About nursasi septarina

[Going30] Bakmi Bakso 68 : Harga Semangkuk Rasa Bangga

0

Hari kedua di Singkawang, kami memutuskan untuk melewatkan sarapan di tempat menginap. Ada satu tempat di Jalan P. Diponegoro yang kami incar untuk sarapan. Biasa, hasil ‘berburu’ di Google maps πŸ˜‚

Saat kami tiba, tempat tersebut belum sepenuhnya selesai dibereskan meski papan tanda ‘buka’ sudah terpajang di depan.

Bakso Sapi dan Bakmi Ayam 68–yang ternyata bisa ditemui juga di Jakarta–ternyata justru kami cicipi jauh-jauh hingga Singkawang πŸ™‚

Kami pengunjung pertama pagi itu. Agak bingung ingin memesan apa, namun karena nama tempat ini menonjolkan Bakmi Ayam dan Bakso Sapi, dua menu itu yang dipesan. Plus Semangkuk bakso polos untuk Cupis.

“Minumnya?”

“Ada apa saja?” balas saya, berharap menemukan satu yang asing di telinga.

“Es teh, es jeruk, Nam Mong–”

“Oh ya, Nam Mong!” potong saya saking bersemangatnya. Saya sempat membaca nama menu minuman ini di sebuah ulasan dan jadi penasaran πŸ™ˆ

Jujur, saya bahkan tak tahu minuman macam apa Nam Mong ini πŸ˜‚

Sambil menunggu, saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tempat makan ini berbentuk memanjang, terbagi dua oleh dinding berjendela. Sepertinya bagian depan tempat saya makan ini awalnya adalah halaman. Saya tak bertanya lebih lanjut sih πŸ˜‚

Pesanan kami tiba, sangat mengundang selera dengan uapnya yang masih mengepul.

Seperti biasa, Cupis selalu enggan sarapan terlalu awal. Saya mengambil satu botol berisi cairan hitam–kecap. Iya, Cupis memang anak kecap–senjata terakhir kalau dia sudah mulai picky-eater ya kecap.

“Mbak, kecap manisnya di botol yang tinggi.” Mendadak kami dikejutkan oleh si pemilik yang duduk di meja kasir. Ah, rupa-rupanya ia menyimak percakapan kami πŸ˜‚ untunglah diberitahu, karena kalau tidak Cupis bakal makan bakso kuah asin πŸ™ˆ

Baksonya bagaimana? Enak! Saya rindu bakso sapi yang ndaging seperti ini. Huhu. Kuahnya light, dan kok saya suka ya dengan kecambah yang ditambahkan? Tumben sekali 😁

Basic skill in motherhood : gendong anak sambil makan bakmi pakai sumpit πŸ˜‚

Sambil makan, saya tak henti-hentinya menatap foto-foto yang dipasang hingga memenuhi dinding. Nyaris semuanya adalah orang terkenal. Saya bahkan menemukan pasangan pebulutangkis Alan dan Susi Susanti.

Hei, apakah saya sudah menyebutkan pemilik tempat makan adalah sosok pemerhati? πŸ™‚

Melihat saya sibuk mengobrol sambil menunjuk beberapa foto, tiba-tiba ia bangkit dan mulai menceritakan foto-foto yang ada di sisi kanan saya. Matanya berbinar saat bercerita tentang Willy Dozan. Deru Debu, remember? πŸ™ˆπŸ˜‚πŸ‘Œ

“Gara-gara Willy Dozan, kami jadi diliput TV Hongkong. Saat itu ia masih bekerja di televisi sana.”

“Wah, bukan media lokal malah Ce?” Saya jadi ikut penasaran.

Yang masa kecilnya nonton Deru Debu mana suaranyaaa~ yang kiri ini pemiliknya. Ayah si Cece tadi (kalau tak salah menyimak). Coba deh gunakan tagar #baksosapi68 πŸ˜‚ niscaya akan menemukan Bapak ini.

Ia lalu mengajak saya ke bagian belakang area makan, menunjukkan foto si aktor laga saat masih muda. Agak awkward sih, soalnya ada dua pemuda sedang makan di sisi foto yang digantung tersebut πŸ˜‚ πŸ˜‚ sampai disini saya hampir yakin kalau Willy Dozan adalah pelanggan setia disini. Foto yang dipajang saja sampai dua, lho. Satu foto berpigura malah foto pria itu sendirian–semi pas foto di studio, tanpa karyawan atau pemilik tempat ini.

“Cece generasi ke berapa?” tanya saya penasaran.

“Ketiga.” Sahutnya sambil mengangkat tiga jari.

Dan baru saya hendak duduk, ketika si Cece tadi masih bersemangat menunjuk satu bingkai foto–satu dari beberapa foto saja yang dibingkai di belakang kami. Oke, Dian Sastro dan Oka Antara.

Saya sudah melihatnya tadi sekilas. Dan langsung ingat kilasan adegan di buku Mbak Laksmi. Tapi tak sungguh menyangka kalau mereka mengambil adegan di tempat ini juga.

“Foto saja.” Lagi-lagi Cece yang baik hati itu mempersilakan. Saya mengangguk dan mulai mengambil gambar.

Casts ‘Aruna dan Lidahnya’. Hai Mas Farish, Mbak Aruna! πŸ˜†πŸ‘Œ

“Waktu itu Papa saya pas nggak ada. Jadi saya yang foto bersama mereka.” tukas Cece itu dengan bangga. I know how it feels! :’)

Dan ketika saya berniat (lagi) melanjutkan mangkuk bakso saya yang belum habis,

“Mau saya fotokan? Sini, Mbak duduk di kursi yang sama dengan Dian Sastro dan Masnya di sana. Jadi posenya mirip mereka di foto itu.”

“….”

Saya melirik Bapak Rugrats yang anti difoto dengan pose tertentu. Mungkin karena merasa tak enak, Bapak Rugrats langsung bangkit. So, here we are πŸ˜‚πŸ‘Œ

Casts ‘Karunya ya tampangnya’ πŸ˜‚πŸ€£ duh Ce, kalau nggak karena respek pisan sama Cece mah nggak bakal deh kami berpose lengkap begini. Tuh kan, absurd! πŸ˜‚

Setelah dua – tiga kali berpose sama, kami kembali ke tempat duduk. Namun,

Lihat Cece yang duduk di kasir, mengenakan kaos merah? Cece itulah yang sedemikian baiknya bercerita pada kami tentang tempat ini.

“Jangan lupa ya, nonton di bioskop tanggal 27 September nanti. Aruna dan Lidahnya! Ada Bakmi 68!”

Loh, kok promo~ πŸ™ˆ Namun saya mengangguk mengiyakan. Hehe.

“Kamu kok mau difoto tadi? Tumben?” tanya saya pada Bapak Rugrats di mobil.

“Kamu liat nggak, ekspresi Cece tadi?”

