Woles : slowing down isn’t a crime

0

People come and go, but you~ oh just be you.

Seiring usia, lama-lama saya memiliki preferensi yang jauh berbeda dari saat masih muda ((muda)).

Minat berubah, energi menempati porsi prioritas yang berbeda, kegelisahan masa muda pun digantikan hal-hal lain.

Saya pernah bertanya pada Ibu, sebuah pertanyaan random sebenarnya,

“Buk, kenapa rambutnya nggak mau dicat? Ubannya kelihatan.” begitu pertanyaan ngawur saya. Mungkin karena melihat banyak rekan Ibu yang melakukan hal yang sama.

“Ah buat apa. Udah tua ya tua aja. Dinikmati.”

Hehe.

Suatu waktu saya mendadak cemas dengan segala lemak tubuh yang bergelambir macam lintah. Hahaha. Well, saya pun tak menyangka saya seterbuka itu di tulisan ini lho πŸ˜‚

Mendadak panik, karena semua orang tampaknya lebih baik memperhatikan diri mereka. Jawaban Bapak Rugrats membuat saya terhenyak.

“Buat apa sih? Aku malah kangen kamu dulu yang nggak dandan. Lagipula, aku tetap sayang kok.”

Saya terbahak-bahak mendengarnya. Karena kalimat itu bukan gombalan. Dia tak pandai merangkai kata puitis macam caption saya di akun Instagram 🀣

Ya sudahlah.

Dalam hati saya bersyukur. Bersyukur karena di dalam hari-hari saya yang kerap merasa ciut pada akhirnya saya bisa menyelipkan sedikit syukur.

“Kamu nggak kangen kerja, po?”

“Kamu nggak pengen usahamu lebih maju kah?”

“Kamu harusnya tinggal di Jogja aja biar enak.”

Hai hai.
Terimakasih atas semua ‘seharusnya’ itu. Kalian baik, sungguh.

Namun pada akhirnya takaran pas dan tidaknya sebuah kebahagiaan memang unik. Tergantung bagaimana menyikapinya.

Dan ya, mungkin kisahnya akan berbeda.

Semisal saya yang kangen bekerja kemudian memutuskan untuk mengambil pekerjaan baru, kehidupan saya akan kembali ke ritme 8 to 5 lagi. Saya mungkin senang karena bisa ‘berkembang’ dan memiliki me time, namun saya akan lebih jarang berdialog dengan para Rugrats. Kadang, saya agak sukar mengalihkan fokus kalau sudah bekerja. Ehm.

Iya, saya juga ingin usaha saya lebih maju. Dan saya pernah meluangkan sedemikian banyak upaya untuk itu. Imbasnya, tekanan itu sungguh menyiksa. Agak menyebalkan ternyata, hobi yang awalnya sekedar hobi yang bersifat katarsis ternyata malah menjadi stressor baru. Jadi saya memilih menepi. Meski masih belajar, saya sedang berusaha agar tidak dikendalikan deadline lagi πŸ˜‚

Bismillah saja deh, kalau beberapa rejeki berjodoh tentu tak akan kemana.

Pindah ke Yogyakarta. Oh itu impian seumur hidup sepertinya. Hahaha. Tinggal di kota kelahiran dimana rentang waktunya tidak terpengaruh hiruk pikuk. Dengan setiap elemen pendukung yang memungkinkan saya ‘melesat’ ((melesat)) hehe. Tapi kalau saja saya tidak merantau, seperti sekarang, bisa jadi saya tak memiliki komponen rindu dalam karya-karya yang saya buat. Bisa jadi saya tak tergerak menulis atau menggambar elemen yang menenangkan syaraf rindu pada kampung halaman.

Jadi, nikmat mana yang saya dustakan?

Beberapa kali saya berpikir saya salah mengambil langkah. Beberapa kali orang-orang bilang saya salah langkah.

Rasanya ingin menyerah, kan?

Namun ketika beberapa hal bisa dinikmati, ternyata ada saja jalannya. Sang pemilik nyawa memang luar biasa.

Pemandangan ini sudah dua kali saya lihat di kota ini, dari halaman belakang rumah kami. Tempat kemunculannya sama, jumlahnya sama-sama dua. Lihat samar-samar pelangi di sebelah kiri? Pelangi ini muncul tepat setelah saya merasa kesal dengan AC yang bermasalah (gerah pisaaan dengan para Rugrats yang rusuh~). Mungkin saya diingatkan, selalu ada pelangi setelah hujan.

So there’s a will, there’s a way.

Tugas saya hanya harus percaya kalau saya mampu. Selama tujuannya baik, pintu-pintu berkah pasti siap diketuk, kan?

Panic attack : It’s real.

0

Pagi ini saya mendadak cukup sedih. Seorang teman harus ikut suaminya ke Ketapang, pindah tugas.

Iya, akhir-akhir ini saya merasa mudah sedih dan khawatir. Kalau kata Bapak Rugrats, mungkin karena saya lebih banyak di rumah dan kurang bersosialisasi. Hmm, bisa jadi.

Kalau dulu lebih banyak cuek, kini ada banyak hal yang mendadak diperhatikan. Kesehatan, sekolah anak-anak karena Bapak Rugrats akan sering pindah tugas, rumah yang berantakan, hasrat mengembangkan diri (ini serius, dan menggambar adalah medium yang banyak membantu), dan sebagainya.

Banyak mau, namun energinya seakan tersedot karena pikiran negatif. Banyak ingin, tapi lebih dulu merasa takut.

Betul, betul. Tahun lalu saya banyak mencoba. Melakukan hal-hal baru. Namun rasanya ada yang kurang. Saya, menjadi makin susah merasa bersyukur.

Parah, kan?

“Loh kamu kan anak psikologi, masak nggak bisa mengobati diri sendiri.”

And-this-is-one-million-dollar-statement.

Sungguh, terkadang ilmu-ilmu itu hanya ‘sekedar’ tulisan di atas kertas saat yang menjadi klien adalah diri sendiri. Ada beberapa sih yang ternyata malah berguna sekali kini, sesi relaksasi. Padahal dulu mah boro-boro 🀣

Atas saran Bapak Rugrats, saya pun memaksa diri untuk menemukan hal-hal baik dalam satu hari. Tidak selalu berhasil, tapi ya sudahlah. Demi mental yang lebih sehat.

Saya juga sedang belajar bernapas. Hah, bernapas? Iya, bernapas. Bernapas yang benar. Kebiasaan ini kerap muncul karena saya makin mudah panik setelah peristiwa tsunami Anyer kemarin.

