semua menjadi lebih runyam. Saya tak tahu, jika bukan Ibu yang menjadi support-system saya saat itu; menemani sholat tahajud dan menyemangati saya belajar di tengah-tengah masa alienasi ((alienasi)), entah bagaimana jadinya saya.

Karena itu, saya pikir selain memberikan perhatian pada korban perisakan, sudah sewajarnya dukungan juga diberikan pada kerabat terdekat. Untuk terus berbesar hati dan tidak serta merta terpancing menggunakan energi dalam hidden agenda seperti balas dendam atau bentuk emosi negatif lain, untuk mampu menemani tanpa tergoda menghakimi dengan kata-kata,

“Tuh kan, coba kalau–”
“Makanya, jangan–”
dsb, dsb.

Terus terang, hasrat menyalahkan alih-alih berpikiran terbuka dalam mendengar kadangkala terlalu besar.

Pun, beban moral juga dapat dirasakan oleh keluarga penyintas. Jika semua proses penyembuhan pasca-trauma berhasil dan baik-baik saja, maka tak menjadi masalah. Namun jika sebaliknya, tentu diperlukan ketahanan mental yang baik dan perspektif positif dari support-system agar tak ikut patah arang.

You’ll never know how ‘keep going’ or ‘stay strong’ could be so magical for them.

**

Ada satu adegan di film seri besutan FOX, New Amsterdam (yeaa~ lagi). Saat Dr. Frome berusaha memberikan konseling pada seorang wanita kulit hitam yang keponakannya terkena tembakan nyasar. Ia menemukan bahwa meski si keponakan perlu mendapat dukungan moril untuk melewati masa traumatisnya, sang bibi juga seharusnya mendapatkan dukungan yang sama.

PTSD–post traumatic stress disorder, bisa dialami siapapun. Dalam contoh ‘kasus’ New Amsterdam tadi, sang bibi ternyata juga mengalami gangguan kecemasan dan ketidakstabilan emosi karena rasa takut dan khawatir (orangtua si keponakan sebelumnya juga meninggal karena tembakan).

Dan mengingat sang keponakan memerlukan support-system yang kelak mampu membantu, sang bibi pun harus mampu meregulasi emosinya. Semua upaya penanganan PTSD akan menjurus sia-sia, jika sang bibi yang menjadi support-system masih terpapar kecemasan.

Oke, itu tadi adalah fiksi. Namun begitu kurang lebih ilustrasinya. Untuk membantu seseorang melewati masa-masa genting pasca-trauma, memang akan diperlukan support-system yang telah ‘selesai’ dengan dirinya; luar dalam.

Kenapa? Karena jika belum ‘selesai’, maka residu emosi (emosi disini bukan berarti marah, namun bisa rasa takut, kecewa, dsb) justru akan terbawa saat proses penyembuhan si penyintas.

Sekali lagi, ini hanya opini pribadi.

Salut, untuk semua Ibu, Bapak, orangtua, siapapun support system dari para penyintas perisakan ataupun korban tindakan destruktif lain yang mampu berbesar hati serta mengumpulkan energi positif untuk ‘mengembalikan’ kehidupan para penyintas senormal mungkin.

And please, please, please, stop hatred.

Mengenang Eyang Soetatwo : Pria berpipa cangklong dalam Fiat 500 lawas

0

Pagi tadi, saya mendapat pesan singkat dari Ibu.

Yang Tat meninggal dunia.

Tadi, rasanya masih ‘biasa’ saja. Mungkin karena masih disibukkan dengan Rugrats. Tapi ketika perjalanan pulang dari Pontianak ke Sungai Pinyuh, pikiran rasanya di awang-awang.

Kilas balik-kilas balik, kembali mengingat Eyang.

**

Yang Tat–begitu kami memanggilnya–adalah adik Mbah Mami, Ibunya Ibu. Sama-sama tinggal di Yogyakarta, membuat keluarga kami lebih dekat dengan Yang Tat dan Yang Siti–istri beliau.

Setiap Lebaran, rumah beliau adalah tempat sowan favorit. Favorit, karena rumah Yang Tat luas dan estetis; dengan segala printilan barang-barang kerajinan serta seni. Belum lagi rak-rak berisi buku-buku tebal. Duh. I’m dying.