Dalam hati saya mengamini. Dan jika ada yang bertanya apakah harga makanan disana murah atau mahal, mungkin saya akan menjawab bahwa yang kami beli bukan hanya dua mangkuk bakso dan bakmi serta dua gelas minuman. Namun ‘membeli’ sejarah, rasa bangga, serta keramahan yang tulus sekali. Kamu harus melihat bagaimana ekspresinya saat menceritakan foto-foto orang penting yang makan disitu; tak henti-hentinya terselip senyum dengan tone suara yang bersemangat.

Pagi itu mungkin kami pengunjung terlama yang makan di tempat.

Es Nam Mong. Saya tak dapat mendeskripsikan dengan tepat rasanya. Pokoknya asam, manis, sedikit asin~ unik saudara-saudara! Kalau kata Cecenya sih ini merupakan hasil fermentasi jeruk nipis atau semacamnya :’)

Catatan :

Yakin, ndak mau foto kayak Mbak Dian Sastro sama Mas Oka Antara? πŸ˜‚Baksonya enak deh. Serius.

[Going30] Singkawang : Kota Cantik Merah Merona

0

“Sudah ketemu mau kemana aja?” Bapak Rugrats bertanya setelah selesai mengisi bensin.

“Sudah.”

“Setelah ini, kemana?”

“Tungku Naga.”

Hah?”

“Eh, ke tempat pembuatan keramik. Namanya Sinar Terang.”

“…oke.”

Masih tak tahu nama klenteng ini. Sukses mencuri perhatian sejak pertama kali berkunjung ke Singkawang. Ada yang tahu?

Ini adalah perjalanan termenarik saya sejak pindah kemari. Sepanjang perjalanan Sungai Pinyuh – Singkawang, saya tak dapat tidur karena terlalu bersemangat.

“Banyak bong ya, disini.” gumam saya.

Bong? Temennya ganja?”

Mata saya nyaris menyipit saking tak habis pikir mendengarnya.

“Bukan. Bong–kuburan cina.”

Saya melewati cukup banyak area bong. Berbukit-bukit dengan kepala nisan yang tak seragam. Iya sih, banyak orang Tionghoa disini.

Masuk wilayah Sedau, saya memaksa mata untuk lebih awas. Tertutup badan truk, akhirnya membaca nama usaha pemilik tungku naga–Sinar Terang–satu dari lima tungku tertua se-Singkawang.

Sebenarnya saya ragu-ragu, tempatnya menjorok masuk lagi ke dalam dan tak nampak aktivitas yang menegaskan usaha tersebut di pinggir jalan. Sempat tak yakin juga apakah jalan kecil itu bisa dilalui mobil.

Setelah melewati gerbang, ternyata tempatnya luas!

Anaknya kesenengan, halaman luas plus ayam. Combo happiness!

Mungkin saya beruntung. Sore itu, hanya kami pengunjung disitu. Jangan bayangkan ada pramuniaga yang menyambut dan menanyakan, karena hanya ada satu bapak tua tengah sibuk membelah kayu. Sementara aktivitas lain tampaknya berada di dalam rumah dengan kusen biru, bagian lagi dalam area tersebut.

Saya menepis jauh-jauh ekspektasi awal yang membandingkan dengan sentra serupa di Yogyakarta, Kasongan. Ini berbeda.

“Mau lihat-lihat, Pak.” kata saya sambil berlalu menuju deretan tembikar yang sepertinya tengah dikeringkan. Pak tua tadi tak menyahut. Dan saya justru senang karena tak dikuntit kesana kemari :’)

“Cari apa?” seorang Ibu peranakan Tionghoa keluar dari bagian belakang rumah tadi. Mengenakan pakaian seadanya.

“Ini berapa, Bu?” saya menunjuk satu tipe keramik yang permukaannya halus, mirip pot, dengan gradasinya yang membuat saya jatuh cinta.

Sebenarnya itu pertanyaan basa-basi, was-was juga kalau harganya selangit. Hahaha. Toh, kami pun juga bukan penggemar tembikar.

Lihat sesosok ibu-ibu yang tengah bersandar di tiang? Nah, itu pemiliknya πŸ™‚

“Ini Dua puluh ribu. Yang kecil empat belas.”

Mata saya langsung berbinar-binar. Saya sepakat mengambil tiga buah. Hitung-hitung ‘tiket’ untuk menjelajah, kan.

Dua tungku bata ini masih aktif, terletak di bagian belakang bangunan. Mendadak, saya kembali teringat Tungku Naga, alasan yang membuat saya iseng mampir kemari.

“Disitu,” Ibu tadi menunjuk bangunan yang lebih besar. Tampak gelap meski saat itu siang hari.”

“Tapi itu sudah tidak terpakai. Sudah rusak bagian atasnya.” sahut Ibu itu lagi. Mungkin melihat gelagat penasaran saya πŸ™‚

“Ijin mengambil foto, boleh Bu?”

Ia mengangguk.

Awalnya saya hanya ingin melihat dari luar, namun rasa penasaran membuat saya meminta izin untuk masuk lebih dalam. Kembali diiyakan, meski tampaknya setengah hati.

Saya masuk lagi. Disambut hawa dingin angin dan sepi sore hari. Seharusnya saya mundur. Tapi, yah, saya takjub.

Kaki-kaki seakan meminta saya menjelajahi bangunan itu. Dengan Tungku Naga yang panjang sebagai titik utama. Saya membayangkan, ada banyak aktivitas yang terjadi bertahun-tahun lalu. Keramaian yang mendominasi. Para pekerja yang hilir mudik. Yah, mungkin saya tiba di jam yang salah, saat semua sudah selesai dan seharusnya mereka beristirahat, ya.

Tapi saya benar-benar takjub.

Nyaris satu jam sendiri saya merasa terasing, berpindah dari satu titik ke titik lain. Berkali-kali menahan napas karena terlalu bersemangat.

Di satu pojokan, saya menemukan setumpuk keramik yang nyaris terabaikan, tergenang air hujan. Saya suka sekali motifnya yang acak, tampak asal-asalan tapi indah. Tak yakin apakah benda itu dijual, saya memutuskan untuk bertanya. Untunglah, ada seorang pria paruh baya lewat.

“Pak, maaf mau tanya~”

Pria itu tak menjawab.

Merasa kurang keras, saya memanggil lagi.

Masih tak menoleh.

Lalu sekali lagi.

Dan pria itu justru nyaris berlari. Saya, secara refleks ikut mengejarnya. Hingga akhirnya ia berhenti di depan rumah Ibu tadi.

“Apa?” tanya Bapak Rugrats.

“Aku mau tanya harga barang ini.” kata saya sambil mengangkat tumpukan piring cawan yang diikat.

“Ini berapa, Pak?” tanya Bapak Rugrats.

Ia tak menjawab dan memanggil Ibu di dalam dengan bahasa Mandarin. Oh, well~

Saya dan Bapak Rugrats saling berpandangan.

“Kamu tau nggak sih, tadi aku panggil Bapak itu berkali-kali?” tanya saya di dalam mobil.

