YOLO, so does your kids

0

Children need the freedom to appreciate the infinite resources of their hands, their eyes and their ears, the resources of forms, materials, sounds, and colors ~ Loris Malaguzzi

Kaki saya baru saja menginjak salah satu–dari berjuta-juta–mainan Cupis yang lebih sering tersebar bak ranjau daripada masuk ke dalam kotak.

Entah sudah berapa kali saya mencoba berkomitmen dengan diri sendiri untuk tidak terlalu sering membelikan Cupis mainan. Dulu, sewaktu masih bekerja, saya terbilang cukup impulsif untuk membelikannya mainan. Dalam alam bawah sadar, mungkin ini semacam self-compromising atas perasaan bersalah karena telah meninggalkan Cupis untuk bekerja.

Para ‘ranjau’ 😂🙄

Cupis senang, tentu. Matanya selalu berbinar-binar ketika saya membawakan paket-paket yang akan ia buka. Sejauh itu saya berpikir bahwa sikap saya menghujani Cupis dengan mainan itu tak masalah. Maksud saya, siapa sih yang tak suka kejutan, kan? Dan saya hanya ingin membuat Cupis senang.

Jujur, saya terkadang iri dengan Bapak Rugrats. Dia selalu bisa ‘mengambil hati’ Cupis dengan bermain. Dimanapun, kapanpun, dengan atau tanpa mainan, Bapak Rugrats selalu mampu menemukan sesuatu untuk dijadikan mainan bersama Cupis. Hmm

Bapak Rugrats, his forever idol!

Saya akui, saya bukan tipe yang mudah heboh dengan hal-hal kecil. Saya tidak suka keributan. Saya bisa mendadak stress jika mendapati sesuatu yang berantakan 😂 sounds that bad, huh?

Di satu titik, saya bisa ‘terjebak’ dengan euforia Pinterest seketika. Saya terpesona dengan A-Z permainan-permainan do-it-yourself. Saya pikir,

“Mari buat satu, Cupis pasti senang!”

Dan bersemangatlah saya mengutak-atik semuanya. Kertas, karton, koran, krayon, spidol, gunting, lem–semua hal yang sekiranya (dalam bayangan saya) menciptakan wow moment esok saat Cupis bangun pagi.

‘Korban’ Pinterest–tapi terlalu suka! Bagaimana dong??

Kenyataannya, anaknya biasa saja. Dia lebih tertarik dengan prosesnya ketimbang hasil akhirnya. Saya? Saya kebalikannya. Saya ingin prosesnya sempurna, tidak terganggu apapun.

Imbasnya, Cupis tidak terlalu tertarik. Ia hanya akan memainkannya sekian menit, lalu beranjak ke mainan lawasnya. Sakit hati? Sedikit! Hehehe. Ya gara-gara saya berharap Cupis akan berbinar secerah lampu Indomar*t, memeluk dan menciumi saya karena saya berhasil membuat sesuatu yang bombastis (bagi saya) 😂😂

Yang receh malah paling favorit. Retjeh for lyfe ya, Nak! 🙌👌

Bapak Rugrats pernah berkomentar–saat itu Cupis menolak memainkan mainannya bersama saya,

“Kamu kalau sama dia itu bukan ‘main’, tapi sekedar menemani main.”

“Maksudnya?”

“Kamu nggak terlibat dalam permainannya.”

Itu tamparan! 😥 Yang kemudian membuat saya berpikir banyak. Diam-diam saya mengamati interaksi Bapak-anak itu. Cupis banyak tertawa. Seperti bermain dengan teman sepantaran. Saya bandingkan saat bersama saya. Berbeda. Iya, saya banyak mengomel. Banyak tidak boleh ini-itu. Tapi~ ah, sudahlah. Disitu saya merasa sedih 😥

Well, Cupis hanya perlu teman bermain. Terlibat penuh menjadi bagian timnya Catboy, menjadi pembeli es krim bayangannya, menjadi masinis kereta Thomasnya, jadi pohonnya, jadi apa kek. Bukan menjaga sekedar macam sipir. Parah, ya 😓

Sebenarnya iri, akutu…

Bahkan, kemungkinan Cupis tidak perlu semua mainan mahal atau bermerk. Mungkin.

Cupis cuma perlu diperlakukan ‘dewasa’ (saya sedang mencoba semaksimal yang saya mampu, menempatkan diri sendiri dan diri Cupis. Kapan saya harus menganggap dia ‘sudah besar’, atau ‘masih kecil’).