Septin versi lebih kecil, selalu terpana dengan betapa kerennya rumah Yang Tat. Ada tayangan TV kabel (sementara dulu kami hanya menonton stasiun TV swasta nasional) yang menayangkan Disney Channel, Cartoon Network, serta Natgeo. Septin kecil yang selalu kagum, setiap kali melewati lemari kaca dan kulkas di dapur karena dipenuhi miniatur figur khas serta tempelan magnet lucu-lucu dari negara-negara lain.

Waktu itu dalam hati saya menyimpan doa, semoga suatu saat bisa jalan-jalan ke luar negeri dan membeli printilan lucu-lucu seperti milik Eyang.

**

Yang Tat dan Yang Siti, keduanya adalah akademisi dalam versi berbeda. Yang Tat, seorang dosen dan guru besar di Fakultas Ekonomi UGM. Sementara Yang Siti, dulunya adalah guru bahasa Inggris sebelum dipinang Eyang Kakung. Beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan Kraton Yogyakarta, namun saya lupa bagaimana. Tenang, darah biru tidak sampai mengalir pada diri kami kok 😂

Ibu saya, lebih banyak ‘ikut’ dengan Yang Tat selama remaja. Dari Ibu, saya tahu bahwa Eyang Tat adalah salah satu anak Eyang Buyut yang ngotot mengenyam pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi. Pada saat itu, pendidikan bukanlah hal yang dianggap penting oleh Eyang Buyut, mengingat Eyang Buyut memiliki usaha dagang juga. Harapannya, semua anak beliau membantu bakulan saja alih-alih sekolah.

**

Mungkin karena beliau memperjuangkan pendidikannya sendiri dengan keras, maka Yang Tat turut bersukacita ketika cucunya memiliki pencapaian dalam akademis.

Entah bagaimana ceritanya, namun dulu saat sekolah dasar tiap kali masa terima rapor tiba dan saya mendapat peringkat satu, Yang Tat akan memberikan uang jajan tambahan–untuk membayar sekolah atau membeli buku. Mungkin Ibu yang sengaja bercerita, saya tak tahu :’) tetap saja, bagi saya rasanya bangga bukan main saat ditepuk punggungnya oleh Yang Tat.

**

Suatu hari saat saya SMP (?) kami mengunjungi Yang Tat yang baru pulang dari Singapura. Saya terkejut saat mendapat oleh-oleh ‘khusus’, sebuah buku Do-It-Yourself : Greeting Card. Saya tidak mahir berbahasa Inggris saat itu, namun dengan melihat gambarnya saja mata ini sudah berbinar-binar.

‘Ya ampun, begini ya buku luar negeri. Kertasnya tebal dan bagus, berwarna. Covernya saja tebal dan keras~’

Ndeso, kan.

Yang jelas, buku itu sukses membuat saya senyum-senyum seharian. Sampai sekarang masih ada di rumah Yogyakarta.

**

Kekaguman saya pada Yang Tat membuat saya menjadikan beliau subyek dalam presentasi saya di salah satu mata kuliah Psikologi. Lupa apa, namun semacam studi tentang tingkat keaktivan pada usia lansia. Tentu saja saya bangga menceritakan beliau, bahkan hingga beliau sudah pensiun pun pihak fakultas masih meminta tolong beliau untuk mengajar.

**

Suatu hari, mendadak kami sekeluarga diundang Yang Tat dan Yang Siti makan siang bersama.

“Undangan apa ya?” pikir saya waktu itu.

Ternyata itu adalah undangan dalam rangka syukuran kecil kelulusan saya. Saya terharu. Pertama, karena makan siang bersama di luar bukanlah gaya keluarga kami. Kedua, ada orang lain di luar keluarga inti yang sebegitunya peduli pada pencapaian saya, itu sangat cukup membuat perasaan saya hangat.

“Slamat yo, wis lulus. Kerjo sing sukses.” kira-kira begitu kata Yang Tat setelah kami selesai makan. Saya dipeluk erat, aroma tembakau menguar kuat. Iya, Eyang suka sekali mengisap tembakau dari pipa cangklong–satu hal yang sangat khas dari beliau.

Setelahnya, Yang Tat dan Yang Siti serta seorang sepupu yang sedang berlibur di rumah Eyang pulang menaiki Fiat biru kesayangan Yang Tat.

**

Masa-masa berikutnya, saya lebih jarang bertemu Eyang karena bekerja di Bekasi. Bertemu pun sekenanya saat pulang. Karena waktu yang terbatas jadi kadang lebih memilih menghabiskan waktu di rumah Kotagede saja. Kalau dipikir-pikir, parah juga saya 😦

Saat saya menikah, Yang Siti turut mendampingi Ibu Bapak saat prosesi sungkeman sebelum siraman. Saat akad, Yang Tat dan Yang Siti pun turut hadir.