“Iya. Dia malah kabur cepet-cepet.”

Tawa kami meledak. Duh, sepertinya kami harus belajar bahasa Mandarin.

Gem! Satu set piring bermotif cantik dan tidak seragam ini dibandrol tiga puluh lima ribu. Kesenangan yang hakiki!

“Pasar Hongkong lagi?” Tanya Bapak Rugrats selepas makan malam.

Wah, tentu! Setelah kali terakhir hanya sempat mampir di salah satu pick up yang dialihfungsi menjadi etalase jajanan, kali ini rasanya ingin sedikit mengelilingi kota ini.

Saya suka bangunan di kota ini. Masih banyak bangunan lawasnya. Ah coba kemarin sempat melihat festival Cap Go Meh ya, pasti seru sekali.

Salah satu sudut favorit. Kebetulan parkir disini karena sedang mengantri Nasi Goreng Mas Eko (?) yang konon ramai sekali sampai Gojek pada antri. Namun ternyata rasanya tidak sesuai di lidah saya :’) Ngapunten~

Kalau malam, trotoar di sekitar pusat kota ini marak menjadi tempat ngopi. Iya, lekat sekali budaya ngopi disini memang.

Ada satu tempat di Pasar Hongkong yang ingin saya kunjungi. Satu klenteng yang letaknya tepat tengah kota. Saya pikir akan ramai, namun di malam minggu ternyata klenteng ini cukup sepi. Bagian depannya penuh motor, namun sekedar menumpang parkir pengunjung warung-warung kopi di pinggir jalan.

Entah kenapa, saya merasa bak berada di set film Kungfu Hustle :’)

“Kamu pas ke Singkawang kemana aja?” tanya saya pada Bapak Rugrats yang lebih suka berada di mobil bersama duo Rugrats πŸ˜‚

“Nggak kemana-mana. Paling mall nya.”

Dalam hati saya membatin,

‘Ah, mall lagi. Padahal kota ini cantik sekali.’

[Walk the Talk] Mengolah Rasa di Selembar Kain

1

Any training is initially difficult, but with persistence practice, we can master the art ~ Lailah Gifty Akita

Familiar dengan kalimat ini?

“Mahal banget ah harganya. Harga teman, lah.”

Beberapa waktu lalu marak berita rupiah melemah, hingga beredar sebuah infografis. Isinya upaya-upaya yang bisa dilakukan rakyat untuk membantu. Salah satunya dengan membeli produk lokal.

Kisah teman saya kali ini, kembali mengingatkan saya tentang intangible cost sebuah karya yang kadang suka terlewat atau bahkan dicaci orang lain karena dianggap berlebihan.

Maklum dengan produk luar, tapi apatis dengan karya sendiri.

“Jadi, sejak awal kamu memang pengen jadi desainer ya?

“Nggak juga.”

Saya tertegun mendengar jawaban singkat Damar, salah satu teman SMP saya.

Menggeluti profesi desainer dengan label sendiri, saya pikir menjadi desainer adalah mimpi terdalamnya. Tapi kok~

“Aku tuh udah capek berkutat dengan ilmu pasti dari SMP dan SMA. Ambil kuliah, dulu rencananya sekalian yang ada hard-skill.”

Saya menyimak dalam-dalam. Motivasi yang tidak saya sangka, hingga karena kalimat itu ia mengambil S1 Pendidikan Teknik Busana di Universitas Negeri Yogyakarta.

Lha, UNY? Berarti,

Guru. Iya. Pikirku dulu ya bakal jadi guru. PNS. Tapi jadi PNS kan memang nggak gampang, ya~”

Saya berusaha mengorek kenangan SMP. Damar dulu anaknya mungil. Kalau saya pulang berjalan kaki dari sekolah ke rumah, maka dia menaiki sepeda. Haha. Samar-samar saya ingat, dia memang suka menggambar.

Tentu saya tertarik dengan fakta dia mengambil jurusan itu. Bersinggungan dengan kain, pola, dan lain-lain. Ah keren sekali, pasti!

Sekali lagi, wang-sinawang.

“Aku ngerasa salah jurusan pas awal-awal kuliah.”

Memiliki hobi membuat semacam pouch yang dijelujur tak lantas membuatnya ‘aman’ di awal-awal masa kuliah.

Ada satu masa dimana ia terpaksa lembur hingga larut demi mengerjakan satu-dua tugas, sementara kawan-kawannya hanya butuh sekejap.

Lha gimana ya, mereka lulusan SMK. Udah ada lah, basic. Aku dong, SMA. IPA pula.”

Dulu mah keteteran, sekarang malah jadi pemateri textile painting media opaque & binder di UNY. Semesta sungguh baik!

Saya hanya nyengir. Tak terbayang rumitnya mengejar yang lain agar setara.

Semester lima masa kuliahnya merupakan titik balik teman saya ini. Dosennya memiliki sebuah manajemen bernama 7A+ yang membawahi penyelenggaraan karnaval, memiliki florist, dancer, dan lain-lain. Mungkin hampir mirip event organizer, namun lebih spesifik di pagelaran ya.

“Jadi apa Mar, disana?” Jujur, saya tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.

“Aku sempat jadi player dancer, lalu masuk modellingnya juga–tapi yang paling berguna buat ngebentuk aku yang sekarang, di bagian karnavalnya.”

Alis saya terangkat. Berusaha mencerna dan membayangkan. Karena seingat Saya, Damar ini dulu lebih introvert. Saya langsung teringat agenda-agenda karnaval yang kerap wara-wiri di media. Seperti Jember Fashion Carnaval atau Solo Batik Carnival (duh, sampai sekarang saya belum pernah melihat keduanya. Semoga saja kapan-kapan bisa :’)).

Bicara karnaval, tentu lekat dengan segala outfit yang sifatnya heboh dan meriah.

“Di karnaval kamu akan selalu menemukan baju ‘aneh’. Anti-mainstream! Nah, aku belajar bikin pola disitu. Nguplek-uplek pola, textile painting~”

Saya membayangkan konstruksi busana di karnaval-karnaval serupa. Teringat tipe-tipe busananya yang sering menggunakan sayap dan mahkota hingga menyerupai wayang. Atau busana-busana yang menjadi kostum nasional di acara beauty pageants. ‘Wah’, super-detail, dengan permainan warna yang kuat. Asli njlimet!

‘Ya iya sih, kalau bikin kostum karnaval saja khatam, apalagi yang basic~”

Ibarat baju basic adalah level sekolah dasar, baju karnaval mungkin level kuliahan.

Pengalaman karnaval itu, kemudian mengantarnya ke sebuah galeri (maaf, tidak dapat saya sebutkan disini πŸ™) selepas kuliah.

Lagi-lagi ilmu baru, karena kerja di galeri berarti cutting yang lebih simpel dan elegan. Baju cantik, kalau kata Damar πŸ™‚

“Di galeri, mau nggak mau aku terpaksa jadi decision maker, abisnya customer justru lebih banyak ketemu kita dibanding ownernya. Pusing pusing deh. Hehe.”