Takut mati.

Kalau perasaan itu datang, rasanya sumpek dan pengap macam masuk ke kotak yang gelap. Seakan-akan tak ada oksigen. Saya mendadak lupa bernapas. Tandanya adalah otot perut saya seakan tertahan, menahan sesuatu. Bukan kentut, jika ada yang berpikir begitu πŸ˜‚ Imbasnya, kepala mendadak pusing dan nyaris black out. Seumur-umur saya tak pernah loh merasa claustrophobic begitu 😦

Dan beberapa kali saya membuat analisa ngawur, denial, karena menolak mengakui saya memiliki level kecemasan luar biasa. Saya mensugesti diri kalau saya sedang lapar, atau kurang darah, atau kecapekan begadang, dsb. Entah deh~

Ada sisi positifnya sih. Saya jadi lebih sering mengingat Allah :’) pencapaian luar biasa, karena dulu saya kerap abai. Betapa Dia maha membolak-balik hati manusia, ya.

“Lah, kamu begini tapi sering post tentang hal positif. Gimana sih?”

Iya. Hahaha. Lur, semua hal-hal positif itu ditulis bukannya tanpa tujuan. Setiap komentar bernada baik, itu semacam menyumbang feedback positif. Semacam energi tambahan buat saya.

Saya jadi lupa tengah panik dan khawatir.

Zaman saya kerja paruh waktu, saya dikenal mudah panik. Bahkan memiliki nama julukan, Saripan. Sama Rina Panikan. And it’s horrible πŸ˜‚ saya tak menyukai nama itu karena seperti penegasan; saya mudah panik. Andai mereka tahu, hidup dengan nama tengah ‘panik’ itu tidak asyik.

Mundur belasan tahun ke belakang, barangkali segala bentuk kekhawatiran akan hal-hal kecil ini menurun dari Ibu.

Ibu saya adalah pribadi yang akan memastikan segala sesuatunya sempurna, memiliki rutinitasnya sendiri. Hal itu dibentuk sepanjang masa remajanya, karena kebetulan tinggal bersama Mbah Buyut yang keras.

Tenang, saya mensyukuri hal itu karena menyumbang gen perfectionism dalam hidup saya. Semua keteraturan dan pemujaan atas kesempurnaan ini baik-baik saja, hingga saya sadar;

Saya tak mampu mengelola kekhawatiran saya dengan maksimal.

Saya, entah bagaimana, merasa bingung menyikapi pikiran tersebut. Untuk kesekian kalinya, saya seperti tidak paham cara kerja isi kepala sendiri 😒 konyol? Sangat! Dan saya mengikuti kekhawatiran itu.

Pernah di satu titik, saya harus berhenti dari menggambar karena setelah empat kali sketching dan semuanya tak sempurna. Kepala saya langsung pening, ruang gelap itu mendadak muncul 😦

Atau yang lebih konyol, saat liburan panjang di Kuching kemarin. Malam itu bertepatan dengan kabar tsunami Anyer. Serangan itu kembali datang, satu ruangan kamar yang sebenarnya lega selega-leganya, menjadi kurang luas bagi saya. Mendadak saya juga membenci lampu kamar yang berwarna temaram. Detik itu juga saya ingin lari keluar, menghirup udara bebas (padahal di luar mah lebih gelap deh). Saat itu saya ‘melawannya’. Karena Bapak Rugrats sedang mandi, saya berusaha menghirup napas dalam-dalam ditemani Ken. Berusaha memikirkan hal positif. Ketakutan saya adalah boggart, dan hal positif adalah Patronus. Ng… okay, I think its cool analogy. Congratulation to me πŸ˜‚

And yes, I’m struggling with those kind of anxiety everyday. Dan karena menjadi seorang Ibu harus kuat, saya memaksa diri saya untuk mengesampingkan kecemasan. Karena, ya tak ada ruang untuk hal itu. Atau setidaknya, belum.

Berminggu-minggu berselang setelah serangan pertama itu, saya memutuskan untuk memutus mata rantai. Mandi cahaya matahari, minum air putih banyak-banyak, makan yang benar, bernapas yang benar, memeluk keluarga Rugrats.

Ada banyak hal yang perlu saya syukuri, dan ini lebih dari cukup.

And sometimes, it’s okay not to be okay.

Dapur Organik Kalbar : Hidden Gem in the ‘Jungle’

0

Once upon a time, all food was organic ~ Anonymous.

Saya baru sampai rumah beberapa saat lalu, dan masih terngiang enaknya nasi goreng yang dimasak menggunakan minyak VCO tadi. Rasanya gurih dan legit.

Dalam hati saya bersyukur, atas kesempatan bertandang ke ruang renjana Pak Umar.

Entah berapa kali saya melewati tempat makan semi terbuka berupa panggung yang didirikan di atas aliran Sungai Nipah, namun tak yakin untuk mampir. Hingga pagi tadi saya bertekad harus kesana.

“Mbak Septin!” Pak Umar–pemilik Dapur Organik itu melambaikan tangan bahkan saat saya dengan ragu-ragu melewati jembatan kayu. Iya, sebelumnya saya memang sempat mengirim surel dan pesan instan.

Tak lama kami datang, tersaji welcoming drink (wow!), dua cangkir sari kacang hijau serta sewadah besar irisan pisang dan tapai–mengiringi obrolan kami selanjutnya.

What a thoughtful greetings. Pisang hasil memetik di halaman. Sari kacang hijau dari olahan tangan. Siap menemani obrolan!

“Ini adalah periode keenam saya dengan Dapur Organik, Mbak.”

“Maksudnya, Pak?” tanya saya, bingung.

“Ini kali keenam, setelah lima kali usaha saya ini buka-tutup.”

Saya terdiam mengamati beliau, lalu sekeliling bangunan sederhana yang tampak sekali adalah dunia kecil Pak Umar.

Jadi ingat bar-bar yang ada di tepi pantai. Aduhhh! Terlalu kece~

“Awalnya saya hanya pencinta alam, dipertemukan dengan Greenpeace dan lain-lain, hingga membawa saya kemari.”

Mendadak, Pak Umar pamit sebentar ke bangunan rumah di ujung tempat tersebut. Tak lama kemudian beliau kembali membawa sebuah laptop. Dan mengalirlah obrolan tentang VCO. Dari dapur rumah hingga lemari es hotel ternama. Mulai dari tebak-tebakan ciri-ciri kelapa hijau, sampai harapan memiliki lahan seribu meter persegi yang ditumbuhi tanaman heterogen. Rasanya-rasanya seperti kuliah santai tipis-tipis di alam terbuka.