Saya bertemu terakhir dengan Yang Siti–eyang ‘bule’ saya yang hobi menjahit dan merajut, dan kerap memanggil dengan sebutan ‘manis, ayu’ saat Lebaran tahun 2016. Saat itu, Yang Tat sudah gerah. Beliau hanya berbaring di kamar karena terserang stroke. Saat itu, Yang Siti yang setia menemani Yang Tat hingga berpulang lebih dulu di April tahun lalu.

**

Begitulah saya mengenang beliau berdua.

Tak akan lupa dulu,

saat saya ketakutan berkunjung ke rumah Karang Bendo karena khawatir digonggongi anjing milik Eyang,

atau saat saya diminta Ibu berbicara dalam bahasa krama inggil saat mengobrol dengan Yang Siti,

atau bagaimana Yang Tat menanyakan keseharian saya,

serta kenangan mengobrol bersama kedua Eyang di ruang keluarga rumah Karang Bendo yang bersisian dengan taman penuh anthurium dan tanaman aneh lain (yang selalu sukses membuat Ibu gemas), suara klintingan yang tertiup angin, gemericik kolam ikan kecil, piano lawas (yang belum pernah saya lihat Yang Tat memainkannya), foto erupsi Merapi dalam jarak dekat di atas piano, buku-buku ensiklopedia tebal, hiasan-hiasan gajah khas Thailand, sofa empuk di ruang keluarga, semuanya.

Terimakasih ya Eyang, karena telah mengapresiasi pencapaian-pencapaian kecil saya waktu itu. Karena telah mengajarkan pada saya bahwa isi kepala yang baik seyogyanya akan mampu membuat dunia lebih baik. Bahwa tak ada yang lebih baik dari sebuah gelar sarjana ataupun doktoral atau guru besar, selain betkontribusi kembali untuk kampung halaman.

Semoga, semoga.

Selamat jalan, Yang Tat. Selamat bertemu lagi dengan Yang Siti–your eternal love forever and ever. Saya mengerti selalu ada kasih sayang dan cinta sejati diantara beliau semua. Dari cara Yang Tat membercandai Yang Siti yang agak mengeluh karena Yang Tat lupa sesuatu. Dari cara Yang Siti bersetia menemani Yang Tat hingga hari akhirnya.

Til death do us apart.

Selamat jalan, Alfatihah.

Kolabora(k)si : ketika bergandengan tangan adalah solusi

0

You need to be aware of what others doing, applaud their efforts, acknowledge their successes, and encourage them in their pursuits. When we all help one another, everybody wins.

Jim Stovall.

Menjadi pemimpin itu sungguh definisi yang sangat diperdebatkan, kadang. Saya ingat pernah beradu argumen tidak penting dengan seorang rekan, tentang bagaimana asal mula pemimpin itu muncul. Apakah sejak awal memang terlahir mampu memimpin, dengan serangkaian genetik dominan–ditakdirkan–atau justru diciptakan? Sungguh ayam atau telur.

Entahlah. Saya bukan (lagi) pemuja teori manajemen–karena minat saya agak bergeser kini, hehe–namun jika kualitas itu sungguh ada—pemimpin sebenarnya akan mampu mengeluarkan sisi terbaik dari rekan kerja dan lingkungannya. Tak peduli apakah kamu menyandang label ‘memimpin’ atau tidak.

Saya ingat saat pernah dimintai pendapat tentang si A yang akan didapuk menjadi pemimpin.

“Angka yang dia hasilkan bagus.”

Oh tentu saya gamang waktu itu.

“Angka doang nih Pak, yang dilihat?” 😂 –saat itu ada komponen lain yang membuat saya kurang sreg, kalau tak salah masalah komunikasi si kandidat.

Saya mendapat komplain waktu itu, hahaha, karena pendapat saya berseberangan dengan beliau. Susah memang yang namanya human capital, karena kami berada diantara dua kepentingan. Not to mention, meski hal tersebut adalah hal yang lumrah dalam bisnis sih. Untungnya ada jalan tengah saat itu, yang bersangkutan tetap mendapat promosi dan saya turut menggarap PR dari atasan untuk melakukan konseling terhadap si kandidat.

Melipir sedikit dari masalah untung-rugi yak~ menjadi pemimpin, bagi saya pribadi kadangkala lebih besar dari perkara angka.