Bisa jadi bukan sekolah yang benar-benar diperlukan Cupis sekarang. Tapi Ibunya, seseorang yang menghabiskan waktu nyaris duapuluhempat jam bersamanya. Golden age seyogyanya memang dirayakan bersama seseorang yang melahirkannya, kan? 😶

“Lha, sekarang emang nggak, Buk?”

Iya. Namun seringnya, badan dimana pikiran dimana. Judulnya bermain bersama Cupis, namun otak penuh ‘besok kudu masak apa?’, ‘itu cucian apa kabar?’, etsetera, etsetera~

Mungkin seharusnya kemampuan pikiran untuk multitasking perlu di freeze dulu sewaktu bermain bersama Cupis. Here and now.

Harus begitu, semestinya.

Iya ya, ternyata saya ingin menjadi teman bermain Cupis juga.

Karena cucian kotor, nasi belum dimasak, baju masih berantakan di keranjang, isi susu kotak berceceran, spidol hilang tutupnya–semua itu bisa ‘menunggu’.

Cupis, dalam sekejap sudah sibuk dengan kehidupannya sendiri. Dan tidak akan repot-repot ‘menunggu’ lagi.

“Ibuk jadi penjahatnya, ya! Aku jadi Catboy!” ~Cupis, 4yo

Hanya dengan jepit jemuran saja sudah bisa jadi mainan. Ah, anak-anak memang paling kreatif! Kadang, menjadi dewasa membuat kita terlalu banyak melabeli sesuatu dengan ‘seharusnya’ atau ‘semestinya’. Break some rules, he?

Ayo, mulai dari nol lagi, Nak.

Rumah : Kumpulan Rasa

0

In the childhood memories of every good cook, there’s a large kitchen, a warm stove, a shimmering pot, and a mom ~ Barbara Costikyan

Ibu saya (dulu) suka mencoba memasak menu-menu baru. Saya mengalami masa-masa saat beliau suka bereksperimen dengan bumbu dan bahan. Detik ini, entah kenapa saya teringat crackers goreng isi tape yang dibuat Ibu saat sarasehan warga kompleks di rumah. Saat itu saya masih sekolah dasar.

Iya, itu dulu.

Meski bisa dibilang peralatan masak Ibu cukup banyak (sebagian besar hasil membeli saat demo arisan atau hibah dari rumah Mergangsan 😃), kini Ibu sudah kehilangan minat untuk memasak aneka rupa.

“Sudah, Ibu capek.”

Namun ada satu masa ketika Ibu akan bersusah payah mengambil panci-panci besar berdebu dari dalam lemari–jenis panci berpantat tebal hasil ‘warisan’ Mbah Buyut yang kualitasnya jauh bila dibanding panci masa kini, membeli arang, dan mempersiapkan anglo,

Lebaran.

Musim boleh berganti. Saya, sebagai anak sulung bisa jadi per dua tahun baru bertandang. Tetapi ritual memasak saat lebaran adalah keharusan.

Dua hari sebelum lebaran Ibu akan sibuk berbelanja ke pasar. Untuk beberapa bahan, dibeli jauh-jauh hari. Pasar bisa menjadi kejam saat hari besar tinggal menghitung jam.

Sejak selepas subuh di hari terakhir Ramadhan, Ibu mulai sibuk. Kalau dulu saat Bapak sehat, Bapak lah yang akan memotong sendiri dua ayam kampung yang dibeli di Pasar Terban. Saya pernah ikut beberapa kali saat kecil.

Bagian favorit saya (yang mana sering gagal) adalah membuat ketupat dan lontong. Aroma daun pisang ataupun janur beradu beras yang tercuci bersih itu menenangkan.

Di sisi lain rumah, Ibu akan sibuk ‘membuat’ api dari tumpukan arang. Bertahun-tahun di masa remaja, saya selalu dikomentari sudut yang tepat agar api menyala diantara arang, tanpa menimbulkan kabut ke seisi rumah.

Dua anglo dengan dua panci besar. Masing-masing terisi materi opor ayam kampung dan deretan lontong. Kami bertiga (lebih sering Ibu) bergantian menipasi mulut anglo.

Butuh berjam-jam untuk membuat masakan itu final dengan rasa yang sempurna meresap. Dan nyaris selalu sama di tiap tahunnya; masakan selesai tepat menjelang buka puasa–paling terlewat adalah saat takbir mulai dikumandangkan ke udara.