Ya, minat terbesar Pak Umar adalah pada kelapa.

Coconut for life!” katanya sembari mengambil foto sebutir kelapa yang mengapung di atas air dengan tunas lurus menantang langit.

Ada yang kesenengan bisa main air~ ckckck

“Oya, mau makan apa?” tanya beliau sembari memperlihatkan selembar menu yang dilaminasi.

Gado-gado dan nasi goreng, adalah dua menu yang kami pesan.

Ketika beliau mulai sibuk berkutat di dapur, mau tak mau saya penasaran–lalu ikut bergabung. Duh, rasanya macam menjadi tim nya Jiro Ono atau warung ramen di manga-manga Jepang–berada di dapur terbuka begitu.

Kenapa bule? Karena sebagian besar pengunjung Dapur Organik adalah para mahasiswa S2 yang tengah melakukan penelitian di Dapur Organik. Dan ya, saya takjub ada fasilitas lodge Airbnb disini. Sederhana, benar-benar dengan konsep ‘jungle home’.

Memasak pesanan saya. Nasi goreng yang benar-benar dari beras-cuci-aron-goreng. Agak syok karena saya pikir bakal lama. Ternyata iya lama πŸ˜†πŸ˜‚ tapi tidak terasa!

Cooking from scratch. Aneka biji-bijian, gula aren yang dibeli dari petani lokal, garam dari petani garam asli Madura. Disimpan dalam wadah-wadah kaca tebal seperti milik simbah buyut di Mergangsan. Bagaimana saya tak jatuh hati dengan tempat ini?

Aslinya sih kagok, memasak di dapur orang dimana medannya tidak saya pahami. Namun Pak Umar sungguh baik sekali membiarkan saya mengeksplorasi area itu.

Kagok! Hahahaha.

“Tolong aduk berasnya.”

Atau,

“Ini petai cinanya, sekalian dikupas ya.” adalah beberapa instruksi beliau.

Dan ya, Pak Umar meminta saya mencicipi sekeping petai cina. Icip = makan begitu saja mentah-mentah πŸ˜‚

Calon bibit yang akan ditumbuhkan kembali. Di wadah terpisah ada kulit pisang dan sampah organik lain yang akan dikompos nantinya. Less waste.

Tak lama, seorang pria paruh baya berperawakan kecil datang. Pak Bujang–salah satu rekan Pak Umar di Sungai Nipah.

“Nah, kalau Pak Bujang ini luar biasa. Semua bangunan disini adalah buatan Pak Bujang.”

Pak Bujang yang baik hati. Bapaknya ini serba bisa. Ini beliau tengah sibuk membuat tiang untuk bakal calon area workshop pembuatan VCO. Soon!

Saya menyalami beliau. Ah ya, saya mengenalinya dari beberapa unggahan foto di akun Instagram tempat ini.

“Bapak mengelola tempat ini, disini–tempat yang warganya mungkin awam dengan hal-hal berbau organik, gambling nggak sih Pak?” tanya saya penasaran.

Empat piring nasi goreng sudah siap disantap, tinggal membuat gado-gado dimana Pak Umar sibuk menumis irisan bawang putih dan segenggam kacang tanah dengan VCO. Aromanya luar biasa.

“Pasti. Setahun awal dulu mungkin saya masih berpikir masalah profit. Tapi setelah lima kali gagal, dan ini kali keenam saya masih berjuang–ya anggap saja ini sebagai cara saya memperkenalkan apa itu organik.”

Ya ampun ini unik pisan. Telur rebus dicocol entah-rempah-apa-saja. Aneh, tapi saat kuning telur berpadu ulekan rempah-rempah ini, lha kok enak? πŸ˜†πŸ˜‚

Kopi robusta, komoditi petani kopi di daerah Wajo–dua puluh menit dari kota Pontianak.

Menurut saya sih, upaya Pak Umar memperkenalkan dapur organik berkonsep slow cooking from scratch ini nekat! πŸ™ˆ Meski saya tetap angkat topi melihat kegigihan beliau.

Warga setempat mungkin belum terbiasa dengan konsep seperti ini. Warteg dan Nasi Padang mungkin jauh lebih ‘mudah’ dari pada berkunjung ke Dapur Organik.

Padahal tempat ini keren sekali untuk mempelajari organic living. Sumber dayanya ada.

Yah, tapi urusan memasyarakatkan terkadang memang kembali kepada fungsi edukasi dari tatanan yang lebih tinggi sih :’)

Persis seperti celetukan Bapak Rugrats,

“Bisa jadi petani itu banyak, namun mata rantainya yang perlu diperbaiki.”

Yeah, what a big problem~

Suka! Teh (?) racikan jahe dan kunyit. Pas sekali menemani nasi goreng. Rasa hangatnya melegakan tenggorokan~ konon, racikan minuman ini didapat Pak Umar dari salah seorang pengunjungnya yang tinggal di Jerman.

Beliau, sekuat apapun berusaha menyederhanakan impiannya dalam kata-kata, matanya tetap saja berbinar menceritakan tentang budaya organik. Passion, hm?

Tiga setengah jam dari rencana awal yang hanya mampir untuk makan siang. Terlalu betah hingga rasanya seperti bertandang ke rumah paman jauh di desa–atau hutan, seperti katanya saat awal tadi menyambut kami,

Welcome to your jungle home!”

Jika ada satu hal yang mengena sekali di saya, itu adalah kekecewaan pribadinya kenapa ia baru beranjak ke konsep organik setelah sekian lama. Sekarang beliau berumur lima puluhan, dan ‘baru’ beberapa tahun ke belakang Pak Umar mempelajari tentang konsep tersebut.

Istilah ‘habiskan kegagalanmu di waktu muda’ tampak tak berlaku bagi beliau. Keinginan belajar dan berbagi Pak Umar meninggalkan kesana begitu kuat bagi saya pribadi.

Semacam bungalow yang sekaligus menjadi hunian Airbnb. Aduhh~

Bagaimana dengan usahanya? Well, belum dapat dikatakan menghasilkan output ‘bombastis’, namun Pak Umar tak henti-hentinya menghidupi keyakinannya akan Dapur Organik.