Jika saya agak (sok) agamis disini, barangkali memimpin adalah perkara hablum minannas–dimana hal itu cukup sejalan dengan teori milik Jaume Filella tentang social leadership-nya. Pemimpin tipe ini, menjalin hubungan yang cukup baik dengan rekannya; konon ia pun persuasif untuk mengajak orang lain menemukan solusi bersama-sama serta mengupayakan tercapainya kesepakatan. Ia rupanya mampu mendeteksi, mana-mana potensi yang bisa menjadi luar biasa. Ya meski kadang prosesnya macam menemukan jarum di tumpukan jerami. Well, people oriented.

“Lah, main aman dong.”

Ng, memanusiakan manusia, ceunah (?)

Yang menarik, sepanjang saya kurang kerjaan mengamati akun-akun keren di media sosial saat ini, sebagian besar akun luar biasa tersebut memiliki konsep kolaborasi dan pemberdayaan yang intens. Bukan lagi pabrik atau sekat-sekat kubikel individual, namun ruang-ruang lokakarya bersama. Mereka tak berusaha menyentuh isi kepala dengan logika semata (meski saya yakin ada serangkaian data empiris yang mereka pelajari untuk menghasilkan suatu produk keren itu)–namun ‘hati’ para konsumennya.

Ya, para penggagas itu mampu merangkai cerita yang memikat, menceritakan kembali apa yang selama ini terlewat–dan dianggap sebelah mata oleh kita. Membuat kita takjub, bahwa bekerja bersama di lintas disiplin itu luar biasa.

Bagaimana dengan konsep kepemimpinan disitu? Saya bahkan lebih suka menyebutnya penggerak–dalam hal ini–alih-alih pemimpin. Karena rasanya itulah yang terjadi. Beberapa visioner ingin memiliki dampak pada semesta, berusaha memberdayakan lingkungan dengan apa yang ada. Coba tengok @bumilangit.official | @burgreens | @cintabumiartisans | @thisable.id | bahkan, @gojekindonesia mungkin? Oke, ini barangkali tren ataupun gaya hidup. Namun selama mampu memberdayakan lokalitas, kenapa tidak?

Perhaps it’s a long way to getting bigger. For some of them, what’s the matter is growing up together. Selaras dengan sekitar, menghargai lingkungan.

Perbedaan bukan lagi cuma tentang SARA, namun merayakan keberagaman potensi.

You can do what I can not do. I can do what you can not do. Together we can do great things.

Begitu kata Bunda Teresa.

Oke, selalu ada dua sisi dalam setiap cerita. Pun semisal beberapa dari kita adalah dominan-arogan macam Hitler atau penganut task-leadership, tak masalah.

Namun barangkali bisa diingat, setiap hal di dunia ini memiliki dua sisi termasuk kapabilitas manusia. Semisal ada kelemahan, saya yakin ada potensi yang bisa jadi belum tergali. Jika kamu tipe atasan yang keras, atau sebaliknya, kadang-kadang di satu titik diperlukan rekan kerja dengan karakter berbeda. Atau keahlian yang justru berseberangan denganmu. Untuk mengimbangi, untuk memunculkan ide-ide baru yang bahkan tak terpikir. Still, it takes two to tango.

Saya kok masih percaya ya, serangkaian proses kolaborasi yang baik akan berdampak baik juga. Bahkan bisa lebih masif.

Humanis, huh?

Iya 🙂

Tentang menjadi ‘jawa’

6

“Kacang aja lali karo kulite.”

Jangan pernah lupa, darimana kita berakar.

Saat magang dulu di Dagadu–tepatnya saat sedang dapat tugas jaga di Dagadu Posyandu Malioboro Mall, ada satu komentar pembeli kaos yang lekat di ingatan saya. Sampai sekarang.

Dia, seorang Ibu paruh baya yang mengenakan jilbab, sedang membayar di kasir lalu tak sengaja melihat plakat foto di atas meja–plakat yang berisi foto teman-teman yang mendapatkan predikat ‘terbaik’ sesuai kategorinya (tenang. Seingat saya, tak ada foto saya di plakat itu. Hahaha)

Ibu itu melihat plakat tersebut, lalu sekilas melirik saya. Kalimat berikutnya sungguh membuat saya mengernyit,

“Kalau mbaknya ini, best Jawa.”