Maka kami, anak-anak Ibu yang kelaparan, akan berebut mengambil irisan lontong lalu memilih satu potong daging yang telah melunak lembut beserta kuahnya yang legit. Menaruh beberapa potong krecek pedas di sisi piring, sambal goreng tempe kentang, dan acar nanas. Tak lupa kerupuk udang yang lebar. Duduk bersama, di sekitar meja makan sambil menonton acara televisi.

Terkadang, di beberapa Ramadhan Ibu sering berkata bahwa beliau bosan memasak. Namun hal itu selalu wacana.

Pada akhirnya, Ibu akan selalu berakhir di dapur, memasak semua menu dan memastikan dengan seluruh inderanya, memastikan semua anggota keluarga senang dan kenyang.

Selesai?

Belum! Masih ada berwadah-wadah opor ayam kampung, sambal goreng krecek, acar, kerupuk, lontong, dan ketupat yang dibagikan ke tetangga kiri dan kanan, tukang sampah kompleks yang sudah sepuh namun baik sekali, pengasuh adik saat balita dulu, penjaga masjid kompleks, atau bahkan sekuriti kantor lama ibu.

Dan ketika saya iseng mengingatkan beliau,

“Katanya capek, Buk?”

Ndak apa-apa. Kasihan kerja pada capek kadang ndak sempat masak apa makan opor.”

Bertahun-tahun, dan belum pernah berganti.

Dan sekarang, sekian mil dari rumah, saya mendadak merindukan anglo tembikar, aroma lontong saat tutup panci yang berat itu dibuka, serta gelegak panas si opor ayam.

Jarak, selalu mampu memberikan ruang pada kenangan untuk diputar kembali.

Lapar? Saya juga.

[Walk the Talk] Calming the Baby Blues

0

Motherhood is a choice you make everyday, to put someone else’s happiness and well-being ahead of your own, to teach the hard lessons, to do the right thing even when you’re not sure what the right thing is. And to forgive yourself, over and over again, for doing everything wrong ~ Donna Ball.

Kalau boleh jujur, kehamilan anak pertama adalah kehamilan yang dipersiapkan semaksimal mungkin secara fisik dan mental. Dengan asupan nutrisi teramat paripurna. Anak kedua? Ah, banyak hal yang ‘terpaksa’ ter skip 😦

Banyak drama yang terjadi. Hingga sepertinya saya mengalami baby blues ‘ringan’.

Saat itulah, saya mendadak teringat salah seorang rekan kerja. Namanya Bu Mieska. Dulu sekali, saya suka mengobrol dengannya terkait kehamilan. Ia pernah bercerita satu hal,

“Awal-awal lahir Dion, ternyata sudah ada gejala baby blues, sih. Tapi baru tau itu baby blues setelah sebulanan…”

Bu Mieska & Dion

Saya tentu tak menyangka. Bagi saya, Bu Mies itu well-prepared. Naluri mantan kepala operasional, eh? Hehe. Saya tahu ada banyak buku yang ia baca, makanan sehat yang ia jaga (di mejanya selalu ada cemilan. Saya bahkan suka mengambil honey-roasted almond miliknya dulu 😂🙈), belum lagi segala persiapan senam hamil, yoga, dan sebagainya.

Hingga saya penasaran,

Kok bisa sampai baby blues?

Saya ingat, kalau tak salah di trimester tiga kehamilannya dulu Bu Mieska sempat opname di RS karena DB. Kami menengoknya beramai-ramai. Saya sempat berpikir apakah itu menjadi pemicu awal pikiran yang ‘lelah’.

Ternyata ada stressor lain yang terjadi pasca-kehamilan.

ASI.
Siapa yang tak ingin anaknya mendapat ASI eksklusif, kan? Namun kadang kenyataan memang tidak berbanding lurus dengan harapan.

Alih-alih banjir, ASI Bu Mies justru seret 😦 Tekanan itu yang kemudian membuatnya gelisah, khawatir, was-was. Cemas bagaimana tumbuh kembang Dion kelak. Emosi negatif itu, lambat laun membuatnya insecure dan useless sebagai seorang ibu. Ada banyak hari, yang berakhir dengan menangis. Bu Mies menjadi mudah tersinggung, terutama jika dibandingkan kerabat sepantarannya. Kondisi yang sangat tak kondusif untuk membentuk energi positif, eh?