Harapannya kelak, Dapur Organik dapat memberikan inspirasi tentang bagaimana memaksimalkan bahan pangan melalui alam. Seperti kalimatnya di tengah-tengah sesi sharing tentang VCO tadi,

“Goal konsep organik adalah, kita harus tahu asal makanan yang disajikan di meja…”

Saya jadi teringat kutipan lain dalam poster himbauan yang dikeluarkan US Food Administration pada periode Perang Dunia I,

Food. Buy it with thought, cook it with care, use less wheat & meat, buy local foods, serve just enough, use what is left, don’t waste it.

Yah. Dunia memang bergeser. Padahal dulu sesuatu yang organik adalah hal yang memang ‘apa adanya’ serta dilakukan dengan hati. Kini, sesuatu yang organik menjadi komoditas yang terkesan ‘mahal’ karena telah mengarah menjadi tren.

So, now it’s your kitchen, too.” itu adalah kata-kata Pak Umar saat kami izin pamit.

Terima kasih, kapan-kapan kami mampir lagi! Dan terima kasih untuk telah menunjukkan bagaimana menghidupi mimpi. Bukan untuk sekedar mencari profit, namun memperkaya batin dan diri :’)

Hasil ‘jajan’ di dapur Pak Umar. Mumpung di rumah habis. Daaaan, beliau memetik daun pisang di halaman dong, untuk wadah jajanan saya ini. Perfect!

Seat 25 [MOVIE] : How far you’ll go?

0

What happens when you win a one-way ticket to Mars?

Itulah yang terjadi pada seorang perempuan introvert bernama Faye.

Faye Banks menghidupi kesehariannya yang normal dan monoton bersama Nicholas, suaminya yang easy going.

Disajikan dengan tone yang cukup lawas, Faye menjalani perannya sebagai istri yang pendiam sekaligus karyawan pasif divisi human resource di kantornya.

Kehidupan Faye yang datar mulai bergejolak, ketika ia memenangkan tiket ke Mars yang diadakan oleh ilmuwan (atau milyuner? Saya kok jadi teringat Elon Musk disini~).

Faye Banks. Pasif plus introvert, namun selera vintage fashionnya kok lucu *eh gimana~

Dalam hitungan minggu, Faye harus berangkat ke Mars. Tidak dapat mundur dan tidak akan pernah kembali ke bumi. Disini kegamangan terjadi. Ia tak mampu bercerita kepada keluarganya.

Film ini nyaris minim dialog. Cenderung datar dan monoton. Tapi ketika ditonton di waktu yang cukup luang dengan mood yang baik, feel-nya akan mengena πŸ™‚

Saya menyukai perspektif kamera yang digunakan di film ini. Entah istilahnya apa, haha. Tapi suka–salah satu alasan yang membuat saya ingin mengilustrasikan kembali beberapa adegan dalam film ini.

Ada satu adegan yang membuat saya mendengus, saat Faye mendadak dipasrahi tugas memecat karyawan-ia mendapatkan ‘promosi’, dimana job tambahannya adalah memecat karyawan. I feel you, Banks! πŸ˜‚ Faye yang super-pasif ini harus menyampaikan kabar buruk tersebut kepada orang-orang yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan karena berbagai alasan. Termasuk pada Teodor–salah satu karyawan lawas yang berhati baik. Duh.

Teodor. Rekan sejawat Faye yang tinggal seorang diri. Tipe karakter insecure lain di film ini, relatif pendiam. Porsinya sedikit, tapi sukses membuat sedih 😦

Eh tapi sungguh, memberhentikan orang itu tidak enak deh. Serius. Saya suka kepikiran keluarganya. Kadang, terpikir sampai rumah. Tidur tidak nyenyak πŸ˜₯ salah satu alasan minor yang membuat saya memutuskan resign dari kantor. Menghadapi berbagai jenis emosi manusia itu melelahkan mental saya πŸ˜‚ dan ternyata pertahanan saya ada batasnya. Tahu kan, karena jadi HRD kadang perlu sekalem mungkin menanggapi masalah πŸ˜‚

I feel you! Sometimes those feeling-related is sucks~ πŸ˜‚

Memandang Faye yang nyaris selalu bermuka sayu dengan tatapan menerawangnya–kecuali saat ia berinteraksi dengan Peter, tetangga sebelah rumah yang seorang pengangguran, membuat saya lagi-lagi turut merasa prihatin.

Tiket ke Mars ini, semacam dijadikan Faye sebagai upaya terakhir Faye untuk ‘kabur’ dari hidupnya. Melarikan diri dari pekerjaan memecat orang, dari Ayahnya yang seakan tak peduli lagi dengannya, dari Nicholas yang selalu sibuk. Dari segalanya.

Suka sekali chemistry Peter & Faye. Lebih mengena daripada Faye & Nicholas~

Nah, menonton film ini, saya seperti diingatkan akan pentingnya mencoba membuka diri.

Tekanan akan selalu ada dari manapun, begitu juga kondisi-kondisi yang tidak serta merta dapat diubah.

“Begitu doang masa stres?”

Realitanya, ya. ‘Begitu doang’ bisa berarti masalah besar bagi orang lain.

Faye, tak dapat mengeluarkan emosinya sesuka hati. Ia memendamnya jauh. Hingga akumulasinya adalah secara acak mengikuti kompetisi Mars tadi–terlepas ia memang memuja petualangan luar angkasa sedari kecil. Ia mengambil keputusan sepihak, tanpa berdiskusi pada siapapun tentang niatnya itu.

Termasuk meninggalkan Nicholas. Dan Faye salah tentang dugaannya selama ini. Bukan hanya dirinya yang memendam semua tekanan, Nic pun juga demikian.

Baginya, semua akan baik-baik saja karena tak ada yang benar kehilangan. Saya jadi teringat lagi obrolan tempo hari dengan Mbak Agatha disini.

Film ini memiliki rating IMDb kecil. Hanya lima dari sepuluh. Namun diganjar enam penghargaan dalam festival internasional. Kok bisa? Sok, coba dilihat deh. Mungkin bakal ketemu clue kenapa bisa begitu.

Bagi saya pribadi, ini bukan sekedar kisah seorang perempuan memenangi satu tiket ke Mars. Di film ini Saya disuguhi dinamika psikologi seorang Faye yang selama ini menutup diri hingga ‘terpaksa’ mengambil keputusan ekstrim–sesuatu yang dianggapnya sebagai keputusan terbaik.