Namun gara-gara itulah, yang membuka kesempatannya untuk menggarap order di luar galeri. Selisih harga, tentu πŸ™‚

Jika pagi hingga siang bekerja di galeri, maka malam hari ia akan menemui customer-customernya. Jemput bola.

Hampir dua tahun Damar bekerja di galeri, hingga akhirnya mundur karena beberapa hal. Ia memutuskan mencoba peruntungan membuat label sendiri.

Saya sempat penasaran, material termahal apa yang ia pakai.

“Kain batik yang selembarnya 1.7 juta. Atau brokat 350 ribu per meter, perlu lima meter. Atau selusin kecil kristal Swarovski itu 40 ribu. Kadang-kadang kudu putar otak kalau customer ingin wah tapi budget terbatas.”

Saya dihinggapi penasaran lagi, seberapa banyak modal untuk ia memulai semua kenekatan ini? Tahulah, dengan segala printilan yang ternyata mahal itu.

Ternyata nol. Ehm, bukan nol malah. Minus.

“Aku ngerjain order-order kecil dulu, utang. Customer bayar, utang aku lunasi. Nyicil beli satu-satu.”

Dalam hati saya mbatin, kok seberani itu? Pertanyaan yang kemudian dijawab Damar.

“Rejeki sudah ada yang ngatur. Hehe.”

Saya paham, untuk sampai titik ini tentu banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Apalagi di bisnis yang sifatnya kustom begini.

Mungkin, membenturkan idealisme sendiri dengan keinginan orang lain? Dengan keterbatasan yang ada, merintis di awal itu adalah masa-masa yang berat.

Saya bertanya lagi pada Damar,

“Berbeda atau mengikuti selera pasar?”

“Sementara ini, sefleksibel mungkin.”

Ya, ada masanya untuk memetik semua kerja keras itu.

Saya mengamati karya desainer favoritnya, Elie Saab, di internet. Desainer Lebanon itu memiliki cutting yang cukup bold namun elegan. Mengingatkan saya pada karakter Damar yang sekarang πŸ™‚

Jika ada satu hal yang masih membekas sekali, itu adalah sikap realistis seorang Damar.

Iya lho, saya tak berminat membawa passion disini. Karena pada kisah Damar, passion rasa-rasanya justru mengekor setelah ia mengambil sikap atas pilihan hidupnya.

Bahwa dengan kerja keras dan perencanaan yang baik plus optimisme, tujuanmu sungguh hanya lima senti di depan dahi.

Look those happy faces? Best moment surrounded by lovely family. Great attire, matters!

“Aku harus berterimakasih sama Vista (nama teman SMP kami). Ingat pelajaran menjahit di kelas PKK?”

Saya ingat kelas itu. Saya tak bisa membuat pola apalagi menjahit, hingga harus menjahitkan PR kemeja saya ke ibu teman πŸ˜‚

“Katanya, ‘kamu jahite rapi banget, mungkin besok kamu cocok bikin semacam factory outlet gitu.'”

Celetukan seorang teman sebangku zaman SMP, ‘baru’ terealisasi belasan tahun kemudian. Way-to-go~

Saya tersenyum. Benang merah sebab-akibat itu seperti doa di alam bawah sadar jika kita meyakininya.

Masih ingat dengan intangible cost yang sempat saya singgung di awal?

Dalam kisah ini, intangible cost itu bernama kerja keras dan kemampuan mengolah rasa.

Selamat mengolah rasa, Damar.

[Going30] Random Trip Tipis-tipis

0

“Mumpung disini, aku mau jalan-jalan lagi ke Singkawang, ya!”

“Lho, kan sudah.”

“Belum marem. Dari kemarin ke mall terus. Bosan.”

Bagi yang bertanya saya tinggal dimana, sekarang saya tinggal di Sungai Pinyuh karena (akhirnya) mengikuti suami pindah tugas.

Letaknya masih masuk wilayah Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat . Yah, sekitar dua jam ‘santai’ kalau dari Kota Pontianak.

Selain perkara air keruh dan hanya menyala dari jam 08.00 hingga 16.00, serta rutin mati listrik, kota ini cukup ‘aman’. Pasar dekat, banyak mini market. Aman~

Jauh-jauh sebelum kemari, saya sempat browsing mencari tahu tentang Sungai Pinyuh. Tepat seasing namanya, tak banyak informasi yang bisa saya dapat πŸ˜‚ saking minimnya informasi, saya berjanji untuk lebih banyak mencoba dan menemukan hal baru disini.

Agak kontras ya, mengingat spontanitas bukanlah kata favorit saya πŸ™‚

Sejak awal pindah kesini, saya penasaran dengan toko oleh-oleh ini. Namanya Aneka Rasa. Toko oleh-oleh sekaligus warung kopi yang cukup besar di Sungai Pinyuh. Lima menit lah kalau dari rumah.

Yang membuat penasaran. Pilihan oleh-olehnya lengkap!

Disini banyak sekali warung kopi. Sangat banyak. Pagi, siang, sore, cukup mudah menemukan sekelompok orang berkumpul di sebuah warung. Orang sini seperti di Pontianak kota, suka ngopi.

Sayang ya, saya bukan penggemar kopi :’)

Nah, menurut Google maps (haha, judge me judge me~), Aneka Rasa ini cukup ramai diantara para pelancong. Kerap dijadikan tempat transit antara Pontianak – Singkawang.

Masuk kemari, dan mulailah dilema jika kamu bukan penyuka kopi namun sok tahu masuk ke warung kopi πŸ˜…

“Pesan apa?” tanya seorang Cici.

Saya mendadak teringat satu review orang tentang es kopi susu disini, jadi itulah yang akan saya pesan πŸ˜‚

“Es kopi susu.”

Dan karena Bapak Rugrats juga penyuka kopi coret, ia memesan satu yang sama. Sungguh tidak kreatif πŸ˜…

Es kopi susu. Karena sesungguhnya saya tak paham harus memesan kopi apa~ lumayan, pengganti rasa penasaran Es Kopi Tak Kie Glodok yang belum kesampaian.

“Ada pengkang?” tanya saya ketika pesanan kami diantar. Saya tahu pengkang, lagi-lagi dari hasil googling~ sebenarnya ada satu rumah makan khusus yang menjual pengkang. Namun coba satu disini dulu juga tak apalah. Lagipula perut sudah lapar.

Cici tadi mengangguk dan mengambil sepiring pengkang. Agak kecewa sih, karena sudah dingin.

Jadi, pengkang ini semacam perpaduan lemper dan jadah manten deh kalau di jawa. Bedanya ini diisi ebi lalu dibakar. Rasanya unik karena ada samar-samar aroma hangus daun pisang. Sedikit lebih padat, sih.

Ebi!

The famous pengkang. Konsepnya mirip lemper, kecuali bagian penggunaan ebi. Lalu cara membungkusnya mengingatkan pada jadah manten. Betapa dunia kuliner itu memiliki benang merah, ya!