Bersamaan, ibu mertua pun sakit (hingga kemudian berpulang). Semua aspek itu saling mendukung sebagai stressor.

Hingga separah apa?

“Kadang sampai stuck seketika pas Dion rewel parah. Nangis. Bingung. Nggak tau harus apa…”

Saya tertegun. Hal-hal ini, terasa familiar, kan?

Lalu? Apa pasrah saja? Tidak, saudara-saudara.

“Ya aku ambil time-out dulu. Aku tinggal Dion sebentar. Cuci muka, ngemil sedikit, denger lagu. Dion ngamuk? Ya pasti. Tapi aku kudu tenang dulu sebelum menenangkan Dion.”

Banyak hal yang membuat peran seorang ibu serba salah. Anak menangis, harus langsung diangkat. Anak sufor, rentan sakit.

Ah, society.

Ibu, harus mendahulukan anak. Saya cukup sering mendengar ini.

Bagaimana jika, ibu tanpa sadar lalu mengabaikan kesehatan fisik (lupa makan karena anak rewel), mental (lelah luar biasa begadang sendirian) bla bla bla?

Kenyataannya, saya sendiri uring-uringan kalau merasa lapar atau capek atau mengantuk 😂

Betul, menjadi seorang ibu itu seperti mendapat energi lebih, kok. Secara fisik, ya. Namun di beberapa kasus, tidak secara mental. Dan ada banyak faktor yang bisa jadi tidak tampak di feeds Instagram atau status media sosial. Hehe.

Kembali pada kisah teman saya ini. Di satu titik krusial–dengan kondisi panik, mood berantakan–ia akan langsung menelepon suaminya sebagai bentuk stress-release.

Pak Berto–si suami (kebetulan dulu bekerja di kantor yang sama)–selalu berusaha menguatkan dan tak memandang remeh isu baby blues sebagai isu hormonal semata.

Hingga tiga bulan berselang sejak drama baby blues itu, ia merasa lebih tenang dan tak perlu sampai ke psikiater/psikolog.

“Aku bersyukur, didukung sama suami.”

Karena perkara hamil – resign – melahirkan itu bukan transisi sepele. Jadi, memang diperlukan dukungan penuh dari pasangan.

Teman saya yang lain, seorang psikolog, menulis di instastory-nya. Kurang lebih begini kutipannya,

Banyak pasangan atau keluarga yang kurang aware dengan tekanan yang dialami sosok istri/ibu. Menganggap biasa saja bak gejala PMS. Namun siapa yang tahu api dalam sekam, kan?

Familiar dengan kasus child-abuse yang marak di media? Banyak faktor, namun rasa lelah sebagai seorang ibu itu nyata. Nobody’s perfect, right?

Sungguh, menjadi ibu itu tak ada manual book nya. Bila di satu ibu mudah, belum tentu indah di lain kisah.

“Kalau someday stuck parah, baby blues, coba tenangkan diri. Time out dulu. Cari pasangan atau siapapun yang bisa menguatkan dan bukan menjatuhkan. Percuma mau dipaksakan, ndak sehat buat mental kita.” kata Bu Mieska.

Kini, di sela-sela mengantar anak sekolah, Bu Mies menekuni hobi crafting nya. Didukung Pak Berto, tentu.

This is so lovely, isn’t it?

Crafting yang win-win solution. Me time iya, menghasilkan iya.

Dion & his things. Iyaa, ini karya Bu Mieska!

Bahkan sejak 2015 lalu, ia mulai intens berkebun. Cita-citanya kelak, ingin bakulan monstera dan kawan-kawan.

Me time, kalau ndak diciptakan atau diminta, sampai kapanpun hanya wacana.”

Iya, sih.

Macam sudut IKEA, yak! 😆

Lagi-lagi, sebagai bentuk quality time dengan diri sendiri. Iya lho, quality time itu ndak melulu sama pasangan. Sama diri sendiri juga :’)

Seems so good, huh?

Sesuatu yang tampak sempurna itu wang-sinawang, kalau kata orang jawa.

Kita tak pernah tahu, seberapa mencekam berada di bawah tekanan ini; berada sendiri di rumah, anak tak henti-hentinya tantrum, sementara ASI menolak keluar. Sudah bagus bila tidak ‘ditambah’ adegan bak sinetron seperti lampu mendadak mati atau hujan deras. Panik, bingung, takut.