Saya membayangkan Faye yang didera perasaan campur aduk atas keputusannya itu. Semakin mendekati waktu kepergiannya dan semakin memberatkan. Konyolnya lagi, ia bahkan tak punya cukup nyali untuk bercerita–atau mungkin tepatnya, tak sungguh yakin mampu menghadapi bentuk emosi lingkungan terdekat yang akan ia hadapi. Kasarnya, Faye ini terkesan meribetkan diri. Ribet, tapi kasihan πŸ˜₯

Nicholas yang marah kemudian bertanya kenapa Faye tak mau bercerita hal sepenting itu.

Faya bukannya tak mau. Ia tak bisa. Kenapa? Karena ia adalah pribadi yang tertutup dan pasif. Ia (mungkin) memiliki rentang kekhawatiran yang akan terjadi seandainya ia menceritakan niatnya.

Mungkin Nic akan melarang?

Atau Pandora–adiknya yang populer–akan mencemooh?

Peter bahkan berkata bahwa kehidupan di bumi jauh lebih baik daripada Mars–berkaca bahwa ia pengangguran yang tidak dihargai istri, haruskah Faye menurut?

Untuk pertama kalinya Faye membuat keputusan gila. Kali pertama ia menemukan ‘kendali’ atas hidupnya yang membosankan.

Semua orang melarang, menyayangkan, kecewa. Beberapa karena keputusan Faye, sebagian lagi karena meratapi kehidupan mereka (?).

It’s just, wow.

Merasa galau setelah menonton film ini? Pergi, carilah teman terdekat yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi. Barangkali kamu hanya ingin didengar saja, kan?

Seperti tagline di awal tulisan ini,

What happens when you win a one-way ticket to Mars?

Apakah kamu akan ‘melarikan diri’ dari kehidupanmu yang membosankan alih-alih berusaha memperbaiki, atau sebaliknya?

Well done, Faye Banks.

[Walk the Talk] ‘Peluang’ itu memiliki empat huruf, berawalan K dan berakhiran S

3

An enthusiastic heart finds opportunities everywhere ~ Paulo Coelho

Menjadi wanita karir adalah cita-cita saya, dulu. Rasanya keren betul memakai setelan formal ditambah satu cup kopi (meski saya tak suka kopi), atau mengetik di depan Mac keluaran terbaru. Sungguh cita-cita produksi era milenium πŸ˜‚

Saya tak siap menjadi ibu rumah tangga dengan segala kompleksitasnya, saat itu. Kekhawatiran terbesar tentu masalah rejeki. Oh, sungguh payah sekali ya, meremehkan kuasa Tuhan masalah rejeki ini.

Ketakutan itu masih suka mampir, hingga saya ngobrol dengan Mbak Jet.

Ada yang suka menguji peruntungan lewat undian atau hal serupa? Togel deh, semisal kurang ekstrim πŸ˜‚ Pernah? Saya pernah beberapa Kali iseng ikut give away atau sejenis, tapi banyak gagalnya πŸ˜† Sinis saya waktu itu,

“Ah, ikut beginian mah pasti sekalian si empunya hajat pilih yang followernya banyak, sekalian promosi.” Su’udzon pisan pokoknya.

Kalimat saya itu dibantah habis oleh Mbak Jet, kakak angkatan Gardep Dagadu yang dulu sering saya kira galak πŸ˜†πŸ˜‚

Kok dibantah? Iya karena dia memang langganan menang kuis. Asli, sampai heran dan takjub loh saya 😣

Dia–dan Mas X, si suami–terbilang sangat sering mengikuti kuis di Instagram. Dan menang.

“Tahu dari mana sih, Mbak? Ada semacam grup quiz hunter begitu kah?” tanya saya saking herannya dengan kecepatannya submit materi kuis. Setahu saya, kalau di Twitter dulu ada komunitas hunter semacam ini. Karena kebetulan ada anak Gardep Dagadu yang ciamik sekali tingkat hoki-nya.

“Mungkin ada, sih. Tapi aku nggak tau juga. Hehe. Kalau aku ya paling team-up sama Mas X, atau beberapa temen yang emang suka ngulik kuis, tukeran informasi. Hehe.” tukasnya.

Lha iya juga, sih.

Lalu resep menang kuis? Sepertinya sih tidak ada, karena kembali ke peruntungan tiap orang. Atau kata Mbak Jet, rejeki.

“Kayaknya rejekiku memang lewat kuis-kuis ini, sih. Aku resign, ikut suami. Nggak punya gaji. Ehh malah dikasih rejeki dalam bentuk yang lain.”

Saya terdiam. Iya, ya.

Mas X, suami Mbak Jet, lain kisah lagi. Konon, dulu ia mengajak Mbak Jet untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius saat mereka sedang piknik ke Maldives. ((piknik)).

Oke. Maldives. Tapi kamu harus tahu apa lagi yang membuatnya istimewa,

Yak! Jalan-jalan ke Maldives pun didapat Mas X dari menang kuis! πŸ˜‚ What kind of~

Mau dilamar disini? Lebih canggih lagi kalau kesini gratis-tis-tiss~ 😣

Club Med, pun. Mendengar cerita Mbak Jet, saya cuma cengar-cengir.

Duh, kayaknya kok heboh banget ya, menang kuis doang. Tapi seheboh apa sih, hadiah-hadiah yang sudah didapat?

Well,

Kamera instax adalah hadiah pertama yang Mbak Jet dapat dari kuis. Diadakan oleh salah satu pabrik yang memproduksi biskuit, kalau tak salah.

Di waktu yang berbeda, ia memenangkan dua smartphone keluaran terbaru gara-gara iseng ikut di dua jenis media sosial.

Foto pembawa hoki. Gara-gara foto ini, dia mendapat dua smartphone~ duh Oppa…

Di lain hari, suami-istri ini sama-sama mendapat hadiah smartphone dari perhelatan yang sama.

Laptop? Pernah. Kamera? Sudah, kan. Voucher belanja? Paling sering kalau saya lihat. Ya begitu deh.

Loh, kok tahu? Coba deh main ke akun Instagramnya @rezadiasjetrani πŸ˜‚πŸ˜

Si Mas X 😁 , oya Mbak Jet ini memang susah diam. Hahaha. Hobinya keluyuran. Nah, saya ikuti akunnya gara-gara suka dengan foto jalan-jalan plus captionnya yang suka kocak πŸ˜‚

Namun saya suka sih melihat foto-foto materi kuis yang mereka bikin, niat. Dan…sampai dijadwal malah akan mengikuti kuis apa saja. Ckckck. Quiz hunter tingkat advance ini mah~

Suatu ketika saya penasaran akan satu hal, seberapa sering sih dinyinyir orang karena kerap mengunggah foto materi kuis di akun media sosial?