Saya nyengir. Supervisor saat itu–saya lupa siapa, ikut nyengir. Entah apa maksudnya, yang jelas saya langsung berpikir keras; apakah saya tadi melayaninya, lalu dia kecewa–atau senang? Apakah predikat ‘best Jawa’ ini adalah suatu pujian–atau sebaliknya? 😂

Bertahun-tahun setelahnya, saya masih menganggap kalimat tadi sebagai sebuah pujian.

Saya akui saya agak kauvinistik kalau menyangkut identitas saya.

Lha, saya memang lahir dan dibesarkan di jawa. Saat saya masih kecil, Bapak suka memutar radio lokal–kadang berbahasa jawa. Tahu kan, semacam sandiwara radio (meski kemudian seleranya bergantian antara dangdut lawas era Evie Tamala dan Ike Nurjanah; serta The Beatles–tergantung saluran mana yang sedang diputar). Tukang-tukang yang membangun rumah kami di Kotagede, rajin mendengarkan siaran wayang dari radio mungil mereka yang digantung di antara paku-paku tembok.

Dan tarian. Tarian yang paling saya ingat adalah Jaranan, waktu itu kami berkesempatan membawakannya dalam tim kecil dalam suatu acara seni di Gembiraloka. Saya masih TK nol besar saat itu.

Saya ingat betul detail kostumnya; blangkon, atasan merah atau kuning berbahan mengkilap dan agak panas, gelang kaki, kumis palsu yang dilukis dengan pensil alis, tak lupa bengesan–memakai lipstik. Masing-masing dari kami lalu membawa sebuah ‘kuda’ yang dianyam dan diwarnai hitam. Gerakan kami, mengikuti irama dari lagu Jaranan.

Bagaimana dengan makanan?

Besekan berkat hajatan berisi sego gurih, telur rebus, ketan-pisang-santan, pisang, ayam goreng polos, kacang tanah tumbuk plus kacang tolo adalah menu yang sering hadir disekitar lingkungan rumah kami.

Atau jika ada tetangga mampir memberikan sedikit kudapan–seperti oleh-oleh–kali berikutnya piring atau mangkuk yang dipakai si tetangga akan dikembalikan, dengan diisi dulu dengan buah tangan baru. Bergantian.

Di luar itu semua, keluarga saya tidak 100% berbahasa jawa saat mengobrol.

Bahasa jawa; entah tingkat ngoko dan krama alus/krama inggil justru lebih sering kami gunakan di luar rumah. Saat ke pasar tradisional, naik becak, membeli lauk di warung, di sekolah.

Meski demikian, Ibu selalu mengingatkan untuk berbahasa jawa halus ketika bertemu dengan orang yang lebih tua.

Bahasa jawa saya sempat ‘agak’ luntur saat merantau pertama kalinya. Tergantikan dengan ‘lu-gue’ 🙂 hingga kemudian seiring waktu, saya merasa lebih nyaman menggunakan kata ‘saya’.

Kenapa sih, saat itu harus berganti menjadi ‘lu-gue’?

Sebagian besar karena untuk kepentingan adaptasi. Kalau ada yang bilang Jabodetabek itu keras, ehm, lumayan. Dan penggunaan bahasa, adalah salah satu hal yang bisa sedikit mengatasi definisi ‘keras’ itu, disamping kompetensi, tentu.

Saya masih geli mendengar diri saya mulai menggunakan kata ‘lu-gue’ dalam pergaulan. Sampai pada satu titik salah satu Tante saya berkomentar,

“Logat jawamu udah agak ilang ya, Mbak?”

Saat itu saya ‘sedikit’ merasa bangga. Wow, resmi dong jadi ala ibukota. Hahaha. Rasa bangga itu sempat terbawa sampai ke rumah saya di Yogyakarta.

Hingga di suatu kesempatan ketika saya cuti dan tengah berjalan-jalan di sekitar alun-alun kidul, saya mendapati seorang nenek dengan setenggok mainan tradisional (ya, saya pernah bercerita tentang hal itu disini).

Saya ingin sekali membeli mainan langka yang beliau jual. Sempat kasak-kusuk dan dengan semena-mena minta tolong adik yang berbicara dengan simbah tersebut. Adik menolak,

“Bahasa jawaku jelek, Mbak!”

Singkat cerita, saya berusaha mengajak beliau mengobrol sambil memilih mainan. Dan ditutup dengan meminta izinnya untuk mengambil foto. Sepanjang obrolan singkat itu saya berusaha keras mengingat per kata bila diterjemahkan dalam bahasa krama inggil. Takut menyinggung perasaan, khawatir tak sopan kalau ngoko.