“Ah, kata siapa? Aku pernah.”

Dan karena beberapa dari kita (mungkin) ‘pernah’ berada di kondisi yang sama, ini saatnya untuk saling menguatkan 🙂

Oh iya, kini Dion sudah TK B. Ndak bisa diam, kalau kata Bu Mieska. Segala ketakutannya tentang sufor, tidak terbukti kok 😊 sehat, lincah, kuat, tak kurang apapun.

Well, happy mother – happy kids.

Jadi, sudah siap harus merespon apa ketika keluarga terdekat kita mengalami baby blues?

[Walk the Talk] From Bantul to DC

0

Sometimes, life is about risking everything for a dream no one can see, but you ~ Anonymous

Saya mengenal Sisca sejak zaman kuliah. Kebetulan kami satu almamater di Psikologi UGM. Kenalnya sambil lalu, hingga tanpa sengaja kami apply magang di Dagadu Djokdja. Sempat hilang kontak sih, hingga saya lulus.

Suatu ketika saya menemukan satu fotonya–beberapa tahun lalu, saya rasa–tentang smoothies, gara-gara itu jadi iseng mengikuti perjalanannya di instagram. Dan,

Ini anak kerja dimana, sih?” –khas netizen kepo. Hahaha. Penasaran, karena hobinya ulang-alik!

Hingga belum lama saya kontak Sisca via DM, meminta kesediannya ngobrol ngalor-ngidul disini 😂 dan dia mengiyakan!

Satu yang bisa saya rangkum dari perjalanannya, nyalinya segunung!

Saya baru tahu dia sempat ambil kesempatan pertukaran pelajar ke Kansas di semester akhir kuliah.

Saya heran, kenapa dia ‘menggadaikan’ kuliahnya yang nyaris selesai itu? Ya, meski memang hanya dua bulan. Jawabannya,

“Kapan lagi, belajar gratis langsung sama nativenya?” Hell yeah.

Kisah selanjutnya membuat saya tak henti berdecak. ‘Terjebak’ di salah satu site di Berau sebagai HR perusahaan ternama (yang katanya bikin tidak banyak berkembang karena ‘terkurung’ di hutan 😂), HR Gameloft (anak gamer, mana suaranyaaa?), hingga kebagian mengajar di Luwuk Banggai melalui Program Indonesia Mengajar.

Saya selalu salut dengan Mbak-Mas Indonesia Mengajar. Mengajar di pelosok daerah dalam waktu lama dan sumber daya seadanya itu tak mudah, loh.

Kelak, sepertinya ini salah satu yang mendorongnya menekuni isu serupa.

Sisca, si penganut hidup sehat. Gara-gara posting semacam ini, sukses bikin saya stalk instagramnya hahaha.

Semua itu, membuatnya memutuskan untuk banting setir ke dunia NGO.

IOM (International Organization of Migration), satu NGO di bawah PBB, adalah titik baru Sisca.

Berperan sebagai field officer – migrant care assistance, Psychosocial Div di IOM Pekanbaru–menurutnya adalah paket lengkap untuk titel S.Psi.

Sempurna dong, ya? Tidak juga ternyata.

Di 2016–yang dibahasakannya sebagai tahun gagal bersyukur–ia mencoba apply ke Unicef dan beberapa proyek yang lebih spesifik ketimbang lingkup IOM di wilayah Asia. Dan ditolak.

Saya pikir ini penolakan yang bermanfaat, karena demi mengalihkan self-esteem yang berantakan itu, ia mencoba mengikuti komunitas lari. Sebenarnya dari dulu saya tak terlalu paham, apa sih menariknya lari. Hehe. Tapi Sisca menjadi contoh tepat bahwa sehat secara fisik karena berlari itu berkorelasi dengan self-acceptance (should I examine this correlation on thesis, then? Hahaha). Cewek ini bahkan tak main-main, jam terbang larinya sudah sampai mana-mana 😆😆 Wander dan Liburun, adalah dua komunitas lari yang ia ikuti.

Liburun, salah satu komunitas lari yang ia ikuti. Konon, salah satu yang membuatnya lebih kerasan di Pekanbaru karena bertemu komunitas baru 😆😂

Mengutip yang Sisca bilang,
“Aku pulih, secara jasmani dan rohani.”