Dan,

“Sering banget! Sering disindir-sindir nylekit malah. Misal,

“‘Iya dia kan selo, namanya juga nganggur,’

atau,

“‘Aduh, kalau aku sih sibuk kerja ya. Jadi nggak sempat lah mainan kuis kayak kamu.”

Komentar netizen memang pedas ya Mbak~ Nih, kurang niat apa coba ah sampai foto begini sama botol sambal πŸ˜£πŸ˜†

Hell yeah, mahabenar netizen dengan segala kejulidannya~

Menanggapi itu semua, awalnya Mbak Jet tersulut kesal. Namun lama kelamaan ia tak ambil pusing 😬 iya lah, meladeni komentar seperti itu memang melemahkan energi.

Kini, pungkasan favoritnya,

“Iya, nganggur nih. Tapi yang penting aku bisa beli ini itu nggak kudu capek kerja kayak kalian~” πŸ˜‚

Iya, nganggur nih. Tapi bolak-balik dapet smartphone e. Kamu piye?

Membaca ini semua, mau tak mau saya ikut malu. Pada diri sendiri, tentu. Saya jadi teringat kata-kata seorang teman saat saya menanyakan keyakinannya untuk keluar dari pekerjaan. Beberapa tahun lalu.

“Bumi Allah itu luas, Sep. Yakin ajalah, kalau kita berusaha, pasti ada aja rejekinya.”

Telak.

Dalam kasus Mbak Jet, Tuhan membersamai keluarga kecilnya dengan rejeki berupa hadiah kuis-kuis itu.

Kira-kira kalau hasilnya gambling macam kuis, kamu bakal seiseng ini nggak? Foto macam #fallingstarschallenge di area publik? Kalau Mbaknya ini sih minimal cari kuis yang bernilai 200 ribu rupiah minimal. Lah? Harga sebuah rasa malu dan effort lain. Ahahaha

Gas mahal? Astaga, Mbak Jet bahkan menang kuis yang hadiahnya tabung gas beserta stoknya! πŸ˜£πŸ˜‚

“Ngapain malu, halal ini. Makanya aku seriusin sekarang. Selama masih mampu dan masuk akal.” sahutnya singkat.

Oya, sebelum memutuskan ikut suami ke Pamulang, ia sempat bekerja mengisi konten sebuah media. Dasarnya memang suka mencari kesibukan, alhasil ‘kesibukan’ yang ini berfaedah sekali yak~

Mengutip kalimatnya,

“…tiap orang kan beda-beda. Ada yang beruntung dengan diberi pekerjaan yang mapan, ada juga yang diberi kemudahan rejeki meski nggak kerja, ada pula yang dikasih suami kaya raya yang kita nggak ngapa-ngapain juga tetep hore. Nggak perlulah nyinyirin hidup orang. Cukup saling dukung dan nggak berkata yg ‘menyebalkan’ meski konteksnya bercanda.”

Jadi sudah yuk, jangan pernah meremehkan status teman, keluarga, saudara, kerabat siapapun–apakah menjadi ibu rumah tangga atau pekerja kantoran. Nikmat dan tanggung jawabnya sudah diatur sama Tuhan, selama kita masih bersemangat menggapainya di jalan yang benar :’)

Apa-apa, kalau mau berhasil memang kudu niat. Antusiasme itu mutlak!

Coba deh, tanya Mbak Jet ada kuis apa saja. Tenang, nggak akan gigit. Pasti dijawab πŸ˜† karena toh rejeki masing-masing tak akan tertukar :’)

Nah, coba ikut kuis lagi nggak, nih? *Eh

[Going30] Derak kayu, Rerimbunan Pohon Dedalu, dan Sebuah Doa Kecil.

0

Sebagai orang yang relatif ribet tapi (sok) ingin ‘menjelajah’, berpergian dengan dua anak kecil itu memang perlu legowo πŸ˜‚

Kebetulan Bapak Rugrats lebih suka memegang dua anak kecil ini daripada dimintai tolong untuk mengambil foto πŸ˜‚πŸ€£

“Kamu aja, ntar angle nya nggak pas malah bete kamu~” πŸ˜‚πŸ™ˆ

Seperti kemarin ini.

Rumah Keluarga Tjhia adalah tujuan kedua kami di Singkawang. Lagi-lagi, masih melanjutkan perjalanan random kemarin. Mumpung langit cerah dan (tetap) panas, kan?

Teralis yang mengingatkan saya pada bentuk kue bingke yang legit itu~

“Ini tempat apa?” tanya Cupis sambil berkeliling, tepat saat kami sampai disana. Alisnya sudah mulai berkerut, heran. Pada satu titik saya bersyukur karena Cupis memang cukup mudah tertarik dengan hal baru.

“Rumah orang Cina, Bhi. Bagus, deh.” sahut saya.

Seperti yang telah banyak diulas, saya mempersiapkan diri untuk bingung dan penasaran tentang informasi detail disini. Seharusnya saya bisa mengetuk rumah salah satu keluarga yang memang tinggal memutari bangunan utama–untuk mendapatkan kisah lengkap tempat ini langsung–yang sayangnya tidak saya lakukan πŸ™ˆ

Karena rumah-rumah ini memang masih dihuni. Terletak di sisi kiri bangunan utama.

Begitu masuk gerbang, kami disambut sepetak rumah tanpa isi dan sekat apapun untuk dimasuki. Tertera sedikit penjelasan mengenai tata cara semisal ingin menyewanya untuk suatu keperluan, ditempel seadanya di depan daun pintu.

Oke, penjelajahan pertama.

Kami melepas sepatu dan sandal karena memang diharapkan begitu, dan dengan cepat ruangan yang cukup luas itu menjadi arena berlari Bapak-anak Rugrats πŸ˜‚ lumayan, saya bisa sejenak mengamati detail bangunan ini. Didominasi susunan kayu, bahkan warna cat nya mengingatkan saya pada beberapa film Tiongkok lawas. Suka sekali!

Do you spot her? πŸ™ˆ Ibu ini adalah salah satu penghuni rumah di sekiling bangunan utama.

Bangunan ini–seperti yang saya baca–telah beberapa kali dicat dan diperbaiki. Kerennya lagi, konon bangunan disini masih sangat dipertahankan bentuk aslinya.

Selepas dari bangunan pertama, kami masuk lagi lebih ke dalam. Sedikit takjub melihat seorang ibu yang tampaknya baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk, tengah menjemur pakaian πŸ™ˆ dan yang kami temukan kemudian adalaaaah,

halaman!