Kenapa ebi? Mungkin karena hasil laut serupa ebi dan ikan-ikan pesisir melimpah. Saya menemukan beberapa tempat pelelangan ikan (atau pasar ikan) di Sepanjang Sungai Pinyuh hingga wilayah bernama Jungkat.

Sambil menyesap kopi, saya mengamati sekeliling ruangan. Di etalase-etalase kaca ada banyak kudapan Malaysia, sementara di bagian depan berderet rapi ikan-ikan yang dikeringkan. Sungguh khas. Kapan-kapan saya cerita bagian kota pesisir ini, ya πŸ™‚

Disini, entah kenapa saya merasa seperti tengah bertandang ke rumah saudara. Mungkin karena tak jauh dari kami duduk, ada dua anak kecil (anak pemilik toko) tengah sibuk bermain handphone sambil setengah tiduran di meja, bahkan di meja kami ada sekotak besar berat berisi cobek batu (iya, toko ini bahkan menjual cobek batu dan kayu!) yang baru selesai dibungkus. Sementara telinga sesekali mencuri dengar percakapan pemilik toko dan kerabatnya menggunakan bahasa Mandarin yang tak saya pahami πŸ˜‚πŸ™„

Ngomong-omong tentang bahasa Mandarin, di Sungai Pinyuh memang banyak orang Tionghoa dan menggunakan bahasa Mandarin di keseharian mereka. Saya sadar pertama kali gara-gara saat ada anak tetangga bermain ke rumah (kompleks rumah kami didominasi orang Tionghoa, hanya kami yang non Tionghoa. Hehe) dan Cupis masuk ke kamar dengan kesal. Katanya,

“Aku nggak mau main sama kakak!”

“Lho, kenapa?”

“Aku nggak ngerti kakak ngomong apa, bahasa jempang!” —jempang, instead of ‘Jepang’ πŸ˜‚

Setelah saya dengarkan baik-baik, mereka memang saling mengobrol menggunakan bahasa Mandarin sekaligus bahasa Indonesia ketika berbicara dengan Cupis πŸ˜‚

Dan disini panggilan yang lumrah adalah ‘Kakak’ dan ‘Abang’. Kakak untuk perempuan dan Abang untuk laki-laki. Sampai sekarang saya masih keselip lidah memanggil Mbak dan Mas. Hahaha. Cupis bahkan kekeuh memanggil teman laki-laki atau perempuannya dengan sebutan ‘Kakak’. Belum terbiasa, sih~

Saat membayar, saya penasaran dengan area peracikan kopi. Udik yaa~ ben πŸ˜‚

Aneka Rasa (dan mungkin semua warung kopi berkonsep serupa di Pontianak atau dimanapun) menggunakan teko kuningan. Ada semacam filter dipasang di dalamnya. Sedikit mengingatkan pada pembuatan teh tarik.

“Biar suhu panasnya maksimal.” kata si Cici ketika saya bertanya kenapa menggunakan teko seperti ini.

Sayang sekali saya tak melihat proses pembuatannya? Apakah semua es kopi susu memang menggunakan kental manis seperti ini?

Iseng saya bertanya harga teko kuningan ini karena melihat beberapa yang digantung masih dalam plastik. Harganya 400 ribu. Cukup mahal juga, ya. Kapan-kapan saya coba kopi ‘sebenarnya’ yang dibuat menggunakan teko kuningan.

Nah, mari sedikit kembali ke rencana perjalanan kali ini.

Sungai Pinyuh menuju Singkawang, dengan kecepatan standar memerlukan dua jam perjalanan menggunakan mobil. Lumayan.

Berbeda dengan perjalanan Pontianak ke Sungai Pinyuh, Sungai Pinyuh menuju Singkawang lebih ‘hijau’. Saya lebih menikmati landscape-nya. Hehe.

Time killer saya sepanjang perjalanan adalah mengamati rumah orang Tionghoa yang memang mendominasi. Saya suka mengamati pintu rumah mereka yang selalu memiliki semacam tempelan emas-merah dalam huruf Cina, mudah dibedakan dengan rumah orang non Tionghoa. Yang menjadi persamaan, rata-rata rumah dibangun di atas lahan rawa, di tengah-tengah ataupun bersisian dengan deretan pohon kelapa, sawit, serta pisang.

Menuju Singkawang, ada satu tempat di wilayah Sungai Duri yang membuat saya penasaran. Letaknya pas sekali bersisian dengan laut (atau selat?).

“Kita mampir ke satu warung ya. Mau lihat laut.”

Saya memilih satu warung yang sepi, hanya karena agar leluasa saja. Dan dasar sok petualang ya, baru menginjakkan kaki masuk ke warung saja langsung keder! Payah!

Dibangun di atas panggung, dinding-dinding warung dari jalinan kayu yang ditampar angin laut itu sukses membuat nyali ciut. Apalagi saat kayu-kayu itu berderak-derak heboh. Namun pikiran bahwa nun jauh di seberang sana sudah Malaysia membuat saya ‘agak’ tenang sekaligus bersemangat πŸ˜†

Saking ‘lemahnya’, sekitar lima belas menit pertama saya hanya berani duduk berlindung dibalik papan bilik. Beberapa kali memunculkan kepala sedikit, dan langsung dihajar angin πŸ˜‚πŸ˜…

Anak ini awalnya takut. Mau di mobil saja malah katanya. Tapi begitu masuk ke dalam, malah dia yang bersemangat~

“Sudah sampai sini, masak cuma disini doang.” sindir Bapak Rugrats.

Akhirnya setelah maju mundur labil, menyesap beberapa teguk teh manis hangat (ah elaaah, macam mau ngapain sih Buk!) saya beranikan diri mendekati bibir warung yang tak memiliki pagar pengaman itu. Namun buru-buru mundur lagi ke pinggir. Ngeri! Lemah kamu Septin, lemah! πŸ˜‚πŸ˜‚ Yeah, I know~

Sementara itu, Bapak Rugrats dan Rugrats mengamati sambil tertawa, menunggu di bilik duduk. Saya bahkan hampir yakin pemilik warung juga tertawa karena saya berjalan sambil mlipir di pinggir deretan bilik gara-gara cemas dengan hembusan angin. Ckck~

Awalnya cuma berani disini. Segini saja sudah greget pisan~

Lihat pulau di ujung itu? Saya penasaran namanya apa. Saya juga belum tahu ini namanya laut (atau selat) apa. Maafkan, geografi saya buruk πŸ™„ Tapi sempat cek lokasinya sih via Google maps, dengan mengandalkan titik koordinat location tag di detail foto. Terlalu niat.

Ndak kelihatan nama lautnya. Yang jelas, kami benar-benar di ujung~ gumunlah, secara biasanya masih merasakan ‘tepi pantai’. That’s why sebagian besar wilayah di pesisir ini membangun pemukiman di atas panggung. Tidak tinggi sih. Tapi cukup untuk ‘menghindar’ dari terpaan air laut yang pasang. Asumsi saya sih begitu ya. Atau ada yang tahu kenapa?