Sudah?
Belum! Dasarnya anaknya suka bertumbuh, ya. Di IOM, bahkan lima tahun awal masih termasuk anak bawang. Karena kansnya cukup kecil diikutsertakan training oleh IOM, ia memilih mencari sendiri pengalamannya! 😂 Dan, dapatlah pengalaman conference di Washington, DC di awal 2018 lalu. Agendanya bernama GGF 2030 (bukan Ganteng Ganteng F*ck kalau kata dia 😂 tapi Global Governance Future), semacam grup diskusi yang akan merumuskan topik-topik untuk UN Assembly 2030.

Pusing? Saya pun! Tapi nampaknya belum selesai Sisca memberi kejutan, karena ia bahkan meminta dukungan untuk esainya yang masuk Top 10 British Future Connect Leaders 2018. Judul esainya, Formal Education for Children and Youth Refugee in Indonesia.

See, she just can’t stop to pursue her dreams!

Mimpinya, kelak dia akan punya satu youth center dengan pendekatan edukasi yang relevan :’)

Oke, mungkin sebagian besar dari kita hanya akan berkomentar,

“Ya, keren. Dasarnya emang tajir kali, makanya nggak butuh duit jadi kerjanya keluyuran kemana-mana.”

atau,

“Wah, bahasa inggrisnya canggih. Ya wajar lah.”

Yang saya lihat,

Sisca tuh bertransformasi. Sangat banyak! Grafiknya tidak menanjak yang mulus. Ada masa ia ketinggalan lulus dari teman seangkatan, lamaran kerja di Unicef yang ‘ditolak’, merasa pupuk bawang karena kalah kompetensi dari rekan lain di IOM. Tapi semua penurunan itu dibalas dengan lebih baik.

Saya bukan teman dekat atau sahabatnya, namun apa yang ia bagikan di media sosial memberikan energi. Dia, menemukan cara untuk memaksimalkan potensinya, mencoba hal-hal baru yang bahkan bagi saya cukup far away. Bisa jadi dia takut, tapi dia memilih mengabaikan rasa takutnya. Sisca yang saya lihat sekarang, berbeda jauh dengan Sisca zaman kuliah (atau zaman masih les Neutron pas masih SMP ya, Sis? 😆).

Dan satu lagi, menjadi citizen of the world itu tak melulu skor TOEFL/IELTS yang paripurna.

Sisca, sudah sampai di Kansas dengan skor TOEFL 480, sudah mengalami interview by phone oleh seorang native (ya, seminggu terakhir dia berusaha mengingat-ingat pelajaran bahasa inggrisnya, bahkan sampai memutari rumah agar tak tegang saat ditelepon 😂), bahkan sudah menembus DC. Ia mengakui, ada amat sangat banyak kosa kata dan pengucapan yang harus ia cermati–yang baru ‘disadarinya’ setahun terakhir–namun sama sekali tak menghentikannya untuk nekat.

Katanya sih bahasa Inggrisnya cethek, tapi sampai sini juga. Kamu (dan saya) kapan, lur, bisa seberani ini? Hehe.

Mengutip kalimat favorit saya saat tertekan,

Mbuh piye carane, gasrukke wae!”

From Bantul to DC, you’re rocks Sis!

Bread, bread, bread!

0

Saat saya kecil, saya suka sekali jajan roti seharga lima ratus perak yang di jual di warung-warung kecil dekat rumah. Biasanya dimasukkan dalam toples-toples kaca, roti-roti yang dilabeli seadanya dengan potongan kecil karton itu memiliki tiga rasa andalan; cokelat, stroberi, dan nanas.

Di lain waktu, ibu yang rutin mengajak saya menengok simbah buyut, akan mampir naik becak ke toko roti lawas di pertigaan jalan Taman Siswa, Yogyakarta. Membeli roti sobek cokelat sebagai buah tangan. Paling saya suka adalah yang rasa cokelat dengan taburan meses diatasnya. Manisnya berbeda. Tidak eneg. Tekstur rotinya juga lembut 🙂

Di suatu Februari, saya kangen roti lawas seperti itu. Ketidaksengajaan mengantarkan saya ke dua toko roti lama di Bandung.

Sumber Hidangan.

Ini sudah agak sering say bahas, sih. Akhirnya muncul juga di blog 🙈 Februari lalu, adalah kali kedua saya kemari. Kalau dulu hanya sempat icip-icip esnya (mirip Ragusa, namun dengan rasa lebih tajam), kini bisa juga mencoba rotinya.