Oh, I love backyard! Karena Cupis bisa menghabiskan energinya disitu dengan berlari kesana-kemari πŸ˜‚

Sebelah kanan adalah bangunan yang kami masuki pertama, lalu yang kiri merupakan tempat sembahyang. Nah, di tengah-tengah inilah sepetak halaman menyelamatkan kami dari kicauan Cupis yang mulai bosan πŸ˜‚

Cantik ya. Selalu suka tempat seperti ini, tempat-tempat yang dindingnya saja bisa memiliki cerita. Sebenarnya tergoda sekali ingin naik ke lantai dua namun akses jalannya dihalangi oleh semacam papan kayu tipis.

Sudut ini saya ambil dari halaman tempat Cupis berlarian. Entah apakah dihuni juga atau tidak. Andai saya bisa membaca susunan huruf di atas pintu itu, ya. Penasaran.

Pagi itu cukup sepi, jadi kami bisa agak leluasa. Hanya ada serombongan turis luar yang saya duga berdarah Tionghoa ditemani satu pemandu berhijab, datang tak lama setelah kami tiba. Entah kenapa saya senang melihat mereka :’)

Pagar kayu ini masih kokoh, loh. Tampak lapuk namun lebih kuat dari yang saya bayangkan.

Sudut dinding ini menarik perhatian saya. Satu-satunya kenangan tentang seseorang yang memakai busana seperti ini adalah film-film lawas yang diputar tiap hari Jumat selepas Jumatan, sinema layar kaca di salah satu televisi swasta. Kini, saya memandang langsung (yang sepertinya) salah satu foto leluhur pemilik tempat ini. Apakah ini Xie Shou Shi yang tersohor itu?

Mereka sibuk mendiskusikan leluhur atau semacamnya saat saya beberapa kali mengambil gambar di depan pagar tempat sembahyang.

Bibi ini terdiam cukup lama, mengintip dari sela-sela jendela ke dalam ruangan. Mungkin membayangkan leluhurnya? Perjalanan panjang yang mungkin melintasi benua atau sekedar beberapa negara(?). Wanita ini merupakan bagian rombongan. Sementara yang lain lebih suka menempel pemandu mereka, beberapa memilih menjelajahi sendiri bangunan ini.

Lorong ini merupakan sayap kanan kawasan cagar budaya. Saya melewati salah satu rumah dan mendapati sekelompok pemuda Tionghoa tengah mengobrol. Iya, memang sealami itu. Lihat pria berumur di ujung? Ia adalah salah satu anggota rombongan tadi.

Dan disini, dimulailah drama yang lain πŸ˜‚

Cupis mendadak ingin buang air kecil, setelah kecapekan lari kesana-kemari. Dan ia ingin ditemani Bapak Rugrats~

Karena tak menemukan toilet, kami menuju bagian belakang kawasan cagar budaya. Dan, rasanya seperti dua tempat berbeda.

Whoa. Starry Starry Night~

Untuk mengambil foto ini, kaki saya menapaki gundukan tanah bekas area membakar sampah yang ditumbuhi ilalang hingga sepatu saya nyaris melesak ke dalam, sementara tangan saya terulur di atas kepala sepanjang yang saya mampu–mengambil foto tanpa melihatnya πŸ™ˆ Entahlah apakah masih dihuni atau tidak. Namun lampionnya tampak masih bagus~ rumah ini saya temukan di pinggir jalan kecil dekat jembatan, tepat di belakang kawasan cagar budaya.

Separuh diri saya setengah berharap sampah-sampah di beberapa sisi sungai yang cukup lebar ini bisa dihilangkan saja dengan penghapus πŸ™„

Airnya keruh, sedikit berbau.

Berjalan di pinggiran sungai ini membuat saya membayangkan kondisi saat pertama kali Xie Shou Shi–perintis marga Xie/Tjhia–menemukan tempat ini dan menggarap tanah tandus berwarna cokelat kekuningan hingga berkembang.

Saya tak akan lupa bunga kecil yang cantik ini. Satu-dua genggam yang kerap dipetik di halaman belakang rumah kontrakan Pakualaman, dan direbus Ibu saat saya batuk parah, ditambah beberapa buah gula batu. Melihat ini kemarin, rasanya ingatan saya dihempaskan jauh ke belakang.

Meski upaya menambahkan mural di dinding sebenarnya cukup membantu memberi warna, saya akui. Ah, semoga suatu hari sungai itu bisa kembali bening~

Kami kembali sebentar ke dalam. Melewati rimbunnya pohon dedalu atau willow tree yang tampak sedemikian damai ditiup angin di siang yang panas itu–konon ditanam Xie Shou Shi agar mirip kampung halamannya di desa Jian Mei, Fujian Tiongkok sana–saya jadi teringat puisi lawas yang tak sengaja saya baca,

Two birds flying high,
A Chinese vessel, sailing by.
A bridge with three men, sometimes four,
A willow tree, hanging o’er.
A Chinese temple, there it stands,
Built upon the river sands.
An apple tree, with apples on,
A crooked fence to end my song.

Semoga damai menyertai kita semua.

[Going30] Bakmi Bakso 68 : Harga Semangkuk Rasa Bangga

0

Hari kedua di Singkawang, kami memutuskan untuk melewatkan sarapan di tempat menginap. Ada satu tempat di Jalan P. Diponegoro yang kami incar untuk sarapan. Biasa, hasil ‘berburu’ di Google maps πŸ˜‚

Saat kami tiba, tempat tersebut belum sepenuhnya selesai dibereskan meski papan tanda ‘buka’ sudah terpajang di depan.

Bakso Sapi dan Bakmi Ayam 68–yang ternyata bisa ditemui juga di Jakarta–ternyata justru kami cicipi jauh-jauh hingga Singkawang πŸ™‚

Kami pengunjung pertama pagi itu. Agak bingung ingin memesan apa, namun karena nama tempat ini menonjolkan Bakmi Ayam dan Bakso Sapi, dua menu itu yang dipesan. Plus Semangkuk bakso polos untuk Cupis.

“Minumnya?”

“Ada apa saja?” balas saya, berharap menemukan satu yang asing di telinga.