Rasanya? Menyenangkan. Betapa ternyata saya rindu berinteraksi dengan bahasa halus seperti itu. Bahasa daerah saya.

Saya jadi ingat salah satu video yang diunggah di laman Instagram Voa Indonesia belum lama ini.

Video tersebut mencoba mengkampanyekan kembali penggunaan bahasa daerah yang (konon) mulai luntur di generasi millennial.

Jleb, sih.

Semua pengalaman tadi, tanpa sadar terbawa hingga saya dewasa. Saat remaja saya bercita-cita menikah dengan balutan adat jawa. Mulai dari siraman, sungkeman, midodareni, hingga dulangan. Lengkap dengan pranatacara berbahasa krama inggil. Tercapai? Tercapai :’)

Konten Instagram saya, tanpa sengaja direncanakan berisi budaya jawa. Entah, rasanya menarik saja untuk dikulik.

Dan saya pikir, itu bukan kebetulan. Semua unsur jawa tersebut memang terasa kental dalam ingatan. Minat saya–meski sempat berubah banyak menjadi agak (sok) moderat, ternyata ujung-ujungnya ditarik kembali oleh akar kampung halaman.

Tentang menjadi ‘jawa, ataupun menjadi suku-suku lain. Karena legitimasi budaya itu dimulai dari diri sendiri.

Sudah cukup bangga?

Faces of Singkawang : All we need is parade!

0

Sejak nyaris satu setengah tahun lalu Bapak Rugrats dimutasi ke Kalimantan dan memamerkan satu video perayaan Cap Go Meh di Sungai Pinyuh, saya pun langsung menyelipkan agenda menonton Cap Go Meh di Singkawang dalam bucket list pribadi.

Dan keturutan kemarin :’)

Berbekal informasi di akun resmi instagram festival ini , kami merencanakan garis besar aktivitas selama sekian hari. Yea, meleset beberapa acara di Lapangan Kridasana namun ya sudahlah~

Awalnya kami bahkan hendak membeli tiket tribun untuk menonton parade (baik lampion maupun Tatung), namun urung karena lumayan pricey. Tapi tetap ingin menonton semua parade itu dari dekat. Bagaimana dong?

Pria ini sungguh mengundang perhatian. Saya mengamatinya sejak ia berbicara dengan seorang anggota salah satu grup peserta parade. Pikir saya, wah orang ini ingin mencoba ‘kerasukan’! Foto ini diambil saat ia sudah ‘kerasukan’ dan diarak di dekat jalan utama.

Ia melompat-lompat, menyerupai err~ayam(?) yang jelas sih sepertinya dia bukan bagian dari kelompok karena orang dalam kelompok tersebut pun seperti agak menghindar 😂

Jalan tengahpun diambil. Membaca ulang jalur parade, dan menemukan area yang dijadikan lokasi persiapan. Dan tempat itulah yang kami sambangi. Pertimbangannya : menonton dari jarak sedekat mungkin!

Sejak pertama sampai di area persiapan, kakek yang satu ini benar-benar menarik perhatian. Beberapa kali ia berkeliling disekitar kami, hingga saya tak tahan dan meminta Bapak Rugrats berfoto bersamanya. Ramah sekali!

Anak kecil ini bagian dari kelompok parade. Sepertinya belum bertugas, namun tetap bersemangat sekali memainkan alat. Lucu!

Oya, hari sebelumnya saya sempat bertanya pada Sonya, si pemilik penginapan, jam paling pas untuk menonton parade Tatung. Ia menyebutkan pukul sembilan. Namun menurut beberapa spanduk di pinggiran jalan pukul tujuh. Berdasarkan pengalaman parade lampion sehari sebelumnya, paling cocok memang menuju daerah persiapan. Mereka belum tampil, masih bisa diajak berbincang-bincang.

Selasa pagi, sekitar pukul enam kami bergegas menuju jalan Alianyang, area persiapan Tatung. Mobil kami parkir di jalan kecil yang tembus ke jalan utama tersebut, lalu berjalan kaki. Mungkin karena bertepatan dengan hari kerja, sehingga jalanan cukup ‘lengang’.

Namun begitu mendekati jalan Alianyang. WAH! Suara tabuhan dan aroma hio kompak menyeruak. Saya panik kegirangan. Saking bingungnya diserbu detail yang luar biasa itu, meminta tolong Bapak Rugrats untuk mengambil beberapa foto. Judulnya sih pemanasan.