Sebelah kanan yang tidak terfoto ini adalah bilik kasir, mengingatkan saya pada film Lucky Luke 🙂

Memasuki toko roti ini, seperti masuk ke dimensi berbeda. Kontras dengan hiruk pikuk jalan Braga yang ramai. Saya sedikit sedih melihat tempatnya yang kurang terawat. Again gelap, apalagi jika pintunya ditutup. Namun tempat ini merupakan tipe tempat yang suram-suram menenangkan. Seperti berkunjung ke rumah nenek. Hehe. Entah ya, jika memang diniatkan demikian. Namun melihat mayoritas pekerja di bagian depan adalah kakek-kakek dan nenek-nekek, mungkin memang sumber dayanya disana betul terbatas.

Sayang sekali saya agak malu masuk hingga dapur waktu itu, padahal siapa tahu bisa eksplorasi lebih banyak ya 😥

Mahal? Tidak juga. Bahan yang digunakan adalah kualitas terbaik, dengan resep turun-temurun.

Well, ini masih dipakai. Dioperasikan oleh seorang kakek.

Etalase lawas yang mengingatkan saya kepada satu toko roti di daerah Yogyakarta.

Mirip baguette Prancis yang tersohor itu, kan?

Roti-roti yang dijual disini memiliki tekstur yang keras, berserat. Resep pilihan sejak zaman Belanda. Akan lebih nikmat jika dijadikan kudapan bersama teh manis hangat atau susu dengan dicelup.

Oya, saat kesini kemarin (dan dulu), isinya memang sepantaran orang tua kita. Saya rasa sebagian besar dari mereka pun bernostalgia 🙂

Toko roti berikutnya, adalah toko kecil yang hangat dan menyenangkan di jalan Otista, Bandung. Antriannya panjang. Namanya Sidodadi. Nyaris terlewat karena tempatnya kecil, meski letaknya di pinggir jalan. Saking niatnya, saya sampai parkir beberapa blok agak jauh karena di sekitar situ sudah penuh.

Wangi harum roti tercium saat mengantri, sambil harap-harap cemas karena satu jenis roti bisa jadi tandas dalam hitungan detik–lebih dulu dibeli orang di depan kita. Padahal stoknya setumpuk!

Tumpukan legit yang menggairahkan. Panik seketika, bingung ingin membeli yang mana.

Selalu suka dengan gambar-gambar seperti ini~ huhu, bagus!

Roti ini aromanya sungguh segar, penuh rempah-rempah yang harum!

Cinnamon Roll. Sebenarnya saya lupa, ini produksi Sidodadi atau Sumber Hidangan 😂

Melihat roti dengan tulisan Krenten? Ini enak! Awal kesana habis, sampai niat kembali datang kesana lagi. Sepertinya ini salah satu best-seller di Sidodadi. Iya, depan saya ini antrian, loh. Panjang hingga ke depan kasir.

Hayo, murah mana sama roti pabrikan?

So far, roti Sidodadi adalah favorit saya. Teksturnya lembut, tidak terlalu berserat yang bikin seret ketika ditelan. Rasanya pun enak!

Ah, usaha rumahan turun-temurun seperti ini entah kenapa selalu memiliki magnet tersendiri 🙂

#menujuzerowastekeluargarugrats

0

Di timeline lagi marak sekali zero waste. Dulu, saya pikir hal-hal semacam ini hanya hype saja. Latah sosial. Tapi lama-lama perkara sampah ini memang mengerikan 😦

Dulu masih suka pakai sedotan plastik (sekarang tidak banyak–meski suka kecolongan–karena memang sedang jarang jajan), belanja pakai plastik (sekarang masih berusaha ‘ingat’ untuk membawa dan memakai tas belanja kemana-mana! Mengubah habit, eh), makan suka tak habis–entah masih ada sisa cabai-lah, irisan bawang-lah, bla-bla-bla. Setelah baca-baca, ehm dampaknya buruk.

Kamu kemana saja, S? 😥

source : Pinterest

Jadi ikut merasa bersalah. Padahal da aku mah apa atuh, juga cuma numpang hidup di bumi, kan.