“Es teh, es jeruk, Nam Mong–”

“Oh ya, Nam Mong!” potong saya saking bersemangatnya. Saya sempat membaca nama menu minuman ini di sebuah ulasan dan jadi penasaran πŸ™ˆ

Jujur, saya bahkan tak tahu minuman macam apa Nam Mong ini πŸ˜‚

Sambil menunggu, saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tempat makan ini berbentuk memanjang, terbagi dua oleh dinding berjendela. Sepertinya bagian depan tempat saya makan ini awalnya adalah halaman. Saya tak bertanya lebih lanjut sih πŸ˜‚

Pesanan kami tiba, sangat mengundang selera dengan uapnya yang masih mengepul.

Seperti biasa, Cupis selalu enggan sarapan terlalu awal. Saya mengambil satu botol berisi cairan hitam–kecap. Iya, Cupis memang anak kecap–senjata terakhir kalau dia sudah mulai picky-eater ya kecap.

“Mbak, kecap manisnya di botol yang tinggi.” Mendadak kami dikejutkan oleh si pemilik yang duduk di meja kasir. Ah, rupa-rupanya ia menyimak percakapan kami πŸ˜‚ untunglah diberitahu, karena kalau tidak Cupis bakal makan bakso kuah asin πŸ™ˆ

Baksonya bagaimana? Enak! Saya rindu bakso sapi yang ndaging seperti ini. Huhu. Kuahnya light, dan kok saya suka ya dengan kecambah yang ditambahkan? Tumben sekali 😁

Basic skill in motherhood : gendong anak sambil makan bakmi pakai sumpit πŸ˜‚

Sambil makan, saya tak henti-hentinya menatap foto-foto yang dipasang hingga memenuhi dinding. Nyaris semuanya adalah orang terkenal. Saya bahkan menemukan pasangan pebulutangkis Alan dan Susi Susanti.

Hei, apakah saya sudah menyebutkan pemilik tempat makan adalah sosok pemerhati? πŸ™‚

Melihat saya sibuk mengobrol sambil menunjuk beberapa foto, tiba-tiba ia bangkit dan mulai menceritakan foto-foto yang ada di sisi kanan saya. Matanya berbinar saat bercerita tentang Willy Dozan. Deru Debu, remember? πŸ™ˆπŸ˜‚πŸ‘Œ

“Gara-gara Willy Dozan, kami jadi diliput TV Hongkong. Saat itu ia masih bekerja di televisi sana.”

“Wah, bukan media lokal malah Ce?” Saya jadi ikut penasaran.

Yang masa kecilnya nonton Deru Debu mana suaranyaaa~ yang kiri ini pemiliknya. Ayah si Cece tadi (kalau tak salah menyimak). Coba deh gunakan tagar #baksosapi68 πŸ˜‚ niscaya akan menemukan Bapak ini.

Ia lalu mengajak saya ke bagian belakang area makan, menunjukkan foto si aktor laga saat masih muda. Agak awkward sih, soalnya ada dua pemuda sedang makan di sisi foto yang digantung tersebut πŸ˜‚ πŸ˜‚ sampai disini saya hampir yakin kalau Willy Dozan adalah pelanggan setia disini. Foto yang dipajang saja sampai dua, lho. Satu foto berpigura malah foto pria itu sendirian–semi pas foto di studio, tanpa karyawan atau pemilik tempat ini.

“Cece generasi ke berapa?” tanya saya penasaran.

“Ketiga.” Sahutnya sambil mengangkat tiga jari.

Dan baru saya hendak duduk, ketika si Cece tadi masih bersemangat menunjuk satu bingkai foto–satu dari beberapa foto saja yang dibingkai di belakang kami. Oke, Dian Sastro dan Oka Antara.

Saya sudah melihatnya tadi sekilas. Dan langsung ingat kilasan adegan di buku Mbak Laksmi. Tapi tak sungguh menyangka kalau mereka mengambil adegan di tempat ini juga.

“Foto saja.” Lagi-lagi Cece yang baik hati itu mempersilakan. Saya mengangguk dan mulai mengambil gambar.

Casts ‘Aruna dan Lidahnya’. Hai Mas Farish, Mbak Aruna! πŸ˜†πŸ‘Œ

“Waktu itu Papa saya pas nggak ada. Jadi saya yang foto bersama mereka.” tukas Cece itu dengan bangga. I know how it feels! :’)

Dan ketika saya berniat (lagi) melanjutkan mangkuk bakso saya yang belum habis,

“Mau saya fotokan? Sini, Mbak duduk di kursi yang sama dengan Dian Sastro dan Masnya di sana. Jadi posenya mirip mereka di foto itu.”

“….”

Saya melirik Bapak Rugrats yang anti difoto dengan pose tertentu. Mungkin karena merasa tak enak, Bapak Rugrats langsung bangkit. So, here we are πŸ˜‚πŸ‘Œ

Casts ‘Karunya ya tampangnya’ πŸ˜‚πŸ€£ duh Ce, kalau nggak karena respek pisan sama Cece mah nggak bakal deh kami berpose lengkap begini. Tuh kan, absurd! πŸ˜‚

Setelah dua – tiga kali berpose sama, kami kembali ke tempat duduk. Namun,

Lihat Cece yang duduk di kasir, mengenakan kaos merah? Cece itulah yang sedemikian baiknya bercerita pada kami tentang tempat ini.

“Jangan lupa ya, nonton di bioskop tanggal 27 September nanti. Aruna dan Lidahnya! Ada Bakmi 68!”

Loh, kok promo~ πŸ™ˆ Namun saya mengangguk mengiyakan. Hehe.

“Kamu kok mau difoto tadi? Tumben?” tanya saya pada Bapak Rugrats di mobil.

“Kamu liat nggak, ekspresi Cece tadi?”

Dalam hati saya mengamini. Dan jika ada yang bertanya apakah harga makanan disana murah atau mahal, mungkin saya akan menjawab bahwa yang kami beli bukan hanya dua mangkuk bakso dan bakmi serta dua gelas minuman. Namun ‘membeli’ sejarah, rasa bangga, serta keramahan yang tulus sekali. Kamu harus melihat bagaimana ekspresinya saat menceritakan foto-foto orang penting yang makan disitu; tak henti-hentinya terselip senyum dengan tone suara yang bersemangat.

Pagi itu mungkin kami pengunjung terlama yang makan di tempat.

Es Nam Mong. Saya tak dapat mendeskripsikan dengan tepat rasanya. Pokoknya asam, manis, sedikit asin~ unik saudara-saudara! Kalau kata Cecenya sih ini merupakan hasil fermentasi jeruk nipis atau semacamnya :’)

Catatan :

Yakin, ndak mau foto kayak Mbak Dian Sastro sama Mas Oka Antara? πŸ˜‚Baksonya enak deh. Serius.