Angin besar (saat itu memang agak gerimis) menampar-nampar badan, disertai suara riak kecil ombak berpadu decit kayu berkeretak membuat kaki saya lemas. Kalau bukan gara-gara penasaran, enggan sekali saya mendekati ujungnya. Apalagi saya tak bisa berenang. Hahaha. Kelak, angin kencang ini sukses membuat saya masuk angin.

Tampak ‘tenang’. Padahal sebenarnya disini anginnya super KENCANG. Deg-degan luar biasa. Aduh iya, saya mainnya memang kurang jauuuuh saudara-saudara. Jangan dibandingkan denganmu lah! πŸ˜‚

Lalu, indah?

Hmm, lautnya keruh. Bercampur lumpur. Di bagian kanan warung bahkan relatif kotor. Banyak sampah yang sepertinya dibuang seenaknya ke bagian bawah panggung. Sedih πŸ˜₯

‘Terbiasa’ melihat pantai di Yogyakarta. Agak kontras ya. Air di rumah Sungai Pinyuh, meski air PAM, kadang pun masih terkontaminasi air laut. Rasanya asin (tentu~). Bila sedang apes, kadang agak pliket~

Maju sedikit~

Bagaimana jika, geser sedikit lagi?

Beberapa kali membidik ke arah laut, beberapa kali pula badan saya doyong tertiup angin. Sesekali, saya bergidik saat tak sengaja menatap celah diantara lantai kayu. Air lautnya tampak cadas~

Oke, cukup. Ini mengerikan. Mari kembali duduk saja :’)

Dan akhirnya, setelah sekitar sepuluh menit yang ‘mengerikan’, saya menyudahi mengambil gambar. Masih limbung, bercampur dingin cipratan air laut dan angin yang menusuk.

Kami melanjutkan perjalanan, bersama kenangan angin kencang, jantung berdebar, dan sampah-sampah di permukaan.

Manusia, kecil sekali kalau dihadapkan alam. Iya, padahal baru begini ya~ πŸ™‚

Oh iya, satu lagi. Bersyukurlah kalau kalian mampu dan sempat menjelajah dunia. Namun wilayah-wilayah di perpotongan atau perbatasan, kadang justru menyimpan cerita tak terduga.

[Walk the Talk] KuwΓ© jahΓ© : You’ll never walk alone.

1

The strongest one, bleed in silence. Have no one applauding their growth. Have no one watching their healing process. They bloom in silence ~ Anonymous.

Beberapa saat lalu, saya tak sengaja berbalas pesan di Instagram dengan Mas Aga–salah seorang kenalan dari 30hari bercerita (tentang akun ini, kapan-kapan saya ceritakan ya!). Waktu itu ide [Walk the Talk] sudah bak jerawat yang tinggal tunggu ‘matang’, hingga saya tak sengaja melihat podcast yang Mas Aga buat.

Hal kecil yang kemudian memantik saya untuk benar-benar merealisasikan [Walk the Talk].

Dengan baik hatinya Mas Aga berkenan ‘berbagi’ salah satu sosok penuh inspirasi. Saya mengenal nama aliasnya lebih dulu; KuwΓ© jahΓ©.

KuwΓ© jahΓ© ini merupakan nama blog pribadi Mbak Agatha. Awalnya saya pikir tak perlu membaca blognya dulu, karena nyaris semua terwakili oleh tulisan Mas Aga, kan?

Hingga beberapa saat lalu, saya mendadak gatal untuk mencari tahu tentang Mbak Agatha. Agak tak adil, kalau saya tak sungguh tahu apa yang saya tulis. Dan saya pun mulai membaca si KuwΓ© jahΓ©.

It’s just–wow.

Blognya penuh dengan orang-orang lintas profesi-gender-suku. Dan membacanya, menyenangkan. Sungguh.

Saya terkaget-kaget betapa ‘random’ para sosok yang ia bawa dalam perspektifnya. Bahkan saya takjub ia mengenal Gardika Gigih (iya. It’s him on her blog! Fans Banda Neira mana suaranyaaaa?), dan ternyata,

“Aku menghubungi kontaknya. Aku juga nggak kenal. Namun aku tersentuh dengan lagu Sampai Jadi Debu–alasan yang kemudian membuatku mengejarnya hingga ke Jogja!”

Wow.

Dan timbullah one-million-dollar-question ini,

“Lalu, kenapa KuwΓ© jahΓ©?”

Pertanyaan nekat saya ternyata justru membawa saya pada kisah yang tidak saya pikirkan samasekali.

KuwΓ© jahΓ©–yang awalnya saya pikir adalah brand portofolio grafisnya–adalah refleksi dari Mbak Agatha.

Mbak Agatha πŸ™‚

“…karena dari sekian banyak orang yang berseliweran di hidup ini, hanya beberapa yang benar-benar membuatku tergerak.”

Kalimat yang kemudian membuka lagi kisah yang lain; karena sesungguhnya beberapa tahun terakhir Mbak Agatha sedang ‘berjuang’ untuk tidak menyerah dengan hidup. Literally, sungguh menyerah. Untuk bernapas.

Jika ada yang bertanya separah apa, Mbak Agatha pernah mengalami upaya-upaya self-harming, hingga suicidal.

“Rasanya seperti berada di tengah ruang hampa. Gelap dan luas. Awalnya ada beberapa orang yang bersama kita di sana, lalu mendadak mereka pergi satu persatu,

kadangkala saat sedang sedih, aku bisa tiba-tiba memvisualisasikan itu, bahkan hyperventilating.”

Saya terdiam. Membayangkan bagian itu, rasanya pasti amat mencekam baginya.

Sempat bertanya apakah keluarga atau kerabat dekat tahu semua kegelisahan itu, dan jawabannya tidak.

“Karena sumbernya masalah keluarga.”

Alasan itu yang kemudian membuatnya cukup tertutup untuk membagikannya pada siapapun. Saat itu, dalam hati saya merasa tak enak karena telah memasuki teritori terprivatnya.

The Samaritans–salah satu organisasi non-profit di UK yang secara khusus menangani isu kesehatan mental melalui layanan 24 jam via telepon serta surel–adalah salah satu titik balik Mbak Agatha selain KuwΓ© jahΓ©.

Saat itu, tim Samaritans menjawab surel Mbak Agatha (saat itu ia berada di puncak masa depresi, selangkah lagi menuju upaya suicidal) dengan kalimat berikut :

“Di e-mail sebelumnya, kamu bilang kalau hidup orang-orang di sekelilingmu akan jadi lebih baik tanpamu. Misalkan kamu akhirnya benar memutuskan untuk pergi, bagaimana caranya kamu tahu atau memastikan kalau hidup mereka benar jadi lebih baik?”

Sebuah ‘tamparan’ yang kemudian menyadarkannya. Jujur, menuliskan ini lagi pun saya merinding.