__

Kemarin malam pas masak-masak, Bapak Rugrats kaget karena sampah rumah tangga kok jadi banyak (iya, selama ini tinggal sendiri di Kalimantan mah, paling sebanyak apa sampahnya, kan? Sekarang sudah genap berempat. Haha)

“Kalau bisa kita zero waste yok.” katanya begitu. TUMBEN. Mungkin dia bosan buang sampah banyak-banyak terus. Tapi syukurlah, senang karena dari kemarin baru wacana maju mundur, belum komitmen 100% . Setidaknya kali ini lebih serius menyikapi sampah. Hm.

Tugas saya lah berikutnya, karena sebagian besar sampah rumah tangga kan asalnya dari dapur. Mulai diniatin lagi food prep yang zaman di Bekasi rajin pisan. Mulai berpikir juga buat lebih memanfaatkan bahan-bahan yang kelar diolah lalu tidak habis termakan (yang mana, SERING!)

__

Kemarin ceritanya habis main ke kota. Pulang dari sana masih membawa sekotak ayam KF* yang belum tersentuh. Semalam sudah niat bakal dibuat ayam sisit bali. Etapi, santan lupa beli 😦

Akhirnya banting setir dong, pagi-pagi olah ayam sisa itu; ayam disuwir lalu di cacah. Kepala buntu lagi, buka Google lagi. Ealah dapat insight beberapa menu yang di mix ngaco : dadar ayam, tumis bayam ayam siram saus tiram (hey, it’s rhyme!).

Best part nya, Cupis doyan! Padahal anaknya susah makan ayam. Malas mengunyah! Bayamnya juga laris. Terharu lah Ibuk.

Jam setengah sebelas Bapaknya telepon, masak apa. Duh, buru-buru ke dapur olah cacahan ayam tadi. Dibuat apaaa? Tumis ayam sambal bawang saus tiram! Ahhahaha. Ngaco bener, deh. Tapi para jagoan pada lahap makannya. Baru sampai makan siang nasi satu magic com tandas. Yeah!

Ini hal sangat sederhana, ternyata. Secukupnya dan olah ulang. Semoga bisa istiqomah #menujuzerowastekeluargarugrats

source : Pinterest

Kalau kamu, apa upaya zero waste terbaik mu?

[Lokal] Leaf Thief, Daun-daun cantik di atas kain

0

Saya mudah tergoda dengan hal-hal yang dibuat secara manual, untuk apapun. Sekali menemukan yang ‘klik’, rasanya seperti cinta pada pandangan pertama :’)

Dipertemukan secara tak sengaja dengan Mbak Agnes–pemilik label Leaf Thief–saya langsung naksir dengan pola-pola yang tercetak di atas kain. Daun!

Sepanjang hari itu, saya menelusuri ‘cerita’ di balik label yang bisa berarti pencuri daun di akunnya. Semacam stalker, sih. Hahaha.

Well, label ini berproses. Saya bahkan senyum-senyum sendiri melihat perjalanan Leaf Thief dari foto-foto awalnya. Tak ada yang instan, memang.

Akhirnya saya betul memesan satu, gara-gara satu foto; sebuah atasan ringan berwarna kecoklatan yang dihiasi cap daun beraneka rupa dalam tone senada. Fotonya sederhana sekali, sebenarnya.

“Nunggu ndak apa-apa, Mbak?” tanya Mbak Agnes waktu itu.

Namanya sudah suka, ya. Jadi saya iyakan. Dia bahkan menanyai saya, tertarik dengan bentuk daun yang mana.

Saking penasaran, saya bertanya sedikit tentang pembuatannya.

“Daun-daun yang telah dicelup warna itu, ditata sedemikian rupa, Mbak. Makanya polanya pasti berbeda.”

Duh, makin menarik!

Kan, bagaimana tidak jatuh cinta dengan rangkaian pola daun ini?

Beberapa minggu lalu, atasan manis ini tiba. Terbungkus sebuah kertas buram dengan cap daun di beberapa bagian. Sungguh, saya jatuh cinta.

Dilengkapi sepucuk kartu ungu, setelah saya baca, berisi garansi originalitas yang tak akan terduplikasi di kemudian hari–yang berarti satu custom desain untuk satu pemesan 🙂

Saya menyukai tiap detailnya, yang kemudian berujung pada rasa penasaran,

“Mbak, pola di kain saya, daun apa ya?”

“Daun akasia dan alpukat, Mbak.”

And I just, wow.

__

Beberapa hal memang tampak ‘sederhana’. Namun, yah, jika kita mengetahui sedikit cerita atau upaya di baliknya, kadangkala nilainya bisa menjadi sangat berbeda :’)