Lihat matanya? Konon posisi mata seperti ini menandakan ada ‘roh’ yang tengah merasuki.

Setelah ‘dipaksa’ berkali-kali, akhirnya Bapak Rugrats mau difoto bersama kakek ini. Hahaha. Kakeknya ramah sekali. Setelah selesai foto ia bahkan mengelus-elus kepala Ken yang gumun memandanginya 😂

Tak lama, setelah yakin hendak mulai dari mana, saya mulai berkeliling untuk mencari sesuatu yang ‘menarik’.

Pria muda di bagian bawah ini akan diinjak bagian dada dan perutnya oleh rekannya yang lain. Ng, ndak kebayang sakitnya saat menginjak macam menaiki tangga 😂

Ayam yang dibawa ini merupakan bagian dari pelengkap prosesi. Nantinya saat pawai berlangsung, salah satu Tatung akan memakan ayam hidup-hidup.

Lalu, apa kabar para Rugrats sementara saya keluyuran? Bapak Rugrats totherescue! Ybs baik sekali mau menjaga para Rugrats di tempat yang lebih teduh selagi saya menyelinap sana-sini. Sesekali saya mengamati, Cupis sedang asyik berlarian sembari melompat sana-sini mengikuti irama tetabuhan. Okay.

Saya agak kaget mendapati Tatung versi Dayak. Belum sempat membaca banyak hal tentang Tatung itu sendiri, ternyata masyarakat Dayak turut berpartisipasi dalam gelaran ini. Dan musiknya, duh ya ampun, asyik pisan! Agak kontras dengan iring-iringan gemuruh Tatung Tionghoa~tapi keren. Oya, ini namanya ‘dau’ atau ‘amadakng’, mirip bonang kalau dalam budaya Jawa. Satu lagi, sampai sekarang saya masih penasaran dengan penulisan huruf k diikuti ng (~kng)–seperti amadakng tadi. Memang begitu ya? Sempat mencari tahu tentang ini namun belum menemukan alasan atau sejarahnya.

Saya mendapati Tatung versi Dayak cukup berbeda dengan Tatung Tionghoa. Sedikit lebih santai tampilannya, mereka cenderung menikmati setiap goresan yang ada di tubuh mereka. Iringan dau yang cukup ritmis malah menambah ‘keasyikan’. Dan tanpa sadar, saya pun ikut mengangguk-angguk mengikuti irama dau! Saya melihat para peserta dalam grup Dayak tersebut, dan memikirkan satu kata yang terngiang-ngiang bahkan sejak mendengar alunan dau dipukul : trance.

Pria ini memiliki tato bunga terung di paha kirinya. Mendadak setelah mengambil foto ini saya terpikir bertanya tentang tato itu. Beberapa kali mencoba mendekati namun terhalang penonton lain. Hahaha.

Ini, si bunga terung! Akhirnya saya meminta izin mengambil foto tato ini meski rada ‘awkward’ 😳 Katanya, bunga terung ini memang memiliki makna khusus. Ia menunjuk bagian tengah tato yang mengingatkan saya–entah kenapa–pada Naruto 😅😂, berarti ‘tali nyawa’ atau cycle of life. Lebih lanjut, simbol ini menjadi penananda seorang pria dayak yang telah beranjak dewasa. Beberapa sumber menyebutkan tato ini umumnya dibuat sepasang, kiri dan kanan–umumnya di bahu dalam, dan bermakna sebagai ‘pelindung’ hidup. Meski demikian, semakin kesini makin banyak orang mengenakan tato ini sih. Nah, kebetulan abang yang satu ini mentato pahanya. Entah kenapa, saya kurang tahu 😅

Namanya Alanj. Saya mendapatkan namanya dari media, rupanya ia banyak diliput karena lumayan mencolok diantara para peserta parade. Konon ia berasal dari Australia. Nah, disini pria ini tengah membujuknya untuk berfoto bersama. Agak ngeyel malah. Padahal iring-iringan ini sudah mulai berjalan.