Saya teringat dengan kasus Chester Bennington, Kate Spade, hingga Anthony Bourdain.

Isu kesehatan mental ini sudah lama ada. Hanya karena mereka dikenal luas, hingga terkesan ‘baru’ marak.

Saya salut dengan Mbak Agatha, atas keberanian dan keputusannya mengambil kendali lagi atas hidup.

Tidak mudah tentu, berperang dengan diri sendiri. Tidak mudah pula membahas hal-hal semacam ini dengan orang lain. Karena kenyataannya masyarakat kita memang lebih mudah memberi label atas nama moral atau (maaf) agama akan isu-isu serupa.

Ini rumit, kawan.

Kamu bisa lihat betapa mahalnya biaya psikiater, karena ini memang rumit.

Jadi, sekali saja hentikan pemikiran bahwa orang-orang dalam kasus suicidal ini adalah karena jauh dari Tuhan. Tidak selalu.

Kita perlu duduk bersama untuk benar-benar memahami bahwa ada satu masa dimana semuanya menjadi sangat gelap dan tanpa harapan.

Peran kecil kita, bukanlah memberikan penilaian baik atau buruk secara moral. Karena kita bukan ‘mereka’.

Yuk, coba berempati. Dekati, dan pahami. Isu kesehatan mental ini bisa menjadi masalah siapapun πŸ˜₯

“Ah, dia mungkin kurang tahan banting saja. Atau terlalu banyak waktu luang~”

Nah masalahnya, kita bukan mereka. Bisa jadi kita cukup easy going dan tak pernah ambil pusing. Tapi hei, mereka bukan kloning kita. Ingat? Jadi tidak semudah itu untuk ‘menyamakan’.

Kembali kepada Mbak Agatha. Ada satu poin penting darinya yang saya garisbawahi, tentang keluarga.

Permasalahan dalam sebuah keluarga itu seperti suatu siklus, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Iya, mirip unfinished business. Sebagai seorang anak, kita memiliki dua pilihan; tetap membiarkan siklus itu berlanjut, atau mau memutus siklus masalah tadi.

“…aku pribadi memilih yang kedua dengan cara meningkatkan kapasitas kesabaran dan kasihku ke orang tua. Rasanya kadang sulit, however selama masih dikasih waktu, aku mau terus berusaha.”

Once again, everyone has their battle. Don’t judge. Kita tak pernah tahu kisah apa yang ada dibawah permukaan.

Terakhir, mari kita sedikit berbelok lagi ke kisah KuwΓ© jahΓ©–blog yang hangat tadi.

Dua tahun lalu, seorang kakak kelas Mbak Agatha ditemukan tewas gantung diri.

Pada satu titik ia merasa sedih karena tak bisa menemui si kakak kelas lebih awal untuk menyatakan dukungan. Untuk sekedar mengatakan bahwa ia tak sendiri. Hal-hal seperti ini, yang kemudian menjadikan KuwΓ© jahΓ© istimewa. Ia berharap, siapapun yang membaca kisah orang-orang yang ia tulis di blognya akan sama tergeraknya dengannya. Ia berharap, orang lain bisa mendapatkan semangat baru untuk tetap hidup dan menginspirasi orang lain. And you’ll never walk alone.

Catatan :

Cobalah membaca KuwΓ© jahΓ© disini. Rasanya hangat :’)

YOLO, so does your kids

0

Children need the freedom to appreciate the infinite resources of their hands, their eyes and their ears, the resources of forms, materials, sounds, and colors ~ Loris Malaguzzi

Kaki saya baru saja menginjak salah satu–dari berjuta-juta–mainan Cupis yang lebih sering tersebar bak ranjau daripada masuk ke dalam kotak.

Entah sudah berapa kali saya mencoba berkomitmen dengan diri sendiri untuk tidak terlalu sering membelikan Cupis mainan. Dulu, sewaktu masih bekerja, saya terbilang cukup impulsif untuk membelikannya mainan. Dalam alam bawah sadar, mungkin ini semacam self-compromising atas perasaan bersalah karena telah meninggalkan Cupis untuk bekerja.

Para ‘ranjau’ πŸ˜‚πŸ™„

Cupis senang, tentu. Matanya selalu berbinar-binar ketika saya membawakan paket-paket yang akan ia buka. Sejauh itu saya berpikir bahwa sikap saya menghujani Cupis dengan mainan itu tak masalah. Maksud saya, siapa sih yang tak suka kejutan, kan? Dan saya hanya ingin membuat Cupis senang.

Jujur, saya terkadang iri dengan Bapak Rugrats. Dia selalu bisa ‘mengambil hati’ Cupis dengan bermain. Dimanapun, kapanpun, dengan atau tanpa mainan, Bapak Rugrats selalu mampu menemukan sesuatu untuk dijadikan mainan bersama Cupis. Hmm

Bapak Rugrats, his forever idol!

Saya akui, saya bukan tipe yang mudah heboh dengan hal-hal kecil. Saya tidak suka keributan. Saya bisa mendadak stress jika mendapati sesuatu yang berantakan πŸ˜‚ sounds that bad, huh?

Di satu titik, saya bisa ‘terjebak’ dengan euforia Pinterest seketika. Saya terpesona dengan A-Z permainan-permainan do-it-yourself. Saya pikir,

“Mari buat satu, Cupis pasti senang!”

Dan bersemangatlah saya mengutak-atik semuanya. Kertas, karton, koran, krayon, spidol, gunting, lem–semua hal yang sekiranya (dalam bayangan saya) menciptakan wow moment esok saat Cupis bangun pagi.

‘Korban’ Pinterest–tapi terlalu suka! Bagaimana dong??

Kenyataannya, anaknya biasa saja. Dia lebih tertarik dengan prosesnya ketimbang hasil akhirnya. Saya? Saya kebalikannya. Saya ingin prosesnya sempurna, tidak terganggu apapun.

Imbasnya, Cupis tidak terlalu tertarik. Ia hanya akan memainkannya sekian menit, lalu beranjak ke mainan lawasnya. Sakit hati? Sedikit! Hehehe. Ya gara-gara saya berharap Cupis akan berbinar secerah lampu Indomar*t, memeluk dan menciumi saya karena saya berhasil membuat sesuatu yang bombastis (bagi saya) πŸ˜‚πŸ˜‚

Yang receh malah paling favorit. Retjeh for lyfe ya, Nak! πŸ™ŒπŸ‘Œ

Bapak Rugrats pernah berkomentar–saat itu Cupis menolak memainkan mainannya bersama saya,

“Kamu kalau sama dia itu bukan ‘main’, tapi sekedar menemani main.”

“Maksudnya?”

“Kamu nggak terlibat dalam permainannya.”