Crap! Is he noticing me, no? 😂😂 Oya, pria ini lidahnya terbelah dua, bagian putih matanya konon ditato hijau. Di parade kemarin, dia sungguh ‘stand out in the crowd’. Hahaha. Ya iyalah. Full-body-piercing euy 🙈🙈

Satu lagi yang teramati dari sisi Dayak ini, mungkin karena kelak akan beregenerasi sehingga pemandangan seperti ini ‘agak’ lumrah :’) Usianya mungkin kisaran SMP? Apakah tuak (dan sejenisnya) serta kretek adalah bagian dari prosesi, nanti kapan bakal mencari tahu~

Duh. Rasanya, tiga ratus jepretan tidak cukup menggambarkan betapa kerennya parade budaya ini. Saya pikir hanya ada Tatung Tionghoa saja, ternyata Dayak pun turut berpartisipasi.

Saya mengambil gambar cici ini karena ia tertawa cukup keras. Entah apakah tengah dirasuki atau tidak, yang jelas ia mengundang perhatian. Hehe.

Diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Kata Bapak Rugrats, tidak semua orang bisa menjadi Tatung meskipun mau. Tatung biasanya dipilih oleh Tatung generasi sebelumnya, ditandai semacam ‘bakat’. Jadi bisa saja kakek menjadi Tatung, bapaknya tidak, dan baru sang cucu yang ‘menekuni’ dunia tersebut. Lalu bagaimana jika sang terpilih enggan menjadi Tatung? Katanya sih tak masalah. Karena Tatung merupakan panggilan hidup.

Pemuda ini cool pisan. Saya beberapa kali mengambil gambarnya–dan dia sadar–namun enggan menoleh. Sampai-sampai seorang rekannya menggodanya karena dianggap terlalu malu. Entahlah, barangkali ini kali pertamanya menjadi bagian ritual? Namun bila dibandingkan, beberapa pemuda yang menjadi Tatung memang belum seluwes para Tatung senior. It takes a whole life to practice, maybe. Termasuk membawa diri di depan banyak orang baru dengan penampilan yang kadangkala terkesan ‘ngeri’ dan belum tentu estetis 🙈

Awalnya berniat candid. Eh kepergok. Dalam hati agak mbatin, kok macam lihat konser Slank ya atributnya *eh

“Ini apa Bang?” | “Ini tengkorak kijang.” | Oke, baiklah.

Naga merah jambu ini terasa khusus sekali, karena diarak oleh wanita. Kuat loh! Bagian kepala naga nya memang relatif lebih kecil daripada kepala naga pada umumnya, ya mungkin karena akan diarak oleh para wanita 🙂

Boneka yang sekilas seperti perpaduan Anabelle plus Marsha ini lumayan creepy kalau saya bilang. Entah bagaimana penggunaannya, namun boneka ini digunakan dalam ritual penyembuhan.

I think it’s hurt 🙈 Hurt is a sign of normal human-being, eh? But they aren’t. Them are different, so special.

This man loves his role. Alih-alih diam, pria ini tampak bergoyang mengikuti irama perkusi. Padahal matahari sedang terik-teriknya 🙂

Sedetik setelahnya, ia menguap lebar. Tampaknya agenda Cap Go Meh yang padat membuat tidurnya agak terganggu 🙈😳

Tatung, bagi saya pribadi merupakan entitas yang sukar dipisahkan dari kata loyalitas. Saya melihat ada begitu banyak energi yang dicurahkan dalam agenda tahunan ini. Tidak semua berasal dari Singkawang. Saat saya mampir membeli kupon makanan di SCC pun ada seorang pria yang tengah mendaftarkan kelompok penampil Tatungnya. Saya lupa nama daerahnya, namun bukan dari area Singkawang.

Tua, muda, laki-laki, perempuan. Saya melihat mereka bersemangat mengikuti festival ini. Dengan kostum yang megah, mengingatkan saya sebagian pada film Sun Go Kong, serta bunyi-bunyian yang saya yakin telah dilatih. Anak-anak kecil yang ikut bersemangat mengikuti rangkaian prosesi. Acara ini melelahkan. Bangun di pagi hari, berkeliling di bawah matahari pukul dua belas siang, memastikan fisik dan mental yang tak main-main.

Sekilas, ini mungkin ‘hanya’ seperti parade biasa. Namun di dalamnya, kamu akan menemukan loyalitas terhadap suatu kelompok.

Masih kurang? Bagaimana dengan penampilan yang nyaris selaras antara tiga suku berbeda itu? Memandang festival Tatung kemarin, dalam hati saya masih sangat yakin, bangsa ini selalu memiliki kesempatan untuk bersatu dalam perbedaan.

Yayaya, Cap Go Meh ini sungguh merepresentasikan sebutan kota Singkawang Hebat, Tidayu. Tionghoa – Dayak – Melayu 🙂