Itu tamparan! πŸ˜₯ Yang kemudian membuat saya berpikir banyak. Diam-diam saya mengamati interaksi Bapak-anak itu. Cupis banyak tertawa. Seperti bermain dengan teman sepantaran. Saya bandingkan saat bersama saya. Berbeda. Iya, saya banyak mengomel. Banyak tidak boleh ini-itu. Tapi~ ah, sudahlah. Disitu saya merasa sedih πŸ˜₯

Well, Cupis hanya perlu teman bermain. Terlibat penuh menjadi bagian timnya Catboy, menjadi pembeli es krim bayangannya, menjadi masinis kereta Thomasnya, jadi pohonnya, jadi apa kek. Bukan menjaga sekedar macam sipir. Parah, ya πŸ˜“

Sebenarnya iri, akutu…

Bahkan, kemungkinan Cupis tidak perlu semua mainan mahal atau bermerk. Mungkin.

Cupis cuma perlu diperlakukan ‘dewasa’ (saya sedang mencoba semaksimal yang saya mampu, menempatkan diri sendiri dan diri Cupis. Kapan saya harus menganggap dia ‘sudah besar’, atau ‘masih kecil’).

Bisa jadi bukan sekolah yang benar-benar diperlukan Cupis sekarang. Tapi Ibunya, seseorang yang menghabiskan waktu nyaris duapuluhempat jam bersamanya. Golden age seyogyanya memang dirayakan bersama seseorang yang melahirkannya, kan? 😢

“Lha, sekarang emang nggak, Buk?”

Iya. Namun seringnya, badan dimana pikiran dimana. Judulnya bermain bersama Cupis, namun otak penuh ‘besok kudu masak apa?’, ‘itu cucian apa kabar?’, etsetera, etsetera~

Mungkin seharusnya kemampuan pikiran untuk multitasking perlu di freeze dulu sewaktu bermain bersama Cupis. Here and now.

Harus begitu, semestinya.

Iya ya, ternyata saya ingin menjadi teman bermain Cupis juga.

Karena cucian kotor, nasi belum dimasak, baju masih berantakan di keranjang, isi susu kotak berceceran, spidol hilang tutupnya–semua itu bisa ‘menunggu’.

Cupis, dalam sekejap sudah sibuk dengan kehidupannya sendiri. Dan tidak akan repot-repot ‘menunggu’ lagi.

“Ibuk jadi penjahatnya, ya! Aku jadi Catboy!” ~Cupis, 4yo

Hanya dengan jepit jemuran saja sudah bisa jadi mainan. Ah, anak-anak memang paling kreatif! Kadang, menjadi dewasa membuat kita terlalu banyak melabeli sesuatu dengan ‘seharusnya’ atau ‘semestinya’. Break some rules, he?

Ayo, mulai dari nol lagi, Nak.

Rumah : Kumpulan Rasa

0

In the childhood memories of every good cook, there’s a large kitchen, a warm stove, a shimmering pot, and a mom ~ Barbara Costikyan

Ibu saya (dulu) suka mencoba memasak menu-menu baru. Saya mengalami masa-masa saat beliau suka bereksperimen dengan bumbu dan bahan. Detik ini, entah kenapa saya teringat crackers goreng isi tape yang dibuat Ibu saat sarasehan warga kompleks di rumah. Saat itu saya masih sekolah dasar.

Iya, itu dulu.

Meski bisa dibilang peralatan masak Ibu cukup banyak (sebagian besar hasil membeli saat demo arisan atau hibah dari rumah Mergangsan πŸ˜ƒ), kini Ibu sudah kehilangan minat untuk memasak aneka rupa.

“Sudah, Ibu capek.”

Namun ada satu masa ketika Ibu akan bersusah payah mengambil panci-panci besar berdebu dari dalam lemari–jenis panci berpantat tebal hasil ‘warisan’ Mbah Buyut yang kualitasnya jauh bila dibanding panci masa kini, membeli arang, dan mempersiapkan anglo,

Lebaran.

Musim boleh berganti. Saya, sebagai anak sulung bisa jadi per dua tahun baru bertandang. Tetapi ritual memasak saat lebaran adalah keharusan.

Dua hari sebelum lebaran Ibu akan sibuk berbelanja ke pasar. Untuk beberapa bahan, dibeli jauh-jauh hari. Pasar bisa menjadi kejam saat hari besar tinggal menghitung jam.

Sejak selepas subuh di hari terakhir Ramadhan, Ibu mulai sibuk. Kalau dulu saat Bapak sehat, Bapak lah yang akan memotong sendiri dua ayam kampung yang dibeli di Pasar Terban. Saya pernah ikut beberapa kali saat kecil.

Bagian favorit saya (yang mana sering gagal) adalah membuat ketupat dan lontong. Aroma daun pisang ataupun janur beradu beras yang tercuci bersih itu menenangkan.

Di sisi lain rumah, Ibu akan sibuk ‘membuat’ api dari tumpukan arang. Bertahun-tahun di masa remaja, saya selalu dikomentari sudut yang tepat agar api menyala diantara arang, tanpa menimbulkan kabut ke seisi rumah.

Dua anglo dengan dua panci besar. Masing-masing terisi materi opor ayam kampung dan deretan lontong. Kami bertiga (lebih sering Ibu) bergantian menipasi mulut anglo.

Butuh berjam-jam untuk membuat masakan itu final dengan rasa yang sempurna meresap. Dan nyaris selalu sama di tiap tahunnya; masakan selesai tepat menjelang buka puasa–paling terlewat adalah saat takbir mulai dikumandangkan ke udara.

Maka kami, anak-anak Ibu yang kelaparan, akan berebut mengambil irisan lontong lalu memilih satu potong daging yang telah melunak lembut beserta kuahnya yang legit. Menaruh beberapa potong krecek pedas di sisi piring, sambal goreng tempe kentang, dan acar nanas. Tak lupa kerupuk udang yang lebar. Duduk bersama, di sekitar meja makan sambil menonton acara televisi.

Terkadang, di beberapa Ramadhan Ibu sering berkata bahwa beliau bosan memasak. Namun hal itu selalu wacana.

Pada akhirnya, Ibu akan selalu berakhir di dapur, memasak semua menu dan memastikan dengan seluruh inderanya, memastikan semua anggota keluarga senang dan kenyang.

Selesai?

Belum! Masih ada berwadah-wadah opor ayam kampung, sambal goreng krecek, acar, kerupuk, lontong, dan ketupat yang dibagikan ke tetangga kiri dan kanan, tukang sampah kompleks yang sudah sepuh namun baik sekali, pengasuh adik saat balita dulu, penjaga masjid kompleks, atau bahkan sekuriti kantor lama ibu.

Dan ketika saya iseng mengingatkan beliau,

“Katanya capek, Buk?”

Ndak apa-apa. Kasihan kerja pada capek kadang ndak sempat masak apa makan opor.”

Bertahun-tahun, dan belum pernah berganti.

Dan sekarang, sekian mil dari rumah, saya mendadak merindukan anglo tembikar, aroma lontong saat tutup panci yang berat itu dibuka, serta gelegak panas si opor ayam.

Jarak, selalu mampu memberikan ruang pada kenangan untuk diputar kembali.

Lapar? Saya